Laman

Jumat, 21 April 2017

Menjenguk Filusuf yang Kangen Mati

Dimuat di Radar Surabaya, 15 Januari 2017


Dongeng di kursi kereta

dalam aniaya mulut kecut
tiap sel tubuhku bersumpah

tak ada dendam antara kretek
dan gerbong kereta
sahabat yang saling menjelaskan
napas negara dunia ketiga

barang-barang penumpang
saling silang, menunggu
bibir-bibir hitam asongan
menandai

: malam turun lebih cepat
dari biasanya

alir sungai dalam kepala
mengalir ke stasiun tujuan
ke peron yang genit
menuntun ke remang
stasiun lain yang lebih malam
menandai panggilan
kekasih yang tak dikenali

dalam aniaya bisu
dongeng kursi kereta
menyala

nomor-nomor telepon
yang tertukar
tubuh yang tertukar
cinta tertukar sebagian

kursi kereta
mengenali napas obrolan
dan sebuah janji
cinta yang lebih panas
di kereta yang lain

Jakarta, 2016




Penipu dalam cerita si hex

dimana kau sembunyikan
jejak orang asing
dan mata penipu
dalam ceritamu, hex

semalaman ia mengawasi kita
obrolan dalam seplastik
kemenyan yang dititipkan
di jaketmu

betapa halus mantra itu
membuat kita asing
di bawah nyala lampu
betapa wangi jejak itu
mengusir aku
(yang tak pernah ada)
dari kulitmu

malam gelap usai gerimis
membuat jejak kian dalam
seperti kisah hantu
mata itu mencuri panasmu
yang lama tiada

di tubuhmu aku mengusir
bau hantu di jejak penipu
agar kau ingat aku
dalam ceritamu

Jakarta, 2016


Menjenguk filusuf

menjengukmu di rumah sakit
dua hari lalu
aku teringat filusuf yang mati

dalam melankolika
wajah yang cemas tiba-tiba
merangsang tiap sunyi
dinyanyikan
: nada minor dan gesek biola
yang dipaksakan

apa kau akan mati?
seperti firaun yang berani
mendebat metafora
dalam semiotika tuhan
habis dan bangkrut
di kertas saham

demam di keningmu hanya pijar
mencairkan biji-biji es
dan wajahmu yang bola salju
aku pernah mencair di sana
mengalir ke ceruk berair
punggung arjuna

menjengukmu di rumah sakit
sekali lagi

aku tak ingin kau mati
seperti filusuf yang kalah
di panggung dangdut

Jakarta, 2016


Luka dari kartu pos

sebaiknya kau tak perlu pergi
cintaku yang masam, menunggu
menggelitik perutmu
dengan kepak sayap kupu-kupu

kita akan berjanji
mencuri siang kota batu
penghangat perjalanan

kota yang penuh rumah sakit
menyimpan kita
saat malam berdentang
pelan-pelan
”kebahagiaan akan mengungsi,”
ucapmu, sembari menangis
menyaksikan warna-warna cerah
di kartu pos seorang kawan

seperti apa wajahmu sekarang?
seandainya kau tak pernah pergi

Jakarta, 2016

Tangismu seperti kota

masuk ke dalam nyala neon, aku melihatmu
menangisi sepanjang jalan thamrin

cinta yang tumbuh di grand indonesia
baju-baju dan kita disemprot ac
perpisahan kita disemprot malam
disemprot semburat lampu

kau menangis seperti musik dangdut
berdentam di lapak kaset
dan membuat kota sebagaimana aslinya
(kusut, bernanah dan ngeri)


Jakarta, 2016

Senin, 20 Februari 2017

Perempuan dan tidur


Perempuan itu meremas tanganku usai memberiku tidur. Matanya nyalang seperti protes klakson Jakarta menjelang magrib: cerewet tanpa penjelasan. Menghampiri sekali lagi dadanya yang bantal. Kupeluk tubuhnya sampai ia berkata, ”apa kau ingin tidur dengan mata terbuka?”

