Rabu, 10 Agustus 2016

Betis Kekasih di Bulan Desember

Rogojampi pukul 00:00

malam hampir perempuan
jam dinding beku pada pukul 00:00

pejalan mematung. rumah-rumah pergi
mencari pulang dalam ransel
perang dunia di mata seorang gadis
menelan dengung sirine

hujan turun. malam jatuh. jatuh
gonggong anjing bulan di setengah tarikan mantra
tenung yang dibikin dari tarian di tengah sawah
menyala-mengisi lagu malam dendam

“selamat malam rogojampi.”

pejalan menjatuhkan tahun-tahun
di kursi panjang. bunyi dengkur halus
pria tua yang keningnya bau lampu
mendongeng. kisah kematian
yang mengungsi

ada rindu petik gitar menjauh
suara perempuan yang dadanya rindu
kekasih. menyalakan korek api dari malam minggu
tragedi, televisi, suara nakal dan buku sihir yang melipat
rogojampi menjadi garis-garis pagi
(2015)

Sakit kepala di pesta kebun
            -kepada yuslisut

mata, rambut dan struktur giginya lapar
menunggu bau bandeng digoreng
            di rumah seorang kawan
sepiring nasi disajikan dari kemiskinan terstruktur
negara yang tak punya istilah

di pipinya yang berminyak, melekat biji puisi
            rumus ekonomi:
bahasa yang mendongeng, cerita kekasih
ditulis di layar kalkulator, rekening bank
siraman kuah sayur di layar komputer
menciptakan sakit kepala; anak-anak kuliah
mengarang mantra di pesta kebun

“dimana tempat orang merayakan hari libur,
di situ aku bersembunyi.” ucapmu

tali gantung diri kah yang mendekat
pada mimpi (yang kubayangkan) seperti kamus
sastra lapak dan kartel gatholoco?
di dekap kritik tajam yang kehilangan identitas
kau tersenyum

sebuah kaca di meja belajar akan membantumu
menulis kisah padi di atas kartu remi bergambar
ikan bandeng, kuah sayur dan sambal trasi
(2015)

Desember

halo desember!
yang membuatmu cantik adalah gelas kopi
sebuah asbak dari kayu gharu dan hari libur

rencana selfi di perut televisi saat konspirasi
tidur pulas. saat itu kita bisa hidup manis
dengan bungkus energen di ruang tamu
kutang pelacur dan sebungkus pecel

kita adalah asal usul telanjang dalam kitab porno
hasil penelitian profesor anu
saat kepala yang terpenggal adalah anggur merah
peresmian ulangtahun asosiasi ritel
mengingatkan arti ber-KB, mati muda
dalam data-angka statistik

halo desember!
jaga kesehatan agar kau tak mati dalam spekulasi
ya-tidak bermaterai 6000 dan tali gantung diri
(2015)


Betis kekasih
: kekasihku, dedes

di betismu, kasih
semiotika yang mandul mengeja ardhanareswari
definisi dan bahasa yang diperkosa kamus

di betismu kah peta yang mengantar kami
ke inti hijau. desa panggul
kejayaan yang mengungsi dari bedil
memenjarakan penjaga candi-candi di ruang mitos
konsumerisme dan hotel kelas melati

kasih, biar aku telusuri betismu dengan napas
kredit motor-mobil agar kami lebih mengerti
kedengkian bangsa-bangsa. marang cahaya
wahyu keprabon yang melesat-menjauh
dibawa kontainer yang setia

ke barat
(2015)

Sebelum-setelah tragedi

tragedi, setelah hujan
adalah selamat malam
yang biasa saja
seperti lelaki dari ujung kabut
pulang muram

lampu merenung
mengawasi jalan,
mengajak menangis. tragedi
sepulang mengaji
darah kesekian yang tumpah
di matamu-mataku

menjelang pagi
perempuan sunyi memasak
kenangan pemuda kota
terjebak tragedi
rumah-rumah gila
tak pernah kembali

(2015)

Pernah dimuat di nusantaranews edisi July 31, 2016


Selasa, 19 Juli 2016

Rumah Sakit Jiwa Raksasa

 Di kota ini kita bisa saling melambai seperti alien dihadapan sekumpulan orang asing. Kita juga bisa saling melempar senyum lalu saling melupakan.

