Laman

Jumat, 25 April 2014

Predikat Bajingan Itu Cuma Milik Saya #demromor4

Usai melihat subuh, Rori terhuyung-huyung datang ke warung. Ia minta dibuatkan kopi dan mengambil beberapa batang rokok lalu duduk dan tertunduk lesu.
”Kau ini kenapa?”
Dan berceritalah dia. Kurang lebih seperti ini:
Dalam kamus bajingan yang kumengerti, kehilangan adalah sebuah langkah awal untuk berusaha (suka-tidak suka) mengerti batas. Tidak ada sesuatu yang perlu dipaksakan karena waktu akan selalu datang dengan air bah. Membawa apapun yang tak pernah kita duga. Dan kita adalah gelandangan papa yang harus piawai memanfaatkan apa yang dibawa air bah.
Mungkin, bagi bajingan sepertiku, air bah itu juga membawa orang-orang baru yang bisa kita manfaatkan. Dan tanpa bermaksud mengeras-ngeraskan hidup; bukankah hidup itu keras? Kalau tidak membunuh, kita lah yang akan dibunuh. Mekanisme pertahanan diri yang terekam dan kupelajiari baik-baik waktu aku terdampar selama beberapa tahun di Terminal.
Bagi penjahat sepertiku, moral adalah urusan nomor 689. Mungkin moral akan menyayangkan kehilangan; sesuatu yang pernah berarti dalam hidup kita. Tapi, kehilangan tidak berarti apa-apa dalam hidupku karena aku percaya ada air bah yang membawa orang-orang baru. Aku tidak peduli, kehilangan selalu melibatkan hati lainnya yang mungkin patah.
Ya, selama kita memiliki kemungkinan lain, kehilangan adalah perkara remeh temeh. Kita tinggal berkata: ”Sayang, aku menyesal. Aku tak mungkin melupakan kau. Kau orang yang pernah berarti (sekarang tidak berarti) dalam hidupku". Urusan selesai. Dan kebinalan macam itu hanya ada pada lelaki. Terutama saya.
Karena perempuanlah yang paling banyak mengeluh. Karena perempuan yang lebih banyak menangis. Perempuanlah yang lebih banyak membagi kebenciannya pada orang lain dan tak berhenti menggeneralisasi. Mungkin perempuan adalah mahluk paling patah hati. Dan pria Pria adalah mahluk yang patut disalahkan atas perkara tidak setia; perkara kemampuan dan kodratnya memiliki kemungkinan lain, memiliki selingkuhan. Piala kebinatangan selamanya hanya milik lelaki. Dan harap dicatat, ini khusus untuk saya. Karena pria-pria lain di luar sana itu suci; bukan anjing.
Apa menurutmu pandanganku ini terlalu hiperbol? Tapi, mungkin kau tidak mengerti betul: bila kebusukan hanya milik pria karena tidak hanya wanita yang mengakui. Korps pria setia pun mengakuinya.
Predikat anjing adalah milik saya pribadi sebagai seorang pria. Meski entah mengapa anggapan anjing selalu dialamatkan pada ketidaksetiaan. Apa benar anjing adalah binatang yang paling tidak setia?
Kalau nanti ada perempuan yang tidak setia, kita bisa menyebut itu hanya kasuistik dan bukan kebenaran mutlak. Mungkin nilai yang tidak bangkrut sejak dulu hanya soal ketidaksetiaan pria. Tapi, benar atau salah pandangan saya ini, tentu bukan hal penting bagi seorang bajingan. Terutama bajingan perangkai kata. Mahluk paling  menjijikkan di mata perempuan.
Bukankah predikat kemanusiaan (yang bisa terluka) hanya ada pada perempuan? Yang bisa selalu setia dan selalu menangisi, mengutuk tiada henti. Ya, sebenar-benar manusia, yang bisa merasa sakit dan yang paling punya rasa. Yang sulit bangkit dari luka dan yang paling penting adalah tidak sepertiku: beberapa menit luka, langsung mencari kemungkinan lain dengan berbagai dalih dan cara.
Kalau ada pria yang mengajakmu menjalin bahtera rumah tangga, para perempuan tidak boleh langsung percaya dan harus curiga: jangan-jangan dia bukan pria. Kecuali dia bisa membeli tubuhmu, orang tua dan hidupmu. Karena lelaki dilahirkan untuk tidak setia dan tidak menangis terisak-isak ketika ditinggalkan perempuannya. Apalagi ketika tau perempuannya punya banyak kekasih lantas matanya merah karena tau hubungannya selesai.
Bukan lalaki namanya, kalau ia terisak karena rindu dan tak pernah berhenti memikirkan perempuannya. Dia adalah banci dalam tubuh pria. Dan sekali lagi harap dicatat, ini hanya berlaku bagi saya. Karena pria-pria lain di luar sana adalah malaikat penolong perempuan yang terluka dan tidak mudah berpindah hati. 
Nah, ini yang penting! Kalau nanti saya berkata, saya sedang patah hati, maka percayalah itu hanya harga diri saya saja yang terkoyak dan bukan berarti saya tulus mencintai. Tolong dicamkan.
Karena hanya lelaki yang bisa memberi harapan palsu dan menyerah pada takdir, ”Sayang, kalau kita jodoh, kita pasti bersama.” Perempuan adalah mahluk yang selalu berkata, ”Apapun yang akan terjadi, aku akan nekat. Pokoknya aku mau kamu dan harus hidup menjadi pendampingmu… ” lalu ia menangis dan melupakan takdir Tuhan itu tak bisa dibantah.
Hanya perempuan yang sanggup demikian. Dan itu adalah hal yang tidak mungkin bisa saya lakukan karena (saya ulangi) saya adalah bajingan paling tengik pemberi harapan palsu.
***
Selesai bercerita, saya lihat ia berlalu pergi tanpa sempat membayar kopi dan rokoknya.
Sudah siang rupanya.

Yakobus, 25 April 2014
cdv_t



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.