Kegelapan dan mimpi buruk
itu bernama ”deisme”. Pada abad 17-18 lalu, deisme datang bukan dari luar, tapi
dari dalam. Ia adalah antitesis dari puritanisme, yang waktu itu di wakilkan
oleh greja-gereja ortodok.
Saat itu deisme adalah mimpi
baru dalam kebosanan cara beragama yang emosionil serta labil. Deisme datang
dengan majunya intelektualitas kita. Semacam
upaya penyegaran masyarakat dengan mencoba mematerikan Tuhan agar tidak
ketinggalan jaman mencoba memaksa Tuhan berdamai dengan relativitas. Sehingga revealed religion berhasil dibuat tidak
lagi bermakna kecuali puing-puing barbarisme agama dalam sejarah pembantaian.
Maka saat itulah natural religion
lahir.
Deisme membuat pusat dari
segalanya adalah alam: sesuatu yang (seharusnya) ditaklukkan manusia. Karena,
menurut Ethan Allen, alam adalah sesuatu yang menjanjikan keteraturan ketimbang
Tuhan. Dan mungkin pemberontakannya pada moral lama dia wujudkan dengan menerbitkan
buku anti-Kristen. Dalam bukunya,
Allen mencoba menjelaskan bila keajaiban adalah sesuatu yang bertolak belakang
dengan alam. Meski ia kemudian gagal karena tak mampu menangkap
keajaiban-keajaiban dari alam. Dan yang paling tragis dari bukunya, ia telah
gagal untuk meramalkan kebutuhan manusia jaman sekarang: politik hijau. Karena
ia hanya berfokus pada singkronisasi manusia dengan alam bisa ditempuh lewat
penaklukan alam semesta.

