Laman

Kamis, 11 Oktober 2012

Sombong itu semacam dancuk kali, ya?


Segalanya pasti berubah. Berubah...
Saya selalu jengkel dengan seseorang yang sombong dengan nasib orang lain, kesanggupan seseorang yang tinggal sisa-sia.
Selepas penat berurusan dengan dosen dan skripsi. Saya memutuskan untuk jalan-jalan ke dunia maya. Lelah tubuhku bertambah panas ketika membacai sebuah blog yang di salah satu tulisannya membahas soal kopi. Penulisnya mengambil prolog tentang pengamen yang menyanyikan lagu-lagu milik Iwan Fals. Awalnya aku masih tidak ngeh dengan jalan tulisannya yang banyak bicara soal prestasi Iwan Fals di masa muda, terutama sikapnya yang garang dengan syair lagunya yang memberikan kritikan keras bagi pemerintah Orba.
Apa hubungannya dengan kopi, pikirku.
Lambat laun aku faham kemana arahnya. Penulis blog itu akhirnya membicarakan soal iklan Top Coffee. Ia menulis: Iwan sudah berubah. Dari penampilan, lagu, sampai pendapatnya mengenai iklan komersial. Yang paling menyedihkan tentu nasib lagu "Bongkar". Dari semula menjadi lagu yang sangat politis dan garang, berakhir menjadi slogan iklan kopi. 
Tak ada yang bisa menduga nasib kita. Hari ini jadi pahlawan, esok sudah jadi bahan gurauan. Juga Iwan Fals. Hanya karena sudi menjadi bintang iklan, ia menjadi begitu tanpa harga sekarang. Saya percaya, hanya Tuhan yang tidak pernah malas untuk menghitung kebaikan dan kejahatan. Tapi apa Iwan Fals melakukan kejahatan dengan sudi menjadi iklan Top Coffee? Kalau dia disesalkan menjadi iklan Top Coffee hanya karena masa lalunya yang garang dengan lagu “bongkar”, alangkah sedih Iwan Fals karena harus terbatasi. Kalau pun dulu Iwan Fals menolak melibatkan diri dalam iklan, kita juga tak tau apa yang dipikirkannya. Kalau sekarang Iwan sudah jadi bintang iklan dan lagu-lagunya mulai melunak dan lebih banyak bicara soal perenungan diri, apa itu salah? Dan sebuah pertanyaan yang menyesakkan di akhir tulisan itu: Apakah kedua pengamen itu minum Top Coffee?
Ah, manusia sekarang, semakin tinggi ilmu, kesempatan dan kesanggupannya, semakin menjadi pula pikirannya. Memang nasib sial kau, Iwan. Harus menjadi terkenal dan sekarang jadi korban “infotaimen intelektual”.
Tak ada yang tau apa yang terjadi dalam kehidupan Iwan kecuali dirinya sendiri. Soal apa yang melatar belakangi ia mau jadi bintang iklan kupikir bukan tanpa sebab. Betapa sombong orang-orang pintar sekarang. Hal ini mengingatkan aku pada seorang aktivis yang memperjuangkan nasib masyarakat di Kulon Progo. Setelah terbukti “gagal” memperjuangkan nasib masyarakat Kulon Progo, ia mengata-ngatai masyarakat KP dengan sebutan kompromistis dengan pemerintah, sudah enak. Awalnya aku salut dengan perjuangannya, tapi mendadak kekagumanku runtuh dengan komentarnya atas masyarakat KP. Bukankah memperjuangkan itu bukan urusan pamrih? Apakah perjuangan harus selalu menuntut orang yang diperjuangkan tau bila sedang diperjuangkan? Sudahlah, mengapa jadi kemana-mana.
Siang ini pun, saya ditelfon kawan lama dan menanyakan kabar. Ia menanyakan apa aku masih jadi orang terminal dll. Ia turut senang karena aku sudah tidak lagi jadi orang terminal. Katanya: syukurlah kamu sudah mengakhiri pekerjaan itu. Jadilah orang benar. Bekerjalah yang baik setelah lulus ini. Dan kamu harus.....
