PEMBURU GARU
ambilah kayu garu di laut ranjau,
asapi dengan dupa dan rapal mantra
melingkar di lengan diikat tali kecapi
karena di sebrang kayu garu adalah pintu
menyimpan telanjang, malaikat dan penari
dari kutuk ular air yang tulus memberkati
mencintai malam tak terbahasakan
puisi dan gelisah pantai menuju sore
siapa nama angin malam ini
yang menggoyang dedaun
batang-batang garu membuat cerita
pertemuan saat pagi pualam
Minggu, 06 Juli 2014
Sabtu, 24 Mei 2014
Pelajaran Sabar dari Mas Guru
”Percayalah, dek. Kebijaksanaan
hanya ada dalam lagu-lagu.”
Tiba-tiba kata itu kembali
terngiang di telinga saya. Kata-kata dari seorang sesepuh yang mungkin kelasnya
setara dengan Tuan Guru Tretetet di Lombok. Kehendak dan spontanitasnya kerap
menggegerkan akal. Tapi jujur saja hatiku selalu tersenyum simpul bila merasakan
sepakterjang guruku yang satu ini.
Kedigdayaan guruku dalam
penguasaan ilmu sabar ini benar-benar tak tertandingi. Kendati demikian, dia
tetap sulit dibedakan dengan guru-guru lainnya karena caranya mendidik dan sikapnya yang rendah hati.
Kerendahan hati dan sikap
menunduk dari guru sekaligus kawan baikku ini benar-benar di luar nalar. Dan si
mas gondrong, kawanku, ini adalah antitesis dari guru yang ada di dunia. Kalau
suatu saat seorang guru seni sedang menerangkan tentang seni, mesti paling
tidak si guru seni ini mempraktikkan sesuatu yang nyeni. Entah itu
tingkah lakunya, model rambutnya yang nyentrik atau tindak-tanduknya yang
menunjukkan betapa si guru seni ini patut didengar kata-katanya.
Kalau mas gondrong si guru
sabarku ini bersikap sebaliknya. Meski dia adalah guru besar ilmu sabar, tapi
tingkah polahnya kerap terbalik. Dia kerap terlihat tak sabar dan nampak diburu
waktu. Bahkan yang membuat aku sangat takzim padanya adalah karena beliau tak
perlu bicara hingga berbusa hanya untuk menjelaskan makna sabar. Tuan guruku
ini cukup berbuat sesuatu atau melontarkan kata-kata yang bisa membuat kepala
kami serasa mau pecah dan dada kami meledak.
Label:
catatan ringan,
mas guru
Kamis, 15 Mei 2014
Perjalanan dan Seorang Kawan
Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang
tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar, terimalah dan
hadapilah
— Gie
Kepada seorang kawan yang sepi, tersenyumlah
sebelum kau lewati semak bermiang hidup. Mungkin, tak ada cara lain kecuali
menghadapi apa saja yang ada di depan dengan berani; tanpa perlu menyesali yang
telah lewat.
Kau tau, kawan, siapa yang tak pernah terperosok
di kubangan dalam sekali hidup? Siapa yang bisa lolos untuk mendapat predikat ”bandit”
di satu putaran hidup? Termasuk kau, mungkin.
Meski sudah cukup lama kita tak bersua. Dan sekali
ini, ketika kau hanya melihat jalan buntu; tidak! Aku tak akan menghiburmu
dengan kata ”sabar” yang klise. Aku bukan seorang barbar yang berambisi
membuatmu jadi baik-buruk—dimana kedua jalan itu adalah murni hakmu sebagai
seorang manusia yang berkehendak.
Tapi, ketika kau mengatakan bila tak perlu tanggung
untuk jadi manusia: benar-benar jadi baik atau total menjadi orang bejat. Kau
tau, aku hanya bisa tersenyum. Hey, apa kau sedang panik?
