Laman

Rabu, 31 Desember 2014

KB Dunia, Kesombongan dan Sinetron Demokrasi



Tidak ada lebih puitis dari berada diantara dua pemuda yang sedang berdiskusi dengan semangat membara.
Pemuda I: ”Apa kau tidak sinting, hah? Bagaimana mungkin rakyat bisa benar-benar berdaulat tanpa ada demokrasi? Hellow...! Jangan mimpi kau. Apa kau lupa bagaimana keadaan kita sebelum revormasi?”
Pemuda II: ”Bukan begitu, bro. Aku percaya demokrasi adalah jalan menuju rakyat yang berdaulat. Tapi, bagaimana kita bisa membawa demokrasi masuk ke dalam sebuah negara yang pemimpinnya terlanjur otoriter? Misal, nih, ya. Kalau kita dipimpin Prabowo, sudah barang tentu negara ini akan menjadi seperti masa Orba. Lha, kalau sudah begitu apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk mengembalikan demokrasi? Nah, itu yang saya maksud....”
*
Suatu ketika dimalam lelah, saya terjebak pada diskusi dua pemuda di warung kopi dekat Kampus Unair. Saya tidak pernah mengenal mereka. Sehingga dalam diskusi itu saya hanya menjadi penonton yang mengantuk karena tak tertarik pada apa yang mereka bicarakan.  Tapi, bagaimana pun juga sebagai orang yang pernah muda dan labil, saya terpaksa tidak pindah tempat dan sedikit menyimak apa yang mereka perdebatkan.
Bukankah akhir-akhir ini sudah jarang ditemukan pemuda yang serius berdiskusi kecuali soal kamar kos yang hangat?

Senin, 27 Oktober 2014

Kebas-kebus Rokok Kimcil CL


CL UB


(CL, Riwayatmu Kini)
Berawal dari tempat ini saya mulai mencintai Kota Malang. Ya, CL adalah tempat terbaik melibas bosan sambil ngopi, ngudut, baca buku, main catur dengan hape, atau menebak-nebak nomor togel paling ciamik.
Awalnya, saya kenal tempat ini saat masih di PPMI (organ absurd yang sekarang hampir modar). Saat itu, kalau tidak salah, ada agenda rapat kerja PPMI sekaligus konsolidasi. Dan orang yang berjasa dalam membuat saya mencintai CL adalah Andi Mahifal, Sekjen PPMI, yang kerap menyebut dirinya sebagai: Aktivis Muda Progresif Berbakat Multi Talenta (mati muda masuk tempo). Berkat pemuda berpantat tepos dan kurus kering ini saya jadi senang berlama-lama di CL.

Jumat, 17 Oktober 2014

#1 Menyimpan Rindu



Kepada J, F, H, U, A, R, B, D, P, S, H2, F2, B

Dulunya mereka adalah adik-adik kecil yang manis. Seperti biasa, aku hanya melihat mereka sepintas tanpa menoleh. Lalu, tak berapa lama –seperti yang selalu batin katakan, “kau akan segera dekat dengan mereka”– kita menjadi begitu dekat. Seperti saudara, bahkan lebih. Tak ada yang lebih dekat dan “sampai mati” kecuali dendam. Karena persahabatan itu sebagaimana dendam: sampai ke tulang, sampai mati.

Lalu, seperti yang biasa terjadi: ada dialog, sesal, kedekatan, proses belajar, dan tak lupa tangis tertahan. Semuanya adalah proses yang lumrah dan wajar: seperti halnya pagi dengan matahari dan malam dengan bulan-bintang. Saat itu mereka pun tumbuh. Menjadi apa saja yang mereka harapkan. Dan di sebalik duniaku yang sepi, diam-diam aku lihat mereka.

Oktober Ceria buat Tulus H






































Mungkin, di matanya Oktober berjalan terlalu lambat. Gelap. Saya ingin menghiburnya: bercerita tentang apa saja yang membuat dia (sedikit) lupa. Atau mengunjungi warung paling tengik untuk memesan kopi terpahit. Tapi, cerita apa yang bisa menghapuskan bertahun-tahun waktu yang lewat dengan rindu. Juga selubung gelap dari matinya logika karena menyadari: cinta adalah perkara siapa yang datang dulu serta angka-angka yang (semua orang pikir) membuat dunia jauh lebih terang. Dan warung macam apa yang bisa mengobati penantian panjang yang berujung kata "maaf".


Peduli setan siapa yang bakal jadi juara. Dia cuma manusia yang (mungkin) tak sabar menanti kebaikan Tuhan pasca kehilangan ada di depan mata. Sejak dulu luka adalah luka. Diungkapkan atau tidak. Meski setelah luka, tangis tertahan jadi punya makna. Dan untuk lelaki macam kita terlampau sering bertepuk sebelah tangan. "F" sekali, bukan?

Piye maneh, lek. Dilakoni ae.

Pak erte

Inverioritas Penggiat Seni Lukis dan Ritual Potong Kuping

Gambare Pakde Dalbo

“Apa jadinya kehidupan ini bila tidak ada yang berani mencoba melakukan sesuatu yang baru?”—Vincent Van Gogh.

Sekitar tahun 2009, waktu tersesat di Bali, tanpa sengaja saya tertarik dengan sebuah banner pameran lukisan “Nuansa Alam”. Karya-karya yang dipameran di sana adalah hasil karya mahasiswa semester II ISI Bali. Meski acara ini sederhana, tapi lukisan yang dipamerkan  cukup membuatku berdecak.
Usai melihat pemeran, pikiran saya terus melayang pada di seputar lukisan: cat, kuas dan kanfas. Saya berpikir, apa pameran serupa bisa diadakan di kampus saya? Tentu saya tak akan melewatkan acara itu, meski saya hanya seorang penikmat karya seni rupa, tidak lebih.
Entah kenapa bau cat kering di kanfas selalu membuat saya menerka-nerka cerita apa yang coba disajikan si pelukis dalam karyanya. Selain itu, pada setiap lukisan yang dipamerkan secara serius selalu menerbitkan rasa merinding yang asik dan magis. Dan kalau dalam hal ini saya termakan mitos dan label yang dibangun di setiap pameran lukisan, itu lain soal. Karena, pameran adalah pameran, dan tiap pameran selalu saja bicara karya.
Tahun demi tahun penantian saya akan terselenggaranya pameran lukis di kampus UTM masih belum terealisasi. Selalu ada rasa kesal ketika beragam pertanyaan muncul di kepala: apa benar dari ribuan mahasiswa UTM tidak ada satu pun pelukis serius yang hendak memamerkan karyanya? Lalu, apa saja kerja organisasi kesenian selama ini?
Sejak awal kuliah di UTM, saya punya sejenis apologi pamungkas untuk meredam sakit hati atas segala keajaiban-keajaiban menjengkelkan yang terjadi di kampus saya.
“Sudahlah. Ini memang ‘kampus pelampiasan’, jadi wajar kalau pameran lukisan yang saya inginkan harus menunggu lebaran monyet.”

