Laman

Rabu, 10 Agustus 2011

-soal membenci-

Pengusaha tidak membenci siapapun, juga pemerintah, selagi tidak menghalanginya mendapat untung yang besar.
“Ayoh perkosa aku semampumu: sampai pipamu kemput, aku tak akan habis bila hanya meladenimu.”

Citra D. Vresti Trisna












Kamis, 04 Agustus 2011

Tidak Saling-mengenal


“Tidak lagi saling mengenal adalah bagian paling sakit dari persahabatan.” Itu sakit, sakit sekali, bahkan lebih sakit dari putus cinta paling tengik.

Kletek - Citra D. Vresti Trisna - 3 Agustus 2011

Senin, 11 Juli 2011

orang gila

ia menunggu muara yang mengalirkan derita pada laut hatinya kering, sebelum akhirnya memutuskan pulang dan kembali berkebun
matanya biru menatap kapal kertas yang melintas, sebelum akhirnya karam,
tenggelam
hatinya telah jauh lebam,
harusnya malam ini dia memeluk putrinya yang pulang dari rantau
ada kabar sesaki dadanya

Minggu, 03 Juli 2011

Kletek malam minggu


#
Sisa-sisa kotoran ada di sini
di kepalaku dan membuat segalanya runyam. Sedang aku tak bias memilih. Membiarkan malam minggu sendiri: dikutuki sumbar-sumbar keparat
remaja kampung

kalau saja….

#
Sunyi, kesunyian…
Ingatan robek pada luka-luka, silam
Sedang menggerutu pun gagal

Selasa, 28 Juni 2011

obrolan 2 pemuda di sebuah sore warung Kletek

Menghargai seseorang itu dengan memanusiakannya. Bukan dengan berjongkok-jongkok. Meskipun maknanya berarti, menghormat. 

Ku pikir dari sinilah orang-orang kita selalu di jajah. Budaya adalah budaya. Tetapi ketika bikin orang-orang menjadi ‘sakit’ karena musti memelas kepada mereka yang lebih tua, lebih kaya, atau lebih dari segalanya, itu berarti menghilangkan nilai kita sebagai seorang manusia. Jadi jangan salahkan penjajah bila dia betah ngangkang dan berak di kepala kita tanpa punya anggah ungguh kepada kita sebagai tuan rumah. Juga kepada raja-raja jawa yang busuk itu mereka bisa se-enak perut melakukan penghisapan dan perbudakan, karana memang orang tua kita sendiri yang mengajarkan kita selalu berjongkok-jongkok menghormat. Dari sinilah persooalan bermula.

Kamis, 23 Juni 2011

Kerajaan Mas Gondrong yang tidak lagi Gondrong

TIMUR (mas gondrong yang baik)

Aku kembali menyusuri jejak itu. Seorang yang dengan berat hati ku katakan ‘pernah berpengaruh pada sajak-sajaku’; mengerikan. Ya, tapi aku tidak menyesal. Sebab segala sesuatu mesti berkubang untuk memperoleh kedalaman dan kematangan. Karena sampai saat ini aku masih terus mengandung anak-anak rohaniku dan terpaksa lahir karena kebutuhan eksistensi dan urusan “komitmen” – maka ia tercecer dimana-mana – kumuh, lusuh dan tak terurus. Aku sedih dengan keadaan anak-anak rohaniku. Berupa-rupa nasibnya; ada yang di maki, di cerca, dan di hujat habis sebagai sesuatu yang ‘putus asa’. Ada juga yang ‘di sanjung’ sekalipun terkadang aku lebih mewaspadai sanjungan ketimbang makian. 

Aku senang kau diam: dengan begitu aku bisa menciummu lebih lama

Sayang sekali aku terlambat datang di hidupmu. Seorang perempuan telah mengambil seluruh hidup dan cintamu, bahkan tidak sedikitpun kau menyisakannya untukku, meskipun sedikit. Tapi mengapa aku rela menjadi kekasihmu, menemanimu setiap malam ketika kau butuh, atau sedang kesal karena mantanmu tak lagi menghiraukan setiap komentar-komentarmu di status faceboknya. Yah, aku selalu rela, dan itu semua hanya ku lakukan untukmu.

Seperti akhir-akhir ini, sesuai permintaanmu, aku selalu memasang foto profil facebook dengan gaya dan senyum yang mirip dengan mantanmu. Memang senyumku dengan senyumnya hampir mirip, tapi aku tau dia lebih cantik dariku. Dan tanpa pikir panjang, aku lakukan semua itu atas nama cinta dan pembuktian pengabdianku sebagai kekasihmu.