Laman

Tampilkan postingan dengan label catatan ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan ringan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2020

Jejak



POKOKNYA segala hal yang terkait dengan urusan jejak ini saya sudah kenyang, habis-habisan, remuk dan ….
Silahkan sebutkan jejak yang sekiranya, menurut anda, belum pernah saya telusuri?
Jejak maling, jejak pipa air di gunung, jejak kasus, tikus, jejak kabel listrik yang koyak, jejak kucing nyolong ikan, juga cinta, rasa atau apa sajalah. Mungkin semua pernah. Seperti yang satu ini; soal cinta misalnya.
Bisa dibilang untuk soal ini saya sudah terlalu kenyang menyusuri jejak “kekasih”. Terserah jejak untuk cinta di level yang mana: dari yang paling memble sampai paling durjana telah saya susuri jejaknya. Mungkin saat itu saya sedang mencari segala yang harus saya pahami tapi terlewat. Atau mencari segala yang coba dihapus atau yang terpaksa dihapus atau mungkin kekasih kita lupakan.
Mencari jejak itu seperti sedang berburu. Dan seperti biasa, yang menjengkelkan saat berburu adalah tak menemukan jejak-jejak segar. Setelah berhari-hari menerobos gelap hutan dan kenangan, sejauh mata memandang hanya ada jejak lama yang sebelumnya pernah didatangi. Tapi ironisnya, justru dari jejak lama itulah saya menemukan wajah sendiri: menggigil, berteduh dan menunggu hujan reda. Sudah jelas babak belur, masih saja belum kapok mengikuti jejak dan tersesat jauh ke dalam hutan.
Saya ini kesurupan “api” macam apa?
Soal “api” jenis apa, itu saya sendiri kurang yakin. Yang jelas, pencari jejak semacam saya itu bisa terus hidup dan punya “api” karena tak lupa sarapan ketika berburu. Jejak basah yang (sengaja-tak sengaja) ditinggalkan adalah senikmat-nikmatnya sarapan. Dan puji syukur saya haturkan ke Gusti Allah yang telah mentakdirkan ada hutan buatan penuh kubangan lumpur basah dan bau (baca: medsos) bisa hadir di kehidupan manusia sudrun akhir zaman ini. Hutan jenis inilah yang paling dinikmati pemburu jejak. Tekstur tanah yang berlumpur itu membuat jejak buruan terlihat lebih jelas.

Minggu, 05 Februari 2017

Cabai Mahal dan Mencret Massal

Curhat dan Analisa Peramal Togel (yang Gagal)

Sekarang harga cabai mahal. Kalau harga mas kawin sudah melangit sejak dulu. Setelah ini apa lagi?
Saya tidak ingin menyalahkan Jokowi soal cabai. Saya khawatir para pendukungnya marah. Pakewuh kalau nanti dibilang haters. Dianggap simpatisan Prabowo, meski Gusti Allah tahu saya ndak nyoblos pilpres kemarin. Saya takut juga diciduk dan dibilang makar. Karena, pengertian ”makar” itu makin kabur saja akhir-akhir ini. Terlebih lagi pemerintah sekarang ”hangat-hangat tahi ayam”, terkadang mbodo, terkadang melas, terkadang galaknya setengah modyar. Tentu saja tidak sulit ”menertibkan” kelas coro seperti saya ini, jadi saya takut. 
Soal cabai, saya hanya ingin ngedumel sendiri. Soal siapa yang bersalah, saya tak mau ambil pusing. Kalau ada pihak-pihak yang membiarkan harga cabai naik, ya, monggo saja. Jangan nanggung-nanggung dan kalau bisa sekalian menaikkan harga rokok, kopi saset dan kalau perlu menarik bayar pada oksigen yang rakyat hirup. Keinginan saya ngedumel itu karena saya mafhum  kalau ”kata-kata” itu sudah tak punya power untuk membuat bising telinga-telinga buntu. Apalagi para spekulan cabai ndak mungkin baca blog ini.
”Kalau kau pesimis dengan kata, untuk apa kau menulis?”
Terus-terang saya serba pakewuh dengan banyak pihak apabila saya hanya jadi penonton yang gemas sendiri. Saya sungkan dengan adek mahasiswa yang masih berpikir bila saya adalah mantan anak pers kampus. ”Anak pers kok tidak kritis!” Padahal saya berhak tidak peduli dengan anggapan-anggapan itu. Bukankah pers mahasiswa itu suci dan tidak bicara soal remeh-remeh urusan dapur; urusan yang nyelempit sudut genangan busuk pasar sayur. Mereka akan turun dengan sendirinya kalau yang dibahas itu sangat prinsipil, seperti: filsafat, pertentangan ideologi, atau teori nganu... nganu...
Saya ndak enak dengan tetangga kos yang kebetulan ngopi di warkop dan tanya pada saya, ”itu harga cabai mahal, kagak lu tulis? Tega amat pemerintah sama kite-kite. Lu tulis, dong. Elo kan orang tipi?” Kalau sudah seperti itu, saya harus bagaimana? Inilah yang berat buat saya. Meski mereka tidak paham dengan pekerjaan saya, tetapi apa, ya, saya terus-terusan nyengir kuda menaggapi kata-kata mereka. Kalau pun saya boleh sedikit menggawat-gawatkan, tentu saja segala yang sampai pada kita adalah ”ayat”, dimana ia datang bukan tanpa maksud. Ini adalah semiotika tuhan yang mesti saya terjemahkan walaupun sering gagal. Ya, saya ini gampang dibikin sungkan, tetapi untuk potongan saya sekarang, saya ini bisa apa? Kalau pun terpaksa jadi tulisan entah apapun bentuknya, tentu saja ini sekedar gugur kewajiban.
Kembali lagi soal standar harga mas kawin, eh, maksud saya harga cabai yang mahal. Saya pikir, kejadian ini bukan tanpa sebab atau berdiri sendiri. Kalau saya boleh lanjut untuk menggawat-gawatkan, tentu akan banyak pihak yang terseret. Jangankan menteri perdagangan, Jokowi, demit alas, atau bahkan Trump ang baru terpilih juga bisa kena. Bahkan Obama yang sedang menikmati masa pensiun sambil main karambol di pulau pribadi salah seorang pendukungnya pun juga bisa diseret-seret untuk dipersalahkan dan dikemplang. Termasuk saya.  

Selasa, 19 Juli 2016

Rumah Sakit Jiwa Raksasa

 Di kota ini kita bisa saling melambai seperti alien dihadapan sekumpulan orang asing. Kita juga bisa saling melempar senyum lalu saling melupakan.

Di kota ini, tempat dimana uang bisa membuatmu diperlakukan seperti raja. Uang juga bisa membuatmu lupa dan menganggap orang yang melayanimu tak lebih dari handuk yang mudah di buang ke keranjang. Setelah diantara kita merasa mampu membeli bulan madu dengan makan malam romantis dan sedikit membeli hidup tapi sejurus kemudian kehilangan identitas. Kehilangan kepercayaan dan tak menginjak tanah.

Di kota ini kita bisa saling membesarkan dan merawat satu sama lain. Karena kota ini telah menjelma menjadi rumah sakit jiwa raksasa. Dan kita semua adalah penghuninya.

Di rumah sakit jiwa raksasa ini, bayi-bayi akan terus lahir. Mereka tumbuh menjadi orang asing, menjadi pot bunga yang ditanami kembang-kembang ideologi, kemarahan, pertentangan, dan sperma iblis. Mereka akan tumbuh jadi penghisap lem kertas atau bocah yang kehilangan tempat dan waktu bermain lantaran menyuntuki sekolah-sekolah internasional untuk mencari kunci mobil di bra molor janda-janda kota. Menyuntuki kursus bahasa asing agar mampu menginjak kepala orang lain dan memaksa korbannya terus menghisap lem kertas sampai mati. Lalu bocah itu beranak pinak pula.