Iya. Iya, kawan. Aku tau kau sudah cukup mapan, sekarang. Aku rela kamu kuliahi, tapi tidak untuk soal menghina pekerjaan mengamen. Ah, apa kau hendak menjadi orang-orang yang sombong dengan nasib orang lain seperti di blog yang siang ini aku baca? Apa kau hendak menjadi aktivis KP yang memaki orang yang dulunya diperjuangkan. Aku kecewa dengan pembicaraan kita siang ini, batinku. Sayang tidak sempat terlontar keluar.
Lukaku berjalin-jalin. Dan keparatnya, pikiranku dipenuhi pertanyaan penulis blog itu:  Apakah kedua pengamen itu minum Top Coffee? Apa dipikirnya hanya dia yang bisa menganalisa soal iklan, harga diri, masa lalu, dan pamer kebijaksanaan? Apa dipikir para pengamen itu adalah kaum papa yang tak bisa menentukan sikap? Apa para pengamen itu hanya bebodoran yang selamanya jadi olok-olok mereka yang bisa mengelola hidupnya dengan rasional.
Baiklah kalau kau mau jawaban. Aku akan jawab. Aku juga akan paksa kau melongok kedalam terminal. Untuk kawanku, apa kau pikir kau sudah merasa lebih baik ketimbang para pengamen. Tidak semua pengamen itu buruk, cuk.  
*
Sekitar tahun 2005, sewaktu saya masih jadi pengamen Terminal Purabaya, saya selalu kesal dengan situasi seperti ini: dimaki tetangga sebagai orang yang tidak terdidik dan rusak; bila penumpang memandang saya dengan tatapan sinis sewaktu saya menyanyi; Lalu saat kena razia, diceramahi aparat dan diperlakukan seperti babi.
Sepertinya pekerjaan mengamen adalah dosa turunan yang lebih rendah dari bromocorah. Kalau mengamen dianggap sebagai peminta, it’s ok. Tapi, aku ingin bertanya: lebih baik mana meminta dengan baik-baik atau mengkorupsi? Apa saya meminta uang ratusan ribu dari para penumpang itu? Cuma sesungging senyum, menghormati, dan receh. Receh...
Dari dulu aku memang selalu tidak sabaran dengan banyak hal. Kalau ada yang tidak cocok, bawaannya selalu protes saja.
Pada suatu ketika, saat saya usai mengamen dan menadahkan kolekan (bungkus permen untuk menadahi receh ke penumpang), seseorang penumpang memakiku menepis keras-keras  tanganku hingga kolekanku jatuh dan uang receh di dalamnya semburat berantakan.
Darahku langsung mendesir ke ubun-ubun. Waktu itu semua pandangan tertuju ke arahku dan kawanku yang masih memainkan gitar.
Saya membisu menahan amarah dan meminta penumpang itu memungut kembali kolekanku dan memungut receh yang terlanjur tercecer. Penumpang itu diam. Ia hanya mendengus dan memalingkan wajahnya ke jendela. Kemudian, bag.. bug... bag.. bug.. ngek... jeding #@**7&% dan eurekaaaa, penumpang itu babak belur kuhajar. Tak satu pun penumpang lainnya protes. Mereka hanya menyaksikan dengan jijik, begidik melihat kami berdua.
Tak satu pun membantu penumpang itu. Juga kondektur, yang mungkin akan berpikir ribuan kali bila hendak membantu melerai. Setelah temanku memunguti uang receh yang terlanjur jatuh, di pemberhentian berikutnya, kami turun.
Di warung makan, seleraku mendadak hilang. Aku terus saja mengomel sambil sesekali ingat wajah lelaki yang baru saja kupukuli. Wajahnya jadi memelas tak berdaya dan menghiba seperti anak kecil. Hilang wajahnya yang semula angkuh sewaktu menepis tanganku.  