Minggu, 14 September 2014

Kampus dan Masa Depan Dunia Kesenian




Agaknya Bronislaw Malinowski cukup berlebihan ketika dalam bukunya “The Group and The Individual in Fungtional Analysis” mengatakan bila semua unsur dan hasil kebudayaan itu bermanfaat bagi masyarakat. Dan tentunya salah satu bagian dari kebudayaan itu termasuk seni. Tapi, ironisnya ketika membicarakan wajah dunia kesenian hari ini, kita hanya menemui jalan buntu yang klasik: “pasar”.

Mungkin pengistilahan “pasar sebagai tuhan baru kesenian” cukup tepat bila berkaca dalam realitas kesenian hari ini. Karena gaung kesenian tidak pernah jauh dari nada sumbang soal kapitalisasi dan dekadensi kreatif. Situasi ini merupakan sebuah keadaan dimana pasar membuat kesenian memiliki harga, tapi sekaligus “terbunuh”.

Kesenian dapat dikatakan memiliki harga, bila segala keindahan di dalamnya dapat dikapitalisasi untuk sesuatu yang praktis. Sehingga kesenian yang sebelumnya merupakan sebuah ide utuh tentang produk kebudayaan, dipoles sedemikian rupa dengan mitos dan label-label kelas sosial agar dapat memiliki nilai jual. Tapi, dengan proses kapitalisasi inilah yang mengkroposkan proses kreatif—dimana seharusnya proses kreatif bisa mencapai wilayah ruh dan kematangan penjiwaan—sehingga proses kreatif dalam kesenian hanya sekedar rutinitas dangkal yang praktis.

(Mungkin) Ada Doa dalam Teater



Mungkin “Naskah Abydos” yang ditemukan I Kher-nefret, salah seorang pendeta Mesir, hanya sebuah permulaan dari naskah teater yang dipentaskan untuk sebuah ritual. Tidak penting naskah itu adalah awal atau bukan, tapi yang jelas sejarah mencatat demikian. Dalam naskah yang diperkirakan telah dimainkan sejak 5000 SM, telah menggambarkan kehidupan dunia di jaman itu.
Dari properti yang ada dalam naskah Abydos seperti kapak, tameng, tombak dan sejenis perlengkapan lainnya jelas menunjukkan bila dunia telah berperang begitu lama. Dan naskah Abydos adalah sebuah penjelasan bila perkelahian tidak hanya butuh untuk sekedar dicatat, dijelaskan, dan dimainkan kembali. 

Jumat, 12 September 2014

Artis Porno, Terimakasih Banyak



-Kepada artis porno di seluruh dunia, Al-Fatihah.

Beberapa hari lalu saya terkejut dengan kehadiran foto ”seram” adik kelas saya di Universitas Bunga (bukan nama sebenarnya) yang beredar lewat sebuah grup facebook jurusan. Foto itu cukup fulgar karena si perempuan sedang tidur dengan telanjang dada dan di sebelahnya ada seorang pria berkulit gelap.
Saya sendiri tau foto itu karena kebetulan ada adik tingkat, yang dengan baik hati mau mem-printscreen foto itu untuk saya. Saya terkejut, sedikit senyum-senyum dan garuk-garuk kepala. Tapi, saya yakin kalau foto itu diunggah oleh orang lain yang berniat tidak baik atau mungkin dilatarbelakangi motif dendam.
Setelah sedikit senyum-senyum, sejurus kemudian saya berpikir: bagaimana perempuan sekecil itu akan menjalani hari-hari kuliahnya? Seberapa kuat adik (agak) manis itu menanggung malu karena fotonya tersebar di media sosial?
Pada awalnya saya membayangkan bila perempuan itu adalah adik perempuan saya. Lalu gelombang perasaan kembali berkecamuk: bagaimana kalau pria dalam foto itu adalah saya? Ah, saya tidak mungkin mampu menyembunyikan muka dari tatapan sinis orang-orang. Meski predikat ”cabul” sudah melekat pada saya, tapi kalau untuk beban semacam itu tentu menjadi sebuah persoalan malu yang bakal menggerogoti saya seumur hidup.
Tapi, setelah saya pikir lagi, ternyata Tuhan begitu sayang pada adik (agak) manis itu. Ya, Tuhan meninggikan derajat kemanusiaan lewat sesuatu yang tak pernah dia duga: mendadak jadi artis (yang dianggap) porno.

Rabu, 20 Agustus 2014

Ciuman Sehabis Bercinta

Aku mencintai Vivi justru karena dia perempuan muda yang biasa saja. Tapi, itulah cinta, pembutaan yang asyik, menggelitik.