Di rumah sakit ini kita akan sama-sama tua di ranjang empuk bau obat-obatan. Menyadari begitu jauh kita melancong dan meninggalkan rumah kemanusiaan. Lalu ingatan akan mati mengundang wajah bapak ibu, kemanusiaan di pegadaian, welas asih di tali jemuran dan wajah sahabat yang pernah kita sembelih dengan canggih.

Di rumah sakit ini, mainan-mainan modern perlahan merubah kita menjadi pelacur berkaki satu dengan leher terjerat dan mulut tersumpal kaus kaki baru. Semua demi liburan luar negeri, pesta ulang tahun, bau porselen mall dan hotel penuh sperma yang kasat mata. Semua demi ketika membuka mata di pagi hari, tak ada porselen, selang infus, kemoterapi dan rambut yang berguguran. Padahal kita tak pernah kemana-mana kecuali mengantre di kuburan.

Di kota ini, kita lupa cara mencumbui kemanusiaan lantaran terlalu lelah dan bosan mencumbu bibir suami-istri. Kekasih-kekasih kita terlampau cepat menjadi orang asing.

Di kota ini, sungguh... Terlampau indah untuk bisa kita kencingi pojok ruangannya.

Di kota ini, sungguh... Terlampau indah resto dan cafenya untuk kau lewatkan tanpa mentraktirku makan malam.


Jakarta, mau tanggal tua Juli 2016

Citra D. Vresti Trisna

Minggu, 21 Februari 2016

Kalijodo dan Keberanian Anak TK

Kalijodo! Mengapa harus kau yang bakal tumpas? Mengapa dengan cara seperti ini kau dibubarkan? Menurut saya, ada tiga hal yang jadi penyebab kekalahanmu: pertama, mungkin kau sedang sial. Kedua, mungkin ini adalah waktu yang (dianggap) tepat. Ketiga, ini takdir.
Mungkin ketiga jawaban itu benar. Kalau pun salah, tentu alasan terakhir tidak mungkin salah. Karena nyatanya kau memang bakal tumpas. Saya tak pernah membayangkan kau harus habis dengan cara ini. Ketika orang-orang kalap dan kehilangan dalih, kau harus disingkirkan 29 Februari nanti. Kalau benar kau sedang sial, saya tak akan banyak komentar, karena kesialan adalah kesunyian yang tak dapat digugat. Tapi, kalau penutupanmu dianggap sebagai momentum yang tepat, mungkin saya akan cerewet.
Kalau benar, kau hanya tumbal orang kalap yang kehilangan dalih, maka keputusan itu bisa benar juga bisa salah. Benar, karena letak ”pelacuran” dalam diri manusia melebihi kedekatannya dengan Tuhan. Pelacuran bersemayam di jantung. Hidup dalam diri manusia dan mengeram. Pelacuran berdenyut pada nadi manusia paling alim sekalipun dan membuat mereka karap malu-malu tapi ngaceng. Sehingga keberadaan mereka adalah sebaik-baik jalan agar orang terusik dan ribut lalu perhatian mereka tertuju padamu.

Rabu, 24 Juni 2015

Si Temonyo Ditinggal Nikah

(Iku Salah’e Wong Akeh)

Pernikahan tidak hanya urusan cinta, tapi juga perlu materi untuk membuat cinta itu tetap hidup. Tapi, seharusnya pernikahan lebih besar dari uang, dari materi. Pernikahan harus lebih besar dari status sosial dan kesanggupan-kesanggupan membeli hidup. Bila pernikahan hanya perkara siapa yang sanggup membayar lebih mahal, apa bedanya pernikahan dengan pelacuran?
*
Saya mengenalnya di suatu hari yang berengsek. Suatu ketika dimana saya harus mendatangi wisuda kawan seangkatan. Waktu itu, dia hadir dengan sorot mata yang menyebalkan. Namun, harus kuakui di wajahnya yang menerbitkan hasrat untuk menonyo; meninju (temonyo) menerbitkan rasa iba di hati. Saya masih ingat apa yang dikatakannya waktu itu, ”Lho, ndak wisuda, mas? Sampean anak pers itu kan? Ini kan yang wisuda angkatannya sampeyan. Seneng, ya, wisuda itu. Foto-foto bersama. Sampeyan ndak pengen foto bareng temen-temenmu, mas?”
Apa ndak brengsek kata-kata semacam itu? Kata-kata yang diucapkan dengan teramat ringan itu sama sekali tidak pas, tidak toleran dan menusuk dalam-dalam. Misalnya ada orang buta, ya, sebaiknya ndak usah tanya, ”Lho, sampeyan itu buta, ya?”
Mungkin bapak ibunya banyak mengirim Al Fatihah ke si anak busuk ini, sehingga banyak welas-asih di mukanya dan membuat saya tidak tega untuk meninju mukanya. Alhasil demi kebaikan bersama saya batal untuk menghajarnya. Lagi pula saya juga tidak ingin digelandang di Polsek Bangkalan dan tidak bisa meneruskan kuliah karena ngandang di penjara karena meninju muka orang. Apa kata Radar Madura nanti?
Stres Belum Lulus Kuliah, Citra Pukuli Adik Kelas
Tidak! Itu tidak lucu. Alhasil, saya hanya nyengir kuda di depannya. Tapi, kali ini, saya kembali nyengir kuda melihat dia nongol di depan mata saya.
Pertemuan kali ini begitu berbeda. Saya sudah lulus kuliah dan dia belum. Ini kesempatan yang langka sekali, bukan? Tapi, muka bocah temonyo ini nampak mendung. Matanya merah, kumisnya  nampak jarang-jarang dan rambutnya tak tersisir rapi. Dan jaketnya, insyaallah bisa saya pastikan sangat tidak bersahabat dengan sabun cuci.

Rabu, 10 Juni 2015

STA, Defy Sontoloyo, dan Agama Baru Pers Mahasiswa

(Nasihat Bagi Mantan Sekjen yang Keblinger)

Defy dengan Rambut Sai Baba
Apabila banyak berkata-kata, di situlah jalan masuk dusta — Sultan Takdir Alisjahbana.

Mungkin nukilan dari ”Gurindam Dua Belas” karya Sultan Takdir Alisjahbana, gubahan Raja Ali Haji adalah ”pengingat” kita semua. Tapi, bukankah hampir semua orang menganggap “kata” adalah pintu masuk; keniscayaan; dan jalan menuju...

Ya, mungkin si doi waktu bikin tuh kata-kata lagi selo banget dan iseng dan lagi mendem congyang.  

Keyakinan saya pada keagungan ”kata” begitu mendalam. Sehingga saat membaca nukilan Gurindam dua belas, saya jadi sensi. Saya berpikir apa yang ditulis Sultan Takdir Alisjahbana (STA) — yang saya bayangkan mencari inspirasi sambil nongkrong di WC dan kebas-kebus Surya 12 — adalah dagelan tak lucu bagi penggiat media alternatif dan media mainstream saat ini. Dan saya rasa, menganggap nukilan gurindam dua belas sebagai ramalan kebangkrutan era media saat ini adalah sikap terburu-buru dan barbar. Tidak gaul banget kan STA ini?
Begitulah orang tua: dekaden dan terlalu kaku dengan gejala-gejala. Dan remaja macam kita, (lagi-lagi) dipaksa memahami dan mentoleransi pandangan orang tua yang udik dan terkesan tidak bisa lihat anak muda seneng.
Mungkin, sejak usia muda, STA ini kuper. Tidak gaul. Tidak ikut persma, tidak kenal budaya diskusi sambil mabok (simbok). Tidak ikut PPMI — organ yang sejak kelahirannya mempunyai cita-cita agung untuk membenahi Indonesia lewat media alternatif. Mungkin juga si doi menghabiskan masa mudannya di pentas ndangdut dan tidak pernah melihat betapa garangnya aktivis PPMI saat membahas isu bersama.

