Laman

Rabu, 01 April 2020

Para Pemabuk dan Telepon dari Kawan Lama

(Perihal Mendengarkan)


Foto'e Bung Dalbo

Mereka bukan sekedar bertamu dan minta ditemani diskusi. Lebih jauh dari itu, mereka menjadikan tubuh saya sebagai tempat diskusi. Selama di tubuh saya, mereka bebas melakukan apa saja. Mereka bisa seenaknya memekikkan kata merdeka dan setelah itu buang ludah bacin dengan cara paling bengis di hidung saya. Sambil diskusi, mereka boleh buang air tepat di mata saya meski nantinya saya tak bisa melihat apapun kecuali kotoran. Saya pasrah! Entahlah, saya merasa terlalu cepat menjadi jompo di umur saya yang sebenarnya masih muda. Sesakit itukah rasanya mendengarkan?


Ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuh saya! Mungkin ini gara-gara tiga hari lalu tubuh saya didatangi sekumpulan pemuda bermata merah. Mereka ingin menumpang diskusi sambil mabok; membicarakan puluhan tema diskusi tentang persoalan yang aneh-aneh.
Terus terang, saya sedikit kurang suka dengan cara mereka berdiskusi. Mereka memperlakukan tubuh saya (tempat mereka berdiskusi) layaknya warung kopi di pinggiran jalan Pantura yang gaduh.
Beraneka chaos di dalam perdiskusian mereka membuat hidung saya terasa gatal. Padahal sebelum mereka datang, saya bisa bernapas lega. Jujur saja, keributan yang mereka ciptakan melahirkan berbagai ketidakseimbangan di tubuh saya.
Pernahkah Anda mengalami bersin tertahan? Ingin bersin, tapi tidak jadi. Sumpah, tidak enak sekali rasanya. Hal ini sering terjadi ketika diskusi para pemuda sontoloyo ini mulai menyentuh tema-tema nasionalisme, golput, pembisik (sebut saja) Jokowi dan Megawati yang mengantuk. Tapi mendadak saya akan bersin sejadi-jadinya ketika mereka mulai bicara soal penanggalan Jawa dan mengaitkannya dengan pengumuman sejumlah kebijakan Jokowi ke publik.
Entahlah, para pemuda ini datang dari dunia mana. Flu yang saya rasakan sekarang ini bukan seperti sakit flu pada umumnya.
Yang paling membuat saya pusing adalah ketika sekelompok sarjana muda sinting lagi pemabuk itu berorasi di atas rambut saya yang uwel-uwelan. Di atas kepala saya, mereka bicara keras-keras dan mengimbau rakyat Indonesia untuk senantiasa sadar dan berpikir jernih. Mereka berharap, kejernihan itu memudahkan rakyat mencerna-menganalisis berbagai gejala yang terjadi di dalam kehidupan berbangsa-bernegara.
Dan berengseknya, usai orasi, mereka muntah-muntah karena terlalu mabuk.

