Laman

Tampilkan postingan dengan label Warkop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warkop. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 November 2023

Quote

“Kematian satu orang adalah tragedi dan kematian jutaan orang adalah statistik.” 

Bukan Joseph Stalin yang menulis kata-kata itu. Lalu siapa? Quote bengis itu sudah ada jauh sebelum tangan diktator berjuluk Koba itu mulai lanyah menandatangani surat eksekusi mati semua lawan partai. 

Ada yang bilang Washington Post sudah menulis quote itu sejak 1947.

Tak jelas siapa yang mengatakan atau menulisnya. Yang jelas, quote itu tidak mungkin lahir di kedai kopi yang tenang. Quote itu mungkin lahir dari orang, kerumunan dan masyarakat yang punya refren soal pembantaian. 

Ya, pada suatu masa ketika pembunuhan di Soviet bukan lagi soal kualitas, tapi kuantitas; mengeliminasi jutaan orang “berbeda” yang masuk kategori “derajat satu” (tembak mati). Saat itu negara komunis perlu tumbal dari orang yang masih punya cita-cita dipimpin kerajaan. Tumpukan mayat para tuan tanah, keluarga Tsar, mantan aparat yang loyal dengan kerajaan masa silam dan setiap orang yang dianggap bersebrangan adalah fondasi yang kuat untuk memastikan kemenangan revolusi benar-benar mutlak.

Washington Post juga tak bersih-bersih amat imajinasinya soal “penyembelihan” atas nama minyak. Dan kita bisa terang-terangan atau malu-malu menyebut “penyembelihan cepat” itu dengan kata Amerika. Gelandangan Eropa yang terlahir sebagai koboi itu bisa dengan santai menembaki bangsa kulit merah sembari berkuda. Penduduk asli Amerika itu terus ditipu, diburu, disiksa. Mereka dibantai dan bahkan tanpa sempat tercatat angka statistik. 

Mencari siapa pengarang kata-kata mengerikan itu dengan memilih negara yang punya pengalaman soal pembantaian, Jerman bisa jadi pilihan. 

Jerman pernah menghasilkan pegawai rendahan bermental raja tega. Ada orang-orang yang bersedia bekerja lembur dengan upah murah untuk pekerjaan menggiring puluhan Yahudi, penderita gangguan cacat mental dan para gipsi ke kamar gas untuk dibantai. Konon, Yahudi yang telah jadi mayat itu pada akhirnya dicatat dalam daftar dan angka statistik yang dingin. 

Negara mana yang tak punya sejarah pembantaian? Sejarah Soviet dan Amerika sama-sama berdarah. Yang membedakan adalah dalih yang dibuat dan seberapa jantan untuk mengakuinya. 

Lalu, siapa yang menulis quote itu? Tentu siapa saja bisa jadi penulisnya. Zionis Israel juga boleh-boleh saja merevisi quote itu setelah tak bosan-bosannya mengusir warga Palestina dan membantai mereka seperti binatang. 

Atau bisa jadi kata-kata itu justru ditulis atau direvisi oleh Pemerintah Indonesia. Siapa? Apakah orang-orang di balik Jokowi? Ah, sudah jelas tidak mungkin. Kita semua tahu, tukang mebel asal solo itu jelas tak punya perangai Firaun atau Namrud. 


Citra D. Vresti Trisna

29 November 2023



Jumat, 08 Mei 2020

Klenik

Kiri: Alm Mbah Bambang & Gus Be


Ia menyodorkan tangan pada saya dan memperkenalkan diri. ”Saya, Bambang. Sudah dua tahun lebih tinggal di sini.”

Ia mengaku ingin menghabiskan usia senjanya di Tampuono, pos dua pendakian Gunung Arjuna via Purwosari, Pasuruan. Sehari-hari, kakek asal Lumajang ini hidup di pondokan kecil yang dibangun oleh masyarakat dan pertapa. Di tempat itu terdapat beberapa pondokan kecil tak berpintu dan dibangun berjajar. Ada juga beberapa bangunan yang dipakai untuk ritual. Konon, pondokan itu dibangun oleh beberapa ”alumnus” Arjuna yang telah sukses usai menempuh ritual.

”Ya, terserah kalau tidak percaya, pondokan ini tambah banyak. Berarti makin banyak orang yang berhasil setelah pulang dari sini lalu membangun pondok,” ujarnya. Dan saya lihat memang pondokan di sini memang makin banyak dibanding sebelumnya waktu saya ke sini. Selain membangun pondokan kayu, pondok ini juga dilengkapi dengan berbagai peralatan yang bisa dipakai dengan gratis, mulai alat dapur, jaket tebal penghangat, sarung dan alat-alat untuk berkebun.

Kehidupan di pondokan ini terbilang cukup komunal. Mereka bisa berbagi rokok, makanan, saling membantu memotong kayu bakar untuk memasak. Dan di hari yang dianggap keramat, para pertapa itu biasa melakukan ritual sendiri-sendiri dan ada juga yang bersama-sama, dipimpin oleh orang yang dianggap paling sakti di antara mereka.

Ketika aku tanya apa tujuan Bambang menghabiskan usia tua di pondokan Tampuono, ketika banyak orang ingin mati di rumah bersama keluarga, ia enggan menjawab. Tapi, sebelum saya melanjutkan perjalanan ia baru mau bicara: ”ketenangan, mas,” katanya, ”apa lagi yang diharapkan orang tua seperti saya. Mungkin kalau yang muda, itu ada yang cari kaya, ada juga yang cari ilmu dan juga tirakat,” lanjutnya. 

