Laman

Selasa, 27 Desember 2011

Teh Tawar

Teh tawar. “Percayalah, ini enak. Cobalah.”

Selalu seperti itu kalau kebetulan aku sedang nyelles karena ditanya macam-macam soal pesanan teh tawarku yang baginya tidak lazim. Batinku, apa urusanmu dengan teh tawar yang aku pesan? Aku mau pesan teh campur taik kucing, atau taik kambing, itu semua urusanku. Tapi untung saja, di Indonesia masih belum ada warung yang mencampur hidangannya dengan taik kucing. Sehingga, aku tak perlu memesan teh campur tai kucing.

Di terminal Terboyo, Semarang. Seorang lelaki (kata kawanku mirip Rendra) tanpa ba bi bu, dia berujar: teh tawar bisa bikin kita awet muda. Apa hubungannya? Setahuku teh tawar itu obat mencret. Itu saja. Kalau saja ada penelitian yang membuktikan bahwa teh tawar membuat Anda jadi awet muda, atau bikin kita jadi lebih kaya, itu urusan nanti.

Senin, 26 Desember 2011

Benjol


Seorang mahasiswa dipukuli sampai kepalanya benjol saat kongres untuk pemilihan SEMA baru di sebuah kampus preman. Sebut saja bunga (bukan nama kampus yang sebenarnya) untuk menjaga nama baik humasnya, dan yang terpenting agar kampusnya terus laku.
Kabarnya mahasiswa naas (baca: preman tengil) itu menendang bangku sampai terjungkir ketika tidak terima dengan keputusan presidium. Dia dikejar-kejar sekumpulan mahasiswa lain (yang juga preman) yang tidak terima dengan ulahnya – merasa kepentingan golongannya terganggu – sampai kemudian menghajarnya di depan pos satpam. Hingga sekumpulan satpam yang sedang menikmati malam sambil membicarakan kemolekan tubuh ayam-ayam di kampus terganggu karena keributan itu.
Karena nyoni satpam dan tingkat kepremanannya lebih tinggi dari sekumpulan preman angkatan muda yang belum baligh itu, maka keributan bisa diatasi. Massa membubarkan diri dengan menggerutu. Dan saya pun kecewa karena batal menyaksikan baku hantam preman kampus. Padahal malam itu saya sudah memasang taruhan dengan kawan saya: apakah keributan itu bisa menelan korban dan bakal ada drama penjara. Keributan berakhir dengan ending yang kurang dramatis. “Kejahatan” tampil dengan biasa saja.

Rabu, 16 November 2011

Tips Menjinakkan Meretua

Mejinakkan meretua yang bawel itu gampang. 

Apakah anda pernah dihajar meretua seperti di film tersanjung: di tendang ke Wc dan di siram dengan air macam anak tiri? Atau anda di guna-guna meretua: meretua anda menyimpan boneka dengan nama anda; yang pada malam-malam tertentu selalu dipencet-pencet pake jarum, hingga anda kesakitan? Dan apakah anda pernah mengalami dibanting, di suruh gosok gigi pake sabun colek, di suruh makan cepat-cepat, disuruh telanjang keliling komleks dan joget India? Kalau kalian pernah mengalami hal ini, dan anda tidak sadar, percayalah bila anda sedang mengalami gejala penganiayaan dari meretua. Percayalah dengan sepenuh hati kalau anda sedang tida baik-baik saja. Percayalah, itu sudah seperti penyiksaan Khemer Merah, Pol Plot, dan kamp konsentrasi pada masa Soviet berkuasa.
Kalian (dalbowan dan dalbowati) pernah diperlakukan begini rupa? Kalian suka diperlakukan macam ini? Pakde sih ogah. Oleh karena itu, bagi kalian yang sedang bermasalah dengan meretua anda, sebaiknya meluangkan waktu sejenak, menyiapkan camilan dan membaca artikel Pakde: tips mendapat simpati meretua. Tips ini pernah diterapkan Obama ketika belum jadi presiden dan jutaan orang yang menjadi murid resmi, kontrak, dan fans Pakde. Dengan mengikuti tips ini, persoalan anda dengan meretua akan bisa teratasi dengan baik tanpa timbul masalah baru.

Rabu, 26 Oktober 2011

Cara Mengatasi Kebodohan Lelaki

Ketika seorang lelaki sedang bodoh, percayalah, tidak ada restu dewa apapun yang bisa membuatnya bisa kembali sedikit pintar. Karena, kebodohan lelaki terkadang memiliki beberapa unsur mengerikan, diantaranya: egosentris, kekanak-kanakan, cemburu buta, dan nihilnya logika. Maka bagi seorang perempuan yang mengalami masalah ini, bersabarlah. Sekalipun ini adalah saran yang klise, tapi tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh untuk mengatasi perempuan yang sedang bodoh. Saya mohon, anda (perempuan) tidak ikut-ikutan bodoh dengan menyederhanakan masalah dengan membidik kelemahan lelaki: membangkitkan nafsunya dengan bertelanjang dan meliuk-liuk bagai ular. Percayalah, kalau ada pria yang tiba-tiba begitu bodoh, dimatanya, anda hanya sebuah bola di kotak pinalti – tendang atau sundul. Itu saja.

Selasa, 18 Oktober 2011

duka tualang

suatu saat kita mesti mengembara
kota-kota yang dilukis telanjang
atau tempat para ratib meninggalkan jejaknya
di dinding kamar hotel
kita jalang, sayang
: buangan

aku keris, kau warangan
bukankah sekali purnama kau cumbui tubuhku
            sesap di dadaku sebagai tualang

sehabis api ini
jiwa kita berlesatan
kita tak akan menjadi apa-apa,
kecuali jelaga yang terbang
mengintip di jendela
            seperti hantu

atau sesekali ke gunung-gunung
            menjumpai jasad kita sekarat kedinginan

menyadari kita hanya luka-luka
wajah suyi yang mudah pecah saat embun luruh dari dedaun.


Bangkalan, 2010
Citra D. Vresti Trisna

Jumat, 07 Oktober 2011

Ninja Brewok Vs Naruto

Di kampus Trunojoyo telah terjadi perang besar antara Naruto VS Ninja Brewok.
Lihat, karena kekuatan mereka, sawah jadi mengering dan jalanan perumdos jadi retak.
Ini fotonya:

Bagi yang ingin luhat videonya: kunjungi link ini.