Di kota ini, tempat dimana uang bisa membuatmu diperlakukan seperti raja. Uang juga bisa membuatmu lupa dan menganggap orang yang melayanimu tak lebih dari handuk yang mudah di buang ke keranjang. Setelah diantara kita merasa mampu membeli bulan madu dengan makan malam romantis dan sedikit membeli hidup tapi sejurus kemudian kehilangan identitas. Kehilangan kepercayaan dan tak menginjak tanah.

Di kota ini kita bisa saling membesarkan dan merawat satu sama lain. Karena kota ini telah menjelma menjadi rumah sakit jiwa raksasa. Dan kita semua adalah penghuninya.

Di rumah sakit jiwa raksasa ini, bayi-bayi akan terus lahir. Mereka tumbuh menjadi orang asing, menjadi pot bunga yang ditanami kembang-kembang ideologi, kemarahan, pertentangan, dan sperma iblis. Mereka akan tumbuh jadi penghisap lem kertas atau bocah yang kehilangan tempat dan waktu bermain lantaran menyuntuki sekolah-sekolah internasional untuk mencari kunci mobil di bra molor janda-janda kota. Menyuntuki kursus bahasa asing agar mampu menginjak kepala orang lain dan memaksa korbannya terus menghisap lem kertas sampai mati. Lalu bocah itu beranak pinak pula.

Di rumah sakit ini kita akan sama-sama tua di ranjang empuk bau obat-obatan. Menyadari begitu jauh kita melancong dan meninggalkan rumah kemanusiaan. Lalu ingatan akan mati mengundang wajah bapak ibu, kemanusiaan di pegadaian, welas asih di tali jemuran dan wajah sahabat yang pernah kita sembelih dengan canggih.

Di rumah sakit ini, mainan-mainan modern perlahan merubah kita menjadi pelacur berkaki satu dengan leher terjerat dan mulut tersumpal kaus kaki baru. Semua demi liburan luar negeri, pesta ulang tahun, bau porselen mall dan hotel penuh sperma yang kasat mata. Semua demi ketika membuka mata di pagi hari, tak ada porselen, selang infus, kemoterapi dan rambut yang berguguran. Padahal kita tak pernah kemana-mana kecuali mengantre di kuburan.

Di kota ini, kita lupa cara mencumbui kemanusiaan lantaran terlalu lelah dan bosan mencumbu bibir suami-istri. Kekasih-kekasih kita terlampau cepat menjadi orang asing.

Di kota ini, sungguh... Terlampau indah untuk bisa kita kencingi pojok ruangannya.

Di kota ini, sungguh... Terlampau indah resto dan cafenya untuk kau lewatkan tanpa mentraktirku makan malam.


Jakarta, mau tanggal tua Juli 2016

Citra D. Vresti Trisna

Minggu, 17 Juli 2016

Waktu Puisi Berhenti

Kepala lelaki
            : kepada kekasih es

melancong dan berenang dalam isi kepala
saat jam dinding beku-ngilu

siang hanya merangkak ke punggung lelaki
yang menyama-nyamakan kelaminnya
dengan kampus-kampus berpendingin

lelaki, mengaji adalah ingatan
sekoper perempuan dengan kepala berlubang
tembus ke neraka, ruang tamu
dengan televisi layar datar, menerangi
isi kepalamu dengan kunci mobil
pencekik leher dan obat kuat

pergi jauh ke dalam kepala lelaki
tempat angsa, kelok sungai lenyap
manusia digiling menjadi kaleng minuman
yang gagal memahami:
embun adalah jalan peluk-cium tuhan

bukan jembatan
tempat perempuan-perempuan melintas
lindap ke pelukan lelaki berpenghuni
(2015)

Bunyi identitas

memahami bunyi
langkah kaki pria bersepatu warna tanah
adalah sedepa dari pelajaran:
pengembara tanpa jas hujan
adalah roh identitas pencari alamat
di jalan struk atm di dada seorang
gadis nomor 5 dengan kode pos 34b
identitas adalah memahami asal bunyi
ning tersamarkan. obrolan desa, batu-batu
warung kopi. jalan setapak sebelum malam
tertimpa deras bulan dan keruh ingatan
bocah ngelangut: ketakutan di meja belajar
yang penuh ibu-ibu berdaster bau ayah

bunyi identitas ini, duhai
yang mengantar ke tempat gelap-hangat
dan asal-usul
yang tak mungkin didatangi lagi

