Laman

Rabu, 15 April 2020

Jatah Tangis dari Manusia Patah Hati


(Perihal Mendengarkan 3)

Cafe, bar & Resto di Megapolitan Kletek 

Pemabuk-pemabuk sinting itu belum pulang dari tubuh saya. Saya heran, batrai macam apa yang terpasang di punggung mereka hingga sudah hampir sepuluh hari ini mereka belum tidur.

Tapi kali ini mereka tidak begitu mengganggu saya. Mungkin itu sebabnya saya merasa hari ini cukup santuy, tenang, karena mereka tidak seberisik biasanya. Tema-tema masa silam dan cinta yang menyayat di luka yang basah itu membuat urat mereka kendor.

Sekumpulan pemabuk itu mungkin sedang berupaya saling menguatkan satu sama lain. Kalau biasanya mata mereka nampak semerah darah saat menggunjing soal Indonesia. Tapi, begitu tema obrolan mereka beralih ke soal cinta, mata mereka jadi sekelam malam.  Gelap! Segelap langit Jakarta; segelap nasib Indonesia.

Lalu apa yang bisa mengendurkan urat syaraf saya? Tentu saja ketragisan kisah cinta mereka.

Soal cinta, saya pun punya luka yang sama. Luka yang perih dan dalam sebagaimana yang mereka rasakan. Mungkin kami sama-sama tak berdaya: dipaksa pulang untuk mengunjungi salah satu petak kamar di sebalik hati saya; sebuah ruangan gelap berisi kenangan, sekaligus rasa sakit yang (brengseknya) beberapa menit sekali menusuk ulu hati saya.

Beberapa orang di antara mereka yang enggan ikut bercerita memutar lagu-lagu sedih. Mungkin ia hanya ingin bersimpati; menunjukkan rasa hormat. Dan sialnya lagi, lagu-lagu sedih itu seperti jeruk nipis yang diperas di atas luka kami.

Bedebah! Tapi, sudahlah.

Saya termasuk orang yang enggan menceritakan luka di kedalaman saya. Maka, saya hanya duduk, mencatat sembari menyaksikan mereka bertangis-tangisan.


Mencatat? Ya! Saya catat luka mereka: satu per satu kisah, tiap kalimat, kata, air muka mereka. Saya ingat betul cara mereka menahan tangis. Juga bagaimana proses air mata itu jebol dan membasahi wajah sepi mereka.

Kunyalakan rokok yang kesekian juta. Mungkin sama seperti mereka, sejak dada saya dibikin lebam, saya jadi banyak merokok. Dulu selalu ada yang mengontrol dan menasihati, tapi bukankah lelaki ditakdirkan untuk menasihati dirinya sendiri; menghibur diri mereka sendiri. Dan (kalau bisa) melupakan tangisnya sendiri.

Seksis!?

Persetan!

***

Kata orang di luar sana, mereka yang sedang jatuh cinta itu lebay. Lebih nampak menjijikkan lagi ketika patah hati. Tapi, ah, ndak usah orang lain, saya sendiri pun pernah melihat sebelah mata orang-orang yang sedang patah hati. Pernah terjebak mengolok-olok mereka.

”Bro, sudah dapat ‘jatah’ curhat dari si A**x?”

Teman kuliah saya tertawa lepas, tak menjawab.

”Ya, sudah! Kemarin satu kos saya semua dapat jatah. Rata!”

”Kok bisa begitu, ya?”

Teman saya tak menjawab. Ia hanya memegangi dagunya sambil melihat ke luar kantin. Usai rasan-rasan, kami tak pernah bertemu lagi sekitar satu bulan lebih. Dan bulan berikutnya, di suatu hari menjelang dini hari, teman saya datang ke rumah. Ia mengajak saya ngopi ke daerah Kletek.

Di sepanjang perlajanan ia hanya diam. Dan prediksi saya tak meleset: malam itu saya mendapat jatah dari teman saya ini.

Jatah berikutnya saya dapat dari seorang yang sudah cukup umur. Di warung Kletek juga tempatnya. Ia mengeluhkan istrinya yang pergi lantaran lebih tertarik dengan orang lain. Menurutnya, ia sudah banyak berkorban untuk istrinya. Sudah banyak harta dihabiskan untuk menuruti kemauan istrinya.

”Sampean kena lintrik, kang?”