Selepas mandi, tubuh perempuan itu mirip bokong pizza: licin, haram, panas, memabukkan dan tiada. Aku pernah ke sana untuk mabuk dan minum-minum sampai larut. Sampai perempuan kembali memberi tidur yang gemas.  
Dia kerap membuatku menyala di pukul tiga pagi. Saat aku melancong             ke tengkuknya yang getas. Ada api menjilat mengimbangi lidahku sampai pertarungan diakhiri sebotol minuman bersoda.
Begitu manis cintanya hingga berhari-hari tak kembali?

Tapi aku bersabar menunggunya pulang. Saat ia mengentuk pintu kamar nanti
aku akan melompat ke jantungnya. Menyaksikan urat sepi berdegub pelan-pelan; memompa rindu – waktu – yang digugurkan tualang.
Di jantung perempuan, aku melihat cinta diiris melintang seperti makanan cepat saji yang ia pesan satu jam lalu.

Aku kerap menyaksikan ia bersama kata, paragraf yang membelah-belah
rasa sakit. ”Kita tak perlu sendirian, malam ini,” ujarku.
Tapi langkahnya ke kamar mandi melenyapkan tubuh dan ingatan.
Kita sama-sama saling melupakan saat aku dibakar kesibukan kantor-kantor aborsi dan ia dilenyapkan tidur siang.

Kepergian perempuan adalah kesetiaannya menyalakan lampu kamar, menjahit, dan memberiku tidur seperti biasa. Ia juga mengangkat jemuran ketika hari hujan. Mengepel genangan air dari genting yang bocor. Tapi, perempuan itu tidak lagi menyapaku. Hanya sorot matanya sesekali menyisirku sembari mengolesi minyak zaitun.

Aku diam dalam pangkuannya. Aku menyala diantara cintanya yang tak ada.
Di pahanya yang bantal, tersimpan arsip tidur. Di tengkuknya yang gemas cintaku tumbuh. Di tubuhnya yang perempuan, aku tidur lagi sebagai kekasih yang tak pernah ada; yang tak pernah ia ingat sebagai cerita.



Jakarta, 2016

 gambare dalbo

Minggu, 05 Februari 2017

Cabai Mahal dan Mencret Massal

Curhat dan Analisa Peramal Togel (yang Gagal)