Rabu, 05 Oktober 2011

basa-basi

Tokoh feminis liberal abad 18, Mary Wallstonecraft, mungkin berkata hal yang benar soal: kesetaraan pendidikan bagi perempuan. Tapi, untuk hidup, dan mengamini kodrat kebinatangan seseorang: perempuan meusti belajar soal berbasa-basi dengan laki-laki.

Citra D. Vresti Trisna

Selasa, 04 Oktober 2011

Fundamentalisme

Saya percaya bahwa fundamentalisme adalah wajah kita semua yang percaya pada sesuatu (agama). Sekali pun fundamentalisme telah berubah makna, ketika Negara Barat gencar berpropaganda; sejak dua menara kembar diratakan pada 11 September. Fundamentalisme sendiri telah berubah makna, yang disebut James Barr untuk mengistilahkan fundamentalis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Dunia Kristen; disempitkan menjadi sekedar “politik islam”. 

Dalam sejarah Kristen, fundamentalisme dipakai untuk menyebut para evangelicals atau penjaga Injil. Tapi, itu semua adalah sejarah yang tidak butuh disinggung dan diluruskan. Dunia telah nyaman dengan penyempitan makna fundamentalisme yang berarti: politik Islam, teror, kekerasan, dll. Terlebih di Indonesia yang merasakan hangatnya sentuhan konflik dari persinggungan antara sikap konservatif kaum fundamentalis dengan penganut humanisme dan liberalisme.

Aparat: resep sukses kawin

Suatu ketika, seorang kawan sambat (mengeluh) karena percintaanya gagal di tengah jalan. Kekasihnya di tunangkan dengan seorang anggota polisi. Orang tua si gadis bersikeras menolak kawanku lantaran ia hanya penjual mainan anak-anak di pasar malam, sekaligus buruh borongan  pabrik.

Menjelang malam, di hari akad nikah si gadis, kawanku mengajakku keliling Surabaya untuk sekedar mencari hiburan kecil-kecilan. Dua botol anggur merah menjadi simbol patah hatinya. Miris juga sebenarnya. Tapi, ketimbang melihat kawanku bunuh diri, lebih baik aku menemaninya sebagai ungkapan ‘ikut bersedih’. Ditambah sumpah serapah kepada si polisi dan si gadis menjadi menu pelengkap pengganti kacang dan camilan. Kawanku ‘menyanyi’, sementra aku mendengarkan sambil terus nyepur rokok.

Senin, 26 September 2011

Menyesal Kuliah

Untuk apa aku kuliah? Muak aku dengan perkulihan ini, kalau saja ada pilihan lain yang bisa aku ambil – dengan menggelandang saja, belajar hidup – tidak memberikan pengaruh dan dampak bagi kebahagiaan orangtuaku di rumah: aku sudah pergi sejak dulu. Meninggalkan segala parodi tentang hidup: berkuliah, sarjana, status sosial, dan segala sesuatu yang dikatakan modern. Tak ada pilihan. Mau tak mau aku harus mengambil jalan kuliah ini, selain itu aku juga sudah tua di kampus ini. Terlambat: aku harus menyelesaikannya. Demi kebahagiaan dan kebanggaan yang sama sekali bukan untukku.

Senin, 05 September 2011

Belajar Bijak Pada Khidir dan Rakyat


Tiba-tiba saya jadi bingung. Menyadari sebuah fakta tentang masyarakat, khususnya di Indonesia, adalah sebuah peradaban tua yang sudah kenyang dengan urusan dan segala tetek bengek keramahan dan basa-basi politik model apapun. Segala basa-basi akan dibalas dengan basa-basi pula, sebab kedalaman hati masyarakat Indonesia ini masih belum ada tandingannya. Apalagi untuk benar-benar memahami apa itu Indonesia dengan berbagai perangkat dan segala mahluk di dalamnya. Maka boleh jadi apa yang kali ini ku curahkan akan mengalami pincang, sebab aku masih memandang dari kacamataku saja.
Semaling-malingnya politisi, dan sejahat-jahatnya kepentingan yang dating mendekat pada rakyat, akan mereka pahami dengan penuh kebijaksanaan, keramaan dan penerimaan yang tiada tndingannya. Tidak sepertiku yang selalu gegabah dalam urusan apa saja, seperti keinginanku melempar muka koruptor dengan sepatu atau apa saja yang ku temui untuk bisa menghinakan mereka.

Minggu, 04 September 2011

Khidir dan Koruptor

Kalau boleh ku buat daftar pertanyaan tentang hal apa yang paling kubenci, maka di urutan pertama akan muncul kata: korupsi, yang subjeknya kita sebut sebagai koruptor. Lalu, koruptor sendiri hadir di kehidupanku sebagai sesuatu yang mengganjal dan menghalangi kekhusukanku mencintai sesama manusia.
Jika dalam kehidupan sekarang tidak ada tetek bengek hukum formal: perbuatan tidak menyenangkan, penganiayaan, penyerangan, intimidasi, teror, dan sak konconya – maka insyaalah kalau bertemu dengan saya, sebuah batu-bata akan nangkring di dahinya. Minimal sepatu atau sandal dengan bau tai bebek sudah menyabani kepalanya.

Rabu, 10 Agustus 2011

-soal membenci-

Pengusaha tidak membenci siapapun, juga pemerintah, selagi tidak menghalanginya mendapat untung yang besar.
“Ayoh perkosa aku semampumu: sampai pipamu kemput, aku tak akan habis bila hanya meladenimu.”

Citra D. Vresti Trisna












Kamis, 04 Agustus 2011

Tidak Saling-mengenal


“Tidak lagi saling mengenal adalah bagian paling sakit dari persahabatan.” Itu sakit, sakit sekali, bahkan lebih sakit dari putus cinta paling tengik.

Kletek - Citra D. Vresti Trisna - 3 Agustus 2011

Senin, 11 Juli 2011

orang gila

ia menunggu muara yang mengalirkan derita pada laut hatinya kering, sebelum akhirnya memutuskan pulang dan kembali berkebun
matanya biru menatap kapal kertas yang melintas, sebelum akhirnya karam,
tenggelam
hatinya telah jauh lebam,
harusnya malam ini dia memeluk putrinya yang pulang dari rantau
ada kabar sesaki dadanya

Minggu, 03 Juli 2011

Kletek malam minggu


#
Sisa-sisa kotoran ada di sini
di kepalaku dan membuat segalanya runyam. Sedang aku tak bias memilih. Membiarkan malam minggu sendiri: dikutuki sumbar-sumbar keparat
remaja kampung

kalau saja….

