Laman

Selasa, 31 Januari 2017

Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni

Nb: pernah dimuat di Jawapos

Tulisan ini buat saudara Eyang Abiyoso  yang sudah tidak lagi bandel dan berjanji untuk segera serius lantas rabi. Tulisan ini juga buat guru saya yang sudah bahagia selama-lama-lama-lama-lamanya. Al Fatihah. 


suatu ketika di pulau tak berpenghuni
            -al hakim

tabik untukmu: lelaki yang melolong tengah malam
melebuhkan setiap orang dari penjara

di tanah logam kau berjalan memutar. mencari puak
untuk dilahirkan kembali di sebuah episode

“jaman telah membaptisku, jaman telah membaptisku!”
ucapmu sembari mencari mabuk; persetubuhan yang getas

saat pengusiran tiba, salam perpisahan dibacakan
mantra-mantra yang cemas meloncat ke mata seorang gadis

pergilah, kau! dengan banyak resah yang kau gendong dengan selendang warna tanah, menuju ke laut

ke pulau coklat tak berpenghuni. tempat jasadmu hangus
ditumbuhi pohon oak yang menyanyi tiap malam menetes sepi

(2014-2015)

warung kami


kami hidup di sini.
dalam cemas ampas kopi
anak-anak kami lahir
menuju lalulalang
yang menggelap
pelan-pelan

(2015)


panggilan kami

tiba-tiba saja kami jadi tua. kami tak punya kata
menunjukkan cara menangis; mengukir peta di batang trembesi
agar kau tahu jalan pulang dan menjadi kami: petani yang bahagia menyimpan marah dan mesjid di saku celana.
mengayuh sepeda ke kota, tempat banyak tuhan berkelahi menciptakan teror dan jam-jam malam. tapi kau enggan pulang membuat kami diasingkan rindu. tak ingin pulang kah kau?
dengar, sejak kemarin meja-meja menyanyi. pohon asam di pinggir sawah diam tak melambai. kursi-kursi warung tuak ngelangut, memanggil nama-nama kekasih di rantau
yang hampir terhapus seperti suratmu tahun lalu:
“aku bahagia lantaran tetap menyimpan desa di kota ini.
menyimpan surau di dalam hati.” ucapmu
tapi kami terus jadi tua, dan berhenti memanggil

(2015)

suatu ketika di pulau tak berpenghuni 2

kau bersabar dalam petak kamar penuh deret buku. mencari kebenaran dari setiap “ada” —di tusuk penghianatan yang perempuan—dan mengingkari eksistensi remaja muda: pidato.

“siapa itu bertelanjang? kurus di jendela macam orang busung lapar. kudisan, pula.”

matamu meneleng. kau memafhumi bila bayangan itu adalah sebagian dari dirimu yang kelaparan dan menagih haknya. kau menari, menggerak-gerakkan tanganmu ke depan, ke belakang, ke segala arah yang ramai suara. membiarkan tubuhmu lengket kringat bau apak. menangkap ide yang berkelindan.    
"kulit juga punya mata, kau tau itu?”

di pulau tak berpenghuni kau tak berhenti menelisik sawang di langit-langit kamar. lalu matamu nyalang, benci. “aku khidir kw dua yang diutus tuhan ke sini, di tempat penuh patung berjajar dan memperkosa kesesatanmu.”

(2015)

pada ning bunyi

untuk sekelumit ingatan

aku pusatkan pendengaranku

pada ning bunyi.


yang lebih sunyi dari sunyi

bisik-bisik paling menggigit

di batin


saat itu aku diam

menemukan wajahku

menangis sendirian



(2015)



Citra D. Vresti Trisna


Madura dan ... (sembarang isien dewe)