Rabu, 04 Februari 2015

Surat Kepada Sopir Truk

—Kepada Sopir truk di seluruh dunia: Al Fatihah
Halo pak sopir. Bagaimana kabar kalian? Kalau kalian lelah, istirahatlah dulu.
Sepertinya kita lama tak berjumpa. Terakhir kali kita berjumpa di akhir tahun 2014 ketika aku masih berserak di kota-kota dengan kemelaratan yang super dan wow. Dan seperti biasa, aku tetap bisa pulang dan pergi gratis dengan kemurahan hati kalian memberikan tumpangan.
Di atas laju truk, aku kerap berpikir: apa saat kalian memutuskan berhenti dan memberikan tumpangan pada kami itu karena kalian juga punya anak jauh di sana? Apa kalian juga punya anak remaja seusiaku yang sangat mungkin membutuhkan pertolongan dan kalian tak dapat membantu mereka lantaran tuntutan pekerjaan?
Setiap kalian mengaso, kalian kerap bercerita padaku tentang anak-anak kalian yang jauh. Apalagi setelah kalian tau, kita juga masih sekolah, mata kalian kerap berkaca-kaca. Biasanya kalau sudah seperti itu, kalian juga akan menawari makan, kopi, rokok, jajanan dan banyak hal lainnya. Meski itu semua kalian tawarkan dengan gaya yang khas (sok-cool), tapi radarku bisa merasakan ada cinta kasih di sana.

Jumat, 17 Oktober 2014

#1 Menyimpan Rindu



Kepada J, F, H, U, A, R, B, D, P, S, H2, F2, B

Dulunya mereka adalah adik-adik kecil yang manis. Seperti biasa, aku hanya melihat mereka sepintas tanpa menoleh. Lalu, tak berapa lama –seperti yang selalu batin katakan, “kau akan segera dekat dengan mereka”– kita menjadi begitu dekat. Seperti saudara, bahkan lebih. Tak ada yang lebih dekat dan “sampai mati” kecuali dendam. Karena persahabatan itu sebagaimana dendam: sampai ke tulang, sampai mati.

Lalu, seperti yang biasa terjadi: ada dialog, sesal, kedekatan, proses belajar, dan tak lupa tangis tertahan. Semuanya adalah proses yang lumrah dan wajar: seperti halnya pagi dengan matahari dan malam dengan bulan-bintang. Saat itu mereka pun tumbuh. Menjadi apa saja yang mereka harapkan. Dan di sebalik duniaku yang sepi, diam-diam aku lihat mereka.

Oktober Ceria buat Tulus H






































Mungkin, di matanya Oktober berjalan terlalu lambat. Gelap. Saya ingin menghiburnya: bercerita tentang apa saja yang membuat dia (sedikit) lupa. Atau mengunjungi warung paling tengik untuk memesan kopi terpahit. Tapi, cerita apa yang bisa menghapuskan bertahun-tahun waktu yang lewat dengan rindu. Juga selubung gelap dari matinya logika karena menyadari: cinta adalah perkara siapa yang datang dulu serta angka-angka yang (semua orang pikir) membuat dunia jauh lebih terang. Dan warung macam apa yang bisa mengobati penantian panjang yang berujung kata "maaf".


Peduli setan siapa yang bakal jadi juara. Dia cuma manusia yang (mungkin) tak sabar menanti kebaikan Tuhan pasca kehilangan ada di depan mata. Sejak dulu luka adalah luka. Diungkapkan atau tidak. Meski setelah luka, tangis tertahan jadi punya makna. Dan untuk lelaki macam kita terlampau sering bertepuk sebelah tangan. "F" sekali, bukan?

Piye maneh, lek. Dilakoni ae.

Pak erte

Inverioritas Penggiat Seni Lukis dan Ritual Potong Kuping

Gambare Pakde Dalbo

“Apa jadinya kehidupan ini bila tidak ada yang berani mencoba melakukan sesuatu yang baru?”—Vincent Van Gogh.

Sekitar tahun 2009, waktu tersesat di Bali, tanpa sengaja saya tertarik dengan sebuah banner pameran lukisan “Nuansa Alam”. Karya-karya yang dipameran di sana adalah hasil karya mahasiswa semester II ISI Bali. Meski acara ini sederhana, tapi lukisan yang dipamerkan  cukup membuatku berdecak.
Usai melihat pemeran, pikiran saya terus melayang pada di seputar lukisan: cat, kuas dan kanfas. Saya berpikir, apa pameran serupa bisa diadakan di kampus saya? Tentu saya tak akan melewatkan acara itu, meski saya hanya seorang penikmat karya seni rupa, tidak lebih.
Entah kenapa bau cat kering di kanfas selalu membuat saya menerka-nerka cerita apa yang coba disajikan si pelukis dalam karyanya. Selain itu, pada setiap lukisan yang dipamerkan secara serius selalu menerbitkan rasa merinding yang asik dan magis. Dan kalau dalam hal ini saya termakan mitos dan label yang dibangun di setiap pameran lukisan, itu lain soal. Karena, pameran adalah pameran, dan tiap pameran selalu saja bicara karya.
Tahun demi tahun penantian saya akan terselenggaranya pameran lukis di kampus UTM masih belum terealisasi. Selalu ada rasa kesal ketika beragam pertanyaan muncul di kepala: apa benar dari ribuan mahasiswa UTM tidak ada satu pun pelukis serius yang hendak memamerkan karyanya? Lalu, apa saja kerja organisasi kesenian selama ini?
Sejak awal kuliah di UTM, saya punya sejenis apologi pamungkas untuk meredam sakit hati atas segala keajaiban-keajaiban menjengkelkan yang terjadi di kampus saya.
“Sudahlah. Ini memang ‘kampus pelampiasan’, jadi wajar kalau pameran lukisan yang saya inginkan harus menunggu lebaran monyet.”

Jumat, 12 September 2014

Artis Porno, Terimakasih Banyak



-Kepada artis porno di seluruh dunia, Al-Fatihah.

Beberapa hari lalu saya terkejut dengan kehadiran foto ”seram” adik kelas saya di Universitas Bunga (bukan nama sebenarnya) yang beredar lewat sebuah grup facebook jurusan. Foto itu cukup fulgar karena si perempuan sedang tidur dengan telanjang dada dan di sebelahnya ada seorang pria berkulit gelap.
Saya sendiri tau foto itu karena kebetulan ada adik tingkat, yang dengan baik hati mau mem-printscreen foto itu untuk saya. Saya terkejut, sedikit senyum-senyum dan garuk-garuk kepala. Tapi, saya yakin kalau foto itu diunggah oleh orang lain yang berniat tidak baik atau mungkin dilatarbelakangi motif dendam.
Setelah sedikit senyum-senyum, sejurus kemudian saya berpikir: bagaimana perempuan sekecil itu akan menjalani hari-hari kuliahnya? Seberapa kuat adik (agak) manis itu menanggung malu karena fotonya tersebar di media sosial?
Pada awalnya saya membayangkan bila perempuan itu adalah adik perempuan saya. Lalu gelombang perasaan kembali berkecamuk: bagaimana kalau pria dalam foto itu adalah saya? Ah, saya tidak mungkin mampu menyembunyikan muka dari tatapan sinis orang-orang. Meski predikat ”cabul” sudah melekat pada saya, tapi kalau untuk beban semacam itu tentu menjadi sebuah persoalan malu yang bakal menggerogoti saya seumur hidup.
Tapi, setelah saya pikir lagi, ternyata Tuhan begitu sayang pada adik (agak) manis itu. Ya, Tuhan meninggikan derajat kemanusiaan lewat sesuatu yang tak pernah dia duga: mendadak jadi artis (yang dianggap) porno.

