Laman

Rabu, 20 Agustus 2014

Pakde Dalbo #cerpen

Tak banyak orang tau tentang dia, kecuali kegemarannya akan kucing. Sambil memanggul goni, Ia kerap melintas tempatku biasa ngetam mengamen. Di waktu itu pula selalu banyak kucing merubung dan mengendus kakinya. Mengeong dan menimbulkan suara gaduh.  Selebihnya, ia hanya seorang lelaki yang selalu menyenangkan orang yang memberinya sesuatu dengan caranya tersenyum dan berterimakasih.

     Orang-orang memanggilnya Pakde Dalbo. Ia kerap menyapa dan sekaligus meminta api padaku bila kebetulan melintas. Biasanya, di dompetnya yang lecek, tersimpan sebatang rokok yang sudah tak karuan bentuknya. Kalau ia hanya sekedar  menyapa dan tak meminta api, aku selalu memanggil dan menawarkan rokok padanya. Wajah Pakde Dalbo akan berubah sumringah bila aku memanggil dan ia akan berjalan tergopoh-gopoh ke arahku. Mungkin ia sudah hafal kebiasaanku memberikan satu atau dua batang rokok padanya. Dan ia tak pernah lupa pada caranya berterimakasih. Tersenyum lebar dan menunjukkan giginya yang kuning, sambil mendoakan agar rejekiku lancar sembari mengusap-usap bahuku.
     Sebenarnya aku tak ingin mengkeramatkan orang yang dianggap setengah gila itu. Tapi, diam-diam aku memafhumi, bila selepas memberi rokok padanya, hasilku mengamen akan berlipat-lipat dari biasanya. Kalau biasanya penghasilanku mengamen semalaman hanya tiga puluh ribu, aku bisa mendapatkan sampai dua ratusan ribu lebih. Bergantung dari berapa rokok yang kuberikan pada Pakde.
Awalnya aku hanya merasa iba dengan Pakde Dalbo. Kemiskinan membuatnya ditinggalkan keluarganya. Anak dan istri Pakde minggat lantaran tak kuat hidup miskin di bawah jembatan. Konon, kata orang kampung, Maryamah, istri Pakde Dalbo adalah anak mantan mentri pada masa Orba. Ia menolak dijodohkan dan memilih hidup miskin bersama Pakde. Terkadang, cinta seorang muda-mudi terasa tidak realistis. Tapi, kerasnya hidup dan kemiskinan membuat istri Pakde Dalbo belajar realistis—meninggalkan Pakde Dalbo dan selingkuh dengan pengusaha cengkeh.
     Dengan mantan istrinya, Pakde Dalbo memiliki tiga orang anak perempuan. Yang satu tinggal bersama Pakde, dan  sisanya mengikuti Maryamah. Namun, seorang anak yang tinggal bersama Pakde meninggal dua tahun lalu karena malaria. Meskipun saudara-saudara Pakde Dalbo banyak yang hendak membantu biaya pengobatan, namun Pakde Dalbo selalu menolak. 
      Kabar-kabarnya, Pakde Dalbo memilih mencekik putrinya sendiri sampai mati ketimbang harus menerima bantuan dari saudara-saudaranya.  Simpang siurnya penyebab kematian anak Pakde membuat hati warga Desa Kedungturi menjadi masygul. Orang kampung tidak percaya bila pria yang dikenal ramah dan kerap membantu warga, tega mencekik putrinya sampai mati. Akhirnya, warga menolak menerima permintaan Pakde Dalbo untuk menguburkan anaknya di desa kedungturi. Dan sampai sekarang, tidak ada yang tau dimana Pakde Dalbo menguburkan putrinya. 
      Aku sendiri tak percaya cerita-cerita itu. Tidak mungkin lelaki macam Pakde Dalbo berpikiran sedemikian picik. Tapi yang jelas, Pakde adalah orang-orang yang tidak begitu disukai orang kampung. Aku mendengar kisah ini dari Wan Doyok, hansip kampung sekaligus makelar yang menjadi tukang cerita terpercaya. Banyak kabar-kabar terbaru dari desa yang berhembus dari mulut Wan Doyok. Termasuk cerita tentang Pakde yang menguburkan putrinya dengan cara membenamkannya di sungai. Dan cerita-cerita tentang Pakde yang kudengar dari Wan Doyok kian membuatku merasa ngeri; membuat Pakde kian keramat.