Bambang tua hanya turun dari pondokan itu hanya bila membeli bahan makanan di Desa Tambak Watu, desa terakhir di kaki gunung. Selain itu, ia juga akan turun bila tokoh spiritual dari Kostrad (yang ia anggap guru) dan juga beberapa orang anggota aktif berkunjung ke sana untuk latihan. Yang saya ingat dari pria ini adalah pengakuannya untuk tidak akan turun dan kembali ke kota, ke rumahnya. ”Saya ingin mati, moksa, kalau mungkin gagal moksa, saya ingin dikubur di sini.”

Rabu, 12 Juni 2019

Anak Band Ngehitz VS Mesin Sampink


Mesin Sampink

Sejak kecil, saya sudah akrab dengan musik. Banyak hal dalam hidup saya berubah karena musik. Di sekolah dasar, saya dikenal sebagai pencinta lagu-lagu Malaysia. Hampir setiap hari, buruh pabrik yang kos di belakang rumah tak pernah absen memutar lagu Malaysia keras-keras hingga terdengar sampai ke meja belajar saya. Berjam-jam membuka buku pelajaran, tak ada satu pun yang masuk. Pikiran saya melayang jauh dan batin pun hanyut meresapi luka sang penyanyi.
Lagu Malaysia mengajarkan saya arti patah hati dan merana ditinggal kekasih. Alunan musiknya yang mendayu-dayu membuat saya — yang saat itu belum cukup umur — diam-diam menyimpan obsesi patah hati. Saya ingin merasakan rasa sakit ditinggal kekasih. Karena, saya pikir, kalau sudah patah hati akan dapat lebih khusyuk menyanyi. Syukur Alhamdulillah cita-cita saya merasakan patah hati bisa kesampaian di masa SMA. Meski ketika patah hati saya justru lupa pada lagu Malaysia, tapi malah jadi brandalan.
Menginjak SMP, televisi mengisi waktu makan siang saya sepulang sekolah dengan sajian musik dari Boomerang. Saat itu, mau tidak mau, lagu-lagu Malaysia merelakan diri berbagi sebagaian ruang di hati saya untuk diisi Boomerang. Karena Boomerang membuat pikiran saya jauh lebih rileks dari sebelumnya.
Kehadiran Boomerang di kehidupan saya ibarat Wahyu Makutoromo yang membisiki batin saya dengan kata-kata motivasi yang keramat: ”kamu harus jadi anak band”. Ya, saya benar-benar meyakini bisikan itu. Saya sugesti diri saya tiap hari. Saya masukkan Boomerang dalam diri saya agar kelak bisa sangar seperti rambut John Paul Ivan; cadas seperti Farid Martin Badjeber; suram tapi asik seperti Hubert Henry Limahelu; lantang seperti Roy Jeconiah.
Dan Subhanallah sekali, akhirnya saya jadi anak Band.

Stress, Mbah Jenggot Mojokerto Solusinya


Situasi sedang gawat. Saya melihat tahun 2017 adalah waktu di mana semua persoalan sampai di titik klimaks; baik urusan di sekala nasional, daerah, kecamatan dan bahkan sampai ke bilik kamar. Tentu saja sebagai seorang penulis, saya ingin menulis semua kerumitan itu. Memetakan persoalan yang ada lantas menawarkan solusi. Meski kaliber saya di bidang penulisan hanya sekelas coro, tapi sebagai seseorang yang berupaya baik, saya ingin memberikan kontribusi positif bagi anda semua. Terutama bagi pembaca Kabar Mojokerto yang budiman. Namun, apalah daya saya. Nafsu besar tenaga kurang. Maafkan saya.   
Ketika hendak merenungi lebih dalam bahan yang akan saya tulis, mendadak tangan saya jadi kaku. Tidak biasanya saya jadi seperti ini. Terlebih ketika menyadari dampak tulisan-tulisan saya ibarat sebutir pasir di Gurun Sahara. Hal ini sangat menyiksa batin saya. Duh, Gusti, betapa sombong dan angkuhnya manusia macam saya ini karena tidak mau belajar dari pengalaman.
Sudah jelas-jelas tahu bila masalah-masalah di segala lapisan tidak mungkin diselesaikan tanpa bantuan Allah, tetapi masih saja ngeyel dan sok ikut-ikut menyelesaikan. Saya ini tidak punya modal kewaskitaan dan kejelian mripat untuk melihat dan memetakan persoalan-persoalan yang ada. Punggawa pemerintah di segala lapisan pun bisa dipastikan akan gagal membenahi situasi saat ini. Bahkan teori-teori sosial paling canggih yang dipercaya jadi obat mujarab membenahi Indonesia tidak akan mempan mengatasi persoalan yang sedemikian kompleks ini. Kalau presiden, gubernur, bupati, akademisi, dan budayawan saja tak mampu, apalagi saya.

Minggu, 13 November 2016

Status dan Jakun Meriang

Dunia memang sudah gulung kuming. Di puncak saya mulai wegah dengan media sosial. Seorang dari kawan lama SMS: ”mas Dalbo, kok, jarang nyetatus lagi? Saya senang dengan status yang kamu buat!”
Setelah keluar dari toko buku, saya lenger-lenger sambil udut dan membaca lagi pesan darinya. Ini maksudnya apa, ya? Saya agak kurang ngeh arti kata ”nyetatus” yang saat itu saya maknai sebagai ”status; keadaan atau kedudukan”. Karena istilah ”status” ini bisa saja diartikan sebagai status facebook, status bujang lapuk, status pacar, pernikahan, atau mungkin bisa saja status sosial yang lainnya yang menohok batin.  
Dulu saya memang hobi bikin status panjang di facebook. Dorongan ke-alay-an saya terus merangsek ke dalam batin hingga tak pernah tahan untuk tidak meluapkan isi pikiran menjadi kata-kata yang muncrat-muncrat wall facebook. Saya pun masih ingat bila kawan saya ini dulunya sering mengetik amin dan share komentar dan like di status panjang saya. Tapi, apa iya bila status yang dimaksud kawan saya itu adalah status facebook? Karena tampang saya terbilang jauh dari aktor-aktor garda depan industri motivasi yang selalu mendapat like dan komentar dari teman-teman. Terlebih, meski saya alay, tapi saya bukan seleb tweet yang genit.  Maka saya mengeliminasi ”status facebook” sebagai kata yang dimaksudkan kawan saya sebelumnya. Dhapurmu iku sopo, blo, soblo. Kalau kata penyair ikan bandeng, saya ini cuma pemungut ranting.