Rasa menyesal memang selalu menyesak dan begitu ganjil. Mengapa harus terjadi pemukulan itu? Mengapa ia bersikap seperti itu padaku, apa salahku? Kalau ia tak mau memberi, mengapa pula harus seperti itu? Seakan-akan tidak ada cara lain untuk memperlakukan pengamen kecuali menistakannya.
Memang selamanya mereka yang masih menginjak tanah harus punya kesadaran dan kebijaksanaan tertentu untuk memahami hukum yang berlaku di masyarakat. Pola-pola aturan yang tak pernah menilik dan mempertanyakan sebab “mengapa”.
Kalau saya mengamen, saya adalah sampah di mata mereka. Mereka tak butuh untuk tanya: mengapa harus mengamen? Saya akui, banyak pengamen yang menjalani pekerjaannya karena malas bekerja dan terlalu dimanjakan receh dan kebebasan. Tapi itu tidak semua. Saya mengakui banyak pengamen lebih rela perutnya kosong ketimbang tidak beli arak dan pil anjing. Tapi ada juga kawanku, Lukman, pengamen yang juga seorang suami dan ayah yang baik bagi lima orang anaknya yang masih kecil. Dari hasil mengamen, ia bisa membeli sepetak tanah dan membuat rumah kecil untuk keluarganya. Meski demikian, Lukman bukan seorang yang pelit dengan. Ia kerap bagi-bagi rokok, mentraktir makan, es, dan bahkan meminjami uang. Ia juga seorang takmir masjid, sehingga sebelum waktu sholat, ia sudah harus di mesjid dan adzan. Ada juga salah seorang pengamen, yang sampai sekarang masih kuanggap sebagai “guru” buatku. Ia mengenalkan aku dengan dunia filsafat dan kehidupan. Ia lebih rela kelaparan ketimbang tidak membeli buku. Bahkan, kalau ia masih hidup, ia boleh di adu dengan mahasiswa filsafat dan aktivis-aktivis kiri.
Tidak selamanya pengamen adalah sampah. Mereka hanya sampah ketika membuat hidup mereka tanpa guna. Tapi bisakah kita memandang Lukman sebagai sampah menjijikkan. Kalau saya saja yang dianggap sampah, tidak masalah. Tapi tidak bagi mereka yang hidup dan berjuang di terminal untuk menghidupi anak dan istrinya. Saya memang mengamen karena ingin uang tambahan dari membeli buku-buku.
Lukman bukan tidak mau kerja jadi buruh pabrik dan kuli bangunan. Ia pernah melakukannya sebelum mengamen dan punya banyak anak. Tapi, ia tidak bisa mengandalkan gajinya yang hanya UMR. Dia rela membenamkan muka dan menjadi penghibur di bis dengan lagu sholawat ketimbang anak dan istrinya kapiran. Kalau, Rori, guru filsafatku yang pertama, ia jadi pengamen lantaran ingin hidup mendekat dengan tanah. Ia ingin merendah untuk mendapat nilai yang lebih tinggi dari Tuhan yang diyakininya. Rori bahkan rela pergi dari kemapanan keluarganya, rela untuk tidak mengurusi usaha bapaknya di Jatinegara. Bahkan memilih mati sunyi kelaparan di rumah kos yang sempit di dekat terminal.
Tapi saya memang tidak memaksa masyarakat untuk mau tau dan cari tau. Mereka tidak perlu nyelempit ke sudut-sudut terminal yang becek untuk tau apa yang sebenarnya terjadi. Juga ke petak-petak kamar kos yang kumuh untuk tau bila masih ada orang baik di terminal.
Sama halnya dengan kami, para pengamen, kesanggupan mereka hanya bisa menilai se-enak perutnya. Dan kesanggupan kami hanya mengelus dada ketika ditikam dengan sorot mata muak dan benci.
Aku bisa terima perlakuan kalian. Memang saya yang gila, sampah. Kau di atas saja, jadi dewa.
Sudahlah, aku muak sendiri bikin lanjutannya.
Oya, ada yang tertinggal. Aku mau minum top coffee. Kau mau apa? Puas!