Madura adalah ”ayat”. Madura adalah ”Gatholoco” dalam bentuk yang lain. Ia mempertanyakan banyak hal di luar-dalam kehidupan kita.
Mungkin di luar sana, di sekitaran kita (yang tinggal di kota), Madura  nampak sebagai sesuatu yang ”menggelikan”. Olok-olok yang terkadang menyakitkan. Madura jarang absen dari anekdot-anekdot getir serta penggambaran akan ”kampung terasing” yang seakan-akan beribu-ribu kilometer jauhnya dari sesuatu yang mambu modern. Madura kerap dihadirkan di sepetak nilai dan standar-standar angkuh yang sebelumnya telah kita monopoli kebenarannya.
Meski demikian, Madura nampak tidak gemetar dengan itu semua. Masyarakat Madura yang belum kehilangan jati dirinya — di plosok-plosok desa, di gunung dan pesisir — tetap berjalan sebagaimana yang mereka yakini. Mereka menjalani hidup dengan memegang teguh ”harga diri” — sesuatu yang telah lama kita tinggalkan — dan tak rikuh dengan berbagai anggapan. Mungkin ini bagi orang tua yang dulu pernah saya kenal sembarangan di warung, di kampus, di rumah teman. Tapi bagi generasi mudanya... ah, saya sungkan sendiri jadinya. 
Tentu ingatan tentang restu pendirian Nahdatul Ulama tidak lepas dari kiyainya. Sehingga, bagi para dedemit konsultan politik para cagub dan capres harus memperhitungkan itu dan memasukkan Madura ke dalam peta strategi tersendiri. Berbagai keajaiban mengenai realitas pemilihan calon kerap dikejutkan oleh keajaiban-keajaiban di luar nalar dan logika politik. Terlepas baik-buruk hal ini, tentu rasionalitas mengenai teori marketing politik dijungkir balik di tanah gersang ini.
Ada apa dengan Madura? Meski saya sudah menghabiskan enam tahun masa studi di pulau garam dan satu tahun duduk di meja redaksi surat kabar lokal di Madura tetap tak membuat saya mengerti dan bertemu dengan “Madura” yang sebenarnya. Kalau pun ada kasus-kasus yang terjadi, tentu itu hanya di kulit luar dan tak sampai pada substansi.
Masyarakat Madura menghantam segala kemapanan dengan pola pikir masyarakatnya yang ”lugu” tapi lugas; yang terkesan ”memalukan” namun agung. Di dalam, Madura terbukti menjungkir balik toko rasionalitas dari Universitas — sebut saja Trunojoyo (bukan nama sebenarnya) — hingga bertekuk lutut. Kalau ada yang perlu bukti, pengujian, dan segala metode taik kucing agar akademisi percaya!? Mudah saja: suruh saja, kampus mengelola parkir tanpa sedikit pun melibatkan ”preman”.
Bagi orang yang punya kejelian mripat, tentu dapat melihat dengan jelas bentangan spanduk bertuliskan: ”letakkan rasionalitas anda di dalam kulkas dan perbanyaklah maklum!” Konon malaikat Jibril yang memasang spanduk tersebut agar anda tidak kecele alias tertipu dengan berbagai gejala yang mencuat. Karena Madura terbukti menjungkir rasionalitas yang dianggap mapan di segi apapun, baik soal kasak-kusuk kemenangan Soekarwo, remuknya tukang mebel asal Solo pada pilpres di empat kabupaten, dan menghajar pseudointellektual hampir seluruh penghuni kampus.