Sepulang dari Gramedia Mamamen, saya tidak langsung pulang karena sudah janjian untuk kongkow bareng dengan jakun-jakun kosan yang jomblo atau sedang LDR di Warkop Tempo Sekarang daerah Salemba. Di sana pun, kami cerita soal hantu di kosan, hantu di kampus, kampung, curuk dan hantu kesepian di malam-malam gelap. Kami juga tertawa lepas. Tapi pahit sekali rasanya. Kanan-kiri-depan-belakang kami duduk muda-mudi berpasang-pasangan. Mereka seperti acuh dengan tawa kami yang meledak, kecuali mas-mas penjaga warung yang juga jakun-jakun yang kerap nyengir kuda sambil mesam-mesem menatap ke arah kami. Mungkin mereka diam-diam mbatin, ”oalah, bekakas iki teko maneh.”
Jakun-Jakun Meriang

Sepulang dari sana pun, para jakun koplok ini masih mengajak ke Bundaran HI. Untuk apa lagi? Ya, jelas untuk menggenapkan luka sepi. Kemudian, bujang-bujang stres (tidak termasuk saya) mengajak ekspedisi taman di Jakarta. Alhasil berkelilinglah kami ke Taman Menteng, Taman Suropati. Tapi, belum genap ekspedisi itu, Mas Rombong, salah satu jakun kesepian itu mengajak kami untuk melihat porstitusi pinggir jalan. Usai melintasi tempat itu, bisik-bisik sebentar, berdebat akan ngopi lagi di sana atau langsung ke tempat berikutnya. Akhirnya diputuskan: pulang.
Saat hendak ambil wudhu, sarung saya tersangkut kawat timba milik janda di sebelah kamar kos saya. Saat itu juga pikiran saya dikembalikan ke SMS kawan saya tentang status. Mungkin karena janda di sebelah saya ini kerap didatangi pacarnya untuk dokter-dokteran tiap malam minggu. Dan waktu sarung saya kesangkut, ”status” yang muncul kali ini berbeda. Status yang berputar di kepala saya ini lebih bersifat kamar, pribadi. Status yang mungkin membuat jakun-jakun semangat ini ngeluyur tiap malam minggu. Mungkin karena pakewuh satu sama lain kami membuat kami hanya melihat-lihat saja; jadi akal-akalan ekspedisi taman; kongkow di warung hanya untuk pesan mie goreng doble plus Kopi Temanggung.
Apa kami tak ingin mengakhiri masa lajang? Tidak juga. Seandainya membuat status ”kawin”, ”tunangan”, itu semudah bikin status FB, tentu kita tak akan semeriang ini di malam minggu. Betapa menuju ke status ”ora bujang maning” akan menyenangkan banyak pihak: keluarga, teman, mantan, sahabat dan bahkan musuh. Tapi, birokrasi untuk ke sana itu ribuan kali lebih rumit dari pengurusan KTP, lebih rumit dari presentasi menawarkan iklan koran di perusahaan, presentasi tugas jaman kuliah.
Angin dini hari di Jakarta itu dingin. Sedangkan kasur dengan ”status” itu kelewat hangat. Kalau di suruh memilih... Ah, kau tahu, aku ini bukan orang bodoh.

Kosan Setia Kawan Lantai Dua Yang Ada Sofanya, Sabtu Legi, 13 November 2016

Citra D. Vresti Trisna


Jakarta dini hari 


Senin, 27 Oktober 2014

Kebas-kebus Rokok Kimcil CL


CL UB


(CL, Riwayatmu Kini)
Berawal dari tempat ini saya mulai mencintai Kota Malang. Ya, CL adalah tempat terbaik melibas bosan sambil ngopi, ngudut, baca buku, main catur dengan hape, atau menebak-nebak nomor togel paling ciamik.
Awalnya, saya kenal tempat ini saat masih di PPMI (organ absurd yang sekarang hampir modar). Saat itu, kalau tidak salah, ada agenda rapat kerja PPMI sekaligus konsolidasi. Dan orang yang berjasa dalam membuat saya mencintai CL adalah Andi Mahifal, Sekjen PPMI, yang kerap menyebut dirinya sebagai: Aktivis Muda Progresif Berbakat Multi Talenta (mati muda masuk tempo). Berkat pemuda berpantat tepos dan kurus kering ini saya jadi senang berlama-lama di CL.

Jumat, 25 April 2014

Predikat Bajingan Itu Cuma Milik Saya #demromor4

Usai melihat subuh, Rori terhuyung-huyung datang ke warung. Ia minta dibuatkan kopi dan mengambil beberapa batang rokok lalu duduk dan tertunduk lesu.
”Kau ini kenapa?”
Dan berceritalah dia. Kurang lebih seperti ini:
Dalam kamus bajingan yang kumengerti, kehilangan adalah sebuah langkah awal untuk berusaha (suka-tidak suka) mengerti batas. Tidak ada sesuatu yang perlu dipaksakan karena waktu akan selalu datang dengan air bah. Membawa apapun yang tak pernah kita duga. Dan kita adalah gelandangan papa yang harus piawai memanfaatkan apa yang dibawa air bah.
Mungkin, bagi bajingan sepertiku, air bah itu juga membawa orang-orang baru yang bisa kita manfaatkan. Dan tanpa bermaksud mengeras-ngeraskan hidup; bukankah hidup itu keras? Kalau tidak membunuh, kita lah yang akan dibunuh. Mekanisme pertahanan diri yang terekam dan kupelajiari baik-baik waktu aku terdampar selama beberapa tahun di Terminal.
Bagi penjahat sepertiku, moral adalah urusan nomor 689. Mungkin moral akan menyayangkan kehilangan; sesuatu yang pernah berarti dalam hidup kita. Tapi, kehilangan tidak berarti apa-apa dalam hidupku karena aku percaya ada air bah yang membawa orang-orang baru. Aku tidak peduli, kehilangan selalu melibatkan hati lainnya yang mungkin patah.