(2015)

Waktu puisi berhenti  

malam jatuh telanjang
sepi menenun seorang gadis

“pukul berapa ini?”
sebaiknya puisi diakhiri
benar-benar berhenti
ke pelukan kekasih, tapi
malam masih “malam”

perempuan, adalah caramu
mencintai lelaki
lewat perseteruan dua ritel
yang berjanji dengan sebotol anggur
di ji-expo, kerling mata teori nilai lebih
juga sebuah iklan neon
datanglah pada kami
rumah gila sehangat kekasih

dan puisi benar-benar berhenti
(2015)

nb: tau dimuat nang Banjarmasin post edisi Minggu, 26 Juni 2016

Rabu, 24 Februari 2016

Sembahyangku Menggosok Batu-batu

Mencari batu-batu mulia yang bagus untuk dijadikan akik itu bisa ditemukan dimana saja. Kita bisa sembarangan mencarinya di pinggir pasar burung, warteg dan genangan air bau di pasar-pasar tradisional. Pada awal batu itu ditemukan memang terasa agak jelek dan bau. Tapi, setelah digosok dengan sabar, batu tersebut akan jadi cantik dan bau genangan air pasar akan hilang. Sejarah dan asal-usul batu tersebut akan lenyap, tersembunyi di balik kilatannya saat ditimpa cahaya, serta siapa pun akan berebut ingin memakainya.
Selama ini, ramainya akik dan segala keruwetan prosesnya saya artikan dengan bodoh sebagai ”ayat” yang memperingatkan manusia agar jangan sampai malas untuk ”menggosok kedunguan”. Gesekan-gesekan pada batu-batu tersebut, bagi saya, nampak seperti menggosok kedunguan dan proses mencari kebenaran sejati. Proses pemisahan kesejatian kebenaran dari debu-debu subjektivitas dan segala najis-tahayul modernisme penyebab kangker testis, untuk menemukan permata pemahaman, keadaran dan hikmah hidup. Setelah terpisah dari segala kotoran, batu-batu tersebut diikat oleh emban (tali) cinta agar dapat dipakai; agar pancaran keindahan tersebut tidak lantas menjerumuskan karena sudah diikat cinta.
Semakin bagus akik, semakin melangit harganya. Soal narasi dan mitos apa yang dibangun bersama proses jual-beli akik tentu bermacam-macam, bergantung pada latar belakang pembeli dan penjual. Kalau yang sempat sekolah, boleh kiranya menanyakan sertifikat dari uji laboraturium yang menunjukkan tingkat kekerasan batu, tingkat ketuaan, tingkat kedunguan, dll. Kalau kelas tukang beca macam saya, halal hukumnya untuk mengaitkan akik dengan mitos Nyi Rorokidul, pantai selatan, demit dari negeri antah brantah. Dan yang paling puitis dari proses jual beli adalah kesepakatan: jadi beli atau hanya basa-basi kosong.  

Selasa, 23 Februari 2016

Tahun-tahun Penuh Rindu Laut & Kembang Cahaya

getah tahun

tak perlu takut pada getah tahun
ia hanya perekat yang dicipratkan
pada pisau dapur agar bulan robek tertikam
dan cahayanya bocor memenuhi telaga
malam akan jadi secantik dan secerdik kau
melarung cinta kita usai pasar malam

(2015)

mawar merah

kuhadiahkan padamu seikat mawar
merah. menyala seperti celana dalammu;
seperti kemarahanku hingga aku terburu-buru
meninggalkanmu menangis
sendirian

(2015)

