ia menunggu muara yang mengalirkan derita pada laut hatinya kering, sebelum akhirnya memutuskan pulang dan kembali berkebun
matanya biru menatap kapal kertas yang melintas, sebelum akhirnya karam,
tenggelam
hatinya telah jauh lebam,
harusnya malam ini dia memeluk putrinya yang pulang dari rantau
ada kabar sesaki dadanya
Senin, 11 Juli 2011
Minggu, 03 Juli 2011
Kletek malam minggu
#
di kepalaku dan membuat segalanya runyam. Sedang aku tak bias memilih. Membiarkan malam minggu sendiri: dikutuki sumbar-sumbar keparat
remaja kampung
kalau saja….
#
Sunyi, kesunyian…
Ingatan robek pada luka-luka, silam
Sedang menggerutu pun gagal
Label:
Warkop
Selasa, 28 Juni 2011
obrolan 2 pemuda di sebuah sore warung Kletek
Menghargai seseorang itu dengan memanusiakannya. Bukan dengan berjongkok-jongkok. Meskipun maknanya berarti, menghormat. Ku pikir dari sinilah orang-orang kita selalu di jajah. Budaya adalah budaya. Tetapi ketika bikin orang-orang menjadi ‘sakit’ karena musti memelas kepada mereka yang lebih tua, lebih kaya, atau lebih dari segalanya, itu berarti menghilangkan nilai kita sebagai seorang manusia. Jadi jangan salahkan penjajah bila dia betah ngangkang dan berak di kepala kita tanpa punya anggah ungguh kepada kita sebagai tuan rumah. Juga kepada raja-raja jawa yang busuk itu mereka bisa se-enak perut melakukan penghisapan dan perbudakan, karana memang orang tua kita sendiri yang mengajarkan kita selalu berjongkok-jongkok menghormat. Dari sinilah persooalan bermula.
Label:
Warkop
Kamis, 23 Juni 2011
Kerajaan Mas Gondrong yang tidak lagi Gondrong
TIMUR (mas gondrong yang baik)
Aku kembali menyusuri jejak itu. Seorang yang dengan berat hati ku katakan ‘pernah berpengaruh pada sajak-sajaku’; mengerikan. Ya, tapi aku tidak menyesal. Sebab segala sesuatu mesti berkubang untuk memperoleh kedalaman dan kematangan. Karena sampai saat ini aku masih terus mengandung anak-anak rohaniku dan terpaksa lahir karena kebutuhan eksistensi dan urusan “komitmen” – maka ia tercecer dimana-mana – kumuh, lusuh dan tak terurus. Aku sedih dengan keadaan anak-anak rohaniku. Berupa-rupa nasibnya; ada yang di maki, di cerca, dan di hujat habis sebagai sesuatu yang ‘putus asa’. Ada juga yang ‘di sanjung’ sekalipun terkadang aku lebih mewaspadai sanjungan ketimbang makian.
Label:
catatan ringan
Aku senang kau diam: dengan begitu aku bisa menciummu lebih lama
Seperti akhir-akhir ini, sesuai permintaanmu, aku selalu memasang foto profil facebook dengan gaya dan senyum yang mirip dengan mantanmu. Memang senyumku dengan senyumnya hampir mirip, tapi aku tau dia lebih cantik dariku. Dan tanpa pikir panjang, aku lakukan semua itu atas nama cinta dan pembuktian pengabdianku sebagai kekasihmu.
Label:
cerita Pakde
Selasa, 21 Juni 2011
melihat orang berkasih-kasih: aku menulis
: Melihat dua orang pemuda berkasih-kasih, aku menulis
Kita memang pernah bertemu untuk sekedar bercinta-cintaan. Banyak malam kita lewati berdua, untuk sekedar suka, merindukan, dan banyak malam yang kita ingat betul bagaimana persisnya. Dan pada saat itu, kita mengikat janji.
Namun kita telah terpisah cukup lama. Menjalani kehidupan dengan jalan kita masing-masing: kau menikah dan aku kuliah lagi dan mengembara. Entah bagaimana persisnya, tapi yang jelas begitu sakit rasanya untuk menganang masa-masa kita saling menangisi diri karena dikhianati nasib. Seingatku kita menangis saat gelap mendatangi kita, di pinggiran jalan kita saling mengucapkan selamat berpisah dan peluk cium sekedarnya sebagai tanda cerita telah usai.
Kau pergi dan harus menjalani hidupmu dengan menikahi seorang lelaki yang baru kau kenal. Tapi ironisnya, itulah pilihanmu. Sedangkan dari jauh, aku mengutuki: menyumpah serapah pada wajah jodoh yang tak ubahnya judi lotre.
Label:
cerita Pakde,
Warkop
Tentang Perempuan
:untuk seorang perempuan yang melipat mukanya menjadi tiga ratus
“Bagaimana aku harus memanggilmu?”
“Suka-suka kau mau panggil apa.”
“Begitukah? Bagaimana kalau aku memanggilmu pink?” Kini kau tertegun.
“Mengapa? Karena warna bajuku kah?” Tukasmu sambil menilik kausmu, seperti tidak pernah melihat warna di kausmu sebelumnya. “Terserah kau saja. Tapi sepertinya aku suka nama itu.”
Aku tersenyum. Kau pun melakukan hal yang sama. Kemudian memelukku. Mencari-cari bibirku untuk kemudian kau lumat dengan rakus. Dan rasanya tubuhku seperti melayang tinggi, terbentur awan dendam yang sangat gelap. Aku tak tau apa itu. Sebab kau tak memintaku bertanya.
“Diam dan rasakan. Kalau kau merasa perlu menikmatinya. Silahkan! Aku pun tak berkeberatan.” Seperti kerbau yang di cocok hidungnya: aku diam. Seperti Musa yang tak sabar tingkah polah sang Khidir: aku tak bisa menahan hatiku untuk diam.
Label:
cerita Pakde,
Warkop