Rabu, 02 April 2014

Lelaki-hidup-sakit

Seberapa jauh kau dininabobo rasa sakit? Sedang kau ingin bijaksana tapi tak mengakrapi rasa sakit. Bukankah sebelah mata bijaksana adalah rasa?
”Lalu, Ror, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
”Mintalah maaf pada Tuhanmu. Yang menyusupkan cinta lewat puting susu hidup dan memancarkan segala sakit agar kau tumbuh dewasa. Kau sering menafikan cinta-Nya, bukan? Setelah kau dewasa, sebelum kesaktian itu tiba, ’berpuasalah’. Matikan ’apimu’; dendammu; yang membuatmu menjadi bonsai di tengah gelap hutan,” ujar si sudrun sebelum dia lenyap dalam kegelapan dan bergelas-gelas kopi yang belum terbayar.

#
Yang wajib dari rasa adalah luka – Danto.

Jumat, 17 Januari 2014

Sepagi Ini Sarapan Api; (kepada, er)

Mereka mulai saling melupakan satu sama lain. Benar-benar lupa meski andai saja keduanya bertemu, tentu masih ada sisa air mata. Ya, melupakan adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan kenangan. Sedangkan kenangan adalah berandalan paling jahat ketimbang keberingasan lelaki; dari menyerahnya perempuan pada sesuap kepentingan politik taik kucing; dari dungunya lelaki yang berpikir cinta bisa didapat dari sekedar pajero dan rupiah.

Meski terkadang aku ragu. Begitu mudahnya seseorang melupakan, atau mungkin aku saja yang tertipu: bila sebenarnya senyum dan sejuta kata sayang bukan berarti cinta. Bukankah sejak jaman budak bercelana dalam kresek, masalah selalu muncul karena manusia itu memiliki muka yang berlapis-lapis. Sehingga kedunguan paling megah adalah bila kita percaya pada media sosial semacam facebook, twitter, dll. Media sosial adalah alat untuk kita menipu publik yang payah. Ia tak pernah bicara apapun kecuali untuk makanan pertama manusia jaman celana dalam kain: eksistensi.

Selasa, 05 November 2013

#WACESABE

Tidak ada yang lebih sakral ketimbang rasa bosan. Ya, mungkin karena ia datang langsung dari Tuhan. Kebosanan (hampir) selalu didahului oleh rutinitas, (biasanya) rasa muak, dan yang terakhir adalah ”membelenggu kuda liar itu pekerjaan dungu”.
Sejak awal aku menolak untuk ditaklukan dengan cara apapun. Meski pada akhirnya aku harus bertekuk lutut di salah satu tempat yang kusengaja untuk menguji seberapa besar orang menghardikku nanti. Meski pada akhirnya aku kalah karena telah terpancing dengan seseorang yang pernah kukuliahi perkara media umum.
Hidup media umum! Hidup buruh!

*
Sekarang aku tinggal di Sampang, Madura. Bekerja sebagai buruh di pabrik kata-kata. Saya tidak tau, saya ini kerasan atau bagaimana. Tapi, yang jelas, itu akan saya tahu dua tahun lagi. Bukankah hidup adalah persoalan mencoba dan berani menyelam. Dan sekarang saya sedang menyelam dalam sekali.
Untuk ”matinya” kota ini, saya tidak banyak komentar. Hanya saja, kalau dalam seminggu, saya tidak kena kopi Surabaya, kepala saya bisa pusing, pantat gatal-gatal, kram otak hingga bunuh diri. Ngeri rasanya membayangkan ada seseorang yang sampai mati bosan. Terbunuh hanya gara-gara kesunyian dan rutinitas yang membunuh kreativitas dan akal sehat.

Senin, 21 Januari 2013

Bencana Banjir Jakarta (lha matamu a?)



http://banjarmasin.tribunnews.com/
Banjir. Diam-diam saya “mensyukuri” hal itu sebagai anugrah, lantaran di ingatkan; seperti apa wajah kita (orang Indonesia). 

Kita adalah bangsa yang memiliki rakyat dengan sejuta paradok, dimana membuat orang gila macam saya nggelendem mesam-mesem. Saya bersyukur dilahirkan di kampung Indonesia , dimana banyak hal-hal terjadi di luar nalar. Biar pun banyak media memberitakan seolah-olah ada "sosok", entah individu atau kolektif yang bersalah dalam bencana banjir ini. Tapi, seperti biasa pula  masalah yang terjadi selalu berakhir dengan mengambang. Tentu membicarakan media dan objek beritanya tidak lepas dari politik media dan terusterang saya bosan membicarakan itu.

Saya tertarik memperbincangkan banjir dari kacamata AS Laksana. Ia memandang banjir adalah kesalahan kolektif orang Indoneisia yang tidak mau belajar dari pengalaman. Menariknya, AS Laksana menganggap “pengalaman adalah guru terbaik” adalah sebuah kekeliruan. Sebab, risiko hidup di dua musim adalah : kekeringan dan banjir. Mestinya kita yang sudah berkali-kali mengalami banjir harus bisa belajar dari pengalaman dan sudah ada jaminan kita tidak lagi kekeringan dan kebanjiran. Aku takjub dengan AS Laksana yang jeli memandang banjir adalah sebuah paradok yang semestinya tidak perlu terjadi.