#
Sunyi, kesunyian…
Ingatan robek pada luka-luka, silam
Sedang menggerutu pun gagal

Selasa, 28 Juni 2011

obrolan 2 pemuda di sebuah sore warung Kletek

Menghargai seseorang itu dengan memanusiakannya. Bukan dengan berjongkok-jongkok. Meskipun maknanya berarti, menghormat. 

Ku pikir dari sinilah orang-orang kita selalu di jajah. Budaya adalah budaya. Tetapi ketika bikin orang-orang menjadi ‘sakit’ karena musti memelas kepada mereka yang lebih tua, lebih kaya, atau lebih dari segalanya, itu berarti menghilangkan nilai kita sebagai seorang manusia. Jadi jangan salahkan penjajah bila dia betah ngangkang dan berak di kepala kita tanpa punya anggah ungguh kepada kita sebagai tuan rumah. Juga kepada raja-raja jawa yang busuk itu mereka bisa se-enak perut melakukan penghisapan dan perbudakan, karana memang orang tua kita sendiri yang mengajarkan kita selalu berjongkok-jongkok menghormat. Dari sinilah persooalan bermula.

Kamis, 23 Juni 2011

Kerajaan Mas Gondrong yang tidak lagi Gondrong

TIMUR (mas gondrong yang baik)

Aku kembali menyusuri jejak itu. Seorang yang dengan berat hati ku katakan ‘pernah berpengaruh pada sajak-sajaku’; mengerikan. Ya, tapi aku tidak menyesal. Sebab segala sesuatu mesti berkubang untuk memperoleh kedalaman dan kematangan. Karena sampai saat ini aku masih terus mengandung anak-anak rohaniku dan terpaksa lahir karena kebutuhan eksistensi dan urusan “komitmen” – maka ia tercecer dimana-mana – kumuh, lusuh dan tak terurus. Aku sedih dengan keadaan anak-anak rohaniku. Berupa-rupa nasibnya; ada yang di maki, di cerca, dan di hujat habis sebagai sesuatu yang ‘putus asa’. Ada juga yang ‘di sanjung’ sekalipun terkadang aku lebih mewaspadai sanjungan ketimbang makian. 

Aku senang kau diam: dengan begitu aku bisa menciummu lebih lama

Sayang sekali aku terlambat datang di hidupmu. Seorang perempuan telah mengambil seluruh hidup dan cintamu, bahkan tidak sedikitpun kau menyisakannya untukku, meskipun sedikit. Tapi mengapa aku rela menjadi kekasihmu, menemanimu setiap malam ketika kau butuh, atau sedang kesal karena mantanmu tak lagi menghiraukan setiap komentar-komentarmu di status faceboknya. Yah, aku selalu rela, dan itu semua hanya ku lakukan untukmu.

Seperti akhir-akhir ini, sesuai permintaanmu, aku selalu memasang foto profil facebook dengan gaya dan senyum yang mirip dengan mantanmu. Memang senyumku dengan senyumnya hampir mirip, tapi aku tau dia lebih cantik dariku. Dan tanpa pikir panjang, aku lakukan semua itu atas nama cinta dan pembuktian pengabdianku sebagai kekasihmu. 

Rabu, 22 Juni 2011

tips meredakan amarah pacar

Dengan soundtrack lagu Negri Di Awan aku menulis tips buat teman saya – Jeko Bi***b - yang di cemberutin sama – unpag (untuPAGER). Sobat DALBOwan dan DALBOwati, pecinta Pakde Dalbo. Posting kali ini tentang TIPS-TIPS MEREDAKAN AMARAH PACAR.
Bagi kalian yang sedang di ngambekin ama pacar. Caranya gampang banget, anak yang baru lahir aja udah tau seandainya mereka sering baca pakde dalbo. Makanya yang merasa udah tua, buruan baca pakde dalbo.
  
Oke, langsung aja:

Selasa, 21 Juni 2011

melihat orang berkasih-kasih: aku menulis


: Melihat dua orang pemuda berkasih-kasih, aku menulis

Kita memang pernah bertemu untuk sekedar bercinta-cintaan. Banyak malam kita lewati berdua, untuk sekedar suka, merindukan, dan banyak malam yang kita ingat betul bagaimana persisnya. Dan pada saat itu, kita mengikat janji.

Namun kita telah terpisah cukup lama. Menjalani kehidupan dengan jalan kita masing-masing: kau menikah dan aku kuliah lagi dan mengembara. Entah bagaimana persisnya, tapi yang jelas begitu sakit rasanya untuk menganang masa-masa kita saling menangisi diri karena dikhianati nasib. Seingatku kita menangis saat gelap mendatangi kita, di pinggiran jalan kita saling mengucapkan selamat berpisah dan peluk cium sekedarnya sebagai tanda cerita telah usai.

Kau pergi dan harus menjalani hidupmu dengan menikahi seorang lelaki yang baru kau kenal. Tapi ironisnya, itulah pilihanmu. Sedangkan dari jauh, aku mengutuki: menyumpah serapah pada wajah jodoh yang tak ubahnya judi lotre.

Tentang Perempuan

:untuk seorang perempuan yang melipat mukanya menjadi tiga ratus
“Bagaimana aku harus memanggilmu?”
“Suka-suka kau mau panggil apa.”
“Begitukah? Bagaimana kalau aku memanggilmu pink?” Kini kau tertegun.
“Mengapa? Karena warna bajuku kah?” Tukasmu sambil menilik kausmu, seperti tidak pernah melihat warna di kausmu sebelumnya. “Terserah kau saja. Tapi sepertinya aku suka nama itu.”
Aku tersenyum. Kau pun melakukan hal yang sama. Kemudian memelukku. Mencari-cari bibirku untuk kemudian kau lumat dengan rakus. Dan rasanya tubuhku seperti melayang tinggi, terbentur awan dendam yang sangat gelap. Aku tak tau apa itu. Sebab kau tak memintaku bertanya.
“Diam dan rasakan. Kalau kau merasa perlu menikmatinya. Silahkan! Aku pun tak berkeberatan.” Seperti kerbau yang di cocok hidungnya: aku diam. Seperti Musa yang tak sabar tingkah polah sang Khidir: aku tak bisa menahan hatiku untuk diam.

