Laman

Jumat, 10 April 2015

Imtihan Taufan (Kak Opan) dan Ahmad Tretetet

Kak Opan
Catatan buat Almarhum Kak Opan (Tuan Guru Tretetet 2)

Setelah aku berdoa dalam tulisanku, ”Halo Tuhan, apa ada lagi stok orang yang lebih suwung dan karismatik sebagaimana Ahmad Tretetet?”
Maaf Tuhan, aku kurang peka pada ”ayat” yang kau turunkan.

Aku percaya bila tuhan selalu menciptakan ”jilid dua” dalam tiap episode hidup. Seperti halnya kehidupan yang terus menciptakan pembaruan-pembaruan untuk keseimbangan kosmis. Mungkin Ahmad Tretetet, atau lebih akrab dipanggil Tuan Guru Tretetet, dihadirkan tuhan dengan bentuk dan setting masyarakat yang berbeda. Dan mungkin the next Tretetet adalah almarhum Kak Opan. Padahal dari dia aku tau tentang Tretetet, tapi aku tak sadar dia adalah penerusnya.

Senin, 23 Februari 2015

Konspirasi Gopar Melip

dari Kaskus
Orang-orang kampung memanggilnya Gopar atau Wak Gopar. Kadang orang-orang kampung yang iseng memanggilnya dengan sebutan “Gopar melip (melangit)”. Panggilan itu dia dapatkan karena kegemarannya bicara soal politik dan persoalan-persoalan dan wacana-wacana terkini yang umumnya jarang orang kampung tau. Ia juga kerap membahas banyak kasus-kasus besar, seperti penembakan John F. Kennedy, bom Bali, peristiwa 9/11, dan banyak hal lainnya.
Gopar melip biasa mangkal di warung kopi dekat Pasar Sukodono, Sidoarjo. Kalau kalian bertemu dengan Gopar dan kebetulan tidak benar-benar menganggur, sebaiknya jangan berbasa-basi dengannya atau ia akan mendongengimu tentang isu-isu politik dari jaman ke jaman. Gopar adalah tipe orang yang betah omong, apalagi dengan orang baru (baca: ketiban sial) mendengarkannya sepenuh takzim. Gopar pernah nggedabrus (membual; omong kosong) ke anak muda dari pagi sampai malam. Mas-mas warung yang bercerita pada saya bisa memastikan bila pemuda yang jadi “korban” Gopar adalah mahasiswa.

Rabu, 04 Februari 2015

Surat Kepada Sopir Truk

—Kepada Sopir truk di seluruh dunia: Al Fatihah
Halo pak sopir. Bagaimana kabar kalian? Kalau kalian lelah, istirahatlah dulu.
Sepertinya kita lama tak berjumpa. Terakhir kali kita berjumpa di akhir tahun 2014 ketika aku masih berserak di kota-kota dengan kemelaratan yang super dan wow. Dan seperti biasa, aku tetap bisa pulang dan pergi gratis dengan kemurahan hati kalian memberikan tumpangan.
Di atas laju truk, aku kerap berpikir: apa saat kalian memutuskan berhenti dan memberikan tumpangan pada kami itu karena kalian juga punya anak jauh di sana? Apa kalian juga punya anak remaja seusiaku yang sangat mungkin membutuhkan pertolongan dan kalian tak dapat membantu mereka lantaran tuntutan pekerjaan?
Setiap kalian mengaso, kalian kerap bercerita padaku tentang anak-anak kalian yang jauh. Apalagi setelah kalian tau, kita juga masih sekolah, mata kalian kerap berkaca-kaca. Biasanya kalau sudah seperti itu, kalian juga akan menawari makan, kopi, rokok, jajanan dan banyak hal lainnya. Meski itu semua kalian tawarkan dengan gaya yang khas (sok-cool), tapi radarku bisa merasakan ada cinta kasih di sana.