       Vivi adalah remaja seperti pada umumnya. Yang masih memilih ponsel berdasarkan gengsi pada kawan-kawan sebayanya. Dalam pembicaraan pun, dia juga tidak terlalu cerdas seperti mantan kekasihku yang hampir semuanya seorang penulis. 
       Sebenarnya Vivi masih terlalu muda untuk kunikahi dan belum begitu siap menjalani rumah tangga. Keinginan-keinginan dari jiwa mudanya untuk bergerombol belanja, nonton, dan jalan-jalan bersama kawan sebayanya belum bisa berkurang meskipun kita telah lama menikah. 
       Dulu, Vivi menerima pinanganku dengan syarat-syarat yang sudah aku duga sebelumnya. Tidak terlalu membebaninya urusan rumah tangga dan menolak untuk buru-buru punya anak karena belum mau repot. Dan aku pun menerima segala persyaratan yang diajukannya. Lagi pula aku bukan tipe lelaki pemaksa, dan aku mencintai kemerdekaan. Bagiku arogansi kelelakian tidak selalu dalam urusan memiliki anak. 
       Kupinang Vivi dengan keyakinan bila cinta itu memerdekakan, bukan mengekang. Lagi pula Vivi tak pernah menuntut. Selama kemerdekaannya terjamin, Vivi tak pernah cerewet untuk urusan rumah tangga, seperti kebanyakan istri yang selalu cerewet ketika suaminya pulang terlambat. Dan aku tak mempermasalahkan bila dia pulang larut. 
        Dalam urusan ranjang, Vivi tak pernah menolak dan selalu memberikan kepuasan yang kuinginkan sebagai lelaki normal. Selain itu, ada hal yang aku suka darinya: ia selalu nampak cantik ketika rambutnya basah. Juga sikap manjanya yang merengek minta dicium keningnya usai pergumulan membuatku semakin tergila-gila.

Minggu, 06 Juli 2014

Surat Kepada Penghuni Warung

PEMBURU GARU


ambilah kayu garu di laut ranjau,

asapi dengan dupa dan rapal mantra

melingkar di lengan diikat tali kecapi

karena di sebrang kayu garu adalah pintu

menyimpan telanjang, malaikat dan penari

dari kutuk ular air yang tulus memberkati


mencintai malam tak terbahasakan

puisi dan gelisah pantai menuju sore

siapa nama angin malam ini

yang menggoyang dedaun

batang-batang garu membuat cerita

pertemuan saat pagi pualam

Sabtu, 24 Mei 2014

Pelajaran Sabar dari Mas Guru

”Percayalah, dek. Kebijaksanaan hanya ada dalam lagu-lagu.”

Tiba-tiba kata itu kembali terngiang di telinga saya. Kata-kata dari seorang sesepuh yang mungkin kelasnya setara dengan Tuan Guru Tretetet di Lombok. Kehendak dan spontanitasnya kerap menggegerkan akal. Tapi jujur saja hatiku selalu tersenyum simpul bila merasakan sepakterjang guruku yang satu ini.
Kedigdayaan guruku dalam penguasaan ilmu sabar ini benar-benar tak tertandingi. Kendati demikian, dia tetap sulit dibedakan dengan guru-guru lainnya karena caranya mendidik dan sikapnya yang rendah hati.
Kerendahan hati dan sikap menunduk dari guru sekaligus kawan baikku ini benar-benar di luar nalar. Dan si mas gondrong, kawanku, ini adalah antitesis dari guru yang ada di dunia. Kalau suatu saat seorang guru seni sedang menerangkan tentang seni, mesti paling tidak si guru seni ini mempraktikkan sesuatu yang nyeni. Entah itu tingkah lakunya, model rambutnya yang nyentrik atau tindak-tanduknya yang menunjukkan betapa si guru seni ini patut didengar kata-katanya.
Kalau mas gondrong si guru sabarku ini bersikap sebaliknya. Meski dia adalah guru besar ilmu sabar, tapi tingkah polahnya kerap terbalik. Dia kerap terlihat tak sabar dan nampak diburu waktu. Bahkan yang membuat aku sangat takzim padanya adalah karena beliau tak perlu bicara hingga berbusa hanya untuk menjelaskan makna sabar. Tuan guruku ini cukup berbuat sesuatu atau melontarkan kata-kata yang bisa membuat kepala kami serasa mau pecah dan dada kami meledak.

Kamis, 15 Mei 2014

Perjalanan dan Seorang Kawan

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar, terimalah dan hadapilahGie
Kepada seorang kawan yang sepi, tersenyumlah sebelum kau lewati semak bermiang hidup. Mungkin, tak ada cara lain kecuali menghadapi apa saja yang ada di depan dengan berani; tanpa perlu menyesali yang telah lewat.
Kau tau, kawan, siapa yang tak pernah terperosok di kubangan dalam sekali hidup? Siapa yang bisa lolos untuk mendapat predikat ”bandit” di satu putaran hidup? Termasuk kau, mungkin.
Meski sudah cukup lama kita tak bersua. Dan sekali ini, ketika kau hanya melihat jalan buntu; tidak! Aku tak akan menghiburmu dengan kata ”sabar” yang klise. Aku bukan seorang barbar yang berambisi membuatmu jadi baik-buruk—dimana kedua jalan itu adalah murni hakmu sebagai seorang manusia yang berkehendak.
Tapi, ketika kau mengatakan bila tak perlu tanggung untuk jadi manusia: benar-benar jadi baik atau total menjadi orang bejat. Kau tau, aku hanya bisa tersenyum. Hey, apa kau sedang panik?
Mungkin di matamu sedang tak ada kemungkinan lain untuk arah yang ingin kau tuju. Atau kehilangan sesuatu yang prinsipil membuat jalanmu seakan dipenuhi kabut? Ya, kawan. Lagi-lagi denganmu, aku hanya punya sebuah ”mungkin” untuk menerka apa yang ada di pikiranmu.