Selasa, 14 Juni 2011

riwayat api


senja yang menarik bunga-bunga adalah hari ini,
dimana aku menemukan biji matamu diantara kerumun badik

sehabis malam,
cuma resah membatu
menebak siapa yang datang saat pintu berderit dan terbuka
napasmu kah yang sampai lebih dulu sebelum tiba pelukan?

Reagae: Metode Tulit Lepas Dari Luka

Pagi ini sepi seperti biasanya. Memang pagi di sini tak pernah riuh macam di kota. Tapi aku merasa pagi di kamar ini adalah yang paling teduh dan bisa membuat aku berdecak. Sebab, tidak ada yang lebih indah dan nyaman dibanding yang lain; berderet buku, sebuah kursi rotan tua, gambar-gambar bodoh, meja belajar yang tak pernah nampak rapi, dua buah lukisan karyaku sewaktu SMP; cuma benda-benda ini yang membuat aku tetap merasa aman dari apapun. Tapi aku tau, suatu saat aku mesti pergi untuk bertualang dan mendapatkan kamar baru lagi. Karena meskipun nyaman – tanpa petualangan – aku akan menjadi kerdil.

Akhir-akhir ini aku merasa kesendirian hadir dengan sangat mencekik. Entah mengapa aku jadi merasa sering sendiri. Untung saja malam tadi, si Tulus dan Bajuri menyempatkan datang untuk mengunjungiku di Warung Kletek.

Kamis, 09 Juni 2011

Seniman


Seniman, kata yang mengerikan dalam kamus ingatanku. Ia mendobrak; terkadang diam, namun mengorganisir perlawanan demi perlawanan, dimana setiap pemberontakan yang lahir selalu bersumber dari kesadarannya akan sesuatu. Dan sesuatu itu apa, itu bisa sekedar label yang sengaja “diciptakan untuk…” atau melakukan sesuatu yang memang “harus, agar…”.

Rabu, 08 Juni 2011

Gamal

Aku ingat sejarah para nabi. Sejarah orang-orang yang dibikin nihil dengan keajaiban Tuhan. Tapi mendadak aku rindu sebuah ungkapan seorang Gamal – tukang orasi : “Pikirkan! Bagaimana kalau kita yang hidup di jaman nabi-nabi dengan wahyu tuhan itu? Mengapa Tuhan tidak memilih meletakkan wahyunya di masa semburatnya lumpur dengan senyum Bakrie keparat?”

Gila pikirku. Untuk apa membayangkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Sesuatu yang tidak akan merubah apapun, sesentipun gejolak hidup ‘modern’ ini.
“Apa kau pikir kau adalah segerombol orang yang mengikuti nabi dari belakang dan mendukungnya dengan pedang terhunus? Tapi sayangnya aku lebih meyakini bila kau adalah penghujat, dan salah seorang yang melemari kening nabi dengan batu.” Ujarnya sambil menyeringai. Kemudian menghilang.


Kamis, 19 Mei 2011

ECERAN DALAM WC 1

“Aku tak ingin menjadi dinamit seperti Nietzche. Untuk apa? Terlalu mewah buatku. Sebab aku hanya ingin menjadi petasan. Orang-orang kecil, dengan jangkauan yang kecil hanya bisa mengagetkan, bukan meledakkan. Orang-orang kecil hanya bisa menakut-nakuti, bukan menteror. Maka jadi petasan saja. Sudah cukup. Lagipula siapa yang ingin ku terror? Petasan hanya mainan anak kecil, kalau untuk menakut-nakuti juga hanya anak kecil. Bukan orang dewasa. Kau tau? Orang dewasa sudah tidak lagi takut dengan petasan.” ujarnya dengan nada yang putus asa.

Senin, 16 Mei 2011

TIPS MENJADI JUARA KELAS


Halo semua para Dalboers: dalbowan dan dalbowati yang ada di seluruh Indonesia. Facebook memang membuat kita semua terhubung  antara satu dengan yang lainnya. Dan itu gak perduli siapapun: tua, muda, cakep (kaya pakde), jelek (kemungkinan itu kamu), miskin, kaya, dari ndeso, kota, dsb. Nah, dari facebooklah penggemar pakde mulai berdatangan. Kali ini, ada penggemar pakde yang masih duduk di bangku sekolahan. Memang tidak ada istilah terlalu dini buat mencintai blog pakde. Salam cinta.
Jadi ceritanya seperti ini. Ada seorang anak kecil, masih tetangga sama pakde liat facebook pakde, dan mengklik sebuah tautan hebat: http://pakdedalbo.blogspot.com/. Dari situ, mungkin setelah membaca tulisan pakde beberapa saat, dia mulai berpikir. “Kok gak ada tulisan kusus buat anak seumuran aku ya…” (garuk-garuk kepala).

Sabtu, 14 Mei 2011

Doa di Jumat Malam yang Kering


Ini malam Jumat. Sepi. Dimana biasanya akan ada banyak kopi, rokok yang membuat segalanya tiba-tiba hidup. Sebab jumat malam itu sebuah forum tak bertuan, karena hanya ada salah satu diantara penikmatnya yang kebetulan punya uang lebih, rokok dan cerita. Tentang apa saja. Yang bisa membuat kita penikmatnya merasa tidak sendiri dan punya kawan untuk berbagi.

Tapi jumat kali ini memang sepi. Diantara para penikmatnya, paling tidak aku dan Tulus sama-sama sedang kering. Tulus sedang membantu kawannya agar dapat sedikit kecerahan pegangan, sedang aku sendiri nekat dengan bermodal uang dua ribu rupiah berangkat ke kletek untuk mencari segelas kopi susu. Dan tentu kau tau, dengan jumlah uang sebanyak itu bisa dipastikan bila aku akan ngoyot di situ. Ngopi berlama-lama agar malam tak cepat usai.

Kisah Bowo Part 2


Ya memang seperti itulah si Bowo. Manusia aneh dari abad 21 yang kebetulan harus nyasar di bumi ini dan menjalani kehidupan bersama kita. Dan setelah sampai sejauh ini, apa kau tidak ingin bertanya, siapa dia sebenarnya?

