Laman

Jumat, 12 September 2014

Artis Porno, Terimakasih Banyak



-Kepada artis porno di seluruh dunia, Al-Fatihah.

Beberapa hari lalu saya terkejut dengan kehadiran foto ”seram” adik kelas saya di Universitas Bunga (bukan nama sebenarnya) yang beredar lewat sebuah grup facebook jurusan. Foto itu cukup fulgar karena si perempuan sedang tidur dengan telanjang dada dan di sebelahnya ada seorang pria berkulit gelap.
Saya sendiri tau foto itu karena kebetulan ada adik tingkat, yang dengan baik hati mau mem-printscreen foto itu untuk saya. Saya terkejut, sedikit senyum-senyum dan garuk-garuk kepala. Tapi, saya yakin kalau foto itu diunggah oleh orang lain yang berniat tidak baik atau mungkin dilatarbelakangi motif dendam.
Setelah sedikit senyum-senyum, sejurus kemudian saya berpikir: bagaimana perempuan sekecil itu akan menjalani hari-hari kuliahnya? Seberapa kuat adik (agak) manis itu menanggung malu karena fotonya tersebar di media sosial?
Pada awalnya saya membayangkan bila perempuan itu adalah adik perempuan saya. Lalu gelombang perasaan kembali berkecamuk: bagaimana kalau pria dalam foto itu adalah saya? Ah, saya tidak mungkin mampu menyembunyikan muka dari tatapan sinis orang-orang. Meski predikat ”cabul” sudah melekat pada saya, tapi kalau untuk beban semacam itu tentu menjadi sebuah persoalan malu yang bakal menggerogoti saya seumur hidup.
Tapi, setelah saya pikir lagi, ternyata Tuhan begitu sayang pada adik (agak) manis itu. Ya, Tuhan meninggikan derajat kemanusiaan lewat sesuatu yang tak pernah dia duga: mendadak jadi artis (yang dianggap) porno.
Kini, siapa yang masih sanggup menganggap artis dadakan itu sebagai perempuan baik-baik? Dan tentu saja yang paling penting adalah: mendadak setiap orang akan menjadikannya contoh dan tetenger untuk bisa mawas diri. Ya, mawas diri dalam dua hal: pertama untuk lebih berhati-hati menyimpan gambar telanjang; kedua  berusaha sebisa mungkin agar hidup kita bisa lebih baik dan ”bermoral”. Meski pada kenyataannya tak satu pun dari kita merelakan diri kita jadi contoh agar kehidupan orang lain bisa jadi lebih baik. Meski kita tau, bahwa kenakalan remaja yang dilakukan adik (agak) manis bukan satu-satunya hal yang bisa membuat kita pantas menilai bila jaman dulu lebih bermoral ketimbang jaman sekarang. Karena secara tidak langsung teknologi membuat liku-liku kehidupan bisa lebih terbuka dan lebih tampak muram dari sebelum-sebelumnya.
Bagiku, bersedia atau terpaksa menjadi contoh buruk agar orang lain bisa lebih baik adalah sesuatu yang patut dihargai. Karena pada umumnya seseorang hanya siap menjadi contoh baik, bukan contoh buruk. Seperti halnya yang terjadi pada adik (agak) manis beberapa waktu lalu. Dia (mau tidak mau) harus merelakan tubuhnya jadi tontonan banyak orang dan melepaskan predikat ”anak baik” agar orang lain tidak menjadi seperti dirinya. Dan pertanyaanku: orang macam apa yang nantinya tega menghukum adik (agak) manis tersebut dengan sorot mata yang sinis dan menghakimi?
Meski foto itu telah dihapus dari grup, tapi bisakah kita semua membantunya lepas dari rasa malu? Dan seperti dugaanku sebelumnya, pasca foto itu beredar, perempuan malang ini absen dari beberapa kuliah.
Adik manis, kamu boleh saja sedih dan merasa malu. Tapi, entah berguna atau tidak, aku berdoa semoga kelak hidupmu bahagia. Sekarang, tangisilah rasa malumu, aku percaya bila itu bukan kehendakmu. Dan andai kata semua kemalangan ini anugrahNya, maka Dia juga yang akan menghapus tangismu. Percayalah!  Kau ”lebih baik” dari semua orang yang hanya mampu mencibir dan memandang rendah padamu.
Adik manis, percayalah bila kau tak sendiri. Banyak orang yang mengalami nasib serupa dengamu. Kini kau adalah tiang tegak yang menjadi contoh dan pengingat bila dunia kita sedang sakit. Hey, dimataku, kau adalah sebuah pertanda bila dunia memang benar-benar harus kembali berbenah untuk jadi lebih baik. Dan sekali lagi, tidak semua orang sanggup untuk jadi contoh buruk. Bukankah sejak dulu dunia (sebagaimana aku) hanya mampu mencibir dan menilai berdasarkan baik-buruk. Bukankah kita semua terlalu pengecut untuk berani menunjukkan bopeng wajah kemanusiaan kita. Bukankah kita semua harus berterimakasih padamu, karena berkat kau, dunia tak sempat mengkoreksi keburukanku. Karena kini semua pandang mata tertuju padamu, kejelekanmu. Dan berkat kau, kita semua masih pantas untuk disebut sebagai ”baik” dan ”bermoral”.
Dan percayalah bila suatu ketika kau akan melihat bila orang-orang di sekitarmu pun tak sebaik yang kau pikirkan.

SM, September 2014
Citra D.Vresti Trisna

3 komentar:

virginia rully mengatakan...

Bingung juga sih .. Sering mikir gitu gimana jadinya kalo ada diposisi gitu yang tiap hari musti ngadepi orang2 yang ntah sukanya "mencibir mulu" atau emang ngga punya perasaan (kebanyakan kaum wanita, sedihnya)
Tapi ya nggak berhak mengkririk juga sih hehehe tauk ah ..

Maulidi iswahyudi mengatakan...

Hidup Medsos Indonesia :D

Citra D. Vresti Trisna mengatakan...

@Rully: woy, sampek sini juga kamu.

@Wahyu: Hidup pak lalat

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.