***
Belum selesai dengan rasa tidak nyaman di dalam tubuh saya, seorang kawan lama menelpon.
Selain basa-basi menanyakan kabar, kami membicarakan banyak hal: masa lalu, cinta sontoloyo dan terutama soal profesinya sebagai tenaga pengajar di salah satu universitas negeri di Surabaya.
Obrolan via telepon ini membuat saya dikembalikan ke masa lalu. Suatu ketika, di mana kami sama-sama muda dan naif. Tapi yang paling saya ingat dari kawan saya ini adalah bentuk tubuh dan jari-jari tangannya yang mirip Marx. Saya juga ingat sebuah momen ngopi bertiga dengan pacarnya. Kawan saya ini senang menceramahiku soal beraneka teori sosial di sebuah warung kopi dekat Terminal Purabaya.
Hanya bermodal otak encer dan mulut selicin sales, kawan saya ini mampu mengejawantahkan beraneka teori sosial. Ia juga mampu menelanjangi teori itu, mencari titik lemah dan membuktikan bahwa teori-teori sosial yang dipelajari hari ini bukan hanya tidak relevan, tapi juga sudah jadi gombal amoh. Dan tentu saja, saya yang tak cemerlang ini hanya mampu manggut-manggut. Dan pacarnya yang kini jadi istrinya juga melihat kawan saya dengan mata berbinar.
Terlebih ketika ia dibiayai penuh oleh keluarganya untuk studi lanjut. Ah, ya, kawan saya satu ini memang luar biasa. Otomatis, saya pun semakin ketinggalan.
Kalau dulu saya hanya dibuat manggut-manggut, usai studi lanjut, saya hanya bisa ngowoh, ndomblong, penuh, terkadang mengantuk mendengar nasihat dan kata-katanya. Terus terang saja, cara saya menghormatinya adalah dengan bersabar tidak mendebat, terus mengajaknya ngopi karena dia selalu memaksa membayari kopi-rokok saya adalah teman baik. Dan yang terpenting selama diskusi berdua, saya berupaya sebisa mungkin tidak memberinya pertanyaan tak bermutu yang dapat melukai kecerdasannya.
Yang mengherankan dari pria asal Lumajang ini adalah ketika ia berubah jadi pria pendiam ketika sedang ngopi beramai-ramai. Padahal kawan-kawan yang lain juga sama nol besarnya dengan saya; siap didongengi teori-teori. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi bahasan soal teori dan berganti guyonan maha receh. Ya, ia lebih suka ngopi bertiga: dia, saya dan pacarnya.
Terus terang saya tidak tahu persis, apakah waktu itu saya hanya dijadikan bahan praktik mengajar, demonstrasi kemapanan, atau sekedar pembuktian kaliber intelektualitas di depan pacarnya. Maka jadilah kalau kami sedang ngopi bertiga, saya hanya jadi kambing congek, bedes kurap, atau monyet yang sabar mendengar beraneka kuliah gratis dengan bonus kopi, rokok, camilan yang ditutup penyetan Wonokromo yang pedas.
Hidangan penyetan pedas, teh tawar, ditutup sebatang rokok sudah cukup mampu menghilangkan kelelahan lantaran berjam-jam menjadi monyet yang patuh. Kehangatan teh tawar agak panas meredakan sakitnya represi tekstual yang saya alami. Tapi sungguh, ada kalanya, di satu situasi dan kondisi yang tepat manusia memang butuh menerima represi tekstual; butuh merobek lidah sendiri sampai bisu dan menyiapkan telinga untuk bersabar mendengar.
Sudah lama sekali saya menghapus kata represi tekstual dari kamus hidup saya. Penghapusan ini memang sedikit mengkhawatirkan, tapi yang jelas upaya ini hanya sebagai pagar dan cambuk diri agar mau mendengar yang orang lain katakan; sesuatu yang Allah kehendaki untuk saya dengar.  
Dan ketika kami saling berpamitan, dia akan langsung membuat janji pertemuan di kemudian hari. Mungkin dia tak sabar dengan pertemuan selanjutnya. Saya merasa datar sambil senyum (yang krik-krik) di atas motor menuju rumah.
Demikian sekelumit kisah soal masa lalu pak dosen asal Lumajang ini.
Dan pria yang menelpon saya hari ini memang jelas berbeda dengan orang yang pernah saya kenal bertahun-tahun silam.
Ia mengeluhkan perubahan yang terjadi di dalam dirinya. Jurang gelap dan dalam yang terdekat bagi para orator adalah menjilat ludah sendiri. Ia sampaikan ketergerusan jiwanya; keyakinannya yang dibuat keropos dan diganti dengan kembang-kembang kertas baru di mana ia mau tidak mau harus terus hidup di sana.
Ironi terbesar dalam hidupnya adalah hidup, makan, tidur, berak dan mengajar sesuatu yang pernah ia bantah mati-matian. Ia pernah mencoba keluar pakem; menyatakan apa yang dianggapnya paling benar dan itu semua berakhir dengan teguran. Menyebarkan apati di dunia pendidikan itu dosa besar bagi tuhan kecil universitas. Cita-citanya dibuat gembos tanpa sanggup melawan. Kondisi internal keluarganya yang tak dapat dibahas di sini, membuatnya mau tidak mau bertahan.
Seperti biasa, sebelum saya menanggapi curhatannya dia sudah skak saya dulu, “aku mung pengen dirungokno, Cit (aku hanya ingin didengarkan, Cit).” Maka bhaaaeklah kuping saya masih tetap siap seperti dulu.