(“Pak Dalbo, saya mau tanya.”)

“Ya. Silahkan!”

(“Sebenarnya, siapa itu Bowo. Saya tidak mengerti dari awal sejak anda bercerita. Ini jujur lho..”)

“Pertanyaan yang aneh.” Aku membatin.

Rabu, 11 Mei 2011

Kisah Bowo Part 1

Alkisah di sebuah negeri yang aneh, hiduplah seorang pengembara yang bernama Bowo. Ia adalah seorang pemuda yang aneh. Setiap langkahnya menyusuri sudut-sudut jalanan, gang-gang sempit, pedesaan, sampai di rimba-rimba, selalu menimbulkan tanya yang tak selesai bagi setiap orang yang melihat.
Apakah anda penasaran denganya ? Baiklah akan saya gambarkan detail si Bowo kepada anda. Semoga ini penting buat anda.

Ia bertubuh sedang. Jangkung tidak, pendek juga tidak, tapi boleh dibilang tidak tinggi untuk ukuran pria dewasa. Matanya sipit dengan belek (kotoran mata) hampir di setiap sudut mata. Matanya juga selalu merah, maklumlah seorang pambaca yang baik. Ia kerap memakai kacamata khas mafia hongkong.

Selasa, 03 Mei 2011

Tips Menjadi Gendut

Dalam perjalanan mengantar seorang kawan, pakde didaulat untuk memberikan resep jitu menggemukkan badan yang instan. Mendengar permintaan ini, pakde jadi geleng-geleng gak karuan dan gak habis mikir. Bagaimana tidak, lha semua orang pada berlomba-lomba buat kurus, lha ini kok pengeen gemuk. Tapi tidak masalah. Resep ini pakde persembahkan kusus buat satu kawan baik pakde yang dari malang, yang notabene masih ada hubungan saudara yang aneh, yakni “kakek” pakde. Seperti apa orangnya, itu rahasia, yang pasti tidak lebih cakep dari pakde. Tapi buat kalian yang menginginkan tubuh anda jadi lebih gemuk, kalian bisa memakai resep ini juga, Kan pakde milik elo semua gto loh Hehehehehehe.

Rabu, 27 April 2011

Tips agar Lebih terkenal dari Norman

Beberapa waktu lalu pakde cukup kesel liat tipi. Bagaimana tidak, lha wong yang dilihat hanya polisi joget yang sekarang sudah jadi artis top. Yang bikin pakde tambah kesel, kabar terakhir yang pakde liat di tipi, si Norman itu kena mencret aja media susah-susah meliput. Ah, dunia ini kok ya suka yang aneh-aneh. Mengapa mereka tidak meliput pakde saja. Dengan ilmu: kanuragan, mantra, yang harusnya bisa lebih jos dari si norman.

Jumat, 22 April 2011

Cara dapet Ilmu gratis dari pakde


Bagi kalian para dalboers: dalbowan dan dalbowati, yang pengen dapetin update terbaru tulisan pakde yang unyu. Karena tulisan pakde secara otomatis akan menjadi ilmu baru yang diburu oleh banyak pengembara di dalam atau di luar negeri. Oleh karena itu, beruntunglah kalian yang hidup di jaman internet ini, sehingga kalan tidak perlu bersusah-susah bertapa di gunung slamet, gunung bajul, dan bertapa di semeru dengan membawa bekal karak (nasi kering yang dijamur) selama 23 tahun. Kalian cukup update dengan bukak pakde.dalbo dan kalian bisa membaca ilmu-ilmu baru dengan santai. Bisa dibaca sambil eek, sambil ngelonin istri atau suami, bisa sambil nonton tv, bisa sambil maen…. Di kamar mandi, bisa juga baca sambil lari-lari, atau baca sambil minum kopi di warung. Terserah kamu. Ilmu baru dari pakde dalbo bisa langsung kamu dapatkan dengan mudah.

Hari cepat saja menjadi pagi

Hari cepat saja menjadi pagi. Menjadi dendam dengan hidup manusia yang dadanya penuh karat. Aku selalu jengan dengan pagi. Sebab pagi adalah titik pijak dimana dendam dilampiaskan maksudnya. Sebab, malam bisa menjadi saat di susunnya segala maksud dendam. Tapi paling tidak, tidak lebih ngeri ketika pagi menjelang tiba dan dendam itu dikobarkan. Dendam: makan memakan, bunuh membunuh, tikam menikam, dan saling memperkosa.

Kamis, 21 April 2011

anak-anak malam


susun jasatmu menjadi klenik, lalu datangi aku. tangkap jiwaku dan kan kubukakan pintu esok pagi.
karena kebohonganmu selalu kumaklumi saat aku kembali menutup pintu selepas sore.
aku sudah terbiasa dengan ketidakadilan yang selalu datang pagi-pagi

setiap malam, selalu kusempatkan mengecup kening dari setiap mimpi buruk
tentang dapur-dapur lengang.

Selasa, 19 April 2011

Jangan menangis

Mengenang saat kau menangis, dulu:

jangan menagis
sebab aku selalu ingin melukis wajahmu
kau tentu faham, bukan?
aku tak menghendaki warna abuabu di kanfasku

dan hujan tak kunjung berhenti

Setiap Pagi

1
setiap pagi aku selalu membaca jejakmu lewat gambar diam yang berserak
segala kemanisan akan kenang
kau, perempuan
mengapa tak kau simpan ragumu di kulkas, lantas kita berpelukan saja
sebab segalanya seperti mudah
laksana ayam yang berlarian: kawin

Senin, 18 April 2011

Sudrun Itu Jalan Kemulyaan



Siapa yang percaya pada kejujuran, maka sekali-sekali kau mesti mendengarkan orang gila bicara. Sebab, mendengarkannya bicara itu seperti memutar rekaman kaset masa silam yang pernah direkam dan dinyanyikan kembali. Tentu kau sudah paham akan kondisi kaset usang yang telah lama tidak di putar. Sedikit banyak akan banyak gangguan ketika diputar kembali. Ada yang pitanya lengket, sehingga tidak terbaca head tape recorder, dan suaranya akan meloncat-loncat dari satu bagian ke bagian yang lain. Dan kita tentu paham, kaset itu akan mengeluarkan hasil rekamannya dengan jujur tanpa ada yang bisa ditutup-tutupi selama proses recording berjalan dengan baik. Memutar segala sesuatu yang berhasil direkamnya.

