Laman

Rabu, 17 Oktober 2012

Estetika dan Merdeka


Sekarang aku lebih leluasa untuk “merasa” merdeka. Setelah mencoba menjadi tuli dan tak lagi mau mendengar komentar orang yang pertama kali mengajari dan menata ulang sajak-sajakku. Ia adalah orang yang aku hormati pada awalnya dan kutinggalkan pada akhirnya karena kuanggap terlalu banyak menata hidupku. Dulu aku berpikir: aku begitu membutuhkan dia karena sajak tidak akan menjadi sajak tanpa ditata estetikanya. Estetika tidak mungkin hidup tanpa ditata (orang yang mengerti). Tapi, bukankah sajak adalah napas setiap orang yang masih punya semangat mencari keindahan dan merdeka. Bagiku, tidak ada estetika yang paling hidup dan nyata—tanpa perlu metaphor untuk mewakili tiap-tiap kata dan merekayasa keindahannya—kecuali berani hidup itu sendiri—hidup dengan merdeka.
Setiap orang, sengaja atau tidak, akan bersajak dengan sendirinya. Sajak-sajak yang agung dalam diam; dalam ucapan; apalagi dalam tulisan. Selamat tinggal estetika palsu yang hanya membuatku jadi tidak merdeka. Menjadi tidak hidup. 

Citra D. Vresti Trisna

1 komentar:

Pesta ulang tahun mengatakan...

salam sukses ya...:)

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.