![]() |
Mung Conto |
Untuk membuktikan keseriusan saya menjadi
remaja gahoool kota, maka saya putuskan untuk ke Sevel pukul tiga pagi dan nongkrong di sana. Tapi, yang saya temui
hanya kekecewaan. Karena jam segitu tidak ada muda-mudi yang nongkrong kecuali
seorang tukang parkir yang mulai mengantuk. Jadi bisa disimpulkan, kadar
ke-gaul-an saya lebih besar dari remaja-remaja Jakarta. Yes.
Saya berencana untuk tetap berada di sevel
sampai adzan subuh. Dan kalau sampai subuh tidak ada muda-mudi yang nongkrong,
berarti saya menang dan berhak mendapat penghargaan sebagai “Remaja Gaul
Radikal in This Year”.
Menjelang pukul empat pagi, ketika hendak
menyalakan rokok, saya dikejutkan oleh sebuah Pajero yang menikung tajam dan
berhenti di parkiran sevel.
Bangsat betul itu supirnya, pikirku.
Tiba-tiba seorang perempuan berambut mengombak dan bodi semlohay keluar dari mobil sambil merajuk. Ia membanting pintu
mobil dan berjalan terhuyung-huyung ke arahku dan duduk tak jauh dari kursiku.
Tak lama setelah itu, seorang pria keluar dengan tatapan gamang dan bibir
dikulum seperti sedang menyesal.
Sementara si pria masuk ke sevel, aku mencuri
pandang dengan perempuan di sampingku yang mulai terisak-isak. Ingin sekali
bertanya, tapi sejurus kemudian kubatalkan karena pelajaran penting hidup di
kota adalah: jangan ikut campur urusan orang lain. Tak lama berselang, si pria
datang dengan dua gelas minuman aneh yang keluar dari mesin kopi yang sampai
sekarang, jujur saja, tak bisa kuoprasikan. Tapi, sebagai anak gaul, saya
berjanji dalam hati: suatu saat saya pasti bisa cara mengoprasikan mesin yang
bisa keluar kopinya itu.
”Lo ini kenapa, sih? Kalau gak sayang gw lagi
ngomong dong. Gak usah ninggal pake alesan kaya gini,” kata si perempuan dengan
teriakan tertahan.
”Udahlah beb, lo jangan nangis gini. Yuk
diomongin di rumah gw aja,” kata si pria, berusaha menenangkan.
Tawaran si pria hanya dijawab dengan geleng
kepala tak percaya oleh si perempuan sembari menarik kaus si pria dan mulai
menangis. Saat itu, aku hanya sok tidak peduli, padahal itu adalah pemandangan wagu sekaligus mengharukan dan
menegangkan serta membuatku berpikir dalam-dalam.
Dari segi penampilan, si pria ini tergolong
bermuka kurang dari pas-pas-an. Berkulit gelap. Bentuk wajah oval bukan, tapi
lingkaran juga bukan. Kalau seperti itu apa namanya?
Selain itu, kondisi si pria diperparah dengan
struktur gigi-gigi agak runcing dan mrongos
renggang namun berani menantang angin. Lalu, pertanyaannya: mengapa perempuan
secantik dan imut ini mau dan bisa dibuat menangis oleh pria bermuka tutup
botol fanta? Tanda akhir jaman?
Setelah ajakan setengah paksa untuk pindah
dari sevel ini ditolak si perempuan, si pria melanjutkan kata-katanya. ”Udah
deh, lo gak usah lebay gini. Gw udah baik banget mau jujur ama lo. Ya...
Meskipun gw tau, itu salah. Itu nyakitin buat lo. Tapi, gw harus jujur kalo
kita udah ga cocok lagi. Kayaknya kita perlu udahan atau apalah terserah.
Pokoknya kita gak usah ketemu dulu...,” kata si Mas Gigi Seram (Giram) ini.
Tapi, dibalik ketidaktaudirian si Giram ini,
jujur dalam hati saya yang paling dalam, saya akui kalau gaya dia itu asyik banget.
