Laman

Tampilkan postingan dengan label Minum Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minum Kopi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2015

Defy dan Tulah


Dukun Bejat
Sampai sekarang saya masih ingat betul dengan kata-kata Dukun Bejat, saat saya mengantarnya ke Probolinggo H+3 lebaran tahun 2013 lalu: salah sijine dalan kesaktian iku teko roso “teraniaya”, “gak berdaya”, seng pancene diniati dilakoni utowo akibat nasib’e (Salah satu jalan kesaktian itu dari rasa “teraniaya”, “ketidakberdayaan”, yang memang benar-benar diniati atau dilakukan atau karena sudah nasib).

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di sepanjang perjalanan kami ke Probolinggo.
*
Setelah usai bergulat dengan kerumitan para MG swasta, saya dan Dukun Bejat memutuskan bertemu dengan Defy yang kebetulan juga ada di Probolinggo. Kita berjanji bertemu di sebuah warung bakso pinggir jalan. Singkat kata, saya mendapati Defy bersama I*&^^6$%. Kami saling bersalam-salaman karena memang masih dalam suasana lebaran.
Waktu itu, ceritanya si Defy diantar oleh I*&^^6$%, karena kebetulan usai bersilaturahmi dengan keluarga I*&^^6$%. Usai bicara ngalor-ngidul, Dukun Bejat mengajakku menemui kawannya di Kemangsan, Probolinggo. Karena sedang menganggur, jadi saya iyakan saja ajakan Dukun Bejat dan mengajak Defy turut serta di perjalanan kami.

Kamis, 26 Desember 2013

Demokrasi dan Ketidak-pedulian

”Aku benci ketidak-pedulian… Ketidak-pedulian dan apati sama dengan benalu, sikap pengecut.” — Antonio Gramsci.
Membaca penuturan Gramsci membuatku merinding. Menyadari betapa kerasnya manusia ketika geram, dendam, dan benci.
Mungkin Gramsci kesal karena terpenjara dalam sel Regina Coeli, Roma, saat rezim Musolini berkuasa. Sesuatu yang mungkin ia anggap sebagai pengekangan akal-pikiranyang (mungkin) dari sana ia berpikir: saya ingin melakukan sesuatu dengan partai komunis saya, tapi terpenjara; sementara kau sebaliknya.
Saya tak ingin mengelak dari tuduhan Gramsci yang mungkin juga dialamatkan pada saya. Tapi, sebagai seorang Marxis yang mengkritik kelas-kelas sosial sebagai iblis, ia melupakan bila kelas sosial juga lahir dari kesadaran kelas akibat kesanggupan dari warisan sejarah setiap orang yang kerap berbeda.
Gramsci sanggup mengelola hidupnya dengan rasional hingga pernah menjabat sebagai ketua Partai Komunis Italia dan punya kesempatan melakukan pertentangan dengan Musolini.
Lalu bagaimana dengan orang yang disebutnya apati? Orang yang dia sebut pengecut karena tidak melakukan sesuatu. Tunggu! ”Sesuatu” itu apa? Apakah ”sesuatu” itu selalu hal besar yang berkaitan dengan sejarah? Ah, Gramsci memang pengikut Marxis yang baik. Ia berpikir ”masa depan” atau kecemerlangan sejarah dibawah panji-panji komunis adalah tujuan sejarah dan sesuatu yang mutlak bagi setiap orang.

Kamis, 12 Desember 2013

Petani

Petani! Saya pikir mereka adalah bagian dari sebuah sistem dalam kehidupan, yang memiliki ”jalan sunyi” yang tak mudah kita pahami bila tak dilahirkan sebagai ”petani” yang ”bertani” dengan benar.

Bertani, bagiku, punya jalan panjang ”puasanya” sendiri, hingga mereka tiba pada sebuah kesunyian yang gigil. Apakah puasa petani itu berarti bersabar, menerima, menghamba pada apapun yang membuat mereka semaki khusyuk bersunyi-sunyi; mendekat dan bersetia pada kosmos.

Saya tidak ingin mengatakan bila petani harus menjalani kodratnya dilindas pemodal, atau kebijakan yang tidak berpihak. Tapi, mungkin, petani tidak akan ”bertani” apabila mereka tidak bersakit-sakit dan mengalah, pasrah dan sadar menjalani kodrat mereka. Dan saya tahu persis bila setiap orang bebas memilih jalan hidupnya menjadi apapun yang mereka mau. Juga, aku pikir, tak seorang pun mendambakan dirinya berada pada kondisi sengsara, kecuali dia seorang masokis. Harus saya katakan pula bila petani yang bertani juga tidak selalu terpenuhi kebutuhan hidupnya. Paling tidak, dengan mereka bertani, mereka memiliki harapan. Dan harapan itulah yang membuat mereka mencukupkan diri, membatasi, dan belajar berkata ”tidak” pada hidup sehingga mereka memperoleh ketenangan.