Kamis, 17 November 2016

Kebijaksanaan Dalahok Sang Gubernur Dudakarta

Dalahok (Gubernur Dudakarta)
Nama saya Dalahok! Profesi saya adalah Gubernur Dudakarta. Di kota ini saya memimpin para duda kapiran yang kabur dari negara tetangga karena bangkrut. Meski saya seorang gubernur, saya tetap kacung setia dan martir para bos geng pabrik plastik. Saya adik ke 430 dari Kak Dalbo. Mungkin Kak Dalbo sendiri tidak terlalu mengenal saya karena adik Kak Dalbo bukan hanya saya. Kak Dalbo mengudang saya untuk ngopi karena saya sedang bermasalah dengan guru saya, yang juga warga kota saya. Guru saya ini Ketua Kelompok Gatholocoli yang kerjanya adalah menguji kesabaran para muridnya, termasuk saya. 
Awalnya saya emoh memilih guru yang kerjanya hanya memprotes kebijakan yang saya buat. Namun, karena Pakde Dalbo atau Kak Dalbo menginstruksikan saya menerapkan ilmu belajar langsung pada sesuatu yang kita benci, alhasil bergurulah saya dengan Kelompok Gatholocoli. Ternyata berguru pada orang yang kita benci adalah sebaik-baik kebijaksanaan. 
Saya lahir di Mojoagun*. Sebuah daerah yang memiliki budaya lambe turah, nganggur, dan jahiliah. Mulut saya ini ndak enak kalau tidak ngeledek. Sejak kecil saya berlatih kungfu. Tapi seiring waktu, saya mengembangkan jurus kungfu paling sakti dan saya namai lambekungfu, atau seni bela diri kungfu yang mengandalkan bibir untuk memukul. Atau dalam bahasa inggris biasa disebut: cangkemanYou know cangkeman?  
Saya punya keunikan tersendiri yang jadi bawaan sejak lahir. Keunikan ini kerap mengantarkan saya pada petaka-petaka tidak penting tapi fatal. Keunikan tersebut adalah ketika badan saya tidak bisa diam dan akan terasa pegal-pegal kalau tidak ngisengin orang. Siapa saja bisa jadi korban keisengan saya kecuali Kakak Dalbo dan pimpinan Geng Pabrik Plastik Yang Doyan Impor Barang Gak Penting Ke Seluruh Dunia Ya Ya Ya (GPPYDIBGPKSD3Y). Selain dua orang itu, saya tidak takut menjahili siapapun. Bahkan guru saya pun akan saya jahili kalau saya sedang suntuk. 
Salah satu keisengan saya yang populer adalah menukar rumah warga dengan rumah burung dara. Membersihkan Kota Dudakarta dari para mbambung pengotor jalan. Memenuhi kota dengan manusia impor, dan banyak lagi. Kalau orang menyebut Soekarno sebagai bapak proklamasi, saya terkenal sebagai bapak reklamasi.
Tapi, di sisi lain, Ketua Kelompok Gatholocoli ini juga setali tiga uang dengan saya. Guru saya dan kelompoknya adalah garda terdepan pendemo segala kebijakan yang saya buat. Di mata guru saya, segala hal yang saya lakukan itu salah. Bahkan, mungkin menurut dia, saya lahir ke dunia pun juga salah. Tapi, di sebalik itu sebenarnya saya tahu persis kedalaman guru saya. Ia sangat menyayangi saya dan berusaha membuat saya tahu diri. Karena cara guru mendidik muridnya itu macam-macam: ada yang membimbing dengan menjadi sahabat, ada juga yang musuh kita. Dan adanya guru saya ini membuat saya tidak perlu repot-repot membeli kaca benggala di Glodok hanya untuk melihat siapa sejatinya saya. 
Meski saya sangat takzim dengan guru saya, tapi sebagai manusia yang normal, saya memiliki kadar kejengkelan tersendiri dengan guru saya. Meski kejengkelan dalam diri saya itu sifatnya fluktuatif, tapi yang jelas jengkel tetap saja ada meski kadarnya bisa berbeda-beda setiap saat. Terkadang, rasa jengkel yang secara otomatis tersimpan dalam diri saya ini kerap meledak sewaktu-waktu. Sehingga ketika saya ngomong baik-baik pun terkadang masih kerap keceplosan kata-kata yang menyinggung perasaan guru saya.
