Laman

Selasa, 31 Maret 2020

Baik Sangka dan FTV

Teman berbaik sangka


Di suatu subuh, di tengah mencekamnya kondisi pagebluk massal corona,  saya bertanya ke diri saya sendiri, ”apa yang perlu dilakukan di tahun-tahun serba susah ini?”
Sepi! Tak berjawab! Kebetulan, otak saya sedang direnovasi, belum bisa diandalkan. Jangankan dipaksa “mencemaskan zaman” seperti omong kosong aktivis pers mahasiswa, menjawab pertanyaan siapa nama istri Pasha Ungu saja saya kelimpungan. Maka demi kebaikan bersama, sebaiknya memang perlu saya atasi sendiri kebuntuan saya.
(Saya mengulangi pertanyaan) ”Apa yang perlu dilakukan di tahun-tahun susah ini?”
(Beberapa menit kemudian baru menjawab) ”Baik sangka!”
Itulah jawaban terbaik yang bisa saya hadirkan. Mohon maaf, ya, seandainya jawaban ini kurang memuaskan anda.
Apa tidak ada stok jawaban lain di dalam otak saya? Sebenarnya ada saja sih, kalau kalian ingin pilih sendiri, berikut ini saya tuliskan daftarnya.
Di file bernomor 1-122 isinya skema dan skenario pernikahan dan perkawinan. File nomor 123 isinya soal pertanyaan: besok makan apa? File 124-125 isinya ingatan soal resep sambel dari  facebook dan file 126-130 berisi kunci gitar beberapa lagu Malaysia. Otak saya juga menyimpan beberapa file urusan negara. Kalau tidak salah, di file ke 131 isinya nama presiden Indonesia yang entah kenapa saya tidak yakin bernama Joko Widodo. Dan untuk ingatan siapa-siapa nama menteri dan fungsinya, kalau tidak salah sudah saya hapus dan saya ganti ingatan soal nama-nama ikan.  
Jadi ketimbang kalian kesal, lebih baik saya pilihkan jawaban yang paling baik menurut saya, ya, kan? Maka “baik sangka” adalah jawaban terpantas untuk dihadirkan ketimbang jawaban lain. 
***
Mungkin karena terlalu kesal dengan banyak hal, Defy (selanjutnya disebut Eyang) menempuh keseimbangan hidup paling radikal (baca: menonton ftv).
Nontok iki ae, mas! Enteng nang utek. (menonton ini saja, mas! Ringan di otak).” Kata Eyang. 
Seperti yang saya jelaskan di awal: saya sedang sibuk dengan urusan baik sangka. Kalau sudah yakin akan berbaik sangka, ya, saya akan berkomitmen. Berusaha sebisa mungkin tetap santuy dengan apa saja yang hadir “di meja makan saya”, termasuk ftv.
Saya sudah mencoba sabar, tidak ngomel dan berkomentar sejak pertama kali film ini main. Tapi ternyata pertahanan saya jebol dan komentar saya muncrat tak bisa dibendung.
Kesal sekali rasanya mendapati kenyataan bila ternyata saya adalah manusia yang kurang bisa bersabar. Memutuskan tidak bicara di saat kita (seharusnya) bebas bicara itu sulit. Bicara hanya tentang hal-hal yang baik dan benar itu butuh perjuangan. Menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik itu perlu kecerdasan. Dan tahu kapan momentum yang tepat untuk bicara itu butuh kepekaan.
Kalau kembali soal ftv, ya sudah, saya mengaku kalah. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak nyinyir dan misuh-misuh. Tapi saya mohon anda jangan salah paham dulu, misuh saya ini lantaran saya ingin benar-benar memuji eksistensi ftv. Film seperti inilah yang benar-benar mengerti kebutuhan penonton. Tayangan jenis ini sangat memahami rakyat masih memiliki ketidakmungkinan menang dalam hidup, penonton butuh hiburan sekaligus jalan masuk menuju imajinasi kemenangan-kemenangan kecil di kepala mereka. 
Ftv tidak egois. Tidak memaksakan kehendaknya untuk menghadirkan tontonan yang masuk akal yang mendekati ketidakmenentuan realitas hidup. Ftv tidak perlu dipusingkan dengan kerumitan sinematografi yang berkelas agar nampak eksklusif. Ya, ya, ya, ftv sangat mengerti penonton kelas tempe goreng di Indonesia butuh lebih dari sekedar tontonan yang menghibur. Manusia kelas dua yang ingin ikut merasa bahagia tokoh utamanya mendapatkan cinta. Penonton sangat menunggu orang-orang buangan mendapat sesuatu cinta yang megah dan mewah.
Urusan penonton dibodohi itu lain soal. Karena saya sendiri pun belum tentu sanggup menghibur orang-orang di sekitar saya. Dan pada akhirnya berbaik sangka saja, itu yang penting. Lalu orang-orang kepepet seperti saya ini perlu menyalakan tv.

Kelapa Dua
Selasa Legi, 30 Maret 2020
Citra D. Vresti Trisna