Tapi saya tidak tertarik dengan obrolannya di ruan putih, Jawapos, soal selokan, resapan air, dll. Saya hanya ingin menyoroti kejeliannya menangkap antitesis bagi pepatah “pengalaman adalah guru terbaik,” di Indonesia. Ia tau bila orang-orang Indonesia  tidak kunjung belajar dari pengalaman  namun pandai  mengutuk. Tapi saya justru curiga bila banjir yang terjadi memang karena sengaja diciptakan orang-orang kita sendiri yang selalu merindukan dirinya sengsara (masokis). Rasa-rasanya kalau hidup orang Indonesia baru enak sedikit, sudah bingung setengah mati kepingin nyari susah.

Kamu ini gila, jaman sekarang ini siapa yang ingin menderita, mas bro?

Siapa? Ya, Raimu itu, cuk! (maaf, saya sedang sensi gara-gara rokok saya tinggal sedikit) Kalau tidak, mengapa kita tidak kunjung belajar dari pengalaman? Kalau sudah pernah kebanjiran sekali, ya, mestinya  bisa menanggulangi banjir apa pun caranya. Andaikan pemerintah yang ngelola duit kita sedang ndugal, tidak serius dalam mengatasi banjir, paling tidak kita merubah pola hidup dari diri sendiri. Misalnya, tidak buang sampah ke sungai, tidak tinggal di bantaran kali, tidak menebangi daerah puncak untuk vila, dll. Tapi, nyatanya pola hidup kita juga begini-begini saja. Tidak mau belajar. Kalau sudah banjir, kita ngeluh, nangis, melow drama, update status. Apa ndak Jancuk itu namanya? Apa dengan tidak merubah pola hidup hingga kena banjir itu bukan derita yang kita buat sendiri?

Tapi kan harusnya pemkot selaku pembuat regulasi mesti serius dalam menangani masalah ini?

Nah itu dia. Jadi ketika saya bicara Indonesia, itu sudah mencakup rakyatnya, pemerintahnya, baik pemerintah pusat juga pemkotnya, mahasiswanya, cendekiawan, seniman, tokoh agama, demitnya, setan-setan yang tinggal di sini. Semuanya rindu dengan banjir. Kalau kamu anggap persoalan ini adalah tugas pemerintah selaku pemegang aturan, mestinya mereka serius. Tidak maling dengan kedok proyek  penanganan banjir kota. Mahasiswa juga sama dungunya dengan kerbau, sebagai calon penerus generasi tua yang bau kuburan, mestinya mereka bisa berpikir lebih maju  dan tidak sok-sok an saja. Juga raimu, yang tidak selalu mempertanyakan apa dan mengapa tanpa memberi solusi yang jitu. Jadi semua ikut ambil bagian dalam banjir yang terjadi di Jakarta. Dan harap dicatat bila itu termasuk saya.

Lho-lho sebentar, mas. Kita pakai logika, siapa yang mau hidup susah ditimpa berbagai kemalangan seperti ini? Semua orang ingin cari senang, jangan ngawur, mas!

Omongan macam begini yang aku tunggu dari tadi. Selain akan menjelaskan betapa paradoknya orang-orang Indonesia. Aku juga ingin ngerasani AS Laksana, penulis novel Bidadari yang mengembara.

Kalau sekarang sudah terjadi banjir, sampeyan ngeluh dan mempersalahkan sesuatu yang tidak jelas jeluntrungannya. Kan tadi sudah saya bilang, kalau kita ndak mau susah, mengapa tak satu pun dari kita merubah pola hidup agar tidak ditimpa kemalangan? Hal ini juga yang harusnya AS Laksana tau bila ngomong soal apa pun di sini tidak bisa didekati dengan pepatah-pepatah yang bukan murni dari kita sendiri. AS Laksana boleh bicara macam itu di luar negeri, tapi tidak di sini. Teori sosial produk toko kelontong ilmu pengetahuan (baca: kampus) tidak bisa mendekati dan menggambarkan secara persis bagaimana pola pikir, sikap jiwa, dan keyakinan yang dianut bangsa kita. Dia bicara demikian sama halnya dengan membuka kelaminnya sendiri dan dipamerkan ditengah pasar. Seolah-olah kita adalah orang terbelakang yang tidak tau bagaimana mengelola hidup dengan rasional. Seolah-olah kita ini begitu bodohnya. Dan kupikir, bodoh pula yang ikut-ikut apa kata dia.

Mengutip kata-kata AS Laksana, “saya jadi berpikir bahwa ‘Pengalaman adalah guru terbaik’ mungkin adalah pepatah yang keliru. Jika pepatah itu benar, kita tidak akan pernah kebanjiran tiap tahun. Dalam sejumlah kasus, pengalaman tidak pernah menjadi guru terbaik. Atau, ia tetap guru terbaik, tetapi tidak setiap orang adalah murid yang mampu menangkap pelajaran.” Penilaian AS Laksana  benar bila “pengalaman adalah guru terbaik,” adalah konsep yang keliru. Lebih tepatnya itu keliru kalau di terapkan  di Indonesia, dengan beragam bukti yang sudah dia paparkan. Untuk kata-katanya yang berbunyi: “tidak setiap murid adalah murid yang mampu menangkap pelajaran,” itu salah besar.