*
Bukan guru yang bijak namanya kalau dia tidak bisa memafkan saya. Biasanya rasa maafnya muncul tatkala dia sudah bisa memahami kekhilafan saya dan mengkalkulasi dengan cermat alasan dia marah; mengkalkulasi saldo kesalahan saya padanya. Guru saya ini tipikal seorang yang dianugrahi alam semesta kejelian mripat. Kejeliannya ini ia manfaatkan untuk mengkalkulasi—meski tidak 100 persen benar—setepat-tepatnya kesalahan saya. Setelah ia mampu mengkalkulasi kesalahan saya, biasanya ia akan menghukum saya sesuai dengan kadar kesalahan saya. Yang bikin saya salut padanya adalah kemampuannya dalam mengukur dan menentukan kesalahan mana yang patut dihukum dan mana yang tidak. Dalam hal ini, dia jagonya. 
Untuk orang sekaliber guru saya ini, tentu memahami bila kata-kata saya yang menyinggung hatinya adalah akumulasi dari kejengkelan saya padanya yang suka menyuruh seenaknya, terlalu menuntut, dan menghina hasil perenungan saya. Yang hebat dari guru saya adalah, ia tidak pernah menghukum saya untuk kesalahan yang mungkin bisa dibilang manusiawi ini. Sedangkan hukuman yang sedang saya terima darinya adalah karena akumulasi dari kesalahan saya yang lain, seperti: membuang tikar tempat dia tidur dan menggantinya kertas koran. Atau terkadang ketika kamar kos yang dia sewa, saya sewakan lagi ke teman-teman saya dari kelompok GPPYDIBGPKSD3Y yang kebetulan butuh tempat mesum darurat dengan harga murah hingga guru saya sendiri terkadang sampai duduk jongkok menunggu kawan saya selesai main.
Jadi, kalau pada suatu hari dia menghukum saya, tentu itu bukan berasal dari kata-kata saya, tapi akumulasi dari kesalahan-kesalahan saya selama ini padanya. Mestinya, dia tidak perlu menunggu saya berkata sesuatu yang menyinggung perasaannya untuk dapat menghukum. Bagi saya, ia berhak menghukumku karena: dia guruku; saya muridnya; saya rela dihukum; dia mau menghukum. Dan jadilah saya tersangka. Dengan kata lain, guru saya dan para pengikutnya yang lain itu tidak kehilangan fokus dan marah hanya perkara kata-kata saya, melainkan menghukum karena kesalahan-kesalahan yang lebih fatal yang menyangkut kemanusiaan, perut orang banyak serta tempat tinggalnya.
Ya, bila ada dua pihak yang terlibat persoalan pastilah masing-masing pihak punya andil salah. Tinggal masing-masing pihak ini mau memahami dan memaafkan atau tidak. Meski demikian, saya sadar bila maaf hanya akan membuat saya bersih di mata tuhan, tapi tidak di mata hukum. Salah dan dihukum itu ”benar”. Kalau salah tidak dihukum itu dobel salah namanya.  
Bagi saya, status tersangka yang baru saja ditetapkan Barbar-Eskrim adalah anugrah luar biasa. Status ini membuat saya sadar bila kata-kata sembrono yang nyeplos adalah sebuah momentum yang datang dari semesta. Seperti ”tangan Tuhan” yang membuat banyak orang kembali ke ”biliknya” untuk bersunyi-sunyi. Mengukur diri. Mengeram. Dan menyesali perpecahan yang sempat terjadi. Dan yang penting mengembalikan persatuan kelompok-kelompok.
Saya senang dialektika cinta antara saya dan guru saya ini hanya terjadi di Dudakarta. Apa jadinya kalau sampai terjadi di Jakarta (baca: tempat genderuwo manak)? Saya ogah tinggal di sana. Semua orang bersikukuh dengan benarnya masing-masing. 