Jumat, 25 April 2014

Gumam Rori Soal Sabdo Palon #demromor5

Mas Sabdo Palon
”Kau kenal siapa Sabdo Palon?” tanya Rori di sebuah siang yang membakar.
”Tidak. Apa itu?”
”Bodoh! Percuma kalau begitu. Lebih baik aku bicara pada orang yang tepat,” ujar Rori.
”Woey, apa itu? Jangan buat aku penasaran.”
”Seandainya Sabdo Palon benar-benar ada, mungkin kata-katanya yang paling aku suka adalah, ’kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk.’ Ya, kata-kata itu menggugah. Sekaligus pertentangan dari entitas Sabdo Palon.”
”Apa arti dari kata-kata siapa itu… Sab-do Pa-lon?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
”Kurang lebih, artinya: ’Saya malu pada bumi-langit, malu mengasuh orang tolol,” terang Rori.
Kalau memang benar Prabu Brawijaya V masuk Islam dan Sabdo Palon kecewa, kata Rori, apa harus seperti itu kata-kata yang dia ambil untuk momongannya? Setahuku, kedunguan bukan batas yang harus membuat Sabdo Palon beranjak meninggalkan Prabu Brawijaya V dan meninggalkan rupa-rupa kutukan pada tanah Jawa.
Konsep pamomong adalah sesuatu yang wingit. Dalam penafsiranku, pamomong itu bukan lagi sekedar menjadi guru yang mengajarkan sesuatu pada muridnya. Pamomong itu lebih dari membimbing dan tentu melampaui batas-batas kesabaran yang ada. Terlebih lagi, dia mengaku sang Manik Maya. Dan yang dibimbing pun bukan sembarangan. Prabu Brawijaya V adalah raja Jawa. Sehingga kalap (masuk Islam) adalah sesuatu yang biasa. Terlebih lagi Brawijaya V adalah manusia dan Sabdo Palon bukan. Tapi, lain lagi kalau dalam dunia dewata, persoalan kepercayaan adalah hal yang prinsipil dan melampaui batas toleransi.

Predikat Bajingan Itu Cuma Milik Saya #demromor4

Usai melihat subuh, Rori terhuyung-huyung datang ke warung. Ia minta dibuatkan kopi dan mengambil beberapa batang rokok lalu duduk dan tertunduk lesu.
”Kau ini kenapa?”
Dan berceritalah dia. Kurang lebih seperti ini:
Dalam kamus bajingan yang kumengerti, kehilangan adalah sebuah langkah awal untuk berusaha (suka-tidak suka) mengerti batas. Tidak ada sesuatu yang perlu dipaksakan karena waktu akan selalu datang dengan air bah. Membawa apapun yang tak pernah kita duga. Dan kita adalah gelandangan papa yang harus piawai memanfaatkan apa yang dibawa air bah.
Mungkin, bagi bajingan sepertiku, air bah itu juga membawa orang-orang baru yang bisa kita manfaatkan. Dan tanpa bermaksud mengeras-ngeraskan hidup; bukankah hidup itu keras? Kalau tidak membunuh, kita lah yang akan dibunuh. Mekanisme pertahanan diri yang terekam dan kupelajiari baik-baik waktu aku terdampar selama beberapa tahun di Terminal.
Bagi penjahat sepertiku, moral adalah urusan nomor 689. Mungkin moral akan menyayangkan kehilangan; sesuatu yang pernah berarti dalam hidup kita. Tapi, kehilangan tidak berarti apa-apa dalam hidupku karena aku percaya ada air bah yang membawa orang-orang baru. Aku tidak peduli, kehilangan selalu melibatkan hati lainnya yang mungkin patah.

Rabu, 23 April 2014

Berterimakasih Pada Dukun di Indonesia

Dukun Manggrok dan Dukun Keliling
Di Tiongkok, orang-orang punya dongeng Pak Tua Sinting. Sebuah alasan dan motivasi yang mengajak seseorang terus bekerja, tidak menyerah. Apa yang sesungguhnya kita percaya, hingga begitu banyak orang di Nusantara hidup bermalas-malasan dan menunggu nasib baik? Dongeng-dongeng macam apa yang mengilhami kita?
Pak Tua Sinting adalah dongeng tentang seorang tua yang pelan-pelan memindahkan gunung karang setiap hari. Dia melakukan sesuatu yang dianggap orang-orang bijak Tiongkok sebagai perbuatan yang mustahil. Tapi, Pak Tua Sinting tetap memindahkan batu karang sedikit demi sedikit. Esoknya ia akan melakukan hal yang sama. Jika ia mati, anak dan cucunya yang akan meneruskan.
Orang Tiongkok tidak mencatat kegilaan yang dilakukan Pak Tua Sinting. Mereka mencatat etos kerja dan semangat untuk tidak menyerah dalam menjalani kehidupan yang serba sulit. Seandainya hidup selalu berangkat dari sejarah; dari kisah-kisah yang kita anggap teladan, tentulah begitu suwung dan ngerinya manusia di bumi Nusantara.
Ya, warga Nusantara adalah orang-orang yang lahir dari semangat dan kisah-kisah heroik lagi mistis. Kita tentu mengenal dongeng Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang. Semangat (yang kita sebut cinta) membuatnya terpaksa menerima syarat Roro Jonggrang untuk membuat seribu candi dalam satu malam agar Roro Jonggrang mau dinikahi.

Kamis, 10 April 2014

Jarene Bapak

”Sudah, berangkat ke TPS. Milih atau tidak yang penting datang ke TPS. Jadi orang itu yang penting bisa bermasyarakat,” kata bapak.

   Kau benar, pak. Negara ini boleh hancur, tapi tidak dengan masyarakat. Karena rakyat adalah pusat. Rakyat akan tetap jadi rakyat meski tanpa pemerintah. Tapi, tidak ada pemerintahan tanpa ada rakyat. Meski ini terlalu berlebihan, tapi kurang lebih seperti itu.
   Aku masih percaya hari ini rakyat dengan pemerintah sedang tidak akur; saling tidak percaya dan terjadi kesalahpahaman. Kalau aku disuruh melawan negara seperti aktivis-aktivis wow; saya menolak! Bertarung dengan sesama saudara (yang tidak mengerti, sedikit merasa nyaman karena uang) adalah perbuatan binal.
Kalau saya katakana rakyat (seharusnya) adalah pusat nurani. Meski hal ini bukan legitimasi agar saya bisa bilang demokrasi itu benar. Dan mungkin juga karena hal ini, saya tidak mau ribut dengan pemerintah. Karena kalau saya ribut dengan pemerintah, berarti saya yakin pemerintah (yang kita musuhi setiap harinya) adalah sumber.
   Pemerintah di Indonesia hari ini tidak benar-benar berkehendak mengatur rakyat yang dia pimpin. Pemerintah hanya seseorang yang tergelincir untuk ikut arus sebuah sistem. Hanya saja kebetulan di arus sistem itu terdapat banyak mobil-mobil mewah tergenang, rumah mewah hanyut, uang suap untuk deal kepentingan a.b.c.d. Sehingga merasa betah dalam arus adalah lumrah. Dan kita yang sedang marah dengan pemerintah adalah orang yang mungkin sedang iri; lapar karena belum makan dan tidak kebagian kenduri, dan sungkan untuk ikut arus karena terlanjur berkoar-koar memaki.