Sehingga diam-diam aku memafhumi mengapa si Perempuan Imut Tapi Buta (Permuta)
ini kayaknya cinta mati banget dengan si Giram. Yah, memang, sih. Terkadang perempuan lebih sering mengalami
proses jatuh cinta yang setandar: jatuh cinta dari kuping. Sedangkan pria jatuh cinta dari mata. Apalagi si Giram durjana
ini kayaknya orang yang cukup berada. Sehingga dalam kasus Giram dan Permuta,
aku bisa memaklumi.
”Bangsat!! Lo taik banget. Playboy cap tikus...!! Lo inget gak
omongan lo dulu ke gw? Lo inget gak janji lo ke gw? Waktu ngemis-ngemis minta
gw nerima lo...” kata permuta sambil terus terisak-isak. ”Tapi, sekarang
setelah lo.... Lo pake janji segala mau nikahin kek, bulan madu, ah taik,” kata si permuta yang terus meracau.
Permuta tidak meneruskan kata-katanya.
Padahal aku sangat ingin tau apa yang terjadi pada Permuta. Dan yang paling aku
senang adalah ekspresi si Giram. Dia kelihatan senang sekali sambil sesekali
membuat bulatan-bulatan dari rokok mild-nya.
Bahkan dia bisa mengangguk-angguk seperti sedang mengikuti irama musik yang
entah apa.
”Iya sih. Itu dulu banget cobak. Sekarang, ya, sekarang. Kalo emang udah flat aja, gw mesti gimana?” jawab si Giram.
FAK....
Tapi, sumpah. Itu sangat memukau. Di
kedalaman saya ada rasa yang campur aduk. Ada rasa geli melihat pemuda cukup
mapan (sok) gaul dengan penampilan yang ora
sumbut dengan body. Rasa senang,
karena dengan adanya si Giram ini, pemuda yang kurang ganteng jadi punya
harapan. Karena yang berdenyut sudah bukan lagi denyut jantung dan rasa, tapi
uang.
Dunia memang terbalik-balik. Tampan bukan
lagi komoditi utama di pasar perempuan cantik macam Permuta. Karena siapa yang
bermulut bunga tapi menyimpan badik dan punya sedikit uang untuk traktir
makan-minum-nyalon-belanja-ngamar pasti bisa memenangkan hati perempuan macam Permuta.
Tapi, saran saya, jangan pernah mengantungkan harapan dan benar-benar percaya
pada percintaan macam ini.
Saya, tak habis pikir. Ternyata PHP itu tidak
hanya milik pemuda perlente dengan wajah banci berkulit mulus dan bersih. Ya,
PHP milik semua orang (yang punya uang).
Di kota, harapan palsu itu lumrah. Penipuan
bukan lagi peristiwa mencengangkan. Pemandangan perempuan kena tipu itu seperti
terbit dan terbenamnya matahari: ada, tapi tidak ada yang peduli.
Orang-orang sudah tidak lagi peduli pada
ibu-ibu yang menangis meraung-raung di pinggir jalan dengan alasan kena tipu
dan memelas minta ditolong. Kata mereka: itu palsu, penipu yang ngaku kena
tipu, jaring-jaring setan atau apalah. Dan memang begitu sulitnya untuk bisa
mendefinisikan mana korban penipuan dan mana jaring-jaring penipuan.
Sedangkan untuk kasus Permuta dengan Giram
ini membuat saya belajar: uang adalah kesanggupan. Uang adalah kemungkinan
seseorang bisa berbuat seenaknya. Dan uang adalah shortcut mendapat kepercayaan
seseorang atau untuk lawan jenis. Meski, mungkin si Permuta tidak meletakkan
harapannya pada Giram, tapi pada segala kemewahan yang dimiliki Giram.
Di kota ini, semua yang berbau hati nurani
adalah kenaifan yang teramat sangat. Sehingga dalam hal
cinta-pernikahan-ranjang tak lebih dari sebuah kemenangan judi lotre di waktu
yang tepat. Karena kebosanan dan inkonsistensi adalah hal yang lumrah dan tak
perlu disesali atau ditagih dengan tangis. Karena kedurjanaan adalah sesuatu
yang nisbi.