Sekarang harga cabai mahal. Kalau harga mas kawin sudah melangit sejak dulu. Setelah ini apa lagi?
Saya tidak ingin menyalahkan Jokowi soal cabai. Saya khawatir para pendukungnya marah. Pakewuh kalau nanti dibilang haters. Dianggap simpatisan Prabowo, meski Gusti Allah tahu saya ndak nyoblos pilpres kemarin. Saya takut juga diciduk dan dibilang makar. Karena, pengertian ”makar” itu makin kabur saja akhir-akhir ini. Terlebih lagi pemerintah sekarang ”hangat-hangat tahi ayam”, terkadang mbodo, terkadang melas, terkadang galaknya setengah modyar. Tentu saja tidak sulit ”menertibkan” kelas coro seperti saya ini, jadi saya takut. 
Soal cabai, saya hanya ingin ngedumel sendiri. Soal siapa yang bersalah, saya tak mau ambil pusing. Kalau ada pihak-pihak yang membiarkan harga cabai naik, ya, monggo saja. Jangan nanggung-nanggung dan kalau bisa sekalian menaikkan harga rokok, kopi saset dan kalau perlu menarik bayar pada oksigen yang rakyat hirup. Keinginan saya ngedumel itu karena saya mafhum  kalau ”kata-kata” itu sudah tak punya power untuk membuat bising telinga-telinga buntu. Apalagi para spekulan cabai ndak mungkin baca blog ini.
”Kalau kau pesimis dengan kata, untuk apa kau menulis?”
Terus-terang saya serba pakewuh dengan banyak pihak apabila saya hanya jadi penonton yang gemas sendiri. Saya sungkan dengan adek mahasiswa yang masih berpikir bila saya adalah mantan anak pers kampus. ”Anak pers kok tidak kritis!” Padahal saya berhak tidak peduli dengan anggapan-anggapan itu. Bukankah pers mahasiswa itu suci dan tidak bicara soal remeh-remeh urusan dapur; urusan yang nyelempit sudut genangan busuk pasar sayur. Mereka akan turun dengan sendirinya kalau yang dibahas itu sangat prinsipil, seperti: filsafat, pertentangan ideologi, atau teori nganu... nganu...
Saya ndak enak dengan tetangga kos yang kebetulan ngopi di warkop dan tanya pada saya, ”itu harga cabai mahal, kagak lu tulis? Tega amat pemerintah sama kite-kite. Lu tulis, dong. Elo kan orang tipi?” Kalau sudah seperti itu, saya harus bagaimana? Inilah yang berat buat saya. Meski mereka tidak paham dengan pekerjaan saya, tetapi apa, ya, saya terus-terusan nyengir kuda menaggapi kata-kata mereka. Kalau pun saya boleh sedikit menggawat-gawatkan, tentu saja segala yang sampai pada kita adalah ”ayat”, dimana ia datang bukan tanpa maksud. Ini adalah semiotika tuhan yang mesti saya terjemahkan walaupun sering gagal. Ya, saya ini gampang dibikin sungkan, tetapi untuk potongan saya sekarang, saya ini bisa apa? Kalau pun terpaksa jadi tulisan entah apapun bentuknya, tentu saja ini sekedar gugur kewajiban.
Kembali lagi soal standar harga mas kawin, eh, maksud saya harga cabai yang mahal. Saya pikir, kejadian ini bukan tanpa sebab atau berdiri sendiri. Kalau saya boleh lanjut untuk menggawat-gawatkan, tentu akan banyak pihak yang terseret. Jangankan menteri perdagangan, Jokowi, demit alas, atau bahkan Trump ang baru terpilih juga bisa kena. Bahkan Obama yang sedang menikmati masa pensiun sambil main karambol di pulau pribadi salah seorang pendukungnya pun juga bisa diseret-seret untuk dipersalahkan dan dikemplang. Termasuk saya.  
Tapi, saya tak mau terus menggawat-gawatkan. Saya takut dengan omongan dan caci maki pengguna Facebook Twitter dan pengguna medsos yang lain. Mereka teramat sadis kalau sedang kumat nyinyirnya. Saya bisa dibuat terkenal oleh mereka dengan dipajang-pajang, dibuatkan meme oleh para bodrek-bodrek zaman. Saya takut! Mereka tentu lebih gampang mencari saya ketimbang mencari siapa sudrun keparat yang bikin cabai mahal. Pikiran saya lebih mudah ketebak ketimbang rencana membuat cabai langka dan akhirnya punya dalih impor.
Orang macam saya ini sudah waktunya realistis dan tidak lagi perlu mendidih memikirkan harga cabai. Kalau ndak terima cabai mahal, ya, ndak usah makan pakai sambel, meski saya sangat doyan masakan yang pedas. Marah-marah di Pasar Jembatan Lima sambil orasi mengutuk harga cabai yang mahal juga lebih gawat dan dikira stres. Wajah saya bisa diburu-buru bogem mentah tukang sayur. Karena nantinya harga cabai tak akan turun dan saya juga tidak akan dapat gratisan cabe barang sebiji.
Kalau harga cabai tak diizinkan naik oleh Gusti Allah, tentu sesengkuni apapun spekulan, pemain, pemerintah, tidak akan mampu melonjakkan harga. Kalau pun sekarang harga cabai mahal, yang perlu dilakukan adalah melihat hal ini sebagai cermin. Mungkin saja ini sekedar uji kesabaran rakyat. Ada juga kemungkinan bila Allah sedang melatih kedigdayaan kita mengubah beban hidup menjadi bahan tertawaan, atau mungkin ini adalah jalan menuju kemurahan rizki-Nya. Atau perkiraan yang paling sudrun, kenaikan harga cabai ini akibat bibir kita terlalu pedas pada gejala-gejala; terlalu sumbu pendek dengan kejadian; dan terlalu gemampang menyalah-nyalahkan. Dan harap dicatat: ini adalah nasihat untuk diri saya sendiri, bukan untuk pembaca yang budiman.
Saya ini bukan ekonom pilih tanding yang bakal menganalisa meroketnya harga cabai dengan ekonomi makro-mikro sebagai dasar. Saya tak lebih dari pendongeng yang jurus utamanya adalah cocoklogi yang menganggap kenaikan harga cabai adalah bentuk sayang Allah pada hambanya. Apa jadinya kalau kita kebanyakan makan cabai di tengah dagelan politik seperti sekarang? Tanpa cabai pun, hati dan bibir kita akan pedas dengan sendirinya. Kalau ditambah-tambah dengan sering makan cabai, Indonesia akan mengalami kondisi mencret massal.
Mungkin kondisi mencret massal itu adalah kepungan hoax di kehidupan kita. Semburat informasi yang panas dan tidak jelas bentuknya seperti halnya mencret kita semua. Kalau dulu, situasi mencret itu hanya ada di media massa, tetapi sekarang semua orang juga bisa mencret. Puncratan hoax yang ada dari masing-masing orang berbeda-beda kadarnya, bergantung seberapa banyak mulut dan batinnya makan sesuatu yang ”pedas”. Yang lebih parah adalah, puncratan-puncratan hoax tersebut ditelan mentah-mentah, diyakini dan dijadikan bahan berdebat dan ribut dengan orang lain. Kalau wong-wong menyebut dengan istilah post-truth. Tentu makin pedas sekali hoax itu di kepala dan di hati kita.
Sebelum anda semua semakin emosi dengan analisa (ngawur) saya, maka sebaiknya tidak perlu diambil hati. Anggap saja ini hoax jenis curhat yang berangkat dari keputusasaan dan rasa pakewuh pada kanan-kiri. Lha kalau anda semua emosi, tentu bukan saya yang salah. Saya hanya aktifis pemerhati togel dan peramal angka buntutan yang gagal. Kalau saya boleh GR dan merasa ada yang bakal panas dengan kata-kata saya, maka maaf saja. Saya hanya satu diantara kerumunan massa yang sedang ikut mengalami mencret massal. Bakul lombok sedunia, Al Fatihah.
Ya, sudah kalau begitu. Saya ke kamar mandi dulu.