Sabtu, 16 April 2011

Farid - Catatan Orang Biasa

Farid Maulana, sebuah nama yang mungkin asing bagi kalian. Atau bahkan tidak penting. Kalau kau berpendapat demikian, maka itu benar. Tidak ada yang mengenalnya, sebab ia tidak termasuk dalam barisan orang-orang yang pantas dikenal, seperti koruptor, misalnya. Ia bukan pejabat pemerintahan, ia juga bukan dalam barisan pengusaha, seniman, musisi, cendekiawan atau ilmuan. Dan mungkin sama sepertiku, yang tidak mempunyai kapasitas apapun yang membuatku berhak untuk dikenang setiap orang. Seperti ujarnya padaku di suatu sore yang cerah, di sebuah warung kopi murahan didekat terminal Joyoboyo, “Nasib sial bagi orang-orang macam kita adalah terlahir sebagai ‘manusia’. Yang tidak berlabel, kalau tau bakal seperti ini, lebih baik aku mau jadi orang, asalkan punya label.”

Kamis, 14 April 2011

Sajak cinta buat pacarnya temenku.

Kita selalu lupa memaknai setiap hujan yang turun berserak

pada namamu, dan penantian setiap hampir pagi; menggambar jejak hijau dan embun
dan kau tak akan pernah menemukan jawab
sebab, untuk ini, air mata kuceritakan berupa-rupa

seperti pengembara aku datang, dan seperti pengembara aku pergi
sebab diantara kita memang selalu bertepuk sebelah tangan
ini kenyataan,

maka kita pergi saja
dan ketika esok kita bertemu, sebaiknya memang tidak saling menoleh
meskipun kita tak bisa bohong: hati kita berpelukan, berpagutan, dan berjanji untuk bertemu lagi pada mimpi-mimpi yang berjudul: cinta pertama.

terinspirasi dari seorang kawan: F. Agus Tiono.
seperti yang selalu kita bicarakan, bila lelaki tidak boleh nangis.

Citra D Vresti Trisna

Menghormat dengan berjongkok-jongkok = "sudrun"

Menghargai seseorang itu dengan memanusiakannya. Bukan dengan berjongkok-jongkok. Meskipun maknanya berarti, menghormat. 

Ku pikir dari sinilah orang-orang kita selalu di jajah. Budaya adalah budaya. Tetapi ketika bikin orang-orang menjadi ‘sakit’ karena musti memelas kepada mereka yang lebih tua, lebih kaya, atau lebih dari segalanya, itu berarti menghilangkan nilai kita sebagai seorang manusia. Jadi jangan salahkan penjajah bila dia betah ngangkang dan berak di kepala kita tanpa punya anggah ungguh kepada kita sebagai tuan rumah. Juga kepada raja-raja jawa yang busuk itu mereka bisa se-enak perut melakukan penghisapan dan perbudakan, karana memang orang tua kita sendiri yang mengajarkan kita selalu berjongkok-jongkok menghormat. Dari sinilah persooalan bermula.

Menjelang Gila

Stress adalah pengantar menuju sesuatu. Selebihnya seorang harus sampai pada tahap menjadi gila, dan itu semua demi keseriusan.

Apa aku saja yang berlebihan. Seakan-akan sok menjadi sesuatu. Mengamini semua yang sudah melekat dan menjadi stereotype atas diriku, lantas sekarang ingin mengajak orang lain untuk menjadi sama sepertiku. Sudah benarkah aku dimata Tuhan? Dimata orang-orang yang ada di sekitarku: kawan di kampus, penghuni warung kopi, keluarga, dan bahkan di mata diriku.

Namun yang jelas, aku musti mencari kejelasan atas apa yang terjadi dengan diriku. Seperti ada setan yang berbisik di kuping. Membimbing aku pada hal-hal yang tampak indah, meski aku tak tau bagaima ujungnya dan seprtinya berbau busuk. Tapi entahlah, karena sementara ini aku menikmatinya, dan kalau aku boleh cerita, kira-kira seperti ini:

Selasa, 12 April 2011

Kletek Menjelang Malam

Kletek menjelang malam. Duduk di tempat biasa, pojokan sambil membaca-baca sebuah roman karya Maxim Gorki – Ibunda. Menarik betul Gorki membawaku berputar-putar di dunianya, terbang di seputaran langit Soviet waktu itu.

Menjelang Isya, petualanganku terbang bersama tulisan Gorki harus berakhir. Seseorang datang. Duduk di sebelahku. Menyaksikan dengan tatapan ganjil, dimana bila kuartikan sorot matanya, ada semacam baner “Aku ingin menjilat kuping anda. Anda sudah terpojok. Ayo, suka rela atau harus ku paksa?” Aku menelan ludah. “Alamak, bencong ini”.

Senin, 11 April 2011

Tips menggaet cewek (part 1)

Nah bagi kalian para jojoyamemedidecapuba; jomblo-jomblo yang mencoba membohongi diri dengan cara pura-pura bahagia. Kali ini Pakde lagi simpati dengan kalian. Pakde jadi inget semasa jomblo dulu; tapi Pakde tidak lantas membohongi diri dengan macam remaja gak laku era internet, yang mencoba pura-pura bahagia. Padahal kesiksa sekali. Tapi Pakde lakukan aktivitas ini. Jozz lah pokoknya.

Sabtu, 09 April 2011

Onani sebuah "renungan" bergambar

Karya Citra D Vresti Trisna


Onani adalah kodrat hidup bagi manusia yang terlanjur mupeng dan tidak punya pilihan lain selain bermanis-manis muka dengan sabun. Onani adalah bagian paling purba dari sejarah kemanusiaan, terutama seksualitas. Mungkin purbanya onani sama dengan purbanya perilaku mengintip seseorang yang sedang mandi. Onani hanya sebuah fase awal sebelum seseorang ke jalan - peranakan. Dan ini sekedar asumsi.

Nb: Jangan onani di sembarang tempat. Sayangi benih anda, jangan sia-siakan mereka, mengutip istilah the pandal, benihmu hanya jadi kecebong.