Senin, 07 April 2014

Lelaki Itu Bernama Rori

Semua orang memutuskan untuk menganggapnya gila. Dengan itu semua persoalan selesai. Tak ada yang memperdulikan dia: ucapannya, tingkahnya. Cuma sepintas sepi yang tenggelam dalam ramai Terminal Purabaya. Dia tidak lagi disebut-sebut. Tak ada yang berminat mengingatnya, juga menganggapnya ada.
Seingatku tak ada orang yang sedemikian bermuka dinding kecuali orang ini.
Berdiri berjam-jam didepan rak buku hanya untuk membaca-baca. Menyobek diam-diam buku bersegel plastik dan mengumpat: ”Untung segelnya tak di buat dari seng. Ah, bisa gawat,” ujarnya sambil tanpa sungkan menggaruk pantat.
”Kriminal,” tukasku mendesis.
 ”Ssst… Aku tak sebinal Chairil. Aku lebih berwibawa ketimbang dia. Aku cuma ikut-ikutan membuka segelnya saja. Tidak sampai nyolong. Coba dia di masa muda kenal pekerjaan mengamen. Dia pasti mengamen dulu baru ke toko buku. Jadi tak perlu nyolong.”
Terkadang dia sering mengajakku ke Siola: surga bagi para pecandu VCD film porno. ”Terkadang aku lebih memilih melihat ini daripada sekedar membaca stensilan. Karena seks adalah ritual yang paling purba dari manusia. Buku Stensilan cuma menggarami lautan,” celetuknya.
”Apa bedanya dengan VCD porno? Sama saja bukan. Menggarami lautan juga nantinya. Atau cuma akan membuat kita menjadi rajin ke kamar mandi,” kataku, tak terima.

Rabu, 02 April 2014

Lelaki-hidup-sakit

Seberapa jauh kau dininabobo rasa sakit? Sedang kau ingin bijaksana tapi tak mengakrapi rasa sakit. Bukankah sebelah mata bijaksana adalah rasa?
”Lalu, Ror, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
”Mintalah maaf pada Tuhanmu. Yang menyusupkan cinta lewat puting susu hidup dan memancarkan segala sakit agar kau tumbuh dewasa. Kau sering menafikan cinta-Nya, bukan? Setelah kau dewasa, sebelum kesaktian itu tiba, ’berpuasalah’. Matikan ’apimu’; dendammu; yang membuatmu menjadi bonsai di tengah gelap hutan,” ujar si sudrun sebelum dia lenyap dalam kegelapan dan bergelas-gelas kopi yang belum terbayar.

#
Yang wajib dari rasa adalah luka – Danto.

Selasa, 01 April 2014

Perempuan dan Dendam

Aku ingat api itu. Dulu, kita sempat sama-sama terbakar dan merasa muda. Meski aku tak berani menganggap itu cinta. Dan untuk hari ini, sekali lagi kuucap termimakasih yang dalam untuk batinku; sesuatu yang dulu kubenci karena menerbitkan rasa enggan untuk dapat berjalan bersama denganmu, meski ternyata aku salah.
Satu hal yang aku kompromikan dengan batinku adalah dengan tetap bersamamu, sebagai apapun yang tak jelas jeluntrungannya. Mungkin karena perasaan bersalah karena menampik kue cinta yang kau tawarkan. Ya, aku tau kau mencintaiku begitu dalam.
Pertemuan kita dulu seperti mimpi. Namun, aku terlalu cepat terbangun karena batinku terus saja membakar petasan. Dan tergagaplah aku; terbangun untuk mengikuti kemana arah arus: kita sama-sama pergi. Aku, tetap dengan hidupku yang suram, kau dengan orang lain.
Setelah lama tak bertemu, aku tau kabarmu dari seorang kawan. Kau disakiti; kau menangis dan kembali mendatangiku untuk menanyakan tentang kita. Ya, aku ingat betul penolakanku malam itu. Dan sekali lagi aku mengikuti arus di batinku. Tanpa alasan; tanpa penjelasan karena setahuku hanya ada kata tidak di batinku, menelusup dalam ke otak dan sampai ke mulutku.
”Sudahlah, bukankah kita lebih cocok sebagai teman. Atau kau ingin menjadi apapun saja sesukamu, asalkan bukan kekasih,” ujarku. Kau menangis. Aku diam, bingung namun tak kunjung memelukmu.
*
Dendam itu tumbuh subur di dadamu. Kebencianmu membakar kenangan; kebersamaan yang selalu kutolak untuk kusebut cinta.

Minggu, 16 Maret 2014

Hantu


Setelah menikmati bakso pedas, tiga orang kuli yang sedang laut itu mulai cerita kepada dua orang temannya. ”Dulunya tempat ini semak-semak. Aku pernah lewat sini sepulang dari pasar. Lalu aku lihat pocong,” ujar salah seorang kuli.
Lalu, ketiganya saling menimpali dengan cerita tentang hantu-hantu yang berbeda. Ada genderuwo, wewegombel, ada orang berkaki kuda, ada katak mengangkut berambang, ada orang dengan mata selebar piring, dll.
Apa benar hantu itu ada? Atau itu kah sesuatu yang mengerikan dalam versi mereka?
Mungkin, dalam kacamata intelektualitas, sekumpulan kuli tadi bisa jadi dekaden; merosot dan kuno. Dunia akademik dan modernitas menganggap mereka bagian dari kompleksitas irrasional. Tapi, bukankah setiap orang punya ketakutannya sendiri. Sesuatu yang membuat mereka harus mengambil jarak dari ketakutan.
Waktu itu, jujur, dalam hatiku, ada sedikit kesombongan yang berangkat dari kelas sosial. Meski, aku sepenuhnya sadar bila aku juga memiliki ketakutan-ketakutan tak masuk akal, dan itu hidup dalam diriku. Misalnya, ketakutan tak bisa menyelenggarakan beberapa batang rokok dan segelas kopi saat pagi tiba. Atau ketakutan ditolak calon meretua, dll.