Senin, 22 Februari 2016

Tidak Sombong Pada Pecinta Sinetron dan Lagu-lagu Cinta

Dalbo Survey Center (DCC)
Tentu lagu cinta menye-menye di televisi itu bagus untuk generasi muda kita. Apalagi penyanyinya adalah remaja tanggung usia SD, SMP dan SMA. Makin cengeng lagu, tentu makin asik didengar.
Yeah, jayalah terus tayangan macam Inbox & Dahsyat. Tidak ketinggalan sinetron-sinetron tak mendidik. Abadilah kalian dalam... dalam...
Duh Gusti, tidak tahu mengapa, saya kok dibikin jadi kian sumringah dengan realitas lagu-lagu cinta dan sinetron remaja hari ini. Saran saya, kalau perlu semua TV nasional rajin menyajikan komoditi macam ini. Demi apa? Tentu saja rating. Tanpa rating yang tinggi, iklan macet, tidak ada pemasukan ke media. Kalau sudah seperti itu, apa karyawan televisi disuruh ngerikiti kamera sampai kenyang?
Lalu, orang nganggur macam apa yang berani-berani menuntut televisi dipenuhi pengajian dan dzikir massal? Apa yang bisa diharapkan dari acara nangis massal sambil berdzikir? Apakah acara macam ini mengisyaratkan bila begitu dekatnya neraka di kulit kita, sehingga perlu menangis, merayu Allah agar iba, meski sepulang pengajian, ya, mohlimo lagi.
Kecoak macam apa yang berani memaksa televisi menayangkan siaran ”berkualitas” semacam diskusi intelektual muda universitas. Apa para pemilik televisi itu para drop out yang dungu soal selera pasar? Apa para pemili media itu membiarkan karyawan mereka kaliren menahan lapar lantaran acara mereka tidak laku di iklan? Bukankah masyarakat begitu mengenal karakter mahasiswa hari ini yang hanya ”revolusi” sampai skripsi. Selepas merasakan kuah kemapanan lantas sesegera mungkin menari bersama di pos-pos kedzaliman sambil mengencani satu-dua-tiga-sepuluh purel karaoke. Melucuti pakaian mereka dengan iringan ndangdut koplo yang menghentak-hentak nurani. Atau mungkin ada tukang kritik televisi yang keblinger punya ide-ide sudrun lainnya dan menyarankan televisi menyajikan tayangan bedah buku-buku sosial yang justru kerap membuat pembacanya asosial?
Pemilik televisi di Indonesia, teruslah jangan cemas dengan tuntutan mahasiswa. Namanya juga aktivis gaya-gayaan. Tidak perlu seberapa diambil pusing rewelnya mereka. Teruslah di jalanmu kini. Tabik.
Terus terang saya tak habis pikir mengapa dunia jadi penuh sesak dengan para hakim moral. Makin banyak sales-sales yang menjajakan ideologi, wacaca, budaya alternatif yang moralis. Betapa ramai tuhan-tuhan kecil yang menilai benar-salah dan mengurusi orang menonton televisi. Kalau dulu, pelakunya adalah MUI, lha kok sekarang aktivis-aktivis muda ikut ketularan.  
Bagi saya, tuntutan-tuntutan aktivis hari ini terlalu tinggi. Apa yang mereka tawarkan tidak lebih dari nilai-nilai lama, ideologi usang, juga impor penelitian-penelitian dari negeri asing yang tak sedikit pun punya rasa sungkan atas ketidakmungkinan dan tak membawa ketakjuban pada Allah. Kalau pun niat mereka berniaga nilai-nilai itu sudah bulat, lalu mengapa mereka malas mengkaji relevansi dagangan mereka sekali lagi. Mengapa mereka tak sedikit lebih kreatif menawarkan ide mereka pada masyarakat?
Kalau kemudian dagangan mereka tidak laku, mereka menyebut-nyebut para penonton televisi dan penikmat musik sebagai seorang dekaden. Ndeso.
Aktivis-aktivis hari ini terlalu malas untuk mencuci kesadaran mereka pada barang yang mereka jual. Mereka tidak mempermasalahkan dagangan mereka itu kadaluarsa atau justru membahayakan pengonsumsinya. Bukankah seburuk-buruk penonton juga punya hak untuk memilih apa yang mereka tonton? Kalau nanti para penonton itu ramai-ramai mendemo ke komnas HAM dan menuntut kalian apa, ya, ndak kerepotan. Suka bicara HAM kok dikritik soal HAM. Apa ndak malu?
Kalau para hakim-moralis-sales-tuhanbaru dan pemilik televisi sama-sama menyajikan dagangannya di pasar peradaban Indonesia, maka seharusnya pihak yang berkompetisi itu saling beradu kreativitas. Bila ada salah satu pihak yang dagangannya tidak laku, jangan lantas marah-marah dan kembali ke bilik mereka masing-masing untuk becermin.  
*
Sebuah ide selalu berangkat dari proses panjang pergulatan-pergulatan hidup. Begitu pula dengan manusia di hadapan aneka dagangan. Manusia pun akan bergulat dengan dirinya sebelum memutuskan membeli. Namun, saya juga tidak menafikan bila ada kelompok-kelompok manusia yang tak punya pilihan lain dan terpaksa membeli.
