Mari bicara feminis; mari membohongi diri. Evoria tangan kiri, rokok dan buku-buku revolusi. Penis (yang kau bilang suci) ia hilang di mulutmu, di hatimu.
Pagimu karat besi.
—catatan yang rapi dalam tas punggung—
Kau bakar, kelak, saat kau tau kenyataan menampar pipi.
—Citra D. Vresti Trisna
Ketintang (warung depan kampus Unesa, Surabaya) 16 April 2012.
: kopi, good day (bungkus coklat), es teh tawar, rokok Lisis (sampurna pas), prancis, mie n black coffe
Ernesto (Che) meninggalkan kenyamanan sebagai mentri di pemerintahan Castro; setelah berhasil dalam revolusi menggulingkan rezim Batista (1959). Bagiku, Che adalah salah satu dalam daftar sakit jiwa akut: masokistik irrasional—menerobos hutan gelap untuk mengajak para petani di Boivia berjuang. Di tahun 1967 yang naas, Che ditembak mati tentara Bolivia. Mungkin kita boleh menyebut hal ini sebagai kegilaan. Merayap-rayap dalam belukar, melintasi indahnya sungai-sungai dan padang ilalang untuk sebuah maut yang tengik. Kematian dalam gejolak revolusi yang “katanya” indah boleh jadi hanya jargon dan upaya menertawai diri, atau sebaliknya: keniscayaan untuk kematian dalam revolusi.
“Orang biasa.” Duduk di warung kopi, menikmati jajanan, kopi, rokok. Mereka beredar dimana saja–tempat-tempat yang biasa pula. Mungkin hanya itu yang pasti. Soal apa yang berdiam di kedalamannya; tiada yang tau pasti –biasa pula atau mungkin luar biasa.
Merekalah yang selalu menjadi soal, gagasan, dongeng, olok-olok, dan bahan untuk dikasihani. Tapi apa orang biasa butuh dikasihani?
Aku sediri hampir terjebak–saat menulis catatan ini–untuk mempertanyakan betapa pendidikan, kekayaan, dan posisi sosial kerap melahirkan idiom ‘orang biasa’ sesuai dengan klasifikasi yang berbeda.
Apakah klasifikasi dan kemunculan idiom ini merupakan sebuah tolak ukur bahwa kesombongan itu ada diantara kita, dan membuktikan bahwa kesombongan bukan sesuatu yang abstrak. Ia real, karena dampaknya selalu bisa dirasakan langsung, sekaligus membuktikan bahwa setiap orang memiliki potensi-potensi kesombongan yang menggelisahkan. Mungkin dalam versi lain, idiom orang biasa dapat menjadi bagian bila kesadaran diri akan kelas lahir bukan karena konstruksi–tapi alamiah sebagai akibat persaingan hidup.
Karena hidup “mesti” punya tujuan yang harus diperjuangkan. Mungkin perjuangan itu sebentuk pengecualian yang prinsipil dan terlalu sensitif untuk di singgung. Lalu dimana posisi persahabatan? Apakah ia sebentuk ruang teduh yang tersendiri? Apakah persahabatan selalu melintasi batas dan pengecualian-pengecualian untuk sesuatu yang kita perjuangkan? Kalau benar sekarang sudah tidak ada lagi ruang prifat, lalu bagaimana kita bisa menjawab: apa yang sekarang kau yakini; yang kau perjuangkan?
Praktek persahabatan selalu lebih kompleks dari definisi—sesuatu yang cepat menjadi hipokrit ketika kita terbentur di ruang praksis—yang bebas sama sekali dari teori dan konsepsi. Bukankah selama ini kita menjalani persahabatan di ruang definisi; yang bisa saja menjadi busuk saat kita terbentur...
Seseorang mengataiku seorang HIPOKRIT. Sudahlah, itu masih lebih indah ketimbang menjadi seseorang yang barbar, yang buru-buru percaya pada perjuangan dan buru-buru melupakan dan memaki habis orang yang diperjuangkan. Ini bukan romantisme, tapi aku ingat apa yang dikatakan Ernesto. Kurang lebih seperti ini: “di Bolivia aku merasakan perjuangan yang sesungguhnya.” Berjuang untuk orang-orang yang tak mengerti bila sedang diperjuangkan. Berjuang untuk orang-orang yang apatis; berjuang melawan dalam kediaman yang dingin.
Ernesto adalah seseorang yang melankolik. Orang yang sentimentil dengan banyak keadaan yang terjadi di sekitarnya. Tapi ia hanya tau menekan pelatuk untuk sesuatu yang diyakininya “benar”; perang adalah soal membunuh atau terbunuh.
Sewaktu di perpustakaan, aku kembali bertemu dengan Indah, kawan KKN dan berbincang-bincang sejenak sembari menunggu kawanku mencetak KRS. Sebentar lagi ia lulus. Mungkin tinggal skripsi. Aku bisa melihat optimisme di matanya. Seperti sebuah cahaya berpendaran dari korneanya yang selalu nampak letih. Ia juga menanyaiku seputaran basa-basi kuliah yang aku sendiri tak tau apa jawabnya; meskipun segalanya pasti ku selesaikan, meski aku tak tau kapan waktunya.
“Sukses, ya.” Tukasnya.
“Ya, sukses juga kau.” Kataku, basa-basi.
“Sukses” yang ku ucapkan dalam pengertiannya dan basa-basi pertemuan. Aih, sukses apa? Sukses dalam pengertian motivator itu kah? Atau ada penjelasan lain? Tak berjawab.
Menurutmu, apa yang menarik dari hidup kalau bukan hidup itu sendiri? Berjalan sendirian di tengah malam sampai menjelang pagi. Duduk di antara pesawahan, atau di bawah terang lampu dimana pagimu benar-benar sepi. Mengingat-ingat kembali orang-orang yang pernah kau sakiti, seperti: ayah, ibu, perempuan atau lelaki yang pernah mengisi hidupmu dan mungkin juga sahabatmu. Saat itu, terkadang tak kau temukan penyesalan yang bisa dibahasaan lewat kata hati yang berpacu dengan detak jantung. Hanya ada dua kepastian: pertama semua tak mungkin kembali dan mengikhlaskannya menjadi sejarah untuk dibuka kapan pun kau suka; saat kau butuh untuk menyesali semuanya. Kedua, hidup haruslah ditempuh dengan berani dan sebuah janji bila tak akan mengulang kesalahan yang sama dikemudian hari.