Mungkin di matamu sedang tak ada kemungkinan
lain untuk arah yang ingin kau tuju. Atau kehilangan sesuatu yang prinsipil membuat
jalanmu seakan dipenuhi kabut? Ya, kawan. Lagi-lagi denganmu, aku hanya punya
sebuah ”mungkin” untuk menerka apa yang ada di pikiranmu.
Jumat, 25 April 2014
Gumam Rori Soal Sabdo Palon #demromor5
![]() |
| Mas Sabdo Palon |
”Kau kenal siapa Sabdo Palon?” tanya Rori di
sebuah siang yang membakar.
”Tidak. Apa itu?”
”Bodoh! Percuma kalau begitu. Lebih baik aku
bicara pada orang yang tepat,” ujar Rori.
”Woey, apa itu? Jangan buat aku penasaran.”
”Seandainya Sabdo Palon benar-benar ada,
mungkin kata-katanya yang paling aku suka adalah, ’kula
wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk.’ Ya,
kata-kata itu menggugah. Sekaligus pertentangan dari entitas Sabdo Palon.”
”Apa arti dari kata-kata siapa itu… Sab-do Pa-lon?”
tanyaku pura-pura tak mengerti.
”Kurang lebih, artinya: ’Saya malu pada bumi-langit,
malu mengasuh orang tolol,” terang Rori.
Kalau memang benar Prabu Brawijaya V masuk
Islam dan Sabdo Palon kecewa, kata Rori, apa harus seperti itu kata-kata yang
dia ambil untuk momongannya? Setahuku, kedunguan bukan batas yang harus
membuat Sabdo Palon beranjak meninggalkan Prabu Brawijaya V dan meninggalkan
rupa-rupa kutukan pada tanah Jawa.
Konsep pamomong adalah sesuatu yang
wingit. Dalam penafsiranku, pamomong itu bukan lagi sekedar menjadi guru
yang mengajarkan sesuatu pada muridnya. Pamomong itu lebih dari
membimbing dan tentu melampaui batas-batas kesabaran yang ada. Terlebih lagi,
dia mengaku sang Manik Maya. Dan yang dibimbing pun bukan sembarangan. Prabu
Brawijaya V adalah raja Jawa. Sehingga kalap (masuk Islam) adalah sesuatu yang
biasa. Terlebih lagi Brawijaya V adalah manusia dan Sabdo Palon bukan. Tapi,
lain lagi kalau dalam dunia dewata, persoalan kepercayaan adalah hal yang
prinsipil dan melampaui batas toleransi.
Label:
nusantara,
sabdopalon
Predikat Bajingan Itu Cuma Milik Saya #demromor4
Usai melihat subuh, Rori terhuyung-huyung
datang ke warung. Ia minta dibuatkan kopi dan mengambil beberapa batang rokok
lalu duduk dan tertunduk lesu.
”Kau ini kenapa?”
Dan berceritalah dia. Kurang lebih seperti
ini:
Dalam kamus bajingan yang kumengerti,
kehilangan adalah sebuah langkah awal untuk berusaha (suka-tidak suka) mengerti
batas. Tidak ada sesuatu yang perlu dipaksakan karena waktu akan selalu datang
dengan air bah. Membawa apapun yang tak pernah kita duga. Dan kita adalah
gelandangan papa yang harus piawai memanfaatkan apa yang dibawa air bah.
Mungkin, bagi bajingan sepertiku, air bah itu
juga membawa orang-orang baru yang bisa kita manfaatkan. Dan tanpa bermaksud
mengeras-ngeraskan hidup; bukankah hidup itu keras? Kalau tidak membunuh, kita
lah yang akan dibunuh. Mekanisme pertahanan diri yang terekam dan kupelajiari baik-baik
waktu aku terdampar selama beberapa tahun di Terminal.
Bagi penjahat sepertiku, moral adalah urusan
nomor 689. Mungkin moral akan menyayangkan kehilangan; sesuatu yang pernah
berarti dalam hidup kita. Tapi, kehilangan tidak berarti apa-apa dalam hidupku
karena aku percaya ada air bah yang membawa orang-orang baru. Aku tidak peduli,
kehilangan selalu melibatkan hati lainnya yang mungkin patah.