*
       Kebiasaanku memberikan rokok pada Pakde Dalbo terus berlangsung. Karena kupikir memberi satu dua batang rokok tidak ada ruginya bagiku. Karena setiap memberi Pakde, hasilku mengamen terus berlipat-lipat. 
       Kini kebutuhanku sehari-hari bisa terpenuhi. Bahkan sisa dari uang itu kukumpulkan dan bisa membuat warung kopi sendiri di rumah. Untuk mengurus warung, aku mempekerjakan seorang keponakan agar aku bisa terus mengamen dan memberi rokok pada Pakde. Terkadang, bila bisnis warung sedang tersendat, aku harus mencampur uang hasil mengamenku untuk sekedar membayar gaji keponakan. Tidak enak rasanya ketika sedang butuh uang, Pakde tak lewat agar bisa kuberi rokok sehingga penghasilan mengamenku berlipat. 
       Karena uangku untuk membeli rokok sudah lebih dari cukup, terkadang kalau Pakde lewat, aku tidak hanya memberi satu dua batang. Bahkan aku membelikan Pakde sebungkus rokok. Dan hasil mengamen yang kuperoleh bisa mencapai satu setengah juta bahkan lebih. 
Pada suatu malam, ketika Pakde melintas seperti biasanya. Aku heran, mengapa Pakde tak menoleh saat kupanggil. Karena penasaran, kini giliranku yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri Pakde. 
      “Pakde, ini rokoknya.”
      “Untuk apa?” Jawab Pakde, ketus.
      “Yaa, untuk Pakde merokok. Untuk apa lagi?” 
      “Aku sudah ada beberapa batang rokok untuk malam ini.”
      “Ah, sudahlah, Pakde. Terima saja. Ini...” Kataku, sambil memberikan sebungkus rokok ke tangannya. 
      “Kalau kau hanya ingin memberiku rokok biar penghasilanmu berlimpah, kau tak perlu lakukan itu. Sekarang kau sudah cukup mapan, bukan?”
      Aku tersentak dengan kata-kata Pakde. Kurasa Pakde bisa membacai jalan pikiranku. Kini aku kehabisan kehabisan kata. “Sudahlah, jangan seperti itu. Aku terima rokokmu.” Kata Pakde, menghiburku. Lalu Pakde menyeringai seperti biasanya. Gigi-giginya yang kuning nampak lebih mengerikan malam ini. Tak lupa ia mendoakanku agar penghasilanku berlimpah malam ini.
Seperti biasanya, penghasilanku kian berlimpah-limpah. Tapi penghasilanku malam itu tak membuatku merasa senang. Aku terus memikirkan kata-kata Pakde. Menjelang malam, aku tak bisa memejamkan mata. Kata-kata Pakde terus berdengung di telinga. Selepas subuh, aku baru bisa memejamkan mata. Kali ini dengan mimpi yang mengerikan tentang Pakde yang menangis namun gigi kuningnya tetap menyeringai. 
       Malam berikutnya, aku tak banyak mengamen. Giliranku lebih banyak dipakai oleh kawanku. Aku hanya duduk menekuri lampu-lampu kota yang menguning seperti gigi Pakde. Keringat dingin terus meleler di dahiku. Tanganku gemetaran menggenggam sebungkus rokok yang hendak kuberikan malam ini. 
       Aku terkesiap ketika Pakde melintas. Kawan-kawanku mengerumuni Pakde dan berebut memberikan rokok. Mereka meminta untuk didoakan seperti yang dilakukan padaku. 
Pakde menerima semua pemberian dari kawan-kawanku dan mendoakan mereka satu per satu seperti biasa ia lakukan padaku. Di saat yang bersamaan pandangan Pakde tertuju padaku. Entah mengapa aku tak berani memberikan rokok seperti biasanya. Kakiku seperti dirantai dan tak sanggup beranjak dan menghampiri Pakde. Lagi pula aku juga menyadari semua pesan Pakde padaku kemarin malam itu benar adanya. Aku tak bisa menggantungkan orang lain untuk bisa maju. Untuk hidup enak dan berkecukupan, aku harus bekerja dengan usahaku sendiri. Tapi apa benar rejeki yang kudapat lantaran memberikan rokok pada Pakde tiap malam? 
       Malam itu jadi berbeda dari malam lainnya. Kali ini dengan sorak sorai kawan-kawanku yang saling pamer uang hasil mengamen yang didapat. Dan aku, tak satu bis pun ku naiki. 
Kini aku tak lagi mengamen. Kuberhentikan keponakanku dan sudah kuputuskan untuk menjaga warungku sendiri. Aku mengamini kata-kata Pakde untuk bisa bekerja dengan usaha sendiri, jaya dengan usaha sendiri. Dan sejak saat itu aku tak pernah lagi bertemu dengan Pakde Dalbo. Meskipun aku tak pernah melupakannya.