Rabu, 31 Desember 2014

KB Dunia, Kesombongan dan Sinetron Demokrasi



Tidak ada lebih puitis dari berada diantara dua pemuda yang sedang berdiskusi dengan semangat membara.
Pemuda I: ”Apa kau tidak sinting, hah? Bagaimana mungkin rakyat bisa benar-benar berdaulat tanpa ada demokrasi? Hellow...! Jangan mimpi kau. Apa kau lupa bagaimana keadaan kita sebelum revormasi?”
Pemuda II: ”Bukan begitu, bro. Aku percaya demokrasi adalah jalan menuju rakyat yang berdaulat. Tapi, bagaimana kita bisa membawa demokrasi masuk ke dalam sebuah negara yang pemimpinnya terlanjur otoriter? Misal, nih, ya. Kalau kita dipimpin Prabowo, sudah barang tentu negara ini akan menjadi seperti masa Orba. Lha, kalau sudah begitu apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk mengembalikan demokrasi? Nah, itu yang saya maksud....”
*
Suatu ketika dimalam lelah, saya terjebak pada diskusi dua pemuda di warung kopi dekat Kampus Unair. Saya tidak pernah mengenal mereka. Sehingga dalam diskusi itu saya hanya menjadi penonton yang mengantuk karena tak tertarik pada apa yang mereka bicarakan.  Tapi, bagaimana pun juga sebagai orang yang pernah muda dan labil, saya terpaksa tidak pindah tempat dan sedikit menyimak apa yang mereka perdebatkan.
Bukankah akhir-akhir ini sudah jarang ditemukan pemuda yang serius berdiskusi kecuali soal kamar kos yang hangat?

Senin, 27 Oktober 2014

Kebas-kebus Rokok Kimcil CL


CL UB


(CL, Riwayatmu Kini)
Berawal dari tempat ini saya mulai mencintai Kota Malang. Ya, CL adalah tempat terbaik melibas bosan sambil ngopi, ngudut, baca buku, main catur dengan hape, atau menebak-nebak nomor togel paling ciamik.
Awalnya, saya kenal tempat ini saat masih di PPMI (organ absurd yang sekarang hampir modar). Saat itu, kalau tidak salah, ada agenda rapat kerja PPMI sekaligus konsolidasi. Dan orang yang berjasa dalam membuat saya mencintai CL adalah Andi Mahifal, Sekjen PPMI, yang kerap menyebut dirinya sebagai: Aktivis Muda Progresif Berbakat Multi Talenta (mati muda masuk tempo). Berkat pemuda berpantat tepos dan kurus kering ini saya jadi senang berlama-lama di CL.

Jumat, 17 Oktober 2014

#1 Menyimpan Rindu



Kepada J, F, H, U, A, R, B, D, P, S, H2, F2, B

Dulunya mereka adalah adik-adik kecil yang manis. Seperti biasa, aku hanya melihat mereka sepintas tanpa menoleh. Lalu, tak berapa lama –seperti yang selalu batin katakan, “kau akan segera dekat dengan mereka”– kita menjadi begitu dekat. Seperti saudara, bahkan lebih. Tak ada yang lebih dekat dan “sampai mati” kecuali dendam. Karena persahabatan itu sebagaimana dendam: sampai ke tulang, sampai mati.

Lalu, seperti yang biasa terjadi: ada dialog, sesal, kedekatan, proses belajar, dan tak lupa tangis tertahan. Semuanya adalah proses yang lumrah dan wajar: seperti halnya pagi dengan matahari dan malam dengan bulan-bintang. Saat itu mereka pun tumbuh. Menjadi apa saja yang mereka harapkan. Dan di sebalik duniaku yang sepi, diam-diam aku lihat mereka.

Oktober Ceria buat Tulus H






































Mungkin, di matanya Oktober berjalan terlalu lambat. Gelap. Saya ingin menghiburnya: bercerita tentang apa saja yang membuat dia (sedikit) lupa. Atau mengunjungi warung paling tengik untuk memesan kopi terpahit. Tapi, cerita apa yang bisa menghapuskan bertahun-tahun waktu yang lewat dengan rindu. Juga selubung gelap dari matinya logika karena menyadari: cinta adalah perkara siapa yang datang dulu serta angka-angka yang (semua orang pikir) membuat dunia jauh lebih terang. Dan warung macam apa yang bisa mengobati penantian panjang yang berujung kata "maaf".


Peduli setan siapa yang bakal jadi juara. Dia cuma manusia yang (mungkin) tak sabar menanti kebaikan Tuhan pasca kehilangan ada di depan mata. Sejak dulu luka adalah luka. Diungkapkan atau tidak. Meski setelah luka, tangis tertahan jadi punya makna. Dan untuk lelaki macam kita terlampau sering bertepuk sebelah tangan. "F" sekali, bukan?

Piye maneh, lek. Dilakoni ae.

Pak erte