Sabtu, 24 Mei 2014

Pelajaran Sabar dari Mas Guru

”Percayalah, dek. Kebijaksanaan hanya ada dalam lagu-lagu.”

Tiba-tiba kata itu kembali terngiang di telinga saya. Kata-kata dari seorang sesepuh yang mungkin kelasnya setara dengan Tuan Guru Tretetet di Lombok. Kehendak dan spontanitasnya kerap menggegerkan akal. Tapi jujur saja hatiku selalu tersenyum simpul bila merasakan sepakterjang guruku yang satu ini.
Kedigdayaan guruku dalam penguasaan ilmu sabar ini benar-benar tak tertandingi. Kendati demikian, dia tetap sulit dibedakan dengan guru-guru lainnya karena caranya mendidik dan sikapnya yang rendah hati.
Kerendahan hati dan sikap menunduk dari guru sekaligus kawan baikku ini benar-benar di luar nalar. Dan si mas gondrong, kawanku, ini adalah antitesis dari guru yang ada di dunia. Kalau suatu saat seorang guru seni sedang menerangkan tentang seni, mesti paling tidak si guru seni ini mempraktikkan sesuatu yang nyeni. Entah itu tingkah lakunya, model rambutnya yang nyentrik atau tindak-tanduknya yang menunjukkan betapa si guru seni ini patut didengar kata-katanya.
Kalau mas gondrong si guru sabarku ini bersikap sebaliknya. Meski dia adalah guru besar ilmu sabar, tapi tingkah polahnya kerap terbalik. Dia kerap terlihat tak sabar dan nampak diburu waktu. Bahkan yang membuat aku sangat takzim padanya adalah karena beliau tak perlu bicara hingga berbusa hanya untuk menjelaskan makna sabar. Tuan guruku ini cukup berbuat sesuatu atau melontarkan kata-kata yang bisa membuat kepala kami serasa mau pecah dan dada kami meledak.

Kamis, 10 April 2014

Jarene Bapak

”Sudah, berangkat ke TPS. Milih atau tidak yang penting datang ke TPS. Jadi orang itu yang penting bisa bermasyarakat,” kata bapak.

   Kau benar, pak. Negara ini boleh hancur, tapi tidak dengan masyarakat. Karena rakyat adalah pusat. Rakyat akan tetap jadi rakyat meski tanpa pemerintah. Tapi, tidak ada pemerintahan tanpa ada rakyat. Meski ini terlalu berlebihan, tapi kurang lebih seperti itu.
   Aku masih percaya hari ini rakyat dengan pemerintah sedang tidak akur; saling tidak percaya dan terjadi kesalahpahaman. Kalau aku disuruh melawan negara seperti aktivis-aktivis wow; saya menolak! Bertarung dengan sesama saudara (yang tidak mengerti, sedikit merasa nyaman karena uang) adalah perbuatan binal.
Kalau saya katakana rakyat (seharusnya) adalah pusat nurani. Meski hal ini bukan legitimasi agar saya bisa bilang demokrasi itu benar. Dan mungkin juga karena hal ini, saya tidak mau ribut dengan pemerintah. Karena kalau saya ribut dengan pemerintah, berarti saya yakin pemerintah (yang kita musuhi setiap harinya) adalah sumber.
   Pemerintah di Indonesia hari ini tidak benar-benar berkehendak mengatur rakyat yang dia pimpin. Pemerintah hanya seseorang yang tergelincir untuk ikut arus sebuah sistem. Hanya saja kebetulan di arus sistem itu terdapat banyak mobil-mobil mewah tergenang, rumah mewah hanyut, uang suap untuk deal kepentingan a.b.c.d. Sehingga merasa betah dalam arus adalah lumrah. Dan kita yang sedang marah dengan pemerintah adalah orang yang mungkin sedang iri; lapar karena belum makan dan tidak kebagian kenduri, dan sungkan untuk ikut arus karena terlanjur berkoar-koar memaki.

Senin, 27 Januari 2014

Saya (selalu) Benci Januari

Aku menunggu malam tiba. Kebahagiaan mendesir yang kupikir akan datang seperti kejutan ulang tahun, tapi nihil. Tetap sepi. Kata-kata menderu dan seperti mendengung di kuping lalu membuat persoalan baru: rasa benci yang entah pada siapa.
Ah Tuhan, kau tentu mengerti bila hari ini akan datang benci; seperti biasanya. Seperti sejarah perih yang selalu datang tanpa bisa ditawar nanti.

Keparat macam apa yang membuatku demam
Seperti rasa lengang ketika oplosan ditenggak
Lalu mati, tanpa sisa, tanpa penjelasan
Dan koran akan senang dengan hal itu

            Hari ini, banyak ”semoga” di kepalaku. Dan yang terpenting dari itu semua adalah agar aku tidak menyesal pada banjir yang Kau beri. Karena menemukan tentu sangat manis, dan pahit memang tidak bisa ditawar. Ia ada dan harus ada.

Selasa, 26 November 2013

Sekarang Kau Dimana?

Kau mendaki di sejauh, seperti kembang api tahun baru kemarin. Sekarang kau dimana?
-
Aku tak menemukanmu; dan kau menghilang seperti angsa yang mengungsi saat malam menggelap. Padahal baru saja aku ke sebalik hatiku; mencarimu, tapi kau tak di sana? Boleh aku tau, sekarang namamu siapa? Bagaimana waktu memanggil namamu? Apa kau masih mabuk puisi seperti dulu?
-
Kau tau, sekarang aku kerap membakar api sendirian. Menenggak aspirin agar aku segera tidur dan tak perlu mengingatmu lagi. Apa kita masih percaya bila bulan dan revolusi punya warna?
Bila sekarang aku terpaksa mengingatmu, apa kau juga mengingatku di rimba muram.
-
Malam-malam gelap menyiksaku dengan sakit yang perih. Cerita tentang hantu hutan masih jadi wingit yang sama-sama kita cintai. Apa kita masih berteman seperti dulu?

Selasa, 05 November 2013

#WACESABE

Tidak ada yang lebih sakral ketimbang rasa bosan. Ya, mungkin karena ia datang langsung dari Tuhan. Kebosanan (hampir) selalu didahului oleh rutinitas, (biasanya) rasa muak, dan yang terakhir adalah ”membelenggu kuda liar itu pekerjaan dungu”.
Sejak awal aku menolak untuk ditaklukan dengan cara apapun. Meski pada akhirnya aku harus bertekuk lutut di salah satu tempat yang kusengaja untuk menguji seberapa besar orang menghardikku nanti. Meski pada akhirnya aku kalah karena telah terpancing dengan seseorang yang pernah kukuliahi perkara media umum.
Hidup media umum! Hidup buruh!

*
Sekarang aku tinggal di Sampang, Madura. Bekerja sebagai buruh di pabrik kata-kata. Saya tidak tau, saya ini kerasan atau bagaimana. Tapi, yang jelas, itu akan saya tahu dua tahun lagi. Bukankah hidup adalah persoalan mencoba dan berani menyelam. Dan sekarang saya sedang menyelam dalam sekali.
Untuk ”matinya” kota ini, saya tidak banyak komentar. Hanya saja, kalau dalam seminggu, saya tidak kena kopi Surabaya, kepala saya bisa pusing, pantat gatal-gatal, kram otak hingga bunuh diri. Ngeri rasanya membayangkan ada seseorang yang sampai mati bosan. Terbunuh hanya gara-gara kesunyian dan rutinitas yang membunuh kreativitas dan akal sehat.

