Laman

Minggu, 04 Agustus 2013

#2 Doa Para Bandit

Lebaran hanya milik orang yang ‘berpuasa’
Puasa saya masih monumental di ramadhan saja,
Jadi, saya tak tau, punya hak atau tidak untuk lebaran

Seperti menjelang lebaran sebelumnya. Menghabiskan waktu dengan Bang Jul, orang yang sama-sama terbuang dari hidup. Sebenarnya ada satu peserta lagi yang terlewat, yakni Mas Bejat, dukun lamongan penggila poker yang kebetulan pulang dulu di Lamongan karena dibutuhkan anak-anaknnya. Sama-sama menertawai kekalahan dan kepengecutan kita lari dari kenyataan. Mungkin kita juga sama-sama korban dari kedunguan masa muda yang (boleh jadi) menolak kemapanan karena heroisme masa muda: hidup di jalanan. Tapi, mungkin itulah yang membuat hidup kita kini lebih sulit. Kalau kata Mas Bejat, melalaikan Spiritual Quotien. Woy, mas-mas bro, apa Tuhan sedang bikin perhitungan dengan orang macam kita? Seperti kata mas dukun yang terus saja terngiang, ketika aku sedang berharap uang jatuh dari langit: apa Tuhan mengenalku?
Benar juga apa kata Mas Dukun. Dunia itu berbeda dengan sekolah, dimana murid yang paling nakal adalah yang paling dihafal oleh guru. Tapi Tuhan bukan guru. Meski di kedalamanku, aku yakin bila Tuhan mengenal satu persatu hambanya. Jadi, mungkin bukan tidak dikenal, hanya ditinggalkan. Ah, tiba-tiba aku kangen dengan Rori, berandal Jatinegara yang tersesat di Purabaya. Ia pernah bilang padaku di suatu malam: segala kebanalan adalah dasar yang mesti dilewati sebelum seseorang mengerti, mengenal hidup dengan baik sebelum akhirnya tiba pada kesalehan. Kesalehan yang mutlak tak pernah berangkat dari kebaikan murni. Ia harus melalui lembah hitam hidup, karena hidup adalah urusan memahami: baik buruk. Entah dalil dari mana itu, yang jelas aku merasa Tuhan punya sebuah cinta yang ganjil, menggelitik, untuk orang yang penah bergelimang dosa.
Sebenarnya saya tak merasa hidup membuang saya, saya sendiri yang mendefinisikan demikian. Tapi apa bedanya? Yang bisa dilakukan sekarang hanya saling mendoakan bila kita yang sama-sama kalah judi nasib ini bisa kembali bertemu pada lebaran mendatang dengan nasib yang lebih baik dari sekarang. Kalau saya pribadi, bisa merasakan lebaran dengan kemenangan mutlak: kemenangan dari ‘belajar menahan’ dan yang terpenting adalah belajar berkata ‘tidak’.
Tak enak rasanya hidup macam ini. Merasa terbuang dan tak bisa move on dengan kenyataan karena merasa pernah meletakkan standar hidup. Ketika standar itu digilas, lalu kita sama-sama bertanya: apa kita pantas untuk terus bertahan dengan berbagai dalih dan apologi untuk menutup-nutupi kekalahan kita. Yang lebih sakit adalah ketika satu-satunya keinginan untuk bertahan dengan keyakinan dan rasa sakit kekalahan, ada orang yang menunggu kita melakukan sesuatu.
Lebaran. Lebaran, apa aku berhak atasmu. Berhak karena telah lolos dari perkara klasik: menahan dan belajar berkata tidak. Sekarang, kalau kupikir-pikir, berapa banyak aku meng-iya pada hidup. Segala yang dipinjamkan dan diamanahkan pada saya ini semuanya ada karena kebodohanku menolak.
Siapa yang mau hidup menderita? Siapa yang tak mau dalam sekali hidupnya bisa merasa memiliki apa yang disukainya? Tapi, itulah masalahnya sekarang. Kapan aku bisa menang dan berlebaran bila puasa atas hidupku selalu gagal. Ah, tak usah terlalu jauh berlebaran. Kapan aku bisa belajar dewasa bila kita tak pernah belajar menerima hidup bersama segala sesuatu yang tak kita inginkan. Seperti satu contoh kecil dalam hidupku: urusan tas. Dalam sejarah, saya selalu enggan untuk memakai tas yang bukan dalam standar merk dan kualitas yang telah saya tentukan. Satu contoh itu saja sudah menunjukkan betapa saya masih dungu dalam urusan sepele dan terbelenggu dengan segala hiperealitas di keduniawian. Apalagi urusan agama? Duh, Gusti....