Citra D. Versti Trisna
JKT 48, 5 Februari 2017 

Jumat, 03 Februari 2017

Suwung Kopi

Kau adalah suatu ketika yang kusembunyikan. Suatu putaran masa ketika debar jantung tergesa-gesa dan terus merapal mantra: memanggil malam. Mungkin kau lupa, jiwa kita pernah berlesatan di hotel murah tempat Camus menulis cerita porno ”Pemberontak” dan Marx menghitung ulang nilai lebih.

Ah, mungkin kau lupa cara menyembunyikanku di sebalik kutangmu ketika orang tuamu memastikan apakah kau telah pulas atau sedang mengingat-ingat percumbuan kita diantara deret baju di Thamrin.

Selalu tak lupa: cara kita saling merajah nama kita diantara gemetar batu-batu. Diantara tanggal tua sekelam wajah orang tuamu yang membayangkan kita berjalan beriringan di busuknya rumah-rumah kardus di Roxy. Semua seperti tergetar, sayang, sebelum beberapa detik aku cium keningmu dan mengusap leleran peluh. ”Sebentar lagi pagi, sayang,” ucapmu. Aku tahu, sebentar lagi dentang lonceng gereja akan membawamu pergi dan aku berdiam sendiri di warung kopi. Mengingat-ingat nama hari dan mencari tahu siapa pengarang jatuh cinta.