Selasa, 24 September 2013

Artrock, Kantin dan Tahi Sapi

Sekarang aku sedang berada di MIPA Corner UB. Tempat ini membuatku ingat kantin sekolah semasa SMA dulu. Meski pengunjung dan kelas sosialnya berbeda, yang jelas tempat ini tetaplah tempat istirahat dan tempat menikmati makan atau jajanan. Mungkin yang membedakan dengan kantin sekolahku dulu adalah waktu-waktu yang di pakai untuk ke kantin. Dulu, sewaktu sekolah, hanya jam-jam tertentu saja kita boleh ke sana. Selebihnya adalah jeweran guru dan ancaman ruang BK yang menjadi momok siswa sekolah untuk dipaksa mengakui perbuatan dosa. Berbeda dengan di sini. Tempat ini, meski namanya sudah berbeda, selalu ramai dengan banyak mahasiswa yang datang dan pergi untuk bisa menikmati sarapan, menunggu jam kuliah selanjutnya, atau mungkin sekedar membicarakan mobil baru kekasih.

Sepertinya sewaktu masih di kantin sekolah, jam-jam istirahat begitu berarti. Waktu istirahat yang singkat membuatku tidak menyia-nyiakan waktu untuk bicara hal-hal yang tak penting. Menikmati santapan hidangan murah tak bergizi dengan khusuk. Tak ada perbincangan soal mobil kekasih, soal skripsi, soal upaya menjilat dosen demi nilai atau segala berhala modern.  Tapi, entah mengapa aku justru lebih menikmati masa-masa sekolah dulu. Di sini, aku hanya mendapati tumpukan basa-basi menyenangkan. Hal-hal semacam ini adalah hal menggelikan yang disadari, dan sekarang pun aku menjadi bagian dari basa-basi masal karena kebetulan aku juga sedang membunuh waktu.

Di tempat ini, aku pun masih mengenali watak-watak dan obrolan yang menjadi kenanganku semasa kuliah. Jenis-jenis orang dan tipe organisasi yang sudah umum digeluti. Dan sekarang ini aku berada di lingkungan anak-anak PMII yang membicarakan soal gerakan dan kemapanan secara bersamaan. Jancuk sekali memang. Tapi, memang orang-orang semacam inilah yang memenuhi kampus-kampus. Meminjam istilah Rori, obrolan orang-orang pergerakan macam ini adalah dagelan logis yang asik. Basa-basi yang membuat setiap orang kehilangan dirinya untuk beberapa saat dan menikmati nikmatnya menjadi orang lain; menjadi modern dalam pengertian yang dangkal.

Tiba-tiba aku teringat cerita Defy dan Intan sewaktu ngopi di Artrock Malang. Mereka berdua mendongengiku bila di Artrock sana tak boleh ada perbincangan-perbincangan gerakan mahasiswa semacam PMII, HMI, GMNI, dan sejenisnya. Kalau tidak ingin diusir, sebaiknya tidak rapat organisasi atau membicarakan gerakan di sana. Tapi, anehnya orang-orang di Artrock tidak mengusir rapat-rapat kawan-kawan PPMI. Karena PPMI itu orang pers, katanya. Ada apa dengan pers? Ada apa dengan PMII, HMI? Setahuku, tiap orang yang ke sana sama-sama membayar. Tidak ngutang. Apa pemilik Artrock adalah orang yang ‘letih’ macam aku sekarang?

Kalau apa yang dikatakan Defy dan Intan semalam itu benar, aku jadi ingin menanyakan langsung pada pemilik Artrock yang menurutku cukup unik. Kebaraniannya menolak pelanggan adalah sebentuk kelelahan puncak dari segala kembang kertas yang tengik. Aku membayangkan obrolan-obrolan orang PMII dkk membuat nasi dalam piring berubah menjadi tahi sapi. Merubah kopi dalam gelas jadi kencing kuda.
Sebenarnya, setelah bekerja dan punya modal nanti, aku juga ingin membuka warung kopi. Ada yang untuk kalangan menengah ke bawah, ada juga yang untuk mahasiswa. Tapi, beranikah aku seperti pemilik warung Artrock yang menolak obrolan-obrolan tahi sapi dan kencing kuda? Beranikah aku menolak uang? Atau mungkin boleh juga sekiranya aku membuat sebuah rumah makan, mungkin kantin di kampus-kampus yang hanya menerima orang datang di jam-jam tertentu saja dan melarang ada obrolan-obrolan sombong dunia modern. Kupikir itu menarik juga.

Kerinduan akan kantin dan warung kopi yang penuh kebersahajaan memenuhi pikiranku. Sepertinya menarik untuk kembali pada masa silam dan mencari kebersahajaan pada waktu, tempat, dan orang yang tepat. Bisakah aku menerima orang-orang seperti yang ada di hadapanku sekarang: membicarakan uang proyek apartemen dengan keuntungan besar dikantongnya tapi masih memerlukan diri ngutis rokoknya. Mungkin pemilik Artrock Malang ada benarnya. Bukankah ini adalah tahi sapi serta kencing kuda paling nyata? Dan tiba-tiba pikiran burukku muncul: ingin rasanya aku membelikan sebatang rokok eceran dan memberikan padanya seraya berkata: ‘mas, ini rokok. Bisakah kau berhenti jadi tahi sapi dan kencing kuda? Aku muak melihatmu. Setelah merokok, sebaiknya kau jadi lebih bermanfaat kalau kau jadi pupuk para petani di desa.’ Ah, betapa menyenangkannya. Ya, keinginanku untuk bikin warung kopi dan sebuah kantin di universitas jadi semakin besar sekarang. Meski aku tak tahu apa aku berani mengusir orang-orang yang hanya membuat piring dan gelas berisi kotoran belaka.

Cdvt


Malang, 16 September 2013 

Sabtu, 31 Agustus 2013

#6 Ja Sagender



Sore ini sesak. Napasku tersengal dan mataku berkunang melihat orang-orang berlalu-lalang. Tiba-tiba aku merasa ingin sendiri, tapi dimana? Namun, yang ganjil adalah ketika aku sedang ingin sendirian, tiba-tiba selintasan rasa bersalah pada hidup menguat hebat. Seharian ini kulewati tanpa bicara dengan orang yang kukenal dan menjadi merasa belum genab sebagai manusia. Dan semakin jauh jarakku dengan sesamaku, sesama manusia.

Aku ini orang macam apa?

Sebentar, biar kulengkapi lagi. Setelah tak bicara sepatah kata pun pada orang yang kukenal, aku masih merasa mampu menerjemahkan dan mendefinisikan hidup. Aku adalah salah satu penghardik teori-teori sosial yang sembrono dalam memotret  hidup, tapi tiba-tiba aku jadi orang yang berusaha menafsirkan sesuatu yang terlalu besar untuk kuterka. Meminjam istilah Nietzsche, ja sagender atau meng-iya-kan hidup?

Apa benar aku sedang meng-iya-kan hidup?

