Laman

Jumat, 07 Oktober 2011

Ninja Brewok Vs Naruto

Di kampus Trunojoyo telah terjadi perang besar antara Naruto VS Ninja Brewok.
Lihat, karena kekuatan mereka, sawah jadi mengering dan jalanan perumdos jadi retak.
Ini fotonya:

Bagi yang ingin luhat videonya: kunjungi link ini.

Rabu, 05 Oktober 2011

basa-basi

Tokoh feminis liberal abad 18, Mary Wallstonecraft, mungkin berkata hal yang benar soal: kesetaraan pendidikan bagi perempuan. Tapi, untuk hidup, dan mengamini kodrat kebinatangan seseorang: perempuan meusti belajar soal berbasa-basi dengan laki-laki.

Citra D. Vresti Trisna

Selasa, 04 Oktober 2011

Fundamentalisme

Saya percaya bahwa fundamentalisme adalah wajah kita semua yang percaya pada sesuatu (agama). Sekali pun fundamentalisme telah berubah makna, ketika Negara Barat gencar berpropaganda; sejak dua menara kembar diratakan pada 11 September. Fundamentalisme sendiri telah berubah makna, yang disebut James Barr untuk mengistilahkan fundamentalis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Dunia Kristen; disempitkan menjadi sekedar “politik islam”. 

Dalam sejarah Kristen, fundamentalisme dipakai untuk menyebut para evangelicals atau penjaga Injil. Tapi, itu semua adalah sejarah yang tidak butuh disinggung dan diluruskan. Dunia telah nyaman dengan penyempitan makna fundamentalisme yang berarti: politik Islam, teror, kekerasan, dll. Terlebih di Indonesia yang merasakan hangatnya sentuhan konflik dari persinggungan antara sikap konservatif kaum fundamentalis dengan penganut humanisme dan liberalisme.

Aparat: resep sukses kawin

Suatu ketika, seorang kawan sambat (mengeluh) karena percintaanya gagal di tengah jalan. Kekasihnya di tunangkan dengan seorang anggota polisi. Orang tua si gadis bersikeras menolak kawanku lantaran ia hanya penjual mainan anak-anak di pasar malam, sekaligus buruh borongan  pabrik.

Menjelang malam, di hari akad nikah si gadis, kawanku mengajakku keliling Surabaya untuk sekedar mencari hiburan kecil-kecilan. Dua botol anggur merah menjadi simbol patah hatinya. Miris juga sebenarnya. Tapi, ketimbang melihat kawanku bunuh diri, lebih baik aku menemaninya sebagai ungkapan ‘ikut bersedih’. Ditambah sumpah serapah kepada si polisi dan si gadis menjadi menu pelengkap pengganti kacang dan camilan. Kawanku ‘menyanyi’, sementra aku mendengarkan sambil terus nyepur rokok.

Senin, 26 September 2011

Menyesal Kuliah

Untuk apa aku kuliah? Muak aku dengan perkulihan ini, kalau saja ada pilihan lain yang bisa aku ambil – dengan menggelandang saja, belajar hidup – tidak memberikan pengaruh dan dampak bagi kebahagiaan orangtuaku di rumah: aku sudah pergi sejak dulu. Meninggalkan segala parodi tentang hidup: berkuliah, sarjana, status sosial, dan segala sesuatu yang dikatakan modern. Tak ada pilihan. Mau tak mau aku harus mengambil jalan kuliah ini, selain itu aku juga sudah tua di kampus ini. Terlambat: aku harus menyelesaikannya. Demi kebahagiaan dan kebanggaan yang sama sekali bukan untukku.

Senin, 05 September 2011

Belajar Bijak Pada Khidir dan Rakyat


Tiba-tiba saya jadi bingung. Menyadari sebuah fakta tentang masyarakat, khususnya di Indonesia, adalah sebuah peradaban tua yang sudah kenyang dengan urusan dan segala tetek bengek keramahan dan basa-basi politik model apapun. Segala basa-basi akan dibalas dengan basa-basi pula, sebab kedalaman hati masyarakat Indonesia ini masih belum ada tandingannya. Apalagi untuk benar-benar memahami apa itu Indonesia dengan berbagai perangkat dan segala mahluk di dalamnya. Maka boleh jadi apa yang kali ini ku curahkan akan mengalami pincang, sebab aku masih memandang dari kacamataku saja.
Semaling-malingnya politisi, dan sejahat-jahatnya kepentingan yang dating mendekat pada rakyat, akan mereka pahami dengan penuh kebijaksanaan, keramaan dan penerimaan yang tiada tndingannya. Tidak sepertiku yang selalu gegabah dalam urusan apa saja, seperti keinginanku melempar muka koruptor dengan sepatu atau apa saja yang ku temui untuk bisa menghinakan mereka.

Minggu, 04 September 2011

Khidir dan Koruptor

Kalau boleh ku buat daftar pertanyaan tentang hal apa yang paling kubenci, maka di urutan pertama akan muncul kata: korupsi, yang subjeknya kita sebut sebagai koruptor. Lalu, koruptor sendiri hadir di kehidupanku sebagai sesuatu yang mengganjal dan menghalangi kekhusukanku mencintai sesama manusia.
Jika dalam kehidupan sekarang tidak ada tetek bengek hukum formal: perbuatan tidak menyenangkan, penganiayaan, penyerangan, intimidasi, teror, dan sak konconya – maka insyaalah kalau bertemu dengan saya, sebuah batu-bata akan nangkring di dahinya. Minimal sepatu atau sandal dengan bau tai bebek sudah menyabani kepalanya.