*
       Pada suatu hari, ketika aku tak lagi memikirkan Pakde Dalbo dan nasib kemiskinannya. Pikiranku sedang dipenuhi oleh rewelnya Tari, tunanganku. Ia memintaku mencarikan kucing anggora yang bagus untuk dipelihara. Waktu itu, aku sedang tak punya uang untuk menuruti keinginannya. Tiba-tiba aku teringat pada lelaki bergigi kuning yang kerap mendoakanku. “Ah, dimana kau sekarang, Pakde? Bagaimana pula nasibmu?” Kataku, bicara sendiri sambil berkemas-kemas menutup warung.
       “Yaa ndak di mana-mana. Pakde ya di sini, mau sambang dan pengen ketemu kamu. Sambang warungmu.”  
       Mataku meneleng tak percaya. Tiba-tiba Pakde membetulkan kembali kursi panjang yang sebelumnya sudah kubalik karena hendak tutup. “Pakde ini pengen ngopi, ya mbok dibuatkan. Tapi Pakde ndak punya uang. Ndak apa-apa, ya?”
      Tanpa banyak kata, aku segera membuatkan kopi yang diminta. Sambil merebus air, dan menuang kopi ke dalam gelas, aku mendengarkan Pakde bercerita sendiri.
      “Pakde sekarang sumpek. Banyak kawan-kawanmu datang ke Pakde minta didoakan. Padahal, Pakde sendiri tak yakin dengan doaku sendiri. Tapi mereka terus meminta sama Pakde. Mereka mencari-cari Pakde sampai ke bawah jembatan.”
        Kuhidangkan kopi dan sisa-sisa gorengan yang belum terjual dan sebungkus rokok ke meja. “Monggo, Pakde, hidangannya seadanya.” Lalu aku duduk di sebelah Pakde, dan mempersiapkan diriku mendengar ceritanya.
Pakde Dalbo tertawa terkekeh. “Bagaimana usahamu, sekarang?” Pakde mengalihkan pembicaraan.
       “Ya begini-begini saja, Pakde. Pokoknya cukup buat makan sehari-hari.” Aku merendah.
       “Disukuri saja. Tuhan tak akan membiarkanmu kelaparan kalau kau mau sedikit saja berusaha.” Ujar Pakde, menasehati. 
       “Jangan seperti kawan-kawanmu yang lain. Mereka datang padaku dengan membawa berbungkus-bungkus rokok ke Pakde. Sepertinya Pakde ini dukun pesugihan saja. Kalau dulu Pakde dianggap berdosa atas kematian anakku, Dan kaji Samiun sampai mengkafir-kafirkan Pakde dan menuduh Pakde sebagai pembunuh. Duh, kok mereka tidak meminta doa saja sama kaji Samiun. Bukannya dia lebih beriman? Kenapa harus padaku yang seorang pembunuh?” Tukas Pakde. Kini air matanya meleleh. 
      Aku bingung mau bicara apa. Aku sendiri pun takut mengambil kesimpulan. Takut salah. Tapi keinginanku untuk tau cerita yang sebenarnya tentang kematian anaknya tetap berkecamuk di kepalaku. 
       “Pakde, nyuwun sewu sebelumnya. Tapi, apa benar cerita-cerita yang disampaikan Wan Doyok itu benar adanya?” Tanyaku, memberanikan diri. 
Pakde menatap mataku dalam-dalam. Setelah menyeruput kopinya dan membakar sebatang rokok. Asap mengepul perlahan dari bibirnya yang menghitam. Ia seperti sedang berusaha berkompromi dengan masa lalunya.
