
Terimakasih, Gie. Untuk keberanianmu
melawan; pemikiran yang kau luapkan lewat tulisan-tulisanmu. Karena dengan itu kau
tetap hidup hingga kini. Hidup dalam pikiran dan diamini oleh mereka yang
mengaku “berjuang”. Dijadikan pemanis retorika dan dikutip oleh siapa saja yang
kebetulan ingin dianggap berani dan pintar. Dan kau sudah jadi semacam pasword
bagi mereka yang ingin tampil.
*
Aku kenal kau lewat buku-buku
yang membual soal revolusi. Buku-buku itu menggambarkan kau bak pendekar yang
tak mundur meski ditodong moncong bedil. Meski kau membantahnya dengan cara
mati sunyi dalam rindu di puncak
tertinggi pulau Jawa: Semeru. Karena aku
adalah bocah labil yang mudah penasaran, maka aku mencari-cari tulisanmu dan mencoba
mengenal siapa kau sebenarnya. Kira-kira seperti itu aku mengenalmu dulu. Meski
kau tak perlu mengenalku, salah satu bagian dari korps hipokrit dari organ yang
masih percaya pada perjuangan dan revolusi, namun sangat rajin menjilat.