Dunia boleh salah terka, tapi kesempurnaan yang subjektif ada di dalam diri. Mencari kesempurnaan (tanpa menghardik dan justifikasi) dalam batin, ketika melihat sesuatu yang salah adalah barbar. Tapi, bukankah hidup berjalan dengan cara demikian? Kebijaksanaan ditulis, diyakini, lantas dilembagakan. Sungguh! Aku sungguh takut nihilism itu benar adanya. Aku takut ia hadir di depan mataku sebagai jam weker dan isyarat: dunia itu sah untuk dihancurkan; dikampak seperti patung berhala di tangan Ibrahim. Sebab, aku hanya ingin menjadi “taat”, yang berarti “tidak pergi kemana pun” sebab surga hanya ada di sekitaran kampung dan halaman rumahku, di sekitaran rutinitas dan ritus-ritus beragama.
Tiba-tiba kelapanganku menerima hidup lenyap tak berbekas. Perjalanan bertemu orang-orang seperti hilang tanpa sisa. Hanya ada ketakutan pada sesuatu yang tak jelas, absurd. Menyaksikan orang lewat, lalu makna-makna mengalir deras begitu saja. Dan mereka seperti tak peduli denganku. Apa ini yang mereka sebut kegigilan hidup? Inikah kegigilan yang membunuh banyak orang dengan jalan akhir paling sadis: tali jemuran.
Tapi, aku menolak untuk mati. Diriku telah lama “mati”. Dan tidak ada kematian setelah mati. Yang ada hanya kembali memunguti sisa-sisa serta berkompromi untuk menyusun puzzle dan sebentuk kebijaksanaan absurd namun menghangatkan. Mungkin saja pacarku sedang kedinginan, atau anak-anakku kelak. Maka aku lah yang akan memeluk mereka.
Lalu bagaimana dengan “Tuhan”? Sesuatu yang being dan pernah kutemukan di punggung Arjuna setelah sekian lama tak mengakui tuhan. Tapi, bukankah 'ateis' adalah jalan menuju Islam yang sejati dalam konteks syahadat: meniadakan tuhan-tuhan palsu duniawi sebelum mengakui hanya ada satu tuhan (Allah). Apa hari ini dia tidak di sisiku---sekali pun logikaku meyakini Dia melingkupiku---dan Ia hanya (ada) pada rasa takut kesendirian?

Dan saya tidak mau meneruskan....

Surabaya, Agustus 2013



Jumat, 09 Agustus 2013

#4 Selamat Ultah Universitas LPM Spirit Mahasiswa, fakultas trunojoyo

Spirit Mahasiswa


Kami adalah generasi rumah sakit jiwa. Mungkin karena itu kita (hampir) tak pernah kepikiran untuk menyerahkan hidup kami pada rumah-rumah gila. ‘Kemapanan’ punoutput pasar manusia (Trunojoyo)kami masuki dengan malu-malu.

Selamat ulang tahun Universitas LPM Spirit Mahasiswa, Fakultas Trunojoyo.  

Kampus Spirit Mahasiswa, ‘Rumah’ kami itu tak sebesar dapur kuno rumah nenekku di Kabupaten Nganjuk.

Oya, tahun ini saya tidak wisata lebaran di Nganjuk karena nenekku yang akan kemari. Aneh rasanya, di sini aku merasa seperti tidak ikut-ikutan pesta orang-orang lebaran. Rasa-rasanya pulang ke Nganjuk itu seperti naik haji. Mungkin rasanya tak jauh berbeda dengan beberapa orang-orang di lereng Gunung Bawakaraeng yang merasa telah naik haji bila telah mendaki  Gunung ini. Dan setiap orang bebas ingin naik haji ke mana. Atau saya sebut saja perjalanan spiritual karena takut saya digebukin ‘preman berpeci’. Karena, menurutku, kita bebas akan berjalan ke mana untuk kembali bertemu puncak paling suwung dalam batin kita, dan itu bisa ke Kremil, Dolly, di dalam rok gadis korek api, atau ke mana saja tempat engkau bersunyi-sunyi. Maka seperti ada yang kurang bila dalam satu tahun saya tak ke sana untuk menyepi, di tempat yang sebenarnya telah jauh ramai lima belas tahun terakhir ini.

Bingung bagaimana saya harus bersunyi-sunyi, maka saya teringat salah satu rumah sunyi saya di Madura sana: universitas SM. Saya juga hampir terlupa kalau tidak di ingatkan oleh si pipit, pacarnya Ghinand Salman (sekarang salah satu staf dosen di universitas SM), bila di tanggal 8 Agustus adalah ulang tahun kampus. Mungkin hanya saya saja yang pikun, atau yang lainnya juga. Karena melupakan ultah kampus adalah hal yang wajar bagi sekumpulan warga RSJ.

Tidak peduli SBY, Anas Urbaningrum atau bahkan anak dari iblis paling tenar pun akan lupa diri bila berada di dalam ruang utama kampus kami. Waktu akan berjalan labih cepat dari biasanya. Bila kau masuk selama lima menit (waktu dunia nyata), kau akan merasa berada di sana lima tahun. Ini nyata, lho. Sumpah (nipu)!

Dulu, sewaktu saya menjadi dosen di kampus itu, hobi saya adalah nyempil di pojokan, di samping rak buku. Bila jam-jam kuliah tiba, mahasiswa saya akan datang membawa kopi dan beberapa rokok eceran sebagai mahar untuk satu mata kuliah. Maklum, kampus ini tidak kecipratan dana besar seperti halnya Fakultas Trunojoyo. Selain itu, setahu saya, rata-rata mahasiswa kami adalah warga yang nama bapaknya terdaftar sebagai penerima raskin, karena tidak pernah terbukti membayar uang kuliah pada kami para pengelola universitas. Mereka memboros-boroskan uangnya untuk jadi kambing congek Fakultas Trunojoyo. Apa itu ndak gila?

Tapi, saya dan beberapa kawan: bunga boid, bunga JR dan bunga Firman (bukan nama sebenarnya) adalah guru tamatan sekolah rakyat yang hidupnya senin kamis karena tak menerima gaji. Bahkan gembel-gembel yang menumpang tinggal di kampus pun tak pernah membayar se sen pun. Saya pribadi sudah menganggap orang-orang di kampus ini sudah seperti keluarga. Tidak ada lagi privasi untuk kami kecuali hutang makan, kopi, rokok, dan ongkos pacaran yang harus ditanggung masing-masing.

Setiap harinya, kalau kami benar-benar menganggur dan tidak ada kerjaan, kami buat buletin gratis untuk jadi lap tangan di kantin sehabis makan gorengan ketimbang sisa minyaknya harus mengotori jeans atau baju. Tak banyak yang tau isi buletin itu adalah informasi, isu terkini dunia waras Fakultas Trunojoyo. Warga Fakutas Trunojoyo dan para dosennya tidak seberapa tau soal apa itu media alternatif. Tapi, yang paling mereka tau SM adalah sebentuk aliran sesat mambu Nasakom; organisasi bandit yang bikin humas Fakultas Trunojoyo sulit cari mahasiswa.

Mungkin karena sudah terlanjur terasing dan menerima dengan pasrah bongkokan labeling yang mereka sematkan pada kita. Ya, kita—baik warga Spirit Mahasiswa atau Fakultas Trunojoyo—adalah produk gagal dan korban ukuran hidup masyarakat dunia ketiga. Maka, sebagai tindakan eskapis kongkrit, Fakultas Trunojoyo membuat penelitian-penelitian yang menggarami lautan dan menumpuknya sebagai sesuatu yang lebih keramat dari tanah kuburan dalam dompet. Berbeda dengan kami warga universitas SM. Sebagai warga sakit akal, ketimbang harus hidup setres macam itu, kami menghabiskannya dengan iseng-iseng belajar jurnalistik sebagai formalitas, main game, nongkrong ber jam-jam di warkop, berkeliling kota dan bertemu banyak orang, saling tukar koleksi bokep, joget ndangdut di karaokean rakyat, dll.

Hidup bagi orang yang sedang tapa nggendeng memang berliku, rumit dan tidak masuk di logika kemapanan model manapun. Untuk logika kewarasan modern, orang-orang macam kami yang berjalan ke titik nol, adalah  orang-orang yang perlu untuk dijauhi. Mengingat mereka sangat membahayakan martabat orang waras. Mungkin diam-diam mereka juga mewanti-wanti anak cucunya agar jangan sampai memilih menantu orang macam kami.