        “Wan Doyok benar. Aku memang telah mencekik anakku sendiri. Tapi aku punya alasan mengapa aku harus membunuh putriku sendiri. Aku menolak dibantu karena aku tau uang yang dipakai saudara-saudaraku adalah uang yang tidak benar. Aku tak ingin dalam tubuh anakku mengalir sesuatu yang haram. Tapi aku sendiri tak tega bila putriku harus menderita. Dan lebih baik aku mengakhiri penderitaannya sehingga ia tak perlu ikut menanggung dosa menerima uang itu.”
          Sekali lagi aku terkesiap dengan kata-kata lelaki bergigi kuning itu. “Tapi soal aku yang membenamkan anakku ke dasar sungai itu tidak benar. Aku hanya mengubur putriku di dekat kardus rumahku. Tempatnya masih di bawah jembatan pula. Tapi, kau tak perlu kawatir, aku tak akan lari dari dosa keji itu.”
          “Ya sudahlah, Pakde. Apa malam ini Pakde ingin menginap di rumahku?”
Pakde menggeleng. “Pakde tak ingin merepotkanmu. Pakde pulang saja.”
Setelah mengakhiri kata-katanya, ia memberikanku sebuah kucing kampung. “Kalau kau mau, kau bisa memberikan ini untuk kekasihmu, dia pasti suka.”
         Lagi-lagi aku terkejut dengan sikap Pakde. Ia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Tapi, kekasihku menginginkan kucing anggora. Apa katanya nanti kalau aku harus membawa kucing kampung rembes padanya? 
         “Kalau boleh tahu, Pakde dapat dari mana kucing-kucing ini?”
         “Itu adalah salah satu alasan aku memelihara banyak kucing. Istriku meninggalkanku karena kucing-kucing ini. Katanya aku terlalu peduli dengan kucing ketimbang keluargaku sendiri. Lha Pakde ini tau kalau kucing itu hewan kesayangannya nabi dari pengajian-pengajian di kampung.” 
Selepas malam itu, aku tak lagi pernah bertemu dengan Pakde. Ia menghilang. Bahkan aku sudah tak menemukannya di bawah jembatan yang menjadi tempat ia tidur. 
          Beberapa bulan setelah itu, aku mendengar kabar bila Pakde tewas mengenaskan dihajar sebuah truk yang melintas karena dikejar-kejar massa yang mengamuk. Mereka kesal lantaran banyak rokok dan barang yang sudah diberikan pada Pakde namun penghasilan mereka tak kunjung berlipat. Dan semua itu atas profokasi Wan Doyok. Kini Jasad Pakde sudah dikuburkan oleh keluarga yang pernah hendak menolong putrinya.
         Ah, Pakde. Mengapa pula buru-buru mati. Aku hanya ingin berterimakasih. Aku sudah menikah seminggu lalu. Karena kucingmu.
         Di depan makam Pakde, aku menyeringai. Meskipun gigiku tidak kuning sepertinya. 


Malang, 2012

dimuat di suara pembaruan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.