Citra D. Vresti Trisna

Dudakarta, Kamis Legi, 17 November 2016

Senin, 14 November 2016

Gembelengan Kolektif

Gundul-gundul pacul, gembelengan. Nyunggi-nyungi wakul, gembelengan. Wakul glimpang segane dadi sak latar (--seorang bocah—kepalanya gundul sembrono. Membawa bakul nasi di atas kepala dan sembrono. Bakul nasinya jatuh nasinya berserakan ke mana-mana).
*
Teman sekamar kos saya kelimpungan. Mukanya merah padam menahan amarah mendapati saudara jauhnya (yang juga tinggal sekamar dengan kami) resign kerja. ”Teman saya yang juga baru juga resign, saya ndak mau sendirian. Kerja di sana juga ndak enak,” ujar si bocah. Teman saya marah karena merasa disepelehkan; tidak dihargai perjuangannya mencarikan kerja kemana-mana. Teman saya merasa rugi korban waktu sampai harus izin cuti demi mengantar saudaranya ini cari kerja. Meski (mungkin) teman saya juga sadar bila upayanya menolong saudaranya itu bukan dalam rangka dagang yang harus terlibat untung-rugi.  
Teman sekamar saya sempat tidak mau bertegur sapa dengan saudara jauhnya. Tapi, setelah mengungkapkan kekesalan dalam hatinya, teman saya melunak. Padahal sebelumnya saudara jauh teman saya ini mau diusir, lantaran sudah beberapa kali dicarikan kerja tapi tetap saja keluar karena tak nyaman di tempat kerjanya yang baru. Saya sendiri hanya diam, tak berani ikut campur. Hanya kalau kebetulan kami hanya berdua di kamar, saya nasihati dia dan memberinya semangat dan mengingatkan agar tidak terlalu menuruti enak dan tidak enak kalau hidup di Jakarta. Terlebih jika hanya lulusan SMA tanpa ada daya tawar.  
Bagi saya, alasan saudara teman saya itu gembelengan. Saya sempat heran juga: kok, ya, makin modern hidup itu makin banyak anak-anak muda pemalas. Dulu, hiburan tak sebanyak sekarang, tapi kenapa banyak orang jadi pemalas. Harusnya, karena hiburan makin banyak, mereka semakin giat bekerja karena hiburan juga tidak ada yang gratis. Saya berani bilang seperti ini lantaran, saudara teman saya ini juga senang ditraktir nggaya, senang-senang di tempat hiburan.
Awalnya saya agak gregeten juga dengan bocah ini. Padahal di Jakarta, sebagian besar orang berlomba-lomba membeli hidup. Kerja siang-malam, sikut kanan-kiri, cari peluang dan jilat sana-sini agar bisa membeli hidup. Kepedulian satu sama lain itu seperti suara merdu yang terdengar menjauh. Tapi, setelah saya pikir lagi, bocah ini adalah tamparan buat saya. Bocah ini mengingatkan bila mripat saya masih rabun untuk melihat apa yang ada dibalik semangat kerja dan ketidakpedulian genderuwo-genderuwo Jakarta.
Bocah ini memang gembelengan dalam bekerja. Gembelengan sebagai pria dewasa yang sudah semestinya bertanggungjawab pada dirinya, orang tuanya dan adiknya. Kemalasan bocah ini juga dipicu oleh kemalasan atasannya yang menganggap dengan adanya bocah ini untuk bermalas-malasan. Meski tugasnya adalah membimbing bocah ini kerja karena masih baru, tapi tidak dilakukan dan justru seenaknya cari keuntungan lain di luar. Tapi, di balik itu, atasan si bocah ini juga didorong oleh big bosnya lagi yang juga malas memperhatikan kesejahteraan karyawan; malas untuk sama-sama bekerja keras untuk memajukan perusahaan. Padahal, si bos geng juga pengen untung besar. Alhasil, untung besar itu diwujudkan dengan memanipulasi hak karyawan. Biar bawahan kerja setengah mati asal bos geng untung besar itu bukan soal.
Sementara pemerintah, yang seharusnya mengurus kesejahteraan juga gembelengan. Namanya saja kabinet kerja, tapi kerjaannya, ya, jual negara ke sana-sini. Tidak ada kemandirian membangun sendiri negara dengan segala sumberdaya dan tenaga yang ada. Kemalasan yang tersamarkan dengan kerja keras itu akhirnya diwujudkan dengan mengundang investasi asing masuk. Investasi jadi satu-satunya solusi paling masuk akal. Akibatnya, demi menjaga agar tamu yang diundang datang mengeruk kekayaan Indonesia ini betah, maka pemerintah harus buat sistem yang baik bagi mereka. Semua kekumuhan harus direlokasi (baca: GUSUR) demi kenyamanan para tamu. Setelah lahan-lahan digurur, dibangunlah tempat yang nyaman dan mahal untuk para tamu.
Pemerintah juga dituntut melancarkan pekerjaan para tamunya dengan membangun infrastruktur di sana-sini agar mereka bisa bekerja dengan enak. Agar tamunya betah, matane pemerintah harus sedikit picek ke hak-hak buruh yang sejatinya merupakan warga negara. Kalau buruh minta upah terlalu tinggi, bisa bikin tamunya tidak betah. Kalau buruh banyak menuntut hak, produktivitas rendah dan itu tidak baik bagi tamu. Karena memang sejak dulu tuan rumah itu harus memperlakukan tamunya seperti raja.
*
Subhanallah sekali kemalasan-kemalasan di kampung yang bernama Indonesia ini.
Nanti kalau si bocah ini pulang ke Kuningan, kampung orang tuanya, para tetangga akan kasak-kusuk ngerumpi. ”Eh, si anu pulang dari kota, tetap kere...” Kalau sudah sukses bawa tipi-kulkas-kredit motor: ”eh si anu pasti kerjanya gak bener di kota. Masa begitu kerja udah bisa beli macam-macam. Kerja apaan memangnya bisa kaya gitu?”
Malang benar nasibmu, bocah. Pulang gagal dimaki; pulang berhasil orang pada dengki. Kadang saya juga rada gimana gitu dengan hal-hal semacam ini. Kalau tidak bisa membantu, ya, mbok ndak usah memaki, mengkuliahi, menyalah-nyalahkan. Saya pun demikian. Tidak seberapa membantu bocah ini juga akhirnya tergelincir untuk sempat menyalahkan si bocah tanpa mau berpikir lebih jauh, melihat lebih jauh, dan berempati lebih dalam. Maafkan saya, ya, bocah. Kalau nanti kamu dapat pekerjaan lagi, jangan gembelengan. Memang tidak enak rasanya jadi gedibal, bolodupak-an di kampung sendiri.
Kalau kau dengan segala gembelengan yang ada dalam dirimu adalah cerminan dari wajah kami. Maka seharusnya kami bisa maafkanmu dengan menerapkan ilmu orang tua: merasa seakan-akan menjadi orang tuamu yang bisa menerima kenakalanmu, kesalahanmu. Marah bila kau disakiti dan ikut merasakan segala luka yang kau sembunyikan tanpa sempat kami pahami. Tapi, berapa biji orang yang mau seperti itu?
Ya, Gusti. Maafkan sikap gembelengan kami.

