Laman

Minggu, 09 Februari 2014

Deisme dan 2.5 Juta

Kegelapan dan mimpi buruk itu bernama ”deisme”. Pada abad 17-18 lalu, deisme datang bukan dari luar, tapi dari dalam. Ia adalah antitesis dari puritanisme, yang waktu itu di wakilkan oleh greja-gereja ortodok.
Saat itu deisme adalah mimpi baru dalam kebosanan cara beragama yang emosionil serta labil. Deisme datang dengan  majunya intelektualitas kita. Semacam upaya penyegaran masyarakat dengan mencoba mematerikan Tuhan agar tidak ketinggalan jaman mencoba memaksa Tuhan berdamai dengan relativitas. Sehingga revealed religion berhasil dibuat tidak lagi bermakna kecuali puing-puing barbarisme agama dalam sejarah pembantaian. Maka saat itulah natural religion lahir.
Deisme membuat pusat dari segalanya adalah alam: sesuatu yang (seharusnya) ditaklukkan manusia. Karena, menurut Ethan Allen, alam adalah sesuatu yang menjanjikan keteraturan ketimbang Tuhan. Dan mungkin pemberontakannya pada moral lama dia wujudkan dengan menerbitkan buku anti-Kristen. Dalam bukunya, Allen mencoba menjelaskan bila keajaiban adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan alam. Meski ia kemudian gagal karena tak mampu menangkap keajaiban-keajaiban dari alam. Dan yang paling tragis dari bukunya, ia telah gagal untuk meramalkan kebutuhan manusia jaman sekarang: politik hijau. Karena ia hanya berfokus pada singkronisasi manusia dengan alam bisa ditempuh lewat penaklukan alam semesta.

Selasa, 04 Februari 2014

Jadi Pendendam yang Baik

Mimpi main perang-perangan dengan Hitler membuat saya jadi pakewuh dengan pimpinan Jerman yang memiliki kumis unik dan rambut klimis ini. Pikiran saya jadi kemana-mana. Terutama soal kebencian masyarakat dan pemuda kita pada Nazi.
Sebenarnya saya agak tidak sreg dengan ramai-ramai soal aksi beberapa aktivis dan masyarakat yang mempermasalahkan berdirinya sebuah kafe di Bandung — kalau tidak salah namanya Soldantenkaffe — yang kebetulan di dalamnya berisikan segala pernak pernik pada masa Nazi pada perang dunia II. Menurut mereka, keberadaan kafe tersebut dianggap mengganggu ketentraman; mengagumi kekejaman dll. Selain itu, keberadaan kafe tersebut dianggap ”aneh” karena kagum dengan simbol-simbol yang pernah memerahkan dunia dengan perang dan kekejaman seperti suastika, pakaian serdadu Jerman.
Mungkin hingga kini Hitler masih dianggap iblis yang mencemaskan. Tapi, bukankah ini Indonesia? Apa urusan Indonesia dengan Hitler; dengan Jerman? Pernahkah Hitler menginjakkan kakinya di Indonesia, atau menyakiti dan bikin onar di Indonesia?

Sabtu, 01 Februari 2014

Demromor 2

#Pentas di Perpus UB#

Apa yang lebih menjengkelkan ketimbang melihat sebuah adegan telanjang di sebuah kampus yang agak bersih dan gemar membangun gedung dan suka membuat ramai malang dengan mahasiswa bermuka bersih setiap tahun ajaran baru. Dan yang menyesakkan adalah ketika pelakunya temanmu sendiri. Siapa dia? Ya,tidak ada yang berkelakuan seperti itu ketimbang kawan lama yang mengaku merdeka karena berani onani di sembarang tempat. Dia adalah Rori.
Kalau kamarin aku menjumpainya di warung, sekarang aku menjumpainya di perpustakaan UB. Kali ini, dia mengundang perhatian dari setiap mahasiswa jomblo yang kebetulan sedang goblok untuk menghabiskan waktunya dengan online. Tentunya ini adalah tontonan menarik, meski wajah para ”mutan” di sini terlihat jijik dengan kelakuan Rori, tapi aku percaya di sebalik muka sok jijik mereka, tersimpan sesuatu yang purba: menganggap orang (gila) sebagai hiburan.