Dia salah karena semua orang Indonesia adalah murid yang pintar. Kalau tidak, mana mungkin kerumitan yang terjadi sampai pada batas tak terhingga. Hingga jelaslah bahwa kerumitan di sini bukan lagi diselenggarakan oleh oknum, tapi kolektivitas. Andaikan ada kepentingan multi nasional ikut campur, itu hanya sebuah sandiwara dan drama kecil yang berjudul: "pura-pura "manut." AS Laksana juga tak perlu pamer kebijaksanaan di sini, di tanah bangsa besar yang pernah berjaya di dunia, namun sekarang jadi bangsa yang rendah hati karena membungkus kekuatan dan laku spiritualnya dengan pura-pura sedih menyikapi banjir. Asal kamu tau, kita ini sedang menipu dunia dengan kerendahhatian. Nah, kita juga sedang menipu diri (terutama mahasiswa dan intelektual cap tikus). Ironisnya kita menipu diri dengan pakaian dan baju kebijaksanaan orang lain. Menipu diri dengan ilmu pengetahuan yang sebenarnya cuma kembang kertas. Kalau mereka memang bisa menangani banjir dengan kembang kertas dan ilusi pengetahuan, mengapa banjir tidak kunjung selesai, atau paling tidak bisa sedikit teratasi.

Bahkan ada yang coba-coba mencontoh kebijkaksanaan Jepang, budaya kaizen atau apa itu, saya ndak ngerti. Untuk apa kita mencontoh bangsa yang baru diterpa tsunami sedikit sudah gembeng, sudah berduka cita sampai seluruh negeri. Bandingkan dengan kita, bencana model apa pun terjadi, kita masih bisa joget dangdut. Berkaraoke sambil menggoda purel-purel kampung dengan mulut bas-bus-bas-bus ngerokok. Warung kopi juga tidak sepi, tuh. Bahkan tempat hiburan malam di Jakarta yang tidak terendam banjir juga masih sempat buka. Mas, apa benar kita ini sedang sedih dengan keadaan kita saat ini? Tidak, mas. Salah besar kalau kamu pakai pola pikir intelektual overdosismu itu.

Untuk tau seperti apa bangsa kita hanya bisa pakai hati, mas. Kejernihan akan membuat kita tau betapa agung dan besar bangsa kita. Bukan dengan pepatah sembrono yang asal-usulnya tidak jelas seperti apa yang dipakai AS Laksana. Bisa terpeleset kita nanti. Kecele dengan kemegahan yang kita kira bobrok hanya karena logika kita teracuni oleh data dan angka statistik. Boleh jadi, karena saking hebatnya bangsa ini, orang-orang pada sibuk cari susah agar lebih terlatih mentalnya dalam kondisi apa pun. Kalau orang-orang di luar sana pada sibuk cari selamat dan berupaya agar bencana tak datang, kita justru membuat bencana itu cepat datang agar jadi lebih matang.

Orang-orang kita sendiri, termasuk sampeyan juga sebenarnya, itu sangat dekat dengan Tuhan. Mereka berupaya sebisa mungkin agar Tuhan menghadiahkan bencana karena kita tau, Tuhan akan semakin mendekat pada kita. Mengusap air mata kita dengan tangan-Nya sendiri. Bukan lewat IMF, bukan lewat pihak-pihak asing. Kalau pun bantuan itu datang tanpa diminta, toh, juga tak pernah benar-benar sampai dan harus nyangkut di kantong beberapa gelintir makelar.

Kalau kita menganggap ini semua datang dari Tuhan (kalau percaya), tentu Dia tak akan sembarangan memilih kaum yang mana yang kena bencana. Karena tidak semua bangsa sanggup menerima bencana yang datang bertubi-tubi seperti yang ada di Indonesia ini, mas. Akhirnya dipilihlah orang-orang Indonesia yang lebih kuat batinnya mengelola kesedihan menjadi kekuatan pilih tanding.

Mas, tidak selalu bencana sejalur dengan kebodohan. Tidak selalu “kemiskinan statistik” dari logika ekonomi diartikan sebagai kemunduran. Karena bisa berbeda seratus delapan puluh derajat kalau itu diterapkan di sini. Kalau yang benar-benar miskin itu, ya, di Nigeria  sana. Mereka tak mampu beli rongsokan Jepang dengan gila-gilaan macam di Indonesia. Mana ada UMR yang barani beli sepeda motor sampai dua buah, dengan kredit pula. Apa ndak edan itu namanya? Jadi jangan keburu-buru, mas, dan se-enak dengkul menyimpulkan Indonesia hanya gara-gara sudah dibaptis pintar oleh kampus. Lha matamu a?

Kok jadi kemana-mana ini, mas bro? Coba anda pikir lagi, kalau memang kata-kata anda itu benar, mengapa masih terjadi korban atas musibah banjir ini? Lalu apa artinya kebijaksanaan kita? Nah, silahkan jawab.

Mas, mas! Tak pikir goblogmu ini sudah selesai. Sejak kapan mati itu dihubung-hubungkan dengan kebijaksanaan? Sejak kapan mati dihubungkan dengan bencana? Mati itu ya urusan Tuhan. Kok anda jadi menghubung-hubungkan sesuatu yang sama sekali tidak berkaitan. Lha tanpa bencana pun, setiap orang pasti mati. Orang Jepang yang hidup tertip macam robot, ya, kalau sudah waktunya mati, ya, mati. Tidak usah nunggu bencana. Kalau sampai bencana banjir ini membawa korban, berarti, ya, orang itu waktunya mati. Kalau anda masih menggunakan pendekatan teori-teori, ya, goblog sendiri jadinya. Saya kasih contoh, ya. Menurut medis, seseorang bisa bertahan hidup tanpa makan itu sampai tujuh hari. Kalau tanpa air, itu cuma tiga hari. Apa you  tidak tau bila ada orang yang ritual bertapa sampai empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan. Mereka juga masih hidup. Bagaimana itu?