Citra D. Vresti Trisna

Kosan Lantai Dua Yang Ada Sofanya, Senin Pon, 14 November 2016


Selamat tidur, jangan gembelengan lagi, ya.

Minggu, 13 November 2016

Status dan Jakun Meriang

Dunia memang sudah gulung kuming. Di puncak saya mulai wegah dengan media sosial. Seorang dari kawan lama SMS: ”mas Dalbo, kok, jarang nyetatus lagi? Saya senang dengan status yang kamu buat!”
Setelah keluar dari toko buku, saya lenger-lenger sambil udut dan membaca lagi pesan darinya. Ini maksudnya apa, ya? Saya agak kurang ngeh arti kata ”nyetatus” yang saat itu saya maknai sebagai ”status; keadaan atau kedudukan”. Karena istilah ”status” ini bisa saja diartikan sebagai status facebook, status bujang lapuk, status pacar, pernikahan, atau mungkin bisa saja status sosial yang lainnya yang menohok batin.  
Dulu saya memang hobi bikin status panjang di facebook. Dorongan ke-alay-an saya terus merangsek ke dalam batin hingga tak pernah tahan untuk tidak meluapkan isi pikiran menjadi kata-kata yang muncrat-muncrat wall facebook. Saya pun masih ingat bila kawan saya ini dulunya sering mengetik amin dan share komentar dan like di status panjang saya. Tapi, apa iya bila status yang dimaksud kawan saya itu adalah status facebook? Karena tampang saya terbilang jauh dari aktor-aktor garda depan industri motivasi yang selalu mendapat like dan komentar dari teman-teman. Terlebih, meski saya alay, tapi saya bukan seleb tweet yang genit.  Maka saya mengeliminasi ”status facebook” sebagai kata yang dimaksudkan kawan saya sebelumnya. Dhapurmu iku sopo, blo, soblo. Kalau kata penyair ikan bandeng, saya ini cuma pemungut ranting.

Sepulang dari Gramedia Mamamen, saya tidak langsung pulang karena sudah janjian untuk kongkow bareng dengan jakun-jakun kosan yang jomblo atau sedang LDR di Warkop Tempo Sekarang daerah Salemba. Di sana pun, kami cerita soal hantu di kosan, hantu di kampus, kampung, curuk dan hantu kesepian di malam-malam gelap. Kami juga tertawa lepas. Tapi pahit sekali rasanya. Kanan-kiri-depan-belakang kami duduk muda-mudi berpasang-pasangan. Mereka seperti acuh dengan tawa kami yang meledak, kecuali mas-mas penjaga warung yang juga jakun-jakun yang kerap nyengir kuda sambil mesam-mesem menatap ke arah kami. Mungkin mereka diam-diam mbatin, ”oalah, bekakas iki teko maneh.”
Jakun-Jakun Meriang