Kita tak pernah lupa cara menari diantara bebauan kopi pagi hari. Warung-warung murah yang kita bayangkan seperti cafe mahal bandara dengan bau kemeja (yang lama dilipat di koper) orang lalulalang.

Kau cantik malam ini. Tapi, aku hanya sendiri. Kau tiada lagi. Mungkin kita sama-sama tua dalam tualang; dalam kepergian yang aku tahu pasti, akan kembali lagi.

Sayang, kopi tinggal separuh dan rokok tinggal sebatang tapi malas turun untuk membeli itu rasanya jancuk sekali.


Kosan Lantai Dua Setia Kawan Tiga Yang Ada Sofanya, 2 Februari 2017
Dalbo

Selasa, 31 Januari 2017

Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni

Tulisan ini buat saudara Eyang Abiyoso  yang sudah tidak lagi bandel dan berjanji untuk segera serius lantas rabi. Tulisan ini juga buat guru saya yang sudah bahagia selama-lama-lama-lama-lamanya. Al Fatihah. 


suatu ketika di pulau tak berpenghuni
            -al hakim

tabik untukmu: lelaki yang melolong tengah malam
melebuhkan setiap orang dari penjara

di tanah logam kau berjalan memutar. mencari puak
untuk dilahirkan kembali di sebuah episode

“jaman telah membaptisku, jaman telah membaptisku!”
ucapmu sembari mencari mabuk; persetubuhan yang getas

saat pengusiran tiba, salam perpisahan dibacakan
mantra-mantra yang cemas meloncat ke mata seorang gadis

pergilah, kau! dengan banyak resah yang kau gendong dengan selendang warna tanah, menuju ke laut

ke pulau coklat tak berpenghuni. tempat jasadmu hangus
ditumbuhi pohon oak yang menyanyi tiap malam menetes sepi

(2014-2015)

warung kami


kami hidup di sini.
dalam cemas ampas kopi
anak-anak kami lahir
menuju lalulalang
yang menggelap
pelan-pelan

(2015)


panggilan kami

tiba-tiba saja kami jadi tua. kami tak punya kata
menunjukkan cara menangis; mengukir peta di batang trembesi
agar kau tahu jalan pulang dan menjadi kami: petani yang bahagia menyimpan marah dan mesjid di saku celana.
mengayuh sepeda ke kota, tempat banyak tuhan berkelahi menciptakan teror dan jam-jam malam. tapi kau enggan pulang membuat kami diasingkan rindu. tak ingin pulang kah kau?
dengar, sejak kemarin meja-meja menyanyi. pohon asam di pinggir sawah diam tak melambai. kursi-kursi warung tuak ngelangut, memanggil nama-nama kekasih di rantau
yang hampir terhapus seperti suratmu tahun lalu:
“aku bahagia lantaran tetap menyimpan desa di kota ini.
menyimpan surau di dalam hati.” ucapmu
tapi kami terus jadi tua, dan berhenti memanggil

(2015)

suatu ketika di pulau tak berpenghuni 2

kau bersabar dalam petak kamar penuh deret buku. mencari kebenaran dari setiap “ada” —di tusuk penghianatan yang perempuan—dan mengingkari eksistensi remaja muda: pidato.

“siapa itu bertelanjang? kurus di jendela macam orang busung lapar. kudisan, pula.”

matamu meneleng. kau memafhumi bila bayangan itu adalah sebagian dari dirimu yang kelaparan dan menagih haknya. kau menari, menggerak-gerakkan tanganmu ke depan, ke belakang, ke segala arah yang ramai suara. membiarkan tubuhmu lengket kringat bau apak. menangkap ide yang berkelindan.    
"kulit juga punya mata, kau tau itu?”

di pulau tak berpenghuni kau tak berhenti menelisik sawang di langit-langit kamar. lalu matamu nyalang, benci. “aku khidir kw dua yang diutus tuhan ke sini, di tempat penuh patung berjajar dan memperkosa kesesatanmu.”