Selasa, 11 Maret 2014

Wartawan dan (mitos) Orang Besar


Di sebuah warung kopi di dekat Perempatan Jepun, Tulungagung, sembari menunggu kawan yang datang menjemput, saya dikejutkan dengan tampang seorang yang lagaknya mirip saya zaman dulu. Seutas tali dengan ID pers menggantung di lehernya. Saat itu juga saya dikembalikan pada ingatan masa lalu. Sebuah iklan neon dari buku yang pernah saya baca, ”percayalah! Tidak ada orang besar yang tidak memulai karir sebagai wartawan.”
Awalnya, kata-kata itu manjur dan langsung punya tempat dalam diri saya. Jadi wartawan, ya, ah pokoknya waktu itu pekerjaan wartawan begitu menyilaukan mata. Meski bukan soal finansial, tapi, terkadang mitos tentang ideal-ideal, standar nilai dan jargon berbicara banyak dalam merebut kesadaran.
Mungkin pada awalnya korelasi antara menjadi orang besar dengan provesi wartawan bisa ditelusuri rujukannya: menjadi wartawan itu banyak informasi, relasi dan (kembali lagi sebuah jargon) ”Informasi adalah power!”
Korelasi antara menjadi wartawan dan menjadi ”orang besar” bisa jadi masuk akal karena dulu banyak orang besar yang berprofesi sebagai wartawan. Meski kita tau, sejarah yang tak dipahami sebagai masa silam akan membawa tulah pada hidup.
Tapi, bisakah hal-hal serupa bisa kembali terjadi di hari ini?
Dulu, situasi sosial di Indonesia memang sedang kalut. Tak ada toleransi bagi suara-suara sumbang untuk mengkritik pemerintah. Masyarakat tak diberikan ruang untuk jadi cerdas dan mengerti persoalan-persoalan kebangsaan, atau lebih tepatnya: boleh paham persoalan terkini tanpa perlu bangkit dan melawan. Sehingga semua aparat dikerahkan untuk membatasi ruang gerak koran dan wartawan. 
Represi rezim adalah obat mujarab untuk memupuk militansi, kematangan sikap, kedewasaan akal dan nurani. Mungkin, istilah ”mantan wartawan” dan ”orang besar” bisa jadi masuk akal. Dan kala itu, modal bukan sesuatu yang mutlak, karena sesuatu yang diperjuangkan benar-benar real (meski tak sepenuhnya benar) dan bisa dirasakan geloranya.
Tapi, setelah kran demokrasi dibuka, segalanya dijungkir balikkan. Segala sesuatu jadi lebih mudah diakses. Informasi tumpang tindih dan berkelindan. Saat itu, fakta adalah sesuatu yang bopeng dan tak dapat ditemukan lagi bentuk aslinya.
Fakta dikonstruksi sesuai kepentingan media---dalam hal ini bisa modal, kedekatan dan posisi strategis---sehingga yang datang di hadapan khalayak hanya kepingan-kepingan kenyataan yang subhat. Sehingga pada akhirnya masyarakat perlahan-lahan mulai memaklumi dan tersublimkan karena mereka yakin: segala sesuatu yang lahir dari media tidak perlu ditanggapi serius.
Lalu, bagaimana dengan wartawan? Ya, mereka tersudut di pojok dan tak dapat melakukan sesuatu kecuali ikut arus. Karena sejak awal kedatangan mereka di media, mimpi dan idealisme mereka diperkosa, dicabik-cabik hingga hancur berkeping-keping.
Media tak butuh cita-cita kudus. Media tak butuh kemurnian fakta. Media tak butuh nurani. Karena media hari ini tak lebih dari industri; pabrik kata-kata dan ilusi yang ditransformasikan ke masyarakat lewat pengulangan sesuatu yang di klaim sebagai fakta.
Pada situasi seperti ini, secara tidak sadar, wartawan pun berubah haluan. Mereka digerakkan perusahaan untuk jadi zombie pemuja tragedi demi rating; demi sebuah alibi keberlangsungan napas perusahaan. Dan ketika eksistensi dan arogansi ideologi mereka tak tersalurkan, maka aspirin pengobat luka para wartawan adalah amplop.
Ketika berbicara soal amplop, ada cerita menarik yang perlu kuceritakan. Seorang tukang becak di Sampang, Madura yang setiap harinya bergaul dengan wartawan tiba-tiba berhenti dari profesinya dan lantas menjadi wartawan Cuma Nanya-Nanya (CNN). Ia tak punya media, tapi dia mengikuti perkembangan isu untuk menodong instansi dengan pertanyaan seputar keburukan dinas-dinas untuk mendapat amplop.
Begitu menariknya profesi wartawan. Profesi yang cukup menjanjikan bagi siapa saja yang piawai menganalisa dan pandai meraba-raba kasus. Serta sebuah pedoman yang mutlak: tidak ada institusi pemerintah yang bersih. Mungkin karena itu setiap institusi selalu mempersiapkan amplop untuk para tamunya yang kebetulan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit. Dan pada puncaknya, wartawan di Kota Sampang pernah dijuluki sebagai ATM berjalan oleh dinas yang kesal.
Tapi, menurut saya, dinas-dinas pemerintah tak perlu berlebihan seperti itu. Kalau yang mereka takutkan dari wartawan adalah aib institusi mereka sampai ke masyarakat, itu salah besar. Karena masyarakat hanya pembaca yang tak peduli. Dinas-dinas itu hanya perlu takut pada Kejari, polisi dan Tuhan. Kalau pada wartawan, mereka hanya perlu menyiapkan uang bensin, rokok, dan mentraktir sarapan.
Dan melihat situasi ini, jalan panjang antara ”menjadi orang besar” dan ”provesi wartawan” tak dapat bertemu. Karena wartawan adalah wartawan. Sebuah baut kecil di sebuah mesin besar industri. Ketika si baut punya cita-cita dan kekaguman pada idealisme, dan perlawanan, maka ia boleh dicopot dan bisa diganti dengan cepat, murah dan yang penting lebih produktif.
Tinggal mendatangi toko baut murah (baca: universitas) terdekat, sebuah baut bisa didapatkan.
*

