Curhat dan Analisa Peramal Togel (yang Gagal)
Sekarang harga cabai mahal. Kalau harga mas kawin sudah
melangit sejak dulu. Setelah ini apa lagi?
Saya tidak ingin menyalahkan Jokowi soal cabai. Saya khawatir
para pendukungnya marah. Pakewuh
kalau nanti dibilang haters. Dianggap
simpatisan Prabowo, meski Gusti Allah tahu saya ndak nyoblos pilpres kemarin. Saya takut juga diciduk dan dibilang
makar. Karena, pengertian ”makar” itu makin kabur saja akhir-akhir ini. Terlebih
lagi pemerintah sekarang ”hangat-hangat tahi ayam”, terkadang mbodo, terkadang melas, terkadang galaknya setengah modyar. Tentu saja tidak sulit ”menertibkan” kelas coro seperti saya ini, jadi saya takut.
Soal cabai, saya hanya ingin ngedumel sendiri. Soal siapa yang bersalah, saya tak mau ambil
pusing. Kalau ada pihak-pihak yang membiarkan harga cabai naik, ya, monggo saja. Jangan nanggung-nanggung
dan kalau bisa sekalian menaikkan harga rokok, kopi saset dan kalau perlu
menarik bayar pada oksigen yang rakyat hirup. Keinginan saya ngedumel itu karena saya mafhum
kalau ”kata-kata” itu sudah tak punya power untuk membuat bising
telinga-telinga buntu. Apalagi para spekulan cabai ndak mungkin baca blog ini.
”Kalau kau
pesimis dengan kata, untuk apa kau menulis?”
Terus-terang saya serba pakewuh dengan banyak pihak apabila saya hanya jadi penonton yang
gemas sendiri. Saya sungkan dengan adek mahasiswa yang masih berpikir bila
saya adalah mantan anak pers kampus. ”Anak pers kok tidak kritis!” Padahal saya berhak tidak peduli dengan
anggapan-anggapan itu. Bukankah pers mahasiswa itu suci dan tidak bicara soal
remeh-remeh urusan dapur; urusan yang nyelempit
sudut genangan busuk pasar sayur. Mereka akan turun dengan sendirinya kalau
yang dibahas itu sangat prinsipil, seperti: filsafat, pertentangan ideologi,
atau teori nganu... nganu...
Saya ndak enak
dengan tetangga kos yang kebetulan ngopi di warkop dan tanya pada saya, ”itu harga
cabai mahal, kagak lu tulis? Tega amat pemerintah sama kite-kite. Lu tulis, dong. Elo kan orang tipi?” Kalau sudah seperti
itu, saya harus bagaimana? Inilah yang berat buat saya. Meski mereka tidak paham
dengan pekerjaan saya, tetapi apa, ya, saya terus-terusan nyengir kuda menaggapi kata-kata mereka. Kalau pun saya boleh sedikit
menggawat-gawatkan, tentu saja segala yang sampai pada kita adalah ”ayat”,
dimana ia datang bukan tanpa maksud. Ini adalah semiotika tuhan yang mesti saya
terjemahkan walaupun sering gagal. Ya, saya ini gampang dibikin sungkan, tetapi
untuk potongan saya sekarang, saya ini bisa apa? Kalau pun terpaksa jadi tulisan
entah apapun bentuknya, tentu saja ini sekedar gugur kewajiban.
Kembali lagi soal standar harga mas kawin, eh, maksud
saya harga cabai yang mahal. Saya pikir, kejadian ini bukan tanpa sebab atau
berdiri sendiri. Kalau saya boleh lanjut untuk menggawat-gawatkan, tentu akan
banyak pihak yang terseret. Jangankan menteri perdagangan, Jokowi, demit alas,
atau bahkan Trump ang baru terpilih juga bisa kena. Bahkan Obama yang sedang
menikmati masa pensiun sambil main karambol di pulau pribadi salah seorang pendukungnya pun juga
bisa diseret-seret untuk dipersalahkan dan dikemplang. Termasuk saya.