Bahkan ada orang yang dipendam di dalam tanah selama empat puluh hari juga masih hidup. Itu juga lebih aneh lagi. Kalau mau contoh yang dekat-dekat dengan banjir, dengan air, oke lah. Ada lo, mas, dalam ritual jawa, orang menjalani ritual dibuang ke sungai deras oleh gurunya hanya untuk melatihnya berpasrah pada Tuhan, dan mereka ada yang tidak mati. Mereka tidak mencoba berenang, mas. Mereka juga tidak mencoba untuk menepi, tapi pasrah dengan kehendak Tuhan. Jadi bisakah kita hubungkan dua premis tadi menjadi satu kesimpulan?

Kampus mencontoh pembodohan “tidak minum tiga hari berarti mati,” itu karena sampelnya bukan kita orang-orang Indonesia. Yang dijadikan sampel adalam mereka bangsa-bangsa yang tubuhnya ringkih dan tak tahan menderita. Mengetahui realitas seperti itu, dunia kedokteran cuma bisa nyengir kuda, mas. Tapi lagi-lagi orang kita sangat rendah hati, mas. Meski pun orang-orang kita sudah tau dengan ndagelnya dunia kedokteran sekarang, orang-orang masih nekat ke rumah sakit. Berani untuk tanggung risiko jadi korban mall praktek. Itu, ya, karena tadi. Orang-orang kita berhenti untuk main aman dalam dunia yang sebenarnya penuh dengan keadaan yang tidak aman. Lagi-lagi kita spekulasi, tidak takut. 

Kalau kita balik, beranikah dokter-dokter itu ke dukun?  Ndak berani, mas. Padahal sama-sama tidak aman lo, ya.

(Manggut-manggut.)

Asu, ojok mantuk-mantuk tok ae raimu, suu.

Banjir oh banjir. Cepatlah datang. Tunaikan tugasmu untuk membuat kita jadi lebih kuat. Lalu pergilah dan sampaikan pada Tuhan bila mesti Ia sendiri yang mengusap air mata kami. Ampuni dosa kami... Sudahlah jangan kawatirkan sesuatu yang telah kita kehendaki : p

Januari, 2013
Citra D. Vresti Trisna



Rabu, 12 Desember 2012

Rokok


Saya tak mau mati dengan barang sekecil ini (rokok), tapi saya enggan bila harus berhenti membelinya. Bagi saya, rokok adalah keseimbangan yang membuat seorang manusia memenuhi kodratnya untuk ‘menyamping’; untuk sawang-sinawang.

Saya sungkan kepada Tuhan bila tidak merokok. Pasalnya Ia sudah terlanjur membuatnya, dan kupikir tidak mungkin Tuhan membuatnya tanpa maksud yang jelas. Buktinya karena tembakau, Surya Wonowidjojo bisa punya duit sampai US$ 10 milyar. Hal ini membuktikan keseriusan Tuhan dalam memberikan manfaat bagi Wonowidjojo. Tuhan juga sangat serius memberikan kehidupan bagi para petani tembakau di Madura, pengusaha pupuk, makelar di pasar-pasar, tengkulak, buruh linting, supir truk-truk besar yang mendistribusikan, agen-agen besar, pengecer rokok warung kopi, juga saya sendiri.

Saya senang berbaik sangka dengan ciptaan Tuhan, terutama tembakau. Hanya saja pihak kedokteran di seluruh dunia dan dinkes selalu membuat saya gerah lantaran menghalangi kekhusukan saya berbaik sangka. Iklan anti rokok dibiayai dengan wah, tanpa berpikir dampak jangka panjangnya. Harusnya, kalau pakai akal sehat, mestinya senang kalau banyak orang terjebak dalam lubang racun nikotin. Rumah sakit jadi laku kalau banyak orang memeriksakan paru-parunya dan ilmu si dokter selama kuliah bisa berguna, jadi duit, sukur-sukur bisa (naudzubilah) mal praktek. Bukannya rumah sakit adalah bisnis orang sakit?

Selasa, 27 Desember 2011

Teh Tawar

Teh tawar. “Percayalah, ini enak. Cobalah.”

Selalu seperti itu kalau kebetulan aku sedang nyelles karena ditanya macam-macam soal pesanan teh tawarku yang baginya tidak lazim. Batinku, apa urusanmu dengan teh tawar yang aku pesan? Aku mau pesan teh campur taik kucing, atau taik kambing, itu semua urusanku. Tapi untung saja, di Indonesia masih belum ada warung yang mencampur hidangannya dengan taik kucing. Sehingga, aku tak perlu memesan teh campur tai kucing.

Di terminal Terboyo, Semarang. Seorang lelaki (kata kawanku mirip Rendra) tanpa ba bi bu, dia berujar: teh tawar bisa bikin kita awet muda. Apa hubungannya? Setahuku teh tawar itu obat mencret. Itu saja. Kalau saja ada penelitian yang membuktikan bahwa teh tawar membuat Anda jadi awet muda, atau bikin kita jadi lebih kaya, itu urusan nanti.

Senin, 26 Desember 2011

Benjol


Seorang mahasiswa dipukuli sampai kepalanya benjol saat kongres untuk pemilihan SEMA baru di sebuah kampus preman. Sebut saja bunga (bukan nama kampus yang sebenarnya) untuk menjaga nama baik humasnya, dan yang terpenting agar kampusnya terus laku.
Kabarnya mahasiswa naas (baca: preman tengil) itu menendang bangku sampai terjungkir ketika tidak terima dengan keputusan presidium. Dia dikejar-kejar sekumpulan mahasiswa lain (yang juga preman) yang tidak terima dengan ulahnya – merasa kepentingan golongannya terganggu – sampai kemudian menghajarnya di depan pos satpam. Hingga sekumpulan satpam yang sedang menikmati malam sambil membicarakan kemolekan tubuh ayam-ayam di kampus terganggu karena keributan itu.
Karena nyoni satpam dan tingkat kepremanannya lebih tinggi dari sekumpulan preman angkatan muda yang belum baligh itu, maka keributan bisa diatasi. Massa membubarkan diri dengan menggerutu. Dan saya pun kecewa karena batal menyaksikan baku hantam preman kampus. Padahal malam itu saya sudah memasang taruhan dengan kawan saya: apakah keributan itu bisa menelan korban dan bakal ada drama penjara. Keributan berakhir dengan ending yang kurang dramatis. “Kejahatan” tampil dengan biasa saja.