Pakde Dalbo



Kelamin

Kelamin. Semua butuh kelamin. Tidak seorangpun menolak kelamin: mahasiswa, dosen, aparat, pejabat, bahkan ulama pun butuh kelamin. Kalau pada awalnya aku mengatakan bila ujung dari semua persoalan kehidupan adalah uang. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Disamping uang, kelamin juga dibutuhkan semua orang dengan maksud masing-masing. Ada yang butuh untuk sekedar memuaskan hasrat. Ada yang butuh untuk sekedar gengsi. Tidak ada yang menolak untuk kelamin, sebuah piranti dan asal-usul keberadaan manusia.




Bahkan The Panas Dalam, band asal Bandung, pernah membuat lagu dengan judul: Ujung-ujungnya kelamin. Kritik sebuah hubungan antara umat manusia, dari tua atau muda, juga persoalan kriteria pasangan baik yang tulus atau main-main, semua berujung pada kelamin. Bahkan yang lebih profokatif dan wadag dari lagu ini menyebutkan “cantik tanpa kelamin percuma”. Sehingga harus diakui bila kelamin memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang memiliki sisi normal memiliki lingga dan yoni.

Keseimbangan Kosmis dan Disintegrasi




Pada akhirnya sebuah kesadaran tentang hidup selalu butuh memperhatikan kesadaran kosmis. Sebab, demikianlah ucapan orang pedalaman Papua mengenai hubungan mereka dengan alam. Ketika kita menebang hutan untuk pertanian, maka yang harus dilakukan adalah menanam kembali pepohonan agar tidak terjadi bencana. Setelah kita mengacaukan tatanan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah lewat serangkaian aksi untuk membela rakyat, maka seyogyanya kita perlu mengambalikan kepercayaan rakyat agar kembali harmonis.
Mungkin ini harapan yang tersirat budayawan mbeling Emha Ainun Nadjib, soal tulisannya yang akhir-akhir ini kerap bernapaskan pandangan positif pada apapun, termasuk pada pemerintah. Sebab kemajuan suatu negara selalu membutuhkan sinergitas antara rakyat dengan pemerintah, baik dalam hal apapun. Sekalipun tak serambutpun kita bisa mempercayai kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan nasib rakyat.

Rabu, 06 April 2011

Menunggu Pagi


di malam diam
menunggu waktu diganti pagi
hanyut, menepi
duduk menekuri malam panjang
dipeluk semilir Jogja

sepi pada angin, genit
lewat mendesir di dada
merangkai gugusan kata yang mengajar tenang
melambai pagi yang merayu sadar

Perempuan

Sejak kapan perempuan boleh bicara?
Ia cuma sebuah daging yang ku beli dengan mahar cukup tinggi. Sekarang, ia milikku. Bodoh kalau aku menyia-nyiakannya.

Sejak 1970-an, ketika wacana gender menjadi gerakan politik di sebagian besar Eropa dan Amerika Utara. Perempuan sibuk memoles citra dirinya dengan gegap gempita semangat untuk mengkampanyekan persamaan derajat. Semua kemeriahan diramaikan dengan semakin menjmurnya kajian tentang perempuan. Berbagai teori maupun nilai baru kemudian lahir dan diyakini sebagai bagian dari perjuangan. Sekalipun tak jarang diantara mereka akhirnya terjebak dan disublimkan pernikahan.

takut gigi gondrong dan gimbo? nggak lagi deh...





Gigi gondrong dan gigi jumbo merupakan realita yang banyak terjadi di Indonesia. Kalau menurut anak gaul sekarang, ralitas gigon dan gimbo merupakan hal yang biasa terjadi di kota-kota besar. Realitas overdosis di bidang pergigian sering menimbulkan pro kontra. Antara pihak yang pasrah, malu, dan orang yang keluar dari kesulitan pergigian.

Minggu, 03 April 2011

Sudah sejak awal penhianatan mewarnai kehidupan manusia. Maka selayaknya kita tak pernah mempercayai siapapun. Bahkan dengan diri kita sendiripun juga musti waspada.

Tak ada istilah keabadian di dunia. Keabadian hanya milik orang yang sanggup bertahan dan tak terkalahkan. Kelemahan dan rasa takut untuk menikam hanya akan menjadikan kita sebagai seorang korban. Lantas bagi para pemberani dan pemilik kekuatan akan menjadikan kita sebagai seorang pemenang. Hanya para pemberani yang layak dikenang.
Sejarah disusun dan dirubah oleh para pemberani.

Tiga perempat dunia dimenangkan oleh para pemberani.

Citra D. Vresti Trisna

Salah satu hal terbodoh dalam menjalani kehidupan adalah dengan mempercayai.

Keberanian utama dalam menjalani kehidupan bukan berarti: ‘keberanian menaruh kepercayaan pada seseorang’.

Bila kita ingin tenang dan masih belum sanggup menantang kesendirian, maka jalan yang ditawarkan adalah dengan mempercayai.

Konsekwensi logis dari sikap tak percaya pada apapun adalah kesendirian. Hal ini dikarenakan, ketika kita menjalani kehidupan dengan sikap tak percaya, maka tak seorangpun akan menyertai kita. Tak akan ada orang yang memperdulikan kita. Orang akan berfikir, untuk apa aku menyertai orang yang tidak memberikan kepercayaaan kepadaku? Kemudian untuk apa aku menyertai orang yang menaruh pandang curiga kepadaku, karena lebih baik aku menghabiskan waktuku dengan orang yang percaya padaku dan memberikan pandangan yang hangat.

Hidup adalah pembenahan dan penyusunan strategi untuk melakukan penghianatan-penghianatan terhadap para pemberi kepercayaan.


Bunuh rekan atau lawanmu selagi sempat, atau rekan dan lawanmu yang mengambil kesempatan.
Sudah sejak lama kita melupakan lingkungan kita sebagai rimba gelap yang penuh dengan predator-predator ganas yang siap melumat kita kapanpun dan dimanapun. Hanya yang punya kemampuan dalam menikam dan piawai dalam mengonsep penghianatan yang akan sanggup menjadi seorang pemenang. Juga strategi yang paling cemerlang yang akan keluar sebagai pemenang. Bukan pecundang.