Bisakah hakim-sales-tuhan itu sedikit berendah hati dengan orang yang jenuh dengan tamparan kenyataan hidup dan memilih nyelempit sambil kebas-kebus, ngopi dan menonton tayangan tak mendidik dan mesam-mesem dengan lagu cinta? Maka, kalau suatu saat penonton telenovela dan bocah-bocah modis nyanyi lagu cinta makin membeludak, jangan sembrono menganggap mereka jahiliah dan menyama-nyamakan mereka dengan batu berlumut. Juga kalau ada mahasiswa sekarang lebih senang main dokter-dokteran di kamar kos dengan pacar ketimbang mengikuti diskusi filsafat, maka jangan anggap pecinta dokter-dokteran sebagai indikator dekadensi zaman.
Siapakah hari ini yang berhak menilai baik-buruk? Siapakah yang hari ini berhak menentukan standar nilai dan keyakinan? Atau memang hobi orang sekarang itu menentukan baik-buruk suatu keadaan dan menjadi hakim moral sekaligus menjadi tuhan?
Tentu saja masing-masing dari kita lupa bila tidak ada bayi yang sejak dilahirkan sudah hobi diskusi, suka telenovela, suka dokter-dokteran dan suka berorganisasi. Ada kompleksitas dari proses panjang manusia menjadi sesuatu. Proses tersebut tidak berdiri sendiri dan berhubungan dengan banyak hal di luar diri, baik dari segi lingkungan, agama, situasi politik, kesenjangan ekonomi, pendidikan dan banyak hal lainnya berjalin saling silang. Kompleksitas tersebut membentuk benang rumit yang hampir mustahil kira uraikan. Begitu pula dengan proses panjang memilih suka-tidak suka pada sesuatu. Meski demikian, nampaknya hakim-sales-tuhan hari ini begitu malas untuk memahami realitas ”dapur” dan hanya peduli pada ”hidangan” yang sudah tersaji di meja makan. Kalau di Indonesia ada 250 juta jiwa penduduk, maka percayalah bila terdapat pula 250 juta dapur di sana. Masing-masing dapur tersebut berbeda antara satu dengan lainnya, baik dari peralatan yang dipakai, bahan memasak, resep, subjektivitas selera, dan rasa pirasa di sana. Karena sejatinya Allah itu maha tunggal, Ia akan menciptakan sesuatu yang juga tunggal, unik dan kompleks.
Yang paling penting hari ini bukanlah mempermasalahkan hidangan atau outputnya, melainkan pada proses yang melatarbelakangi, sebelum menilai baik-buruk hidangan di meja makan. Sedangkan tiap detiknya manusia berubah, tak pernah sama. Software dalam diri manusia memperbarui diri dengan wawasan pengetahuan dan petunjuk dari-Nya. Sedangkan malaikat senantiasa merubah dan menjaga software-hardware manusia sampai manusia modyar. Lalu, kemanakah tudingan itu dialamatkan, sedangkan ”aku” yang sekarang bukanlah aku yang beberapa detik-menit-jam-hari-tahun kemudian. Dari rumitnya proses identifikasi ini pun begitu mustahil kita dekati. Begitu juga dengan banyaknya dapur yang akan ditilik untuk sekedar mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Dimana dapur tersebut tak bisa sembrono untuk coba kita pahami dari lembaran-lembaran kuisioner dan teori sosial.
__________
Lho, tidak bisa seperti itu, bung. Anda harus tahu kalau budaya jahiliyah yang diminati penonton televisi itu diciptakan dan prosesnya terstruktur. Pasar itu kan diciptakan? Gimana sih ente ini?” jarene wong-wong.
__________
Kalau pasar itu diciptakan, berarti anggapan bila dunia itu ”bergerak” itu benar adanya. Pemikiran berubah, selera berubah, ide berubah, begitu juga dengan hal lainnya. Pasar hanya akan condong pada segala sesuatu yang juga bergerak, dinamis dan mengikuti pola-pola tertentu dan inovasi-inovasi tertentu. Segala sesuatu yang dibiarkan begitu lama akan berkarat. Batu yang diam akan berlumut.
Mari kita jujur: siapa sebenarnya yang tidak bergerak? Televisi, penonton, sales-sales yang gemar mengepalkan tangan kiri atau para demit hutan? Siapa sebenarnya sedang ditinggalkan karena mereka tak ubahnya hanya batu berlumut yang cepat merasa puas dengan kemenangan dan pencapaian-pencapaian sesaat? Bisakah para sales, tuhan baru, hakim moral itu datang menawarkan pembaruan ide-ide dengan substansi yang sama tapi dengan kemasan yang berbeda? Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya bertanya: beranikah hakim-sales-tuhan mau mengakui bila televisi lebih rajin melongok ke dapur masyarakat ketimbang para aktivis yang sinis pada televisi? Beranikah mengakui kenyataan bila televisilah yang terbukti sedikit lebih mampu membaca keinginan-keinginan masyarakat yang sebenarnya sangat sederhana.