Kepada adek-adek mahasiswa yang pernah tanpa sengaja saya tipu soal impian menjadi orang besar dengan jadi wartawan, maafkan saya. Setiap manusia tentu boleh kalap, bukan? Juga kepada wartawan-wartawan yang pernah saya kemplang dan saya maki-maki di meja redaksi. Maafkan saya, harusnya saya memahami kemiskinan anda, ketidakberdayaan anda. Memang tidak enak kuliah mahal-mahal hanya untuk dimaki dan dibayar murah. Hehehe maaf, yah :* 

Sampang, 11 Maret 2014
Citra D Vresti Trisna

Rabu, 05 Maret 2014

dua perihal


perihal terminal
            -untuk R (yang dikalahkanTuhan)

terminal yang pernah mengalengkanku
bersama mimpi-mimpi, deodoran, buku-buku,
perempuan dan bunga teluki. ada sebagian diriku
yang terekam di sini, seperti kaset ingatan pada
orang sakit jiwa. kita adalah kenangan.
mimpi sakit ketika jejarum takut
dan racun identitas mencongkel sebelah mataku.
ya, (dan waktu itu) kugantikan dengan tangis ibuku,
kediaman bapak, senyum kecut pelacur.

Selasa, 25 Februari 2014

Demromor 3

#Perihal bunuh diri 2#
Esoknya…
Saya masih terngiang dengan kata-katanya soal bunuh diri. Apa benar ia mati karena bunuh diri? Tapi, yang jadi persoalan adalah ia mengatakan padaku tidak sedang ingin mati. Ia hanya pasrah dan mencoba membuktikan pada sesuatu yang dia yakini. Dan dia menyebut itu Tuhan.
Aku menyeruput kopi yang tinggal seperempat dan menyalakan rokok yang tinggal beberapa batang. Ah, tanggal tua adalah mimpi buruk. Seandainya Tuhan tau aku lapar, mestinya ia tak menyuruhku bekerja. Ia hanya akan menyuapiku.
Saat ini, mengambil pisang goring pun aku tak berani. Uangku sudah pas untuk sekedar kopi dan sebungkus rokok.
Kulihat jam di ponsel, baru pukul sepuluh malam. Tapi aku sudah sangat mengantuk. Meski pikiran-pikiran tentang bunuh diri itu masih jadi hantu di kepalaku. Di bawa alam bawah sadarku jauh…
”Halo… Apa kabar?” Rori menepuk bahuku. Dia membawa orang yang sama. ”Aku ini teman lamamu, tentu kau tak keberatan bila aku dan kawanku menumpang ngopi denganmu,” ujarnya sembari memberi sebuah senyum lebar.
”Gila orang ini lagi.” Gumamku. ”Kau selalu tau kabar keuanganku, tapi kau tidak pernah malu untuk membebaniku,” keluhku.
Rori dan kawannya langsung duduk dan mengambil rokok milikku tanpa permisi. ”Orang mati itu tak perlu malu dengan apapun. Beda dengan orang hidup. Kau masih dipusingkan urusan malu, sedangkan aku tidak. Mungkin ini sudah jalan syahadatku…”
”Apa maksudmu?” sergahku.
”Bahkan seseorang yang hidup dan mengaku bertuhan. Memperistri Islam tapi tak kunjung bersyahadat. Kau masih malu-malu dan takut kalau harus berhutang. Mestinya, kau tak terlalu sayang dengan uangmu.”
”Enak saja mulutmu itu. Setiap orang harus bekerja agar bisa hidup dan tidak merepotkan orang lain.”
Sambil mengunyak pisang goreng ia berkata, ”Ikrar itu kepasrahan yang serius. Total dan tidak bergantung pada untung rugi. Mungkin syahadat adalah kontrak seseorang sebelum dia menjadi kaffah. Dan menolong seseorang yang lapar adalah bagian dari kaffah.”

