Laman

Jumat, 03 November 2017

Yasinan untuk Alexis 2

#DUDAKARTAdanJAKARTA15
Citra D. Vresti Trisna


Merasa belum mendapat kemantapan hati atas Alexis, warga Dudakarta kembali lembur yasinan. Setelah mata cukup panas dan perut warga sudah keroncongan, barulah mereka ngaso barang sejenak. Pedas wedang edang jahe buatan istri Mas Rombong membuat mereka kembali greng. Mata mereka lebih greng lagi ketika sadar bila Gus Miek rawuh yasinan dan ikut menikmati suguhan wedang jahe. Setelah ia berkata, ”khairul umuri ausatuha,” beliau lenyap.
Sebaik-baik perkara adalah yang di tengah!
Akhirnya warga Dudakarta manthuk-manthuk dan mulai bertanya satu sama lain untuk mempertanyakan apakah mereka akan meneruskan yasinan atau justru pulang ke rumah masing-masing.
”Tengahnya Alexis itu apa hayo?” Celetuk Wakebol disambut riuh rendah suara warga yang ngaso.
Warga Dudakarta sepenuhnya sadar bila mencari jalan tengah dan mengambil hikmah atas perkara Alexis tidak semudah pertanyaan tebak-tebakan anak kecil: tengahnya pasar ada apa? Lalu akan dijawab, ”ada essssss...” Mereka juga sudah memperhitungkan bila ”tengah Alexis” itu bukan ”ex”, melainkan kompleksitas persoalan yang sudah runyam dan mengakar. Selain itu, pelacuran adalah salah satu kebudayaan purba yang masih hidup hingga kini dan terus memperbarui diri dengan wajah yang baru. Pelacuran boleh dikekang, tapi selalu ada celah dan cara manusia untuk melampiaskan hasrat yang ilegal dengan cara baru yang lebih canggih. Karena pelacuran kelamin adalah akibat kesekian dari pelacuran etika, kepercayaan, iman, pendidikan dan lainnya.
Kalau warga Dudakarta boleh berbaik sangka, upaya Pemprov DKI hanya sejengkal dari upaya kaffah yang perlu didukung. Masyarakat memang lebih tua dan matang dari Pemprov, tapi hendaknya sebagai orang yang berada di depan perlu memberi teladan sikap. Kalau ternyata penutupan Alexis hanya sekedar langkah dan tidak diikuti upaya kaffah lainnya. Atau upaya kaffah ini juga kembali berlaku ketika Alexis jilid dua, tiga, seratus. Karena penutupan Alexis itu berbeda dengan penutupan warteg di tanah sengketa. Alexis jilid 2, 3, 4, sampai 1000 hanya butuh waktu beberapa hari untuk kembali bangkit. Sedangkan untuk usaha mikro bangkit setelah dihajar buldoser itu susahnya setengah modyar.
Kalau boleh melanjutkan berbaik sangka, penutupan Alexis kali ini adalah salah satu jalan untuk menyelesaikan persoalan tanpa buldoser dan memasang aparat untuk diadu dengan rakyat. Jalan yang ditempuh Anies terbilang cukup sunyi dibanding gubernur sebelumnya meski langkah yang telah diambil bukan tanpa risiko.
Alexis boleh saja ditutup dengan cara yang senyap dan hampir tanpa teriakan kasar orang kecil yang mengamuk sambil memberanikan diri menyongsong pentungan polisi. Tapi, apakah mereka (orang-orang kecil dalam lingkaran Alexis) benar-benar diam? Jawabnya belum tentu. Siapa yang tidak marah usahanya kukut? Kalau mereka tidak buka suara dan berteriak memaki di depan hidung pemprov, mereka bisa saja berteriak dalam hati sambil sesegukan menangis mengadu langsung ke Gusti Allah sang pemilik 100 persen saham kehidupan manusia; pemilih benar-salah dan hakim paling jujur atas hidup. Terikan dalam sepi ini justru lebih berbahaya dari dibandingkan demo ribuan warga.
”Susah juga, ya?”
Kepekaan Mas Rombong mendengar suara sunyi di kedalaman hati warganya segera diutarakan kepada Mbah Ripul. ”Susah juga, ya, mbah jadi Gubernur?!” Kata Mas Rombong.
”Kalau pemimpin terbiasa bersikap munafik dan punya bakat memimpin warga sambil nyambi dagang, ya, tentu sulit. Kalau mereka mau sedikit saja puasa dan tirakat tentu mereka tidak akan kesulitan mendengar suara sunyi. Yang harus dilakukan Pemprov DKI adalah belajar mendengar suara sunyi rakyat sebagaimana pemimpin terdahulu. Mendengar suara sunyi dalam konteks kepemimpinan itu hukumnya wajib, bukan sekedar sunnah,” jawab Mbah Ripul.
Menurut Mbah Ripul, satu-satunya jalan pemprov terhindar dari kualat orang-orang kecil — tidak hanya perkara Alexis — adalah belajar mendengar suara sunyi dan mengambil tindak lanjut atas kebijakan yang sudah dibuat berdasarkan suara sunyi itu.
”Apakah pemimpin baru DKI itu sudah pandai mendengar suara sunyi?”tanya Mas Rombong lagi.
”Besok saya akan undang dua orang itu untuk wawancara di warung Mang Alim,” tukas Pakde Dalbo. ”Saya juga akan kasih mereka pertanyaan sulit soal ”jalan tengah” Alexis sebagaimana kata Gus Miek ketika rawuh tadi,” ujarnya yakin.
”Modelmu Bo-Dalbo.”
”Kalau begitu tengahnya Alexis ada apanya?” tanya Wakebol.

”Ada eeexxxxx” warga koor dengan kompak.


Dudakarta, Jumat Pahing, November 2017

1 komentar:

deni pujapranata mengatakan...

Pengen juga pak Kiai Citra, untuk Ikut Yasinan alexsis

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.