(satu jam pertama)

Teman saya: Selamanya pendidikan di Indonesia adalah sampah bila tak mampu jadi mata bor penggali jati diri. Dan output pendidikan hanya serangkaian seremonial yang menunjukkan betapa kita adalah bekas pelecehan seksual dan akal sehat oleh kolonial. Cok… Jancok…

Saya: manggut-manggut.

(hampir dua jam)

Teman saya: Menjadi pembimbing skripsi juga gitu. Apalagi jadi penguji, ndak meluluskan disindir dan dikatai kalau saya ini terlalu keras. Saya ndak peduli dan tak toleran lantas ditegur agar bisa lebih lunak. Taek!

Saya: Hahahaha… Masak gitu?

Teman saya: Di universitas saya tak bisa mendidik, maka saya hanya mengajar dengan benar, disiplin, dan keras. Leluhur kita bukan orang lembek; mereka ditempa dengan keras dari pengajaran langsung dan langsung praktik di kehidupan nyata. Mahasiswa sekarang hanya belajar di kelas, sementara pelajaran dari kenyataan hidup dihindari karena sibuk PUBG, ML, dan senang-senang.

Saya: hahahaha.

Teman saya: “Iya cok-cook! Ancene asu (memang anjing).”
Saya: “Hahaha…” *lagi

Tiba-tiba telepon mati. Kawan saya mengabari, kalau dia kedatangan tamu.

***
Berhari-hari muntahan sekelompok pemuda tadi belum kubersihkan. Saya sengaja tidak membersihkan dulu karena para bromocorah ini muntah satu jam sekali. Saya pun tak menunggu para pemuda ini berusaha membersihkan muntahan mereka sendiri. Karena setiap kali mereka muntah, beberapa di antara mereka semakin terpacu untuk minum. Berbotol-botol minuman didatangkan, bahkan lebih banyak dari sebelumnya.
Para sontoloyo ini yakin: semakin banyak dan sering minum, semakin rendah itensitas muntah.
Kalau mereka yakin dengan anggapan mereka soal ini, saya bisa apa?
Leleran muntahan bercampur dengan bekas bungkus camilan teman minum berceceran di dada saya. Sementara obrolan mereka semakin tinggi dan terasa sulit kugapai. Saya dibuat geleng-geleng kepala dengan situasi ini. Ini zaman model apa? Atas tulah dan dosa yang mana sehingga mereka hadir dalam hidup saya.
Saya bongkar-bongkar kembali catatan harian saya. Dosa-dosa saya yang segunung itu tercatat semua dengan rapi.
”Ayoh, silahkan berbuat onar semampu kalian di tubuh saya. Atau hanya segini saja chaos yang bisa kalian ciptakan di tubuh ini?”
Di antara upaya saya takabur atas penderitaan, saya tak bisa menafikan tumpukan sampah itu makin menggunung. Bebauan busuk di tubuh saya pada akhirnya melahirkan sesak napas yang panjang. Omong tinggi soal zaman di telinga saya seperti memberi sensasi menghirup abu vulkanik: terasa tajam di paru-paru. Sudah sesak ditimpa omong kosong. Lengkap sudah.
Apa ini yang namanya corona?
Ya, baik sangka dan mendengar adalah jalan panjang yang harus ditempuh; sebuah upaya bertahan dari rasa sesak.
Ketika paru-paru eksistensi dihimpit dan tak bisa napas, saat itu manusia meronta-ronta ingin bebas, ingin bicara. Dan upaya menghayati mengapa manusia punya dua mata, dua telinga dan satu mulut itu susah.

Kelapa Dua, Rabu Pahing, 1 April 2020
Citra D. Vresti Trisna

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.