Sepulang dari sana pun, para jakun koplok ini masih mengajak ke Bundaran HI. Untuk apa lagi? Ya, jelas untuk menggenapkan luka sepi. Kemudian, bujang-bujang stres (tidak termasuk saya) mengajak ekspedisi taman di Jakarta. Alhasil berkelilinglah kami ke Taman Menteng, Taman Suropati. Tapi, belum genap ekspedisi itu, Mas Rombong, salah satu jakun kesepian itu mengajak kami untuk melihat porstitusi pinggir jalan. Usai melintasi tempat itu, bisik-bisik sebentar, berdebat akan ngopi lagi di sana atau langsung ke tempat berikutnya. Akhirnya diputuskan: pulang.
Saat hendak ambil wudhu, sarung saya tersangkut kawat timba milik janda di sebelah kamar kos saya. Saat itu juga pikiran saya dikembalikan ke SMS kawan saya tentang status. Mungkin karena janda di sebelah saya ini kerap didatangi pacarnya untuk dokter-dokteran tiap malam minggu. Dan waktu sarung saya kesangkut, ”status” yang muncul kali ini berbeda. Status yang berputar di kepala saya ini lebih bersifat kamar, pribadi. Status yang mungkin membuat jakun-jakun semangat ini ngeluyur tiap malam minggu. Mungkin karena pakewuh satu sama lain kami membuat kami hanya melihat-lihat saja; jadi akal-akalan ekspedisi taman; kongkow di warung hanya untuk pesan mie goreng doble plus Kopi Temanggung.
Apa kami tak ingin mengakhiri masa lajang? Tidak juga. Seandainya membuat status ”kawin”, ”tunangan”, itu semudah bikin status FB, tentu kita tak akan semeriang ini di malam minggu. Betapa menuju ke status ”ora bujang maning” akan menyenangkan banyak pihak: keluarga, teman, mantan, sahabat dan bahkan musuh. Tapi, birokrasi untuk ke sana itu ribuan kali lebih rumit dari pengurusan KTP, lebih rumit dari presentasi menawarkan iklan koran di perusahaan, presentasi tugas jaman kuliah.
Angin dini hari di Jakarta itu dingin. Sedangkan kasur dengan ”status” itu kelewat hangat. Kalau di suruh memilih... Ah, kau tahu, aku ini bukan orang bodoh.

Kosan Setia Kawan Lantai Dua Yang Ada Sofanya, Sabtu Legi, 13 November 2016

Citra D. Vresti Trisna


Jakarta dini hari 


Rabu, 10 Agustus 2016

Betis Kekasih di Bulan Desember

Rogojampi pukul 00:00

malam hampir perempuan
jam dinding beku pada pukul 00:00

pejalan mematung. rumah-rumah pergi
mencari pulang dalam ransel
perang dunia di mata seorang gadis
menelan dengung sirine

hujan turun. malam jatuh. jatuh
gonggong anjing bulan di setengah tarikan mantra
tenung yang dibikin dari tarian di tengah sawah
menyala-mengisi lagu malam dendam

“selamat malam rogojampi.”

pejalan menjatuhkan tahun-tahun
di kursi panjang. bunyi dengkur halus
pria tua yang keningnya bau lampu
mendongeng. kisah kematian
yang mengungsi

ada rindu petik gitar menjauh
suara perempuan yang dadanya rindu
kekasih. menyalakan korek api dari malam minggu
tragedi, televisi, suara nakal dan buku sihir yang melipat
rogojampi menjadi garis-garis pagi
(2015)

Sakit kepala di pesta kebun
            -kepada yuslisut

mata, rambut dan struktur giginya lapar
menunggu bau bandeng digoreng
            di rumah seorang kawan
sepiring nasi disajikan dari kemiskinan terstruktur
negara yang tak punya istilah

di pipinya yang berminyak, melekat biji puisi
            rumus ekonomi:
bahasa yang mendongeng, cerita kekasih
ditulis di layar kalkulator, rekening bank
siraman kuah sayur di layar komputer
menciptakan sakit kepala; anak-anak kuliah
mengarang mantra di pesta kebun

“dimana tempat orang merayakan hari libur,
di situ aku bersembunyi.” ucapmu

tali gantung diri kah yang mendekat
pada mimpi (yang kubayangkan) seperti kamus
sastra lapak dan kartel gatholoco?
di dekap kritik tajam yang kehilangan identitas
kau tersenyum

sebuah kaca di meja belajar akan membantumu
menulis kisah padi di atas kartu remi bergambar
ikan bandeng, kuah sayur dan sambal trasi
(2015)

Desember

halo desember!
yang membuatmu cantik adalah gelas kopi
sebuah asbak dari kayu gharu dan hari libur

rencana selfi di perut televisi saat konspirasi
tidur pulas. saat itu kita bisa hidup manis
dengan bungkus energen di ruang tamu
kutang pelacur dan sebungkus pecel

kita adalah asal usul telanjang dalam kitab porno
hasil penelitian profesor anu
saat kepala yang terpenggal adalah anggur merah
peresmian ulangtahun asosiasi ritel
mengingatkan arti ber-KB, mati muda
dalam data-angka statistik

halo desember!
jaga kesehatan agar kau tak mati dalam spekulasi
ya-tidak bermaterai 6000 dan tali gantung diri
(2015)