Okt, 2012
CDVT

Cuma Urusan Senyum


         

             -buat W.C

Kalau kau belum bisa menertawai dirimu sendiri, berarti kau belum lewati fase “gila”, belum serius menjalani hidup.

Hidup adalah soal memberi definisi pada apa yang terjadi. Memberi makna pada apa yang terhidang di meja makan nasib. Mungkin bagi orang-orang biasa macam saya, kesanggupan terakhir adalah untuk bisa terus tertawa, meskipun memaksa, dan mencoba tersenyum ala kadarnya. Sebab, kalau tersenyum adalah perkara menunggu arus hidup mereda, derita habis kikis, aku tak akan kenal apa itu tawa.
Hidup adalah urusan kita dewasa menghadapi persinggungan-persinggungan. Menghadapi interaksi antar satu sama lain yang hampir mustahil dihindari. Sehingga antara satu sama lain sudah pasti berhubungan. Misal dalam satu lift, kamu kentut, dan bisa kupastikan membuat setiap orang yang berada dalam lift itu menebarkan pandang yang saling curiga. Juga perkara senyum dan tertawa.
Setiap kali saya sedang sedih sendiri di warung kopi, dan setiap kali saya melihat ada orang tertawa ngakak, saya selalu berpikir: apa mereka sedang tak ada masalah sehingga bisa tertawa sebegitu overdosis? Siapa yang tau bila ternyata mereka yang sedang tertawa itu baru saja ditinggal istrinya kawin dengan orang lain? Siapa yang tau bila ia baru seminggu yang lalu ia ditinggal bapak ibunya meninggal? Siapa yang tau bila lima menit yang lalu kucingnya baru saja mati dilindas truk sampah?
Di waktu-waktu seperti itu aku jadi berpikir ulang: mengapa saya harus sedih? Bukankah benturan dan sadisnya hidup tak akan berhenti untuk menggilas. Mungkin benar apa yang dikatakan Andrea Hirata dalam tetraloginya: kalau kau bersedih, kau hanya akan sedih sendiri.  Kesedihan akan selalu ada, tapi pastikan kembali apa kita perlu meratap-ratap seakan-akan esok rumah-rumah gila bakal ditutup. Seakan esok matahari tidak lagi terbit.
Pak Lek Bro, kowe hanya perlu sedikit saja tertawa. Bahan-bahanya bisa dimulai dari apa yang ada di sekitarmu, sekitar kita. Misalnya tentang aku dan Dono yang masih saja membusuk di kampus. Misalkan tentang Saipul yang tidak bisa tidur kalau tidak menyelipkan tangannya ke selakangan. Atau tentang rambut bapaknya Lisa yang rontok hingga membentuk lapangan golf di belakang kepalanya, namun tetap bersikukuh bila dia itu gondrong, cool dan macho. Atau bahanya kau comot dari kehidupan pribadimu, soal kau yang masa kecilnya pernah membuang anak kucing dalam sumur, atau....
Kau hanya perlu memaafkan... Kau hanya perlu sadar “mengulang kesalahan itu enak”, sehingga orang lain akan terus saja mudah menyalahi kita... Kau hanya perlu ingat joget ngebor di karaoke kelas tukang becak di wonokromo itu enak... Kau hanya perlu membenamkan gengsi dan berbahagia bersama para guru kehidupan—mereka yang papa dan berserak di sepanjang malam.
Oya, ada yang kelewat. Si F, kawan kita SMA batal kawin dengan tunangannya. Gak tau kenapa. Mungkin ini giliranmu mbribik...