Citra D. Vresti Trisna

Sebuah Catatan Perjalanan ‘adu nasib’ Ke Jakarta

(romantisme masokis perjalanan seorang Citra yang cakep & Andi Mahifal yang othon)

Setiap perjalanan pasti punya sisi romantisme – yang mengajakmu, membisiku untuk segera pulang berkasih-kasih – tapi ku urungkan. Sebab aku baru memulainya

Hanya permulaan. Menemui sisi cantik, bagian paling masokistik dari sebuah perjalanan, yang hendak ku temui. Aku ingin bermesraan dengannya. Merasai setiap desiran di jantung ketika ia memelukku. Dan seperti biasanya aku menggapai-gapai ingin keluar, tapi aku tak ingin buru meninggalkan sebuah perjalanan yang sangat ku yakini untuk menemukan potongan-potongan di bagian hidupku yang berserak di jalanan. Maka, biarkan aku mencatatnya. mencari bagian dari diriku yang berserak di Jakarta – peradaban tua yang congkak.

Sebab – buat semua yang mencintaiku – ku pikir kalian tak akan menghendakiku tumbuh sebagai seorang lelaki yang tak tau diri. Atau harus tumbuh premature menjadi bayi tua yang hanya kenal beranda rumah. Dan aku benar-benar ingin hidup, dalam tualang, dalam belanga berisi keringat peradaban dan dibakar api persoalan, maka jadilah apa yang mereka sebut: nasionalisme. Aku yakin ia ada. Bukan dalam buku-buku, kamar, beranda rumah, dan pelukan. Ia ada di jalanan.

*

Tuhan Baru


Agama adalah sejenis racun jiwa, dimana budak-budak kapitalisme membenamkan nurani mereka untuk kehidupan yang layak.
(Vladimir Ilyich Ulyanov)
Agama adalah madat masyarakat.
(Karl Marx)

Tepat! Tidak ada kata lain untuk sejumlah pernyataan Lenin dan Marx. Komposisi dari kata per kata serasa begitu pas bila menjawab tentang keadaan di sini. Kampung ini. Bangkalan Madura tepatnya.
Sesuai dengan dampaknya, agama merupakan sebuah potensi yang menjanjikan bila ia diyakini pada sebuah masyarakat yang kesadaran dan budaya kritisnya rendah. Sehingga kebusukan model apapun yang berkenaan dengan agama, akan terlegitimasi dengan sangat baik. Melalui tokoh-tokoh agama yang ada, agama memiliki pengaruh dan kredibilitas yang tinggi, karena dianggap dapat menghubungkan masyarakat kepada mitos-mitos surga. Sehingga apapun yang didalilkan tokoh-tokoh agama yang ada, umumnya islam, yang dilabeli atas nama agama dan ketaatan pada ulama, akan langsung mendapatkan persetujuan masyarakat.
Fanatisme masyarakat kepada ulama Bangkalan membuat segala cela dan penyimpangan, terutama penghisapan atas tanah akan terkamuflase oleh kebohongan yang berlandaskan agama. Sehingga atas nama kepentingan, oknum-oknum ulama di Bangkalan sangat mudah melakukan pembodohan kepada masyarakat. Boleh jadi oknum ulama-ulama Bangkalan tidak pernah merestui adanya masyarakat memiliki pola pikir kritis. Hal ini akan menjadi ancaman serius bagi oknum ulama tertentu, karena posisi mereka dimata masyarakat akan terancam.

Timur

Untuk menjadi orang besar itu tidak mudah, sebaliknya untuk tiba-tiba mendadak menjadi kecil. Semua butuh energi yang luar biasa besar. Sebab kita akan membutuhkan “biaya” yang sangat banyak untuk menjadi besar, begitu juga untuk tiba-tiba menjadi kecil. Mungkin kita bisa berkaca pada R Timur Budi Raja, penyair asal Bangkalan Madura. Sekenario hidup telah membawa Timur begitu jauh terjerembab pada kubangan yang membuatnya terpaksa menyepi.

Ya, kalau ku pikir, semua orang memang butuh untuk menyepi dan berkontemplasi dengan suasana baru. Suasana untuk kembali mengumpulkan kekuatan untuk hidup, atau untuk memilih menyerah pada lembaran-lembaran kertas untuk meredakan sedikit dahaga kehidupan orang-orang di sekitarnya. Memang kita tak bisa menyangkal bila uang bukan segalanya, tapi apa semua orang juga berpikir hal yang sama. Uang memang membuat banyak kehidupan itu jauh berubah.

Menghindari Makan Nasi


Hidup butuh lebih dari sekedar kerja biasa, dan aku tau itu. Mungkin karena alasan ini, seseorang masih butuh kerja sampingan. 
Buruh pabrik masih butuh untuk berdagang kecil-kecilan di rumah. Perempuan karir masih butuh untuk merayu atasannya dengan rok seragam kerja yang minim untuk dapat sesuatu yang lebih dari bosnya. Para mahasiswi juga masih butuh untuk menjual dirinya pada rekan-rekan kuliahnya, pada  pria hidung belang dengan harga yang sangat tinggi. Bahkan pada para dosen yang kolot dalam urusan nilai. Dan aku yakin itu bukan untuk sekedar mendapat nilai A pada satu mata kuliah. Sebab kita tak boleh beli rokok, kosmetik, dan sepiring nasi campur dengan uang palsu.

Pasien Sejarah Kaum Revolusioner


Mari sejenak kita bicara soal sejarah dan revolusi.
Sejarah yang tanpa kita sadari telah menjadi Tuhan dalam kehidupan. Semua tercermin dari cara kita memujanya, dengan terus mengutipnya bagai doa sehari-hari.
Sebagai pasien-pasien sejarah, kita telah dibikin nihil dengan semangat perubahan dan memilih sesuatu yang telah menjadi kembang kertas pilihan rasional perjuangan – revolusi – sekalipun kita tak akan pernah betul-betul berani untuk kesana. Disengaja atau tidak, sejarah telah membuat kita menjadi apa yang diharapkan produsen-produsennya. Karena sejarah terbentuk dari kultur-kultur yang diamini sebagai jalan hidup.
Masihkah kita akan bertanya dan mendiskusikan persoalan sejarah dan revolusi yang sudah menjadi mitos. Kalaupun ada yang memperbincangkan, sudah bisa dipastikan aka mengalami konflik batin, antara keberanian dan mitos tangan kiri yang terkepal. Pada akhirnya kita akan menemui diri kita menjadi sosok yang mengerikan. Ngelantur kesana-kemari soal revolusi yang sudah-sudah, meski gagal, sekalipun siapa yang diajak ngelantur sudah paham bagaimana ending ceritanya.