Ndak, Cit. Memang saya yang cinta setengah mati (baca: bucin abiz) dengan istri saya. Bahkan sampai sekarang ketika kami telah berpisah.” Jawabnya, sedih.

”Sudah cerai?”

”Sudah! Dia pilih orang lain yang lebih kaya dari saya.”

”Kok tahu?”

”Dia yang bilang sendiri.”  

Menurutnya, apa yang ia berikan pada istrinya sudah lebih dari cukup. Pria tua ini hanya mampu memberi, memberi, memberi sebisanya. Meski pada akhirnya istrinya pergi juga.

Penghianatan yang ia terima tak membuatnya membalas perlakuan istri dan selingkuhan istrinya. Ia doakan keduanya bahagia. Tapi saya tahu peris, apa yang akan ”alam” lakukan pada kedua pasangan selingkuh itu.

Dua tas besar barang bawaannya ia bawa pergi sembari sebelumnya membayar semua makanan dan kopi yang aku pesan. Ia pergi dengan sisa air mata yang tak terseka kemeja panjangnya.

Dari warung, saya lihat punggungnya berlalu meninggalkan warung. Ia berjalan di antara gelap dan ramainya kendaraan. Ia menolak saya antar pulang. Saya hanya menyaksikan ia terus berjalan; mungkin ia menangis, mungkin tidak.

Waktu itu, saya hanya mampu mendengar. Mendengar! Mungkin diam-diam saya mencatat seperti apa warna air matanya; mencatat dan mengingat-ingat apa yang ia lakukan untuk menyelesaikan masalahnya.

Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasir,” katanya.

Saya diam. Saya mengerti, tapi tak tahu akan berbuat apa. Dan sekarang, saya tahu arti kata itu. Saya pun akhirnya tahu mengapa ia ambil keputusan seperti itu.

***
Jatah lainnya terus datang. Terlebih ketika saya memasrahkan diri untuk menjadi keranjang sampah.

Pada awalnya saya berpikir: mendengar luka patah hati adalah cara saya membantu seseorang meringankan rasa sesak ketidakmungkinan dan kenyataan. Waktu itu, bisa-bisanya saya mikir hidup adalah soal “siapa yang butuh”. Jadi kalau saya tak pernah menolak dicurhati dua hari dua malam, maka kelak bila saya terpuruk, akan ada orang yang mampu mengerti saya; mendengar cerita-cerita saya.

Dan ketika saya benar-benar patah hati, saya bisu. Tak mampu meredakan beban sendiri dengan bercerita. Saya simpan sendiri luka itu. Saya keloni luka itu tiap malam. Saya elus rambut luka itu dengan sepenuh sayang. Apa ini ketololan yang menyamar? Mungkin saja!

Di kota ini pun, ketika saya sedikit lupa bila saya adalah keranjang sampah, Gusti Allah seperti menyapa saya. Mungkin sapaan itu hadir dengan mulai banyak lagi orang-orang yang bagi-bagi jatah dengan saya.

Yang paling tidak masuk akal, teman saya semasa SMA pernah jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk memberi saya jatah. Padahal, saya hampir-hampir tak kenal dengan teman saya ini. Karena dulunya hanya sekelas. Kami sama-sama tahu bila satu sekolah. Dan pertemanan pun hanya di medsos.

Dan mengapa ia mau jauh-jauh datang dari Gresik ke Jakarta hanya untuk membagi jatah: ia berpikir saya mengerti apa itu cinta.

Saya tak keberatan menjadi keranjang sampah semua orang yang patah hati. Mungkin sampai tua nanti saya tetap bersedia. Tapi apa yang lebih sakit dari menjadi keranjang sampah orang lain: melihat diri sendiri di dalam mata pemberi jatah. Dari matanya yang berkaca-kaca, saya sadar, hanya soal waktu saya akan jadi seperti dia. Tapi, sialnya saya bukan orang yang pandai membahasakan patah hati saya kepada orang lain.

Di tengah kesombongan orang yang merasa belum jatuh. Di antara kesombongan orang-orang yang telah bangkit dari kejatuhan. Di antara ratap tangis para pen-jatah. Di antara keseriusan para keranjang sampah.

Gusti Allah sedang mencatat dan mengatur jadwal….

Citra D. Vresti Trisna
Kelapa Dua, Jakarta
Rabu Legi, 15 April 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.