Citra D. Vresti Trisna 

Kamis, 13 September 2012

PNS (Pegawai Negeri Semprul)



Tidak untuk PNS dan yang bercita-cita jadi PNS

Mungkin keresahan ibu-ibu para generasi muda di Indonesia, di tengah ketidakpastian hidup di negeri ini bisa terhapus ketika anaknya bisa menyandang status PNS. Ketika seragam coklat nanggung telah dipakai anaknya berdinas, segala kekawatiran orang tua akan terobati. Beragam hal baru yang kemudian dipikirkan sang ibu kepada anaknya: anakku pasti bisa bertahan ditengah ketidakpastian dengan gaji tetap dan pensiunnya; anakku pasti mendapat jodoh yang pantas di tengah mewabah gejala kedunyan alias matrealistisnya ibu meretua.
Anakku sudah pantas dan siap untuk menggenggam dunia ini, pikirnya. 
Karena cinta segalanya jadi irrasional. Karena cinta orang tua terjebak matahari palsu dan lupa diri. Merasa menemukan tempat teduh untuk berlindung, padahal sejatinya mereka tidak berada dimana-mana, kecuali berada di bibir pemangsa. Saya tidak ingin bilang bila para orang tua generasi muda, termasuk orang tuamu dan orang tua saya, berkiblat pada matahari palsu “kemapanan”. Saya hanya ingin sedikit ngerasani (menggunjing) soal kesadaran, soal rasionalitas dan matahari palsu jaman. Dan yang terakhir, saya tidak bermaksud menyeret anda dalam kehidupan saya yang suram.
Saya ingat pada waktu kecil, niat saya untuk sekolah adalah bukan untuk pintar, tapi saya ingin seperti kawan-kawan yang sudah bersekolah. Seiring waktu berjalan, saya jadi tau, saya harus sekolah untuk memenuhi sebuah tuntutan jaman. Saya harus sekolah karena tuntutan dan cinta kasih orang tua saya yang tak ingin hidup saya kelak jadi terlunta-lunta. Saya harus mengantongi ijasah agar kelak hidup mapan. Menjadi PNS, atau paling buruk, menjadi pengisi kekosongan buruh-buruh pabrik.
Dalam perjalanan saya bersekolah, dari TK, hingga tersesat ke kampus ikan asin (Trunojoyo: bukan nama sebenarnya). Saya mengenal istilah kesadaran nurani. Saya mendapat kembang kertas dan basa-basi istilah: hidup itu tidak boleh untuk sekedar memikirkan diri sendiri. Saya mengenal jahatnya KKN dari guru yang menyampaikan dengan setengah hati. Setelah dipandang cukup umur untuk bekerja, orang tua mulai gelisah untuk mencarikan kerabat yang punya koneksi di perusahaan anu, perusahaan ini, itu, agar setelah lulus tidak begitu kesulitan mencari kerja.
Begitu dalam cinta kasih orang tua. Menyekolahkan kita tinggi-tinggi untuk membuat kita percaya pada sesuatu. Tapi, setelah hampir percaya kebenaran dan hati nurani, tiba-tiba orang tua jadi hilang kendali. Mereka meruntuhkan segala yang kita percaya dengan serangkaian argumen yang menghardik untuk berpikir realistis di jaman sekarang. Kita harus menempuh kemapanan apapun caranya. Kita dipaksa berkompromi dengan keadaan agar bisa survive dalam perjalan hidup. Meskipun, di jaman sekarang, survive itu beda tipis dengan bunglon.
Saya tidak bermaksud menyalahkan para orang tua. Hal ini sudah masuk dalam rumus hidup dari kesadaran kolektif. Saya ingat sebuah statemen dari Pram tentang watak bangsa ini “...bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyelarasan dari pada cekcok urusan prinsip.”