Tapi, kehidupan irasional di SM juga kerap menemui protes dari warga dalam kampus universitas SM. Ada sebagian dari mereka yang menganggap kita menghalangi cita-cita luhur dari orang tuannya untuk bisa kaya dan punya posisi di PNS. Ada juga diantara mereka yang tidak kuat dianggap gila hingga akhirnya kabur dan menjalani kehidupan normalnya sebagai mahasiswa F. Trunojoyo. Ada juga yang takut nama baiknya hancur, ada yang takut sulit lulus, ada juga yang takut tidak dapat jodoh, ada yang takut sulit dapat beasiswa. Sangat beragam dan njancuki alasan mereka. Tetapi, bagi warga dalam yang sangat loyal, hal demikian adalah sikap wajar dan bentuk pertaubatan yang baik. Kita tidak menyalahkan mereka, hanya terkadang sedikit nggerundel sembari mempertanyakan: siapa sebenarnya diantara kita ini yang benar-benar sakit, kami atau mereka.

Terkadang, kalau sedang menemui jalan buntu. Kami memiliki cara masing-masing untuk mencari ‘petunjuk’. Kalau saya, lebih sering berjam-jam duduk di depan sawah, atau yang lebih greget adalah nongkrong lama di WC dan membuat penghuni sekertariat lain resah menunggu.

Dulu, kalau aku sedang di kampus lain, aku kerap berpikir: mengapa aku betah berlama-lama di ruangan yang tak selebar dapur nenekku? Kalau dilihat dari sejarahnya, aku ini juga bukan siapa-siapa di SM. Dulu, waktu awal-awal terbentuk dan beberapa waktu mandek, aku yang sedang tidak ada kerjaan diajak untuk jadi litbang. Waktu itu, entah demit dari mana yang sedang ikut campur dan akhirnya aku meng-iyakan tawaran mereka. Saat sedang berkumpul, beberapa kawan mempercayakan (baca: gak onok liyane) jabatan pimpinan redaksi padaku. Dan saya terima dengan senyum nyengir geli.

Saya juga ndak tau playgroup SM ini akan bertahan sampai kapan. Yang jelas, saya yang sudah lulus ini semi-semi pasrah: kadang-kadang liat, kadang-kadang cuek. Kecintaan pada sesuatu memang irrasional dan mistis. Meski saat-saat akhir sebelum menjelang lulus ada juga sisi dramatiknya. Rasa-rasanya ingin kupeluk mahasiswaku seraya berkata: sebenernya saya ini sayang dengan kalian meski kalian ini barbar dan tengik. Terlalu banyak cerita di sana.

Kalau hari ini adalah ulangtahun universitas, saya berterimakasih pada Tuhan bila lebaran tahun ini harus jatuh tanggal 8 Agustus. Sebuah kondisi yang harus membuat lebaran tahun ini gagal nyelempit ke Nganjuk, kampung mami saya :D Dan seharian ini pun saya habiskan dengan nostalgia melihat foto-foto lama sewaktu saya masih jadi warga. Meski sayangnya tidak ada yang bisa mengalahkan ‘kesunyian’ WC kampus saya.
Apa kabar guling saya di SM? Guling itu pasti sudah diperkosa oleh banyak warganya yang kebelet kawin. Juga ternoda dengan iler serta daki para warganya yang jarang mandi.

Apa kabar tulisan-tulisan orang kalah di dinding? Apa kabar papan tulis reot? Apa kabar komputer? Apa kabar rak buku? Apa kabar WC? Apa demit-demit di sana merindukanku? Apa mahasiswa pisang goreng F. Trunojoyo merindukanku? Apa kabar dosen-dosen yang juossssSempakTogogKotoskotos, semoga  cepat kaya, ya? Apa kabar gang dolly gang texas trunojoyo? Apa kabar preman-preman parkir? Apa kabar preman kampus? Apa kabar sawah?
Selamat ulang tahun SM.


Cdv_t


Omah’e pak’ku, 8 Agustus 2013 


Baca juga: #3 Kenangan Kondom Untuk "R"

Selasa, 06 Agustus 2013

#3 Kenangan Kondom untuk "R"



Kenangan itu jahat. Ia memelintir kesanggupan untuk berani melihat hari ini.

Jagoan mana bisa tetap berdiri tegak bila musuhnya adalah kenangan? Sebelum melawan itu semua, saya yakin, si jagoan akan meluangkan waktu beberapa detik untuk ‘menangis’, merasakan sejuk angin mengipas tubuhnya dan merayakan melankolika masa silam.

Apa itu kenangan? Apa ia berbeda dari sejarah dan ingatan?

Sejarah secara umum boleh diartikan sesuatu yang telah lewat; -- terjadi; asal usul sesuatu. Ia memiliki environment  yang lebih luas dan kompleks ketimbang kenangan. Sedangkan kenangan lebih pada proses dalam mengingat karena sebuah sejarah itu (mungkin) membekas dalam memori. Lalu pengalaman adalah proses pengambilan hikmah dari apa yang telah terjadi sehingga kita bisa menyimpulkan dan mempengaruhi proses pengambilan sikap hari ini. Dan ingatan lebih pada prosesnya; berkas; potongan-potongan kejadian yang berhasil kita rekam.

Antara sejarah dan kenangan sebenarnya tidak memiliki beda yang teramat jauh. Hanya pada wilayah mana kita meletakkan konteks kalimatnya saja. Menurutku, kenangan itu tidak beda-beda jauh dengan bedil polisi, namun sama-sama bisa merobohkan. Kalau bedil hampir selalu berhasil merobohkan maling kutang dalam sekali dooor. Juga kenangan—bukan hanya pada maling kutang—Si Anas Urbaningrum (maling gebleg) juga akan lumpuh dan merasa sentimentil bila ingat pacar pertamanya di SMA. Mungkin ia ingat saat melontarkan gombalan ke pacarnya dan mengajak membangun rumah tangga tanpa duit korupsi. Kenangan adalah salah hal yang membuatmu berpikir ulang untuk tidak sembarangan mencatat sejarahmu hari ini.

Kenangan! Ya, ia seperti serum jahat dari Prof Paijo yang membuat orang seluruh kota jadi lumpuh dan buta akan masa kini #ngawur. Kenangan membuat seorang remaja memerlukan diri menangis sesegukan di kamar mandi. Sebegitu jahat kenangan itu, hingga sebegitu mudahnya menciptakan kanalisasi perasaan dalam penerimaan masa kini. Maka ungkapan ‘saat ini adalah kenyataan’ hanya sebatas angin lalu bila kenangan sudah berbicara. Karena kenangan adalah sebentuk melankolika romantisme membesar-besarkan masa lalu tanpa pernah berpikir: hari ini kita akan melakukan apa?

Ok, baiklah, tuan kenangan. Saya tidak akan menafikan kedigdayaanmu mempengaruhi hidup seseorang. Saya pun pernah keblinger dengan kenangan hingga dalam kurun waktu lima tahun saya habiskan untuk menjadi zombie pengarang puisi cinta yang rodok mesum. Meski saya juga punya kenangan-kenangan manis bersama sahabat, kekasih dan keluarga. Dan terus terang, semua itu membuat saya tak bisa menerima apa yang terjadi hari ini. Yang mungkin kalian tunggu-tunggu soal ‘kenangan membuat kita lebih bijaksana dan lebih arif di masa mendatang’. Ya, itu benar! Tapi, seganas apapun ganja yang membuat orang lupa diri, ia tetap bisa jadi bumbu penyedap. #anggernjeplak. Namun, dengan ungkapan, ‘sejarah pasti berulang’, belajar dari masa silam hanya menjadi sesuatu yang delusif.