Minggu, 03 Juli 2011

Kletek malam minggu


#
Sisa-sisa kotoran ada di sini
di kepalaku dan membuat segalanya runyam. Sedang aku tak bias memilih. Membiarkan malam minggu sendiri: dikutuki sumbar-sumbar keparat
remaja kampung

kalau saja….

#
Sunyi, kesunyian…
Ingatan robek pada luka-luka, silam
Sedang menggerutu pun gagal

Selasa, 28 Juni 2011

obrolan 2 pemuda di sebuah sore warung Kletek

Menghargai seseorang itu dengan memanusiakannya. Bukan dengan berjongkok-jongkok. Meskipun maknanya berarti, menghormat. 

Ku pikir dari sinilah orang-orang kita selalu di jajah. Budaya adalah budaya. Tetapi ketika bikin orang-orang menjadi ‘sakit’ karena musti memelas kepada mereka yang lebih tua, lebih kaya, atau lebih dari segalanya, itu berarti menghilangkan nilai kita sebagai seorang manusia. Jadi jangan salahkan penjajah bila dia betah ngangkang dan berak di kepala kita tanpa punya anggah ungguh kepada kita sebagai tuan rumah. Juga kepada raja-raja jawa yang busuk itu mereka bisa se-enak perut melakukan penghisapan dan perbudakan, karana memang orang tua kita sendiri yang mengajarkan kita selalu berjongkok-jongkok menghormat. Dari sinilah persooalan bermula.

Selasa, 21 Juni 2011

melihat orang berkasih-kasih: aku menulis


: Melihat dua orang pemuda berkasih-kasih, aku menulis

Kita memang pernah bertemu untuk sekedar bercinta-cintaan. Banyak malam kita lewati berdua, untuk sekedar suka, merindukan, dan banyak malam yang kita ingat betul bagaimana persisnya. Dan pada saat itu, kita mengikat janji.

Namun kita telah terpisah cukup lama. Menjalani kehidupan dengan jalan kita masing-masing: kau menikah dan aku kuliah lagi dan mengembara. Entah bagaimana persisnya, tapi yang jelas begitu sakit rasanya untuk menganang masa-masa kita saling menangisi diri karena dikhianati nasib. Seingatku kita menangis saat gelap mendatangi kita, di pinggiran jalan kita saling mengucapkan selamat berpisah dan peluk cium sekedarnya sebagai tanda cerita telah usai.

Kau pergi dan harus menjalani hidupmu dengan menikahi seorang lelaki yang baru kau kenal. Tapi ironisnya, itulah pilihanmu. Sedangkan dari jauh, aku mengutuki: menyumpah serapah pada wajah jodoh yang tak ubahnya judi lotre.

Tentang Perempuan

:untuk seorang perempuan yang melipat mukanya menjadi tiga ratus
“Bagaimana aku harus memanggilmu?”
“Suka-suka kau mau panggil apa.”
“Begitukah? Bagaimana kalau aku memanggilmu pink?” Kini kau tertegun.
“Mengapa? Karena warna bajuku kah?” Tukasmu sambil menilik kausmu, seperti tidak pernah melihat warna di kausmu sebelumnya. “Terserah kau saja. Tapi sepertinya aku suka nama itu.”
Aku tersenyum. Kau pun melakukan hal yang sama. Kemudian memelukku. Mencari-cari bibirku untuk kemudian kau lumat dengan rakus. Dan rasanya tubuhku seperti melayang tinggi, terbentur awan dendam yang sangat gelap. Aku tak tau apa itu. Sebab kau tak memintaku bertanya.
“Diam dan rasakan. Kalau kau merasa perlu menikmatinya. Silahkan! Aku pun tak berkeberatan.” Seperti kerbau yang di cocok hidungnya: aku diam. Seperti Musa yang tak sabar tingkah polah sang Khidir: aku tak bisa menahan hatiku untuk diam.

Selasa, 14 Juni 2011

Reagae: Metode Tulit Lepas Dari Luka

Pagi ini sepi seperti biasanya. Memang pagi di sini tak pernah riuh macam di kota. Tapi aku merasa pagi di kamar ini adalah yang paling teduh dan bisa membuat aku berdecak. Sebab, tidak ada yang lebih indah dan nyaman dibanding yang lain; berderet buku, sebuah kursi rotan tua, gambar-gambar bodoh, meja belajar yang tak pernah nampak rapi, dua buah lukisan karyaku sewaktu SMP; cuma benda-benda ini yang membuat aku tetap merasa aman dari apapun. Tapi aku tau, suatu saat aku mesti pergi untuk bertualang dan mendapatkan kamar baru lagi. Karena meskipun nyaman – tanpa petualangan – aku akan menjadi kerdil.

Akhir-akhir ini aku merasa kesendirian hadir dengan sangat mencekik. Entah mengapa aku jadi merasa sering sendiri. Untung saja malam tadi, si Tulus dan Bajuri menyempatkan datang untuk mengunjungiku di Warung Kletek.

Kamis, 09 Juni 2011

Seniman


Seniman, kata yang mengerikan dalam kamus ingatanku. Ia mendobrak; terkadang diam, namun mengorganisir perlawanan demi perlawanan, dimana setiap pemberontakan yang lahir selalu bersumber dari kesadarannya akan sesuatu. Dan sesuatu itu apa, itu bisa sekedar label yang sengaja “diciptakan untuk…” atau melakukan sesuatu yang memang “harus, agar…”.