Hidup dalam pseudo itu tak enak secara batin. Berkecukupan dan puas tak berarti bahagia. Cuma merasa kosong dan gagal sebagai manusia yang ‘waras’. Ah, tiba-tiba aku malu untuk berdoa. Merasa sangat sungkan dengan Tuhan adalah wajar bila penyakit dunguku ini belum sembuh benar. Sudah tau Tuhan itu tak bisa dibohongi, tapi masih saja membohongi.
Tunjukkan aku jalan yang lurus.
Sudah jutaan kali Tuhan menunjukkan jalan itu padaku, dan jutaan kali pula aku berbelok. Untung saja Tuhan juga menahan diri. Kalau dia tidak puasa, mungkin aku sudah ditinjunya. Apa jadinya seumpama Tuhan berlebaran dan tak lagi berpuasa?
Saya pun sudah berulang kali sadar bila apa yang begitu kuhendaki boleh jadi akan membawa akibat buruk padaku. Tapi demi nafsu dan keinginan-keinginan sesaat, kuterobos juga. Saya tau Kau akan bikin perhitungan denganku. Dan saya pun tau bila Kau memahami bila aku ini masih manusia. Duh Gusti, saya ndak pantes di surgamu, tapi ya mbok nanti jangan lama-lama menghukum saya di neraka. Peace, ya, Gusti. Ampuuun.
Saya ini mengerti kalau Kamis besok saya tidak pantas berlebaran. Meski berlebaran itu dalam ruang batin, tapi, ya, sakit rasanya kalau harus kesepian. Meminjam istilah Mas Bejat, saya ndak keberatan kalau harus di benci di dunia. Tapi, saya ndak betah kesepian tanpaMu. Kalau bisa, ya mbok Njenengan ini tetap mengenal saya dalam sekali hidup. Tak banyak yang bisa memahami kelemahan kemanusiaan saya selain Kau. Jadi jangan tinggalkan saya, ya, please. Saya mengerti kok, lebaran besok bukan buat saya.
Duh, Gusti, kalau gelapnya hidup dan batin kita kali ini adalah hukuman dari Njenengan. Kita tetap berterimakasih, kok. Sebab, dengan begitu kita tau, Kau masih menghafal nama kami bertiga. Masih memaafkan karena hanya menghukum kami di dunia saja, karena kami tidak akan bisa bertahan sampai satu ronde di akhirat sana.
Saya tiba-tiba mikir jadi mikir begini: semoga Islam adalah alamat untuk menuju (sebut saja surga-Mu). Seperti apa yang disampaikan Mas Dukun, orang Lamongan sudah di nash untuk masuk sorga. Dan semoga itu benar, tapi kalau benar ya jangan cuma lamongan. Sidoarjo juga lah. Di sana banyak doa orang-orang yang dianiaya Bakri keparat. Semoga kami kecipratan berkah kesabaran mereka, dan untuk Bakri, tolong dia itu yang lama, ya. Sebab, kami yakin kita tidak akan menang berduel di dunia. Dia adalah bajingan kekar yang rajin fitnes.
Lebaran, seperti apa wajahmu? Apakah anugrah kemenangan itu lebih nikmat ketimbang menang togel? Atau lebih bergairah dari berjoget ndangdut bersama biduan di orkes-orkes? Tapi, aku tak pernah menyangsikan apa yang Kau janjikan. Dan sebelum Kau mengijinkan kami berlebaran tahun depan, boleh lah kau Kau restui Bang Jul dengan kekasihnya menikah tahun depan. Juga aku, agar bisa mendapat pekerjaan tetap sesuai setandar calon meretua. Dan untuk Mas Dukun, saya ndak tau apa yang ia harapkan, tapi bila itu baik, tolong dikabulkan. Saya tau Kau kenal dengan saya yang dulu sering mbandit di terminal.
me

Dukun Bejat

Bang Jul














4 Juli 2013

1 komentar:

deni pujapranata mengatakan...

Citra kenapa kau pernah berkata tobat menulis sajak, Metafora dan diksi dalam struktur bagaimana bait-bait menjadi kalimat yang istimewa mengintrepetasikan bahwa kamu menulis sajak, itulah yang mencirikan kamu seorang penulis bukan hanya sekedar meletakkan fungsi puitik. Tapi seorang pebaca dipaksa untuk berfikir.

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.