Betis kekasih
: kekasihku, dedes

di betismu, kasih
semiotika yang mandul mengeja ardhanareswari
definisi dan bahasa yang diperkosa kamus

di betismu kah peta yang mengantar kami
ke inti hijau. desa panggul
kejayaan yang mengungsi dari bedil
memenjarakan penjaga candi-candi di ruang mitos
konsumerisme dan hotel kelas melati

kasih, biar aku telusuri betismu dengan napas
kredit motor-mobil agar kami lebih mengerti
kedengkian bangsa-bangsa. marang cahaya
wahyu keprabon yang melesat-menjauh
dibawa kontainer yang setia

ke barat
(2015)

Sebelum-setelah tragedi

tragedi, setelah hujan
adalah selamat malam
yang biasa saja
seperti lelaki dari ujung kabut
pulang muram

lampu merenung
mengawasi jalan,
mengajak menangis. tragedi
sepulang mengaji
darah kesekian yang tumpah
di matamu-mataku

menjelang pagi
perempuan sunyi memasak
kenangan pemuda kota
terjebak tragedi
rumah-rumah gila
tak pernah kembali

(2015)

Pernah dimuat di nusantaranews edisi July 31, 2016


Selasa, 19 Juli 2016

Rumah Sakit Jiwa Raksasa

 Di kota ini kita bisa saling melambai seperti alien dihadapan sekumpulan orang asing. Kita juga bisa saling melempar senyum lalu saling melupakan.

Di kota ini, tempat dimana uang bisa membuatmu diperlakukan seperti raja. Uang juga bisa membuatmu lupa dan menganggap orang yang melayanimu tak lebih dari handuk yang mudah di buang ke keranjang. Setelah diantara kita merasa mampu membeli bulan madu dengan makan malam romantis dan sedikit membeli hidup tapi sejurus kemudian kehilangan identitas. Kehilangan kepercayaan dan tak menginjak tanah.

Di kota ini kita bisa saling membesarkan dan merawat satu sama lain. Karena kota ini telah menjelma menjadi rumah sakit jiwa raksasa. Dan kita semua adalah penghuninya.

Di rumah sakit jiwa raksasa ini, bayi-bayi akan terus lahir. Mereka tumbuh menjadi orang asing, menjadi pot bunga yang ditanami kembang-kembang ideologi, kemarahan, pertentangan, dan sperma iblis. Mereka akan tumbuh jadi penghisap lem kertas atau bocah yang kehilangan tempat dan waktu bermain lantaran menyuntuki sekolah-sekolah internasional untuk mencari kunci mobil di bra molor janda-janda kota. Menyuntuki kursus bahasa asing agar mampu menginjak kepala orang lain dan memaksa korbannya terus menghisap lem kertas sampai mati. Lalu bocah itu beranak pinak pula.

Di rumah sakit ini kita akan sama-sama tua di ranjang empuk bau obat-obatan. Menyadari begitu jauh kita melancong dan meninggalkan rumah kemanusiaan. Lalu ingatan akan mati mengundang wajah bapak ibu, kemanusiaan di pegadaian, welas asih di tali jemuran dan wajah sahabat yang pernah kita sembelih dengan canggih.

Di rumah sakit ini, mainan-mainan modern perlahan merubah kita menjadi pelacur berkaki satu dengan leher terjerat dan mulut tersumpal kaus kaki baru. Semua demi liburan luar negeri, pesta ulang tahun, bau porselen mall dan hotel penuh sperma yang kasat mata. Semua demi ketika membuka mata di pagi hari, tak ada porselen, selang infus, kemoterapi dan rambut yang berguguran. Padahal kita tak pernah kemana-mana kecuali mengantre di kuburan.

Di kota ini, kita lupa cara mencumbui kemanusiaan lantaran terlalu lelah dan bosan mencumbu bibir suami-istri. Kekasih-kekasih kita terlampau cepat menjadi orang asing.

Di kota ini, sungguh... Terlampau indah untuk bisa kita kencingi pojok ruangannya.

Di kota ini, sungguh... Terlampau indah resto dan cafenya untuk kau lewatkan tanpa mentraktirku makan malam.


Jakarta, mau tanggal tua Juli 2016

Citra D. Vresti Trisna