Rabu, 29 Januari 2014

Demromor

#Perihal ”Bunuh diri”#

Apa yang akan kau lakukan ketika tiba-tiba kau jumpai kawan lamamu yang telah meninggal, tiba-tiba nongol ketika kau menyeruput kopi pahit di warung? Lalu percakapan pun terjadi.
”Lho.. Bukannya kamu ini sudah meninggal? Kok masih di sini?” Ujarku, terbata-bata karena masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
”Kalau iya, memanginya kenapa? Apa hanya kamu saja yang boleh ngopi di sini? Kemudian cuma orang hidup saja yang boleh ngopi?  Kamu masih hidup tapi belum tentu jiwanya hidup, masih mending saya kalau begitu. Dan kamu tidak berubah, ya, tetap njancuki seperti dulu. Macan dalam dirimu itu belum benar-benar mati,” ujarnya, sembari memesan kopi dan mempersilahkan seseorang yang ada di sampingnya.
Tapi, sepertinya aku kenal siapa orang yang dibawa kawanku ini. Dari badannya yang tambun dan kacamata tebal dan kemeja batik. Kalau tidak salah, dia itu....

Selasa, 28 Januari 2014

Polemik ”Jebakan Demokrasi”

Pada akhirnya semua orang akan mengulang parodi yang sama: kesadaran dan kepahaman—bagi orang sekaranghanya mungkin muncul dari sebuah situasi tragis yang menimpa dirinya. Karena membuka hati dalam ruang pemikiran adalah hal yang tabu dan sangat merendahkan drajat intelektualitas kita sebagai insan akademik.
Namun, yang paling klasik dari itu semua adalah ketika kita sadar, semua telah ”musnah”; terlambat; tinggal puing. Dan yang romantis  adalah kita menutupi kedunguan dan kedegilan masa lalu dengan menyepi karena perasaan bersalah untuk jadi begawan suci dan sebisa mungkin berusaha menyeram-nyeramkan diri agar dikeramatkan; didewakan.
Perihal membuka diri dan mengakui kebenaran membuatku teringat pada polemik antara Radar Panca Dhana (budayawan) dan Franz Magnis Suseno tentang tulisan Radar di Kompas (12/12/2013) yang membahas tentang jebakan demokrasi yang memerahkan kuping Magnis Suseno. Radar menolak keras upaya Magnis yang (seakan-akan) menganggap bila demokrasi adalah tujuan akhir. Karena menurut Radar penghambaan manusia modern pada demokrasi merupakan keputusasaan intelektual karena tidak sanggup mencari alternatif lain.

Senin, 27 Januari 2014

Saya (selalu) Benci Januari

Aku menunggu malam tiba. Kebahagiaan mendesir yang kupikir akan datang seperti kejutan ulang tahun, tapi nihil. Tetap sepi. Kata-kata menderu dan seperti mendengung di kuping lalu membuat persoalan baru: rasa benci yang entah pada siapa.
Ah Tuhan, kau tentu mengerti bila hari ini akan datang benci; seperti biasanya. Seperti sejarah perih yang selalu datang tanpa bisa ditawar nanti.

Keparat macam apa yang membuatku demam
Seperti rasa lengang ketika oplosan ditenggak
Lalu mati, tanpa sisa, tanpa penjelasan
Dan koran akan senang dengan hal itu

            Hari ini, banyak ”semoga” di kepalaku. Dan yang terpenting dari itu semua adalah agar aku tidak menyesal pada banjir yang Kau beri. Karena menemukan tentu sangat manis, dan pahit memang tidak bisa ditawar. Ia ada dan harus ada.

Jumat, 24 Januari 2014

Ayat-ayat Straight News




Kita hanya akan mati muda bila tak pandai memaafkan. Apa benar demikian?

Mungkin persoalan memaafkan bisa jelas ketika kita berbaiksangka dengan maksud Tuhan mengirimkan demokrasi dari kemolekan media — yang menggoda sekaligus menguji kesabaran kita lewat berita-berita straight news.

Tanpa straight news kita hanya manusia-manusia kerdil dengan wajah muram karena menyimpan banyak dendam. Straight news adalah jalan sunyi agar kita bisa lebih dekat dengan banyak kebinalan. Lalu, perlahan namun pasti, ia terus mendera kita dari hari ke hari. Sampai akhirnya kita akrab dengan kejahatan; memaklumi; memaafkan.  Ketika media berupaya menggiring masyarakat lewat berbagai metode konstruksi realitas untuk dibawa hanyut dan ikut membicarakan sesuatu yang dianggap penting media.

Mungkin setelah melihat headline media dengan beritanya yang khas, membuat kita merasa jengkel dengan keadaan. Tapi, ketika kita telah mencoba membenturkan kepala dan sadar bila tak ada peluang yang bisa diambil kecuali menggerutu, kita baru sadar: ekskapisme memang perlu dituntaskan. Dan ekskapisme itu ikut tertuang bersama kopi pahit yang kita seruput di beranda rumah sambil membaca koran.