Dari sini kita mesti berkaca soal kehancuran sikap beserta kemerosotannya sebagai sesuatu yang sudah diramalkan. Gejala dekadensi moral dan keruntuhan filsafat dan kepercayaan kita akan prinsip telah terbaca dengan gamblang dengan pola hidup manusia di jaman modern. Dan kebutaan karena cinta tidak bisa kita persalahkan sepenuhnya. Dalam hal ini, kita seharusnya bisa bijaksana menghadapi keadaan ini. Mungkin kebijaksanaan itu bisa berarti ikut arus, terus melawan arus, atau justru kita bikin sungai sendiri. Melawan ketidakpastian dengan menciptakan sungai sendiri, sehingga kita yang menentukan arus, adalah sebaik-baik kemungkinan. Tapi, sekarang bagaimana kita mesti membuat sungai kita sendiri agar sebisa mungkin kita tidak terjebak untuk terlena akan matahari palsu?
Saya selalu berusaha menampik cerita-cerita macam Don Quixote karya Cervantes. Cerita tentang seseorang yang menjadi tamsil; hidup dalam matahari palsu imaji. Tapi bisakah kita paham apa itu imaji di jaman saat saat seperti ini. Tapi kita tidak lantas mengamini sikap masokistis tokoh Alexander Supertramp (Christoper Jhonson Mcandless) dalam film Into The Wild, “uang adalah ilusi.” Anda bersikap masokis diperlukan, tapi tidak perlu sejauh itu, bukan? Masokis memang perlu bagi mereka yang ingin menguji ketahanan dirinya sampai pada titik paling ekstrim. Tapi bila kita hendak mengatakan bila hidup adalah masokis itu sendiri, kita bodoh, dekaden.
Kesadaran nurani harus kita letakkan pada tempat dan saat yang tepat agar kita masih tetap pantas disebut manusia. Pengingkaran terhadapnya akan menjadikan kita kembali pada puak-puak yang degil. Pada kubangan bau tengik comberan. Namun rasanya begitu berat dan tak sampai hati bila kita ingin berkata “Pak, bu, kalau untuk sekedar hidup, aku tak ingin melonte pada jaman. Mengembik pada penghisapan. Mengabdi pada jahanamnya tittel yang membuat kita pada akhirnya tunduk dan terpisah dari kesadaran nurani.” Sudah pasti lebam hati mereka, menitik air mata mereka.
Memang untuk menjadi sedikit benar dan mampu memaknai hidup sangat tidak mudah, sekalipun hidup itu begitu sederhana. Sesederhana menyerahkan diri pada kebahagiaan orang tua: lulus cepat, mengantre mendaftar PNS, dan kemudian sebagai mantan intelektual kita sepantasnya bicara soal kapitalisme sambil sesekali membalas BBM dari rekan sekerja.
Jaman sekarang, siapa yang tidak butuh pasangan hidup? Meskipun IMSI (Ikatan Meretua Seluruh Indonesia)* sangat-sangat realistis (baca: materialistis). Yang kalau bisa urusan cinta sebaiknya diletakkan di nomor tiga ratus tujuh puluh delapan. Asal bisa menjamin susu anak, liburan meretua, beli rumah dan pensiun, maka: silahkan bawa anak saya asal jangan dipukuli.
Mungkin dengan cerita Don Quixote, Cerventes ingin menertawai dirinya sendiri. Ia hendak menyindir hidup manusia yang tak luput dari tamsil matahari palsu, sekaligus menertawai dirinya sendiri. Begitu naasnya hidup bagi mereka yang sadar apa itu benar salah. Meskipun tak ada yang mutlak benar, paling tidak hidupnya kesadaran nurani dalam diri seseorang akan menjadi racun yang memakan dari dalam bila dadanya tak kuat mentolelir jaman.
Bila anda ingin hidup dengan “wajar”, tak semestinya membaca tulisan ini. Saya sedang kurang waras, tak baik ditanggapi serius.