Menurutku, belajar dari pengalaman; sejarah, ibarat sebuah proses desalinasi air laut. Memang membuat air laut jadi tawar bukan hal yang mustahil. Kenangan; sejarah, tidak pernah berdiri sendiri karena ada kompleksitas yang menyertainya dan membuat sejarah; kenangan; pengalaman itu tidak sesimpel yang kita banyangkan. Ya, mungkin kita bisa membuat beberapa petak air laut menjadi tawar, tapi tidak mungkin untuk membuat lautan jadi tawar. Seperti ada selubung gelap yang menyertai masa silam dan punya misterinya sendiri untuk kembali terjadi di masa mendatang.

Seperti halnya kenangan, ia bisa membuat kita memacu diri untuk menjadikannya pengalaman berharga dan tak membuat kesalahan di satu momen. Tapi, ya, sebatas itu saja. Lain tidak. Berulangnya sejarah secara global akan kembali lagi dalam siklusnya. Atau bolehlah kita beri nama takdir?

Hmmm, saya yakin kalau anda dibesarkan di universitas, anda pasti jengkel dengan kata takdir. Sebab, takdir selalu membuat segala hal yang bisa diperdebatkan jadi mandek. Tapi, saya sedang tidak memusingkan intelektual overdosis. Kebetulan akhir-akhir ini saya sedang bosan berdebat soal teori dan segala taik kucingnya, memperdebatkan hukum yang wantah.

Di tengah menulis catatan ini, saya jadi berpikir: mengapa saya jadi begitu sentimentil dengan kenangan. Saya ingat, hal ini karena beberapa saya bertemu kawan lama (sebut saja dia kondom: panggilan akrab yang sebenarnya) yang tanpa sengaja terjebak curcol dengan saya. Ternyata, dibalik kemembleannya, dia adalah seorang yang romantik melankolik masokistik alkoholik. Tak usah saya ceritakan bagaimana detilnya, yang jelas si kondom ini menunggu kekasih yang tidak memutuskannya selama tiga tahun. Tapi, dalam rentang waktu itu, kekasihnya menjalin hubungan serius dengan orang lain dengan alasan biar dia fresh lagi. Kondom pun menerima asalkan suatu saat si Mbak R ini kembali ke pelukan kondom. Dalam hal ini, apakah si kondom ini terlalu lugu-lugu-goblog, atau teramat cinta. #mengelusdada

Setelah aku tanya alasan mengapa dia menunggu selama itu, dia menjawab singkat: kenangan. Tapi yang membuat aku terpukul adalah kata-katanya yang ini: “Seng mbiyen-mbiyen tau tak lakoni bareng pas jek pacaran iku, cit, seng mbarai aku gelem ngenteni dek e. Senajan yo arek e tak enteni suwe tapi jebule arek e rabi karo wong liyo. Duh, ancur aku, cit...(yang dulu-dulu pernah dilakukan bersama sewaktu masih pacaran, cit, yang membuat aku mau menunggu dia. Meskipun dia tak tunggu lama tapi ternyata dia menikah dengan orang lain. Duh, hancur aku, cit...)”

Kondom adalah sosok kawan yang dalam bahasa keseharianku disawat taek, jembret. Atau orang yang tak pernah ba bi bu kalau diledek. Ia hanya menggerutu dan memonyongkan mulutnya. Meski pun dia tak pernah marah bila kita terlalu kelewat batas berguraunya. Dan yang membuat dadaku tersayat adalah, ketika kekasihnya memintamaaf padanya, ia hanya tersenyum dan berkata: Silahkan, dijaga baik-baik masnya, jangan ditinggal-tinggal kaya aku, ya. Waktu itu pacarnya menangis dan memeluk kondom. Setelah malam itu, kondom tak pernah lagi mendengar kabar kekasihnya selama beberapa bulan sampai sebuah undangan tiba di rumahnya. Baru saat itu kondom menangis.

Aku membayangkan, apa ketika kondom menerima undangan pernikahan kekasihnya, ia juga memonyong-monyongkan bibirnya seperti ketika aku menggoda kelewat batas? Kini kekasihnya melukai batinnya kelewat batas, tapi apa dia juga menggerutu seperti biasanya? Apa kondom tidak marah seperti biasanya?

Pertama aku mengenal kondom, ia hanya lelaki yang tak banyak tingkah. Tapi, hidup selalu merubah banyak hal. Dan mungkin kali ini kenangan yang merubah kondom hingga jadi seorang pemabuk. Ya, dia menunggu kekasihnya kembali sembari mabuk setiap harinya. Diperkuatnya ingatan tentang kekasihnya. Segala yang manis baginya dan dirasakannya ia memeluk kekasihnya seperti dulu. Setiap ia ingin menangis, ia selalu menenggak jemblung lekas-lekas. Baginya, menangis itu cemen dan bukan lelaki. Tapi, ndom, untuk luka seperti yang kau alami sekarang ini pernah juga kurasakan. Aku mengerti bagaimana rasanya. Namun, kau yang paling mengerti harus bagaimana.

Kenangan yang dibiarkan hidup membuat kondom terus hidup dan bertahan dari luka batinnya. Mungkin di masa-masa penantiannya, bayangan R yang sedang memadu kasih dengan orang lain muncul dan menyiksanya. Kondom adalah seorang jenius dalam bidang ponsel. Sebobrok apapun ponsel bisa ia perbaiki asal tidak digilas trailer. Dulu ia punya konter di plasa marina, dan perlahan seiring kepergian kekasihnya, untungnya pun habis untuk minum. Ketika tak cukup, ia jual barang lain dengan harga serendah-rendahnya. Karena dagangannya habis, ia gulung tikar dan kini membantu tetangganya jadi kuli bangunan.

Setiap harinya, kondom hanya hidup dengan kenangan-kenangannya yang membuatnya merasa kuat di satu sisi tapi remuk di sisi lainnya. Mungkin orang lain hanya akan menganggap kedunguan masa muda atau orang yang labil dan tak siap menerima kenyataan. Tapi, bagiku tidak cukup seperti itu. Setiap orang punya kesunyiannya masing-masing. Cinta satu orang dengan orang lainnya berbeda-beda. Mungkin aku pribadi bisa bangkit dari keterpurukan patah hati karena ketika kekasihku pergi, akan banyak orang lain yang menunggu. Tapi, kondom hanya punya kesabaran dan sebungkus setia yang tak sesimpel orang kira.

Kondom pun bukan satu-satunya yang mengalami masalah seperti ini. Tapi mungkin para pembaca tak peduli karena tak kenal dengannya. Tunggulah sampai kawan dekat, saudara, dan orang terdekat anda terpuruk macam kondom dan baru kalian merasakan. Tapi semoga orang terdekat anda tak mengalami.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk patah hati lalu terpuruk. Banyak hal yang mungkin bisa dilakukan selama rentang waktu itu. Namun, demi kenangan kondom mau menunggu. Hal terberat yang menjadi beban kondom hanya satu: orang tuanya sudah terlanjur suka dengan R. Kenangan dikenalkannya R dengan orang tua kondom adalah satu alasan kondom tak berani melihat hari ini.

Ndom, sekarang kalau kau ingin menangis, maka menangislah. Selagi bisa, selagi sempat.
Dalam diam aku berpikir: alkohol yang jadi pelarianmu akan membunuhmu pelan-pelan. Kalau besok kau harus mati, kau mati karena apa: alkohol atau kenangan?
  
cdv_t
Rumah Lalat, 6 Agustus 2013


Baca Juga: #2 Doa Para Bandit