Rabu, 23 April 2014
Berterimakasih Pada Dukun di Indonesia
| Dukun Manggrok dan Dukun Keliling |
Di Tiongkok, orang-orang punya dongeng Pak
Tua Sinting. Sebuah alasan dan motivasi yang mengajak seseorang terus bekerja,
tidak menyerah. Apa yang sesungguhnya kita percaya, hingga begitu banyak orang
di Nusantara hidup bermalas-malasan dan menunggu nasib baik? Dongeng-dongeng macam
apa yang mengilhami kita?
Pak Tua Sinting adalah dongeng tentang
seorang tua yang pelan-pelan memindahkan gunung karang setiap hari. Dia
melakukan sesuatu yang dianggap orang-orang bijak Tiongkok sebagai perbuatan yang
mustahil. Tapi, Pak Tua Sinting tetap memindahkan batu karang sedikit demi
sedikit. Esoknya ia akan melakukan hal yang sama. Jika ia mati, anak dan
cucunya yang akan meneruskan.
Orang Tiongkok tidak mencatat kegilaan yang
dilakukan Pak Tua Sinting. Mereka mencatat etos kerja dan semangat untuk tidak
menyerah dalam menjalani kehidupan yang serba sulit. Seandainya hidup selalu
berangkat dari sejarah; dari kisah-kisah yang kita anggap teladan, tentulah
begitu suwung dan ngerinya manusia di bumi Nusantara.
Ya, warga Nusantara adalah orang-orang yang
lahir dari semangat dan kisah-kisah heroik lagi mistis. Kita tentu mengenal
dongeng Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang. Semangat (yang kita sebut cinta)
membuatnya terpaksa menerima syarat Roro Jonggrang untuk membuat seribu candi dalam
satu malam agar Roro Jonggrang mau dinikahi.
Kamis, 10 April 2014
Jarene Bapak
”Sudah,
berangkat ke TPS. Milih atau tidak yang penting datang ke TPS. Jadi orang itu
yang penting bisa bermasyarakat,” kata bapak.
Kau
benar, pak. Negara ini boleh hancur, tapi tidak dengan masyarakat. Karena
rakyat adalah pusat. Rakyat akan tetap jadi rakyat meski tanpa pemerintah.
Tapi, tidak ada pemerintahan tanpa ada rakyat. Meski ini terlalu berlebihan,
tapi kurang lebih seperti itu.
Aku
masih percaya hari ini rakyat dengan pemerintah sedang tidak akur; saling tidak
percaya dan terjadi kesalahpahaman. Kalau aku disuruh melawan negara seperti
aktivis-aktivis wow; saya menolak! Bertarung dengan sesama saudara (yang tidak
mengerti, sedikit merasa nyaman karena uang) adalah perbuatan binal.
Kalau
saya katakana rakyat (seharusnya) adalah pusat nurani. Meski hal ini bukan
legitimasi agar saya bisa bilang demokrasi itu benar. Dan mungkin juga karena
hal ini, saya tidak mau ribut dengan pemerintah. Karena kalau saya ribut dengan
pemerintah, berarti saya yakin pemerintah (yang kita musuhi setiap harinya)
adalah sumber.
Pemerintah
di Indonesia hari ini tidak benar-benar berkehendak mengatur rakyat yang dia
pimpin. Pemerintah hanya seseorang yang tergelincir untuk ikut arus sebuah
sistem. Hanya saja kebetulan di arus sistem itu terdapat banyak mobil-mobil
mewah tergenang, rumah mewah hanyut, uang suap untuk deal kepentingan a.b.c.d. Sehingga merasa betah dalam arus adalah
lumrah. Dan kita yang sedang marah dengan pemerintah adalah orang yang mungkin
sedang iri; lapar karena belum makan dan tidak kebagian kenduri, dan sungkan
untuk ikut arus karena terlanjur berkoar-koar memaki.
Label:
catatan ringan