13 September 2012
Citra D. Vresti Trisna

Catatan:  
* hanya karangan saya sendiri; mengada-ada; tidak benar; ngawur.

Senin, 16 Juli 2012

Berkubang


Untuk JR

Mengingat ia telah berkubang di satu pemberhentian. Aku ikut senang, meskipun masih punya kecenderungan yang sama untuk: seakan-akan. Tapi, yang menarik, adalah membuktikan banyaknya “seakan-akan” yang nampak itu menjadi benar adanya. Tidak palsu.

Kau telah tau rumusnya. Bila seakan-akan hanya melahirkan dendam bila ia tak benar-benar sampai. Semoga kau sampai. Pesanku: lelaki yang matang tidak kenal kompromi. Dan menerima selalu sejalan dengan toleransi pada yang akan lewat dan yang akan datang.

Selamat berbahagia.

Citra D. Vresti Trisna

Sabtu, 07 Juli 2012

TK Spirit Mahasiswa

Selasa, 26 Juni 2012

gelas isi lont*

dalam gelas, saya melihat diri saya merenungi gelas-gelas kosong di meja.
saya melihat pelacur-pelacur dengan kutang tersingkap, tubuh penuh mentega,
selai kacang dan sangat siap untuk di santap. kasihan dia (dalam gelas),
hanya menunggu waktu untuk mampus dan jadi cerita.
cerita-cerita dalam gelas. tentang rumah saya, ibu saya, bapak,
perempuan dalam plastik es lilin, halaman rumah, kandang ayam, pohon mangga,
kampus preman ikan asin, sampai taik kucing di warung depan iain. semuanya bernama indonesia.
semuanya dalam gelas. begitu kumuh, miskin, bahkan untuk membuat etalase pun harus dari gelas.
mandi dan berak dalam gelas. bercinta dalam gelas. onani pula. goblok sekali. itu dalam gelas, cuk.

dancuk! mengapa aku bisa dalam gelas? dalam gelas, aku macam duda kemput. apa aku benar-benar dalam gelas? siapa sebenarnya yang berada dalam gelas? aku, pelacur, indonesia, atau ceritanya saja yang didalam gelas.
lalu pertanyaannya dikalengkan. di simpan dalam kulkas. kulkas di bungkus kardus dan diangkut ke gelas.
ah, asu! ternyata saya tidak di mana-mana. hanya dalam gelas. tumpang tindih dengan pelacur, indonesia
dan bau taik kucing.

kata orang-orang, aktivitas saya diliput wartawan bodrek punya si brewok keparat. panggil saja dia SP.
mulutnya perek. maklumlah, dia "yakin" kalau dia wartawan. merasa ada di luar gelas. padahal ia berada dalam
gelas kopi saya yang tinggal separuh dan sudah kuludahi berkali-kali. sebentar lagi pasti alih fungsi jadi asbak.
mampus kau keparat!

lalu siapa yang tidak berada di dalam gelas? kata aktivis agama: "hanya Tuhan, mas bro. percayalah. hanya dia yang
berada di luar gelas."
"ah, teori itu."
"ya Allah, mas bro. istighfar. nyebut. eling, eling, eling. njenengan kilaf, mas bro."
"rupamu iku khilaf." (matanya mendelik)
"lha apa tuhan ndak dalam gelas-gelas di otakmu yang bau kutang bidadari surga?"
"Lhoalah, mas bro. kok tau?"
"menurut L?"

Damput rokokku entek. wes, sak mene disek.

Rabu, 06 Juni 2012

Do


—Buat Do

Tidak ada yang istimewa, kecuali akar tua yang menunggu; letih dan hidup dari bilik-bilik— menyimpan semangat muda.

Matanya letih. Menembusi kedalamanku: celana dalam yang itu-itu saja dan perempuan mana yang mungkin bisa dirayu.

Do, di paha perempuan mana gigimu tanggal? Sejarah yang mungkin selalu kau kenang dan menghantuimu—perihal malam pengantin dan tengik usia—kemudian menghilang di sebalik kerumun mahasiswa.

Kau bernapas dari bau tubuh mereka, lalu merasa muda.

Kalau sekarang aku adalah dahan muda yang bahagia. Kenyataan yang saat ini mungkin berpihak padaku. Tapi bagaimana denganmu? Apa kau kesepian, Do? Bagaimana kalau kita berbincang perihal ketidakberuntungan? Atau kita bisa berbasa-basi soal teater, dunia yang mungkin bisa membuatmu sedikit lebih hidup dan merasa muda. Juga tokoh-tokoh filsafat yang kau kagumi dengan caramu.
Do, apa yang kau pikirkan ketika kau masih menjadi dahan muda seperti aku sekarang ini? Apa kau ketakutan seperti sekarang ini?

Citra D. Vresti Trisna
Surabaya, Juni 2012