(2015)

pada ning bunyi

untuk sekelumit ingatan

aku pusatkan pendengaranku

pada ning bunyi.


yang lebih sunyi dari sunyi

bisik-bisik paling menggigit

di batin


saat itu aku diam

menemukan wajahku

menangis sendirian



(2015)



Citra D. Vresti Trisna

tau dimuat nang jawapos

Madura dan ... (sembarang isien dewe)

Madura adalah ”ayat”. Madura adalah ”Gatholoco” dalam bentuk yang lain. Ia mempertanyakan banyak hal di luar-dalam kehidupan kita.
Mungkin di luar sana, di sekitaran kita (yang tinggal di kota), Madura  nampak sebagai sesuatu yang ”menggelikan”. Olok-olok yang terkadang menyakitkan. Madura jarang absen dari anekdot-anekdot getir serta penggambaran akan ”kampung terasing” yang seakan-akan beribu-ribu kilometer jauhnya dari sesuatu yang mambu modern. Madura kerap dihadirkan di sepetak nilai dan standar-standar angkuh yang sebelumnya telah kita monopoli kebenarannya.
Meski demikian, Madura nampak tidak gemetar dengan itu semua. Masyarakat Madura yang belum kehilangan jati dirinya — di plosok-plosok desa, di gunung dan pesisir — tetap berjalan sebagaimana yang mereka yakini. Mereka menjalani hidup dengan memegang teguh ”harga diri” — sesuatu yang telah lama kita tinggalkan — dan tak rikuh dengan berbagai anggapan. Mungkin ini bagi orang tua yang dulu pernah saya kenal sembarangan di warung, di kampus, di rumah teman. Tapi bagi generasi mudanya... ah, saya sungkan sendiri jadinya. 
Tentu ingatan tentang restu pendirian Nahdatul Ulama tidak lepas dari kiyainya. Sehingga, bagi para dedemit konsultan politik para cagub dan capres harus memperhitungkan itu dan memasukkan Madura ke dalam peta strategi tersendiri. Berbagai keajaiban mengenai realitas pemilihan calon kerap dikejutkan oleh keajaiban-keajaiban di luar nalar dan logika politik. Terlepas baik-buruk hal ini, tentu rasionalitas mengenai teori marketing politik dijungkir balik di tanah gersang ini.
Ada apa dengan Madura? Meski saya sudah menghabiskan enam tahun masa studi di pulau garam dan satu tahun duduk di meja redaksi surat kabar lokal di Madura tetap tak membuat saya mengerti dan bertemu dengan “Madura” yang sebenarnya. Kalau pun ada kasus-kasus yang terjadi, tentu itu hanya di kulit luar dan tak sampai pada substansi.
Masyarakat Madura menghantam segala kemapanan dengan pola pikir masyarakatnya yang ”lugu” tapi lugas; yang terkesan ”memalukan” namun agung. Di dalam, Madura terbukti menjungkir balik toko rasionalitas dari Universitas — sebut saja Trunojoyo (bukan nama sebenarnya) — hingga bertekuk lutut. Kalau ada yang perlu bukti, pengujian, dan segala metode taik kucing agar akademisi percaya!? Mudah saja: suruh saja, kampus mengelola parkir tanpa sedikit pun melibatkan ”preman”.
Bagi orang yang punya kejelian mripat, tentu dapat melihat dengan jelas bentangan spanduk bertuliskan: ”letakkan rasionalitas anda di dalam kulkas dan perbanyaklah maklum!” Konon malaikat Jibril yang memasang spanduk tersebut agar anda tidak kecele alias tertipu dengan berbagai gejala yang mencuat. Karena Madura terbukti menjungkir rasionalitas yang dianggap mapan di segi apapun, baik soal kasak-kusuk kemenangan Soekarwo, remuknya tukang mebel asal Solo pada pilpres di empat kabupaten, dan menghajar pseudointellektual hampir seluruh penghuni kampus.