Minggu, 16 Februari 2014

Puritanisme, Walisongo, dan Syiah

Saya membayangkan bagaimana mungkin seseorang melakukan perjalanan kaki menempuh ratusan kilometer demi sebuah keyakinan. Sebagaimana pada tahun 1558-1603, pada masa pemerintahan ratu Elisabeth I, kaum puritan yang tidak senang dengan apa yang dipraktekkan oleh Gereja Inggris (Anglican Church) memilih untuk bermigrasi ke Amerika untuk memurnikan doktrin dari Gereja Anglikan tersebut.
Di dunia baru tersebut, kaum puritan tidak menutup mata dengan dunia baru yang kini mereka tempati. Mereka pun paham dengan beragamnya masyarakat di Amerika pada waktu itu; yang terdiri dari koloni-koloni. Tapi, sepertinya di dunia baru tersebut, nasib berpihak pada kaum puritan. Paham yang mereka ajarkan pada koloni-koloni di Amerika menyebar hampir ke seluruh wilayah. Dan waktu itu puritanisme menjadi penting di Amerika karena dicatat dalam sejarah.
Kaum puritan datang ke Amerika dengan impian (dream) di bawah pimpinan Wiliam Bredford bermukim di Plymouth pada tahun 1960. Imigran ini datang ke Amerika dengan cita-cita hidup bermasyarakat di bawah sebuah pemerintahan yang diatur berdasarkan agama; sebuah pemerintahan dengan prinsip teokrasi. Yang dalam perkembangannya kemudian bernama religion intolerance.
Putitanisme adalah perpaduan antara gerakan agama dan sekaligus (dapat disebut) politik yang berkembang di Inggris pada abad 16 dan kemudian berkembang luas di Amerika. Puritanisme menjadi sebuah gerakan politik ketika situasi masyarakat berada di titik kulminasi rasa jengah pada kelas-kelas sosial; terutama kelas yang bersumber dari  gereja (pendeta). Sehingga datangnya puritanisme waktu itu dianggap sebagai jawaban dari konsep keberagamaan yang dicita-citakan: setiap orang punya posisi yang sama di mata Tuhan.
Menurut Martin Luther, salah satu tokoh puritanisme, menyumbangkan sesuatu yang penting dalam konsep kependetaan. Menurutnya,  seorang pendeta hanya seseorang yang terdidik dalam agama, dan mereka ada untuk mengajarkan agama pada yang bukan pendeta. Sehingga di mata Tuhan, seseorang itu pendeta atau bukan, memiliki posisi yang sama.
Pada awalnya saya masih terus berpikir, mengapa di abad 17 agama masih merupakan sesuatu yang jadi ”prioritas” dan sangat prinsipil. Tapi, ternyata religiusitas dan fundamentalisme hanya bisa dipicu dan digerakkan dari rasa bosan seseorang atas rutinitas. Sehingga selamanya fundamentalisme tidak akan mungkin kita kenali dengan baik, kecuali mengenang kerasnya fundamentalisme itu memukul sesuatu yang dianggap sebagai ”musuh”. Meski bukan berarti musuh kaum puritan waktu itu adalah feodalisme gereja dengan kelas-kelas sosial di hadapan Tuhan.
Di Indonesia, hal yang sama juga pernah terjadi. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, terjadi perpindahan agama besar-besaran di Jawa. Meski waktu itu ada perdebatan mengenai apakah rasa jengah atau patos dari walisongo yang terlalu besar sehingga perpindahan agama besar-besaran dalam waktu singkat bisa terjadi.
Salah satu pendapat mengatakan bila masyarakat Jawa waktu itu telah jengah dengan kastanisasi agama Hindu, yang waktu itu begitu kental. Kemunduran kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara waktu itu juga membawa pengaruh besar --- yang  ditandai dengan banyaknya pertumpahan darah dari perebutan kekuasaan membuat masyarakat Jawa memimpikan sesuatu yang baru. Karena agama pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara adalah sesuatu yang politis. Sehingga ketika Islam datang di kehidupan masyarakat, maka beramai-ramailah orang berpindah agama. Dan (mungkin) saat itu setiap orang menginginkan ketenangan; menginginkan mendapat posisi yang sama di hadapan Tuhan.
Dimana-mana kasta dalam agama selalu menjadi bom waktu yang mengerikan. Ia dapat meledak kapanpun dengan berbagaimacam pemicu, dan itu bisa soal perut, atau politik. Dan sejarah-sejarah dunia selalu mengulang sesuatu yang sama. Karena perubahan keyakinan secara massal hampir tidak mungkin terjadi tanpa pertumpahan darah.
Diakui atau tidak, puritanisme mengubah wajah Amerika sebagaimana dengan tersebarnya Islam di Jawa oleh wali songo. Tapi, keduanya bercerita sama: fundamentalisme akan berseteru dengan fundamentalisme lainnya. Meski sayangnya semua itu tidak perlu terjadi bila seseorang bisa menemukan korelasi antara agama dengan fluktuasi kehidupan bermasyarakat. Karena agama adalah agama dengan berupa-rupa dogma di dalamnya. Dan kehidupan punya bahasa sendiri, termasuk kejenuhan yang tak satupun diantara kita sanggup merubah logika hidup.
Mungkin kelompok puritan di Inggris dengan masyarakat Islam di Jawa adalah sebuah pembelajaran bila keyakinan adalah sesuatu yang murni. Sehingga ketika ia (keyakinan) itu datang, seseorang akan berani mengambil pilihan-pilihan hidup. Termasuk melakukan migrasi besar-besaran agar apa yang diyakini mendapat tempat.
Yang harus kita catat adalah bila perubahan keyakinan secara massal bukan perkara yang aneh. Suka atau tidak, perubahan keyakinan akan kembali menyapa manusia sejalan dengan perputaran hidup dan kebosanan. Tapi, yang paling ditakutkan adalah ketika keyakinan dirumahkan dalam sebuah lembaga-lembaga formal di masyarakat --- dimana dalam lembaga itu politik pun ikut ambil peran --- dan membuat perubahan keyakinan secara massal sulit diterima.
Hari ini (mungkin) perpindahan ”keyakinan” dalam satu atap agama adalah konflik Sunni-Syiah di Sampang karena adanya kelompok yang telah meletakkan keyakinannya dalam lembaga-lembaga agama. Tapi, semoga saja saja saya salah mengambil contoh dan apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang saya pikirkan, amin.
Sampang, 16 Februari 2014

Minggu, 09 Februari 2014

Deisme dan 2.5 Juta

Kegelapan dan mimpi buruk itu bernama ”deisme”. Pada abad 17-18 lalu, deisme datang bukan dari luar, tapi dari dalam. Ia adalah antitesis dari puritanisme, yang waktu itu di wakilkan oleh greja-gereja ortodok.
Saat itu deisme adalah mimpi baru dalam kebosanan cara beragama yang emosionil serta labil. Deisme datang dengan  majunya intelektualitas kita. Semacam upaya penyegaran masyarakat dengan mencoba mematerikan Tuhan agar tidak ketinggalan jaman mencoba memaksa Tuhan berdamai dengan relativitas. Sehingga revealed religion berhasil dibuat tidak lagi bermakna kecuali puing-puing barbarisme agama dalam sejarah pembantaian. Maka saat itulah natural religion lahir.
Deisme membuat pusat dari segalanya adalah alam: sesuatu yang (seharusnya) ditaklukkan manusia. Karena, menurut Ethan Allen, alam adalah sesuatu yang menjanjikan keteraturan ketimbang Tuhan. Dan mungkin pemberontakannya pada moral lama dia wujudkan dengan menerbitkan buku anti-Kristen. Dalam bukunya, Allen mencoba menjelaskan bila keajaiban adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan alam. Meski ia kemudian gagal karena tak mampu menangkap keajaiban-keajaiban dari alam. Dan yang paling tragis dari bukunya, ia telah gagal untuk meramalkan kebutuhan manusia jaman sekarang: politik hijau. Karena ia hanya berfokus pada singkronisasi manusia dengan alam bisa ditempuh lewat penaklukan alam semesta.