Bagi saya, televisilah juaranya. Ketika muda-mudi ngidam motor-motor mewah, munculah sinetron anak jalanan. Masyarakat pengen makan sedikit lebih enak, nontonlah sinetron yang semua tokohnya kaya tanpa tahu kerja apa hingga bisa makan dan ngopi di cafe mewah. Ketika masyarakat butuh hiburan yang berbau kompetisi, televisi menyajikan ndangdut akademi. Mas’e, mbak’e, masyarakat tuh sudah jenuh dengan sinetron politik tukang mebel munggah bale, yang justru terbukti menyengsarakan masyarakat. Sampean kan belum ngerasain kenaikan harga-harga karena masih minta pak’e-buk’e. Kalau pun lepas dari kemungkinan itu, tentu sampean adalah tipikal penikmat uang beasiswa dimana yang bayar juga masyarakat yang sampean olok-olok. Kalau pun sampean sedikit lebih tahu dari masyarakat yang ndak sekolah, itu kebetulan anda sekolah. Tapi, sekali lagi bagi saya, pengalaman anda tidak seotentik masyarakat yang sedang capek pikiran dan hati.
Masyarakat lebih kecewa dan jantungen dengan kenyataan hidup. Bisakah anda memahami, sepulang jadi kuli, sehabis muda-mudi yang ndak sempet kuliah itu bekerja seharian, mereka butuh kotak kaca yang berisi impian-impian yang terlampau jauh untuk dicapai. Lalu nongkronglah mereka di depan televisi sampai malam, lalu tidur, menjadi tua dan mati dengan beban sedikit agak berkurang. Mengapa sih anda (yang punya kesempatan menyelenggarakan hidup yang lebih rasional karena pendidikan anda) sombong dengan masyarakat kw 3? Mbak’e, mas’e, musuh terbesar dalam hidup itu bukan apa yang ada di depan mata, lho, tapi diri kita sendiri.
Hobi jadi demit
”Masa muda, masa yang berapi-api,” kata mbah’e Partai Idaman itu benar adanya. Mungkin hakim-sales-tuhan kita ini masih remaja, sehingga apinya kerap kemana-mana; tidak kontrol dan menyengat siapa saja. Tapi ini juga bagian dari proses. Sebagai remaja memang harus sering ”berkelahi”. Dan saran saya, pilihlah pertarungan-pertarungan yang tidak terlalu besar dulu agar bisa menemukan langkah-langkah kongkret dalam pertarungan itu. Tidak perlu lah kiranya memilih skup yang terlampau besar, seperti generasi muda Indonesia. Itu terlalu luas. karena ada baiknya, jadi pemenang di kampung sendiri dulu baru menginvasi kampung lain.
Dalam konteks ini, hakim-sales-tuhan yang umumnya mahasiswa mulai mencoba berjuang di lingkaran kelompoknya sendiri dulu, baru yang lain. Karena di tataran mahasiswa sendiri pun juga banyak yang jadi penggila boyband. Banyak pula yang suka nangis-nangis dengan lagu cinta menye-menye. Jutaan pula yang gembeng nangis di depan televisi menyaksikan tokoh idola di sinetron harus mati.
Hakim-sales-tuhan yang merasa mendapat wahyu mahkuroromo dan merasa berhak menyampaikan kebenaran justru terkadang sangat tidak ramah dengan mahasiswa lain di kubangan lumpur sinetron dan lagu-lagu gembeng. Mereka yang merasa benar lantas mengangker-angkerkan diri kepada orang lain yang berkubang dosa. Apalagi keangkeran itu makin terasa mengerikan ketika belum juga lulus kuliah karena takut pada kenyataan. Jadi, bila mahasiswa pendosa itu ketakutan untuk datang mencari pencerahan, itu bukan salah mereka dong? Kalau mahasiswa pendosa ini lari ke pelukan FTV, boyband, menye-menye, hangat pelukan kekasih, mall, hedonisme, cinta tulus murni Pakde Dalbo, dll. Salah gue? Atau salah temen-temen gue?
Bisakah pemonopoli kebenaran ini berhenti sejenak untuk minta dikeramatkan dan bersikap lebih bersahaja di hadapan para pendosa? Bisakah kita untuk berhenti merasa gemagah di depan dedek-dedek gemes unyu yang secara tidak sadar diancam gemuruh industri hiburan? Bukankah selama ini pemonopoli kebenaran itu hanya berani ceramah berapi-api di lingkarannya saja tapi malas untuk ekspansi. Kalau mau ngajak orang ”sholat” itu seharusnya kepada orang yang tidak sholat. Lha kalau ngajak orang sholat ke orang yang jelas-jelas sudah sholat, ya, untuk apa?
Ekslusifitasmu itu lhosusing njancukiNek dolanmu jek kalah adoh karo pitik, mbok ojo ngejak traveling. Kelonono ae pacarmu nang kamar. Iku luwih produktif ngasilno anak timbang cangkemmu ngafir-ngafirno (nang konteks liyane) wong. Nek raimu dikaploki wong-wong, jarene angker... akeh setane... kontrev... ndasmu’a?

