Laman

Kamis, 28 September 2017

Nasib Dalang dan Penghianat

#DUDAKARTAdanJAKARTA11
Citra D. Vresti Trisna
Mencari penghianat di kotak wayang itu gampang-gampang susah. Pekerjaan ini sangat bergantung dari lakon yang sedang dimainkan. Dalang adalah orang yang berperan dalam merenung seperti filusuf, mengkalkulasi, (kalau perlu) sholat istikharah dan barulah mengambil sang penghianat untuk ditancapkan ke gedebog. Penonton yang sabar berhak tahu sambil merem-melek mendengar narasi; alasan seseorang dituduh berkhianat. Setelah beberapa saat, dalang harus menunggu dan memberi jeda pada dirinya sendiri dan yang terpenting adalah menguji respon penonton — sang hakim agung — terutama membaca ekspresi mereka dari riuh-rendah suara, naik-turun tarikan napas dan kasak-kusuk bunyi di sebalik hati penonton.
Di sebuah kultum subuh Mbah Ripul pernah dawuh, ”dalang bersertifikat itu bukan yang pinter jungkar-jungkir dan membuat wayang salto, tapi yang pandai menerka isi hati penonton lalu membuat mereka kecele.”

Cobalah buat riset kecil dengan mengamati sejumlah film. Cari film mana yang tidak sesuai dengan isi hati penonton dan yang film yang sesuai isi hati. Mungkin sesuai itu bisa berarti film tersebut menye-menye atau mungkin happy ending. Hubungkan dengan dua hal tersebut dengan jumlah penonton bioskop setelah beberapa minggu tayang. Hubungkan juga dengan keberlangsungan film, seperti: Sniper 1, 2, 3; AADC dan AADC2. Cobalah anda tengok, ekspektasi penonton di film cukuplah dipenuhi dengan yang paling mendasar saja, seperti: sinematografi, tokoh bebodoran, kecantikan dan ketampanan pemain, jalannya cerita, dan kemampuan akting. Soal muatan nilai itu sunnah. Yang penting adalah bagaimana cerita itu berakhir. Semakin sinting ending film itu semakin bagus. Terlebih jika film berbuah rasa gregetan karena kejutan akhir.
”Lha hubungannya dengan dalang, mbah?” tanya Mas Rombong.
”Ini hanya soal kepekaan sutradara pada cerita dan menentukan calon penontonnya. Ketika dalang benar-benar tahu siapa yang bakal mengikuti pertunjukannya, tentu saja ia akan punya kans dalam menunjuk siapa penghianat, siapa pahlawan dan siapa kambing congek dan sengkuni. Lha apa jadinya kalau ada pembuat film hantu yang punya segmen masyarakat religius tiba-tiba menjadikan tokoh pak haji sebagai penjahat dan si hantu sebagai pahlawan? Yang penting jelas dulu tokoh dan karakternya. Kalau soal di tengah cerita pak haji dikalahkan hantu dan penonton jadi gregeten sendiri itu terserah dalang.”
Mas Rombong manggut-manggut mendengarkan penjelasan Mbah Ripul.
Bagaimana dengan nasib dalang? Soal pada akhirnya si dalang dibilang keparat-durjana, itu wajar. Justru dia bakal terkenal, punya banyak haters dan punya banyak pendukung. Gunjingan soal film justru bakal meningkatkan rating film. Lambat laun, penonton bakal move on: ”ini kan hanya film.” Seperti rumus: semakin sering dibicarakan, semakin cepat pula dilupakan; semakin cepat dimaafkan. Kalau soal nasib penghianat, itu lain soal. Ia selamanya akan jadi penghianat di mata sebagian orang dan dijadikan pahlawan bagi sebagian yang lain.
Film itu seperti hidup manusia, terlampau luas untuk dikembarai. Ada banyak kemungkinan. Orang-orang yang berkelahi adalah yang berada di dalam pro-kontra. Sedangkan yang di tengah: bisa jadi penonton yang tidak peduli, bisa jadi mediator, bisa jadi pemasang taruhan, bisa jadi komentator, bisa jadi pencatat.
”Di dalam hidup yang maha luas ini, seseorang bisa jadi penghianat tapi lima menit kemudian jadi pahlawan. Bisa jadi pahlawan, satu detik kemudian jadi bandit dan penghianat.” Kata Mbah Ripul.
”Lha bagaimana cara menyikapi ketika kita jadi salah satu aktor itu, mbah?”
”Jadilah dirimu sendiri yang hanya memasrahkan semua kepada Maha Dalang, Maha Sutradara. Pokoknya jangan takut dengan sutradara-sutradara kecil. Nanti kamu terjebak syirik,” pungkas Mbah Ripul.
Beberapa menit sebelum jamaah sholat subuh bubar, sebagai lurah teladan Desa Dudakarta, Mas Rombong memberi pengumuman: ”Sedulur sedoyo, di pelosok-pelosok kampung Jakarta sedang ramai nonton barang film G30S/PKI. Jangan lupa kita bersolidaritas untuk nonton juga. Siapa tahu masing-masing dari kita bisa memetik hikmah. Amin.”


Jakarta, Kamis Legi, September 2017

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.