Ah, Permuta. Saya pikir korbanmu adalah
pria-pria lugu dengan gaji tanggung. Saya pikir penampilan adalah satu-satunya
jalan untuk “berkehendak” dan memilih kebahagiaan cinta kasih. Saya pikir, kau
mampu untuk memilih seratus dari ribuan pemuda mapan dan tanggung untuk kau
injak tengkuk mereka. Eh, ladalah,
kau malah ketangis dengan bergajul macam Giram.
Tiba-tiba ingatan saya kembali ke kampung.
Saya jadi ingat bedak-pupur yang agak over dosis di wajah perempuan-perempuan
desa yang tidak cantik-cantik amat. Mereka kalah jauh dari kau. Mereka tak
mampu membuat rambut mereka sebagus rambutmu. Mereka tak punya bodi semlohay macam kau. Mereka tak punya
kesempatan pakai baju yang bikin rrraawwwwrrrrr
para pria, karena belum sampai pakai pakaian sexy, sudah dijewer mak’e dan
pak’e. Alhasil mereka tampil biasa saja.
Tapi, mereka sama-sama punya harapan akan
cinta seperti kamu. Mereka ingin dapat kemapanan seperti yang kamu rasakan.
Mereka sebenarnya tak ingin bedak murahan di dahinya luntur karena terbakar
matahari dan pasti sangat pengen di dalam pajero seperti kamu. Mereka juga
pasti ingin pakai parfum seperti kamu, tapi mereka hanya mampu membeli minyak
murah yang baunya dijamin mulek bikin
pusing. Itu pun sudah bagus bisa pakai parfum. Karena, pacar mereka, yang
buruh-buruh pabrik itu gajinya ndak
cukup buat beli parfum mahal, paling-paling, ya, minyak angin.
Tapi, setahuku, mereka tidak sebegitu jatuh
dan terhina macam kamu sekarang. Keterbatasan uang dari pacar-pacar mereka
membuat tidak ada kesempatan untuk aneh-aneh. Jangankan, berpikir soal hubungan
yang sudah flat. Sudah dapat pacar
buat nikah hari depan saja syukur-alhamdulillah.
Bisa punya teman untuk ke pasar malem beli pentol saja sudah gagahnya minta
ampun. Bisa mengantar calon ibu meretua pake sepeda kredit saja rasanya sudah
kaya jadi rambo. Mbois poool pokok’e.
Permuta yang sedih hatinya. Aku punya saran
buat kamu sebenarnya, tapi saya takut kamu anggap sok baik. lagi pula kamu juga
akan men-jancuk saya dengan suara nyaring. Jadi, saya simpan saja nasihat saya.
Di mata remaja ndeso gahoool seperti
saya ini, kamu itu sudah wow banget. Seandainya kau tinggal di kampung saya,
kamu pasti tidak hanya jadi rebutan para remaja. Bahkan para lurah dan orang
tua pun akan berkompetisi memenangkan hatimu. Dan kalau sudah seperti itu, maka
percayalah kepada saya, pilih yang dari mereka yang biasa saja. Karena biasanya
yang minim potensi bahayanya. Kecil kemungkinan kau akan diperlakukan seperti
Giram. Karena kau akan diperjuangkan dengan darah.
Kau akan diajak keliling pasar malam dengan
bangga. Beli pentol. Naik sepeda kredit. Disuruh mijet sepulang nguli. Ah, tapi
jangan deh. Kamu di sini saja nemenin Giram. Kasihan mbak-mbak di kampung.
Tak berapa lama drama diakhiri dengan adegan
membanting gelas plastik kopi dan si permuta masuk mobil. Dua remaja tanggung
tadi berlalu dari hadapan saya.
Baik-baik, ya, Permuta. Seandainya kau
diputus malam ini. Serang si Giram itu tepat di giginya dengan tas mahalmu,
atau pakai hak sepatu. Berdasarkan pengalamanku, kelemahan orang seperti Giram
itu ada di giginya.
Ngantuk, jeh. Sakmene sek...
Jakarta, 10
April 2015
Dalbo EaNg
GaHool BeUddzz
2 komentar:
"Lalu, pertanyaannya: mengapa perempuan secantik dan imut ini mau dan bisa dibuat menangis oleh pria bermuka tutup botol fanta? Tanda akhir jaman?"
Saya ngakak parah di bagian itu. :P
Giram itu asline Kejiwaane mas Citra yang lain.
Posting Komentar
Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.