Mengapa toh kebenaran (yang menurut anda datang dari langit) harus ditawarkan dengan cara yang puritan? Kehabisan ide? Sini, ngopi di samping kakak. Nanti kakak ceritani rondo-rondo anyaran karo dudo tuek, warisane akeh, seng katene mati. 

Roxy (tanggal tuwo) Februari 2016

Dalbo

Minggu, 21 Februari 2016

Kalijodo dan Keberanian Anak TK

Kalijodo! Mengapa harus kau yang bakal tumpas? Mengapa dengan cara seperti ini kau dibubarkan? Menurut saya, ada tiga hal yang jadi penyebab kekalahanmu: pertama, mungkin kau sedang sial. Kedua, mungkin ini adalah waktu yang (dianggap) tepat. Ketiga, ini takdir.
Mungkin ketiga jawaban itu benar. Kalau pun salah, tentu alasan terakhir tidak mungkin salah. Karena nyatanya kau memang bakal tumpas. Saya tak pernah membayangkan kau harus habis dengan cara ini. Ketika orang-orang kalap dan kehilangan dalih, kau harus disingkirkan 29 Februari nanti. Kalau benar kau sedang sial, saya tak akan banyak komentar, karena kesialan adalah kesunyian yang tak dapat digugat. Tapi, kalau penutupanmu dianggap sebagai momentum yang tepat, mungkin saya akan cerewet.
Kalau benar, kau hanya tumbal orang kalap yang kehilangan dalih, maka keputusan itu bisa benar juga bisa salah. Benar, karena letak ”pelacuran” dalam diri manusia melebihi kedekatannya dengan Tuhan. Pelacuran bersemayam di jantung. Hidup dalam diri manusia dan mengeram. Pelacuran berdenyut pada nadi manusia paling alim sekalipun dan membuat mereka karap malu-malu tapi ngaceng. Sehingga keberadaan mereka adalah sebaik-baik jalan agar orang terusik dan ribut lalu perhatian mereka tertuju padamu.