Laman

Rabu, 18 Januari 2012

Televisi

“Televisi adalah sahabat paling mengerikan karena ia berada di tengah-tengah rumah kita” kata AS. Laksana dalam sebuah kolomnya. Hal itu mungkin benar,  karena televisi selalu punya cara yang menarik untuk memberikan ragam cara untuk melakukan kejahatan. Ia seakan memberikan sebuah kesimpulan bahwa kejahatan bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Apalagi berita-berita kacangan tentang kasus kriminal.

Tapi, seburuk apapun substansi berita dan metode penyampaiannya, ia tetap informasi yang memberikan gambaran tak selesai akan wajah kehidupan berbangsa kita yang bopeng. Satu sisi kita mesti tau bila dunia sedang tidak baik-baik saja. Di sisi lain, ia tetap racun karena dramatisasi – yang berorientasi pasar – menjadikan kita adalah kopian-kopian dari sesuatu yang diberitakan.

Kita tak akan benar-benar bisa menolak segala sesuatu sebagai “negatif”. Ruang bawah sadar akan menyimpan segala hal yang “berkesan” – akibat dramatisasi – sebagai sebuah refrensi hidup yang bisa dipakai saat kita benar-benar butuh. Bukankah kecenderungan kita adalah selalu bisa menemukan pembenaran atas apa yang kita lakukan? Maka segala perilaku hidup: pembantaian, korupsi, pemerkosaan, selalu punya ruang-ruang yang bisa membuat kita memaklumi. Selain alasan bahwa kita adalah bangsa bijak lagi pemaaf. Media begitu piawai dalam membengkokkan sesuatu yang di inginkannya. Sehingga mereka yang memiliki kesadaran tak memiliki kuasa apapun; kecuali nurut-nurut saja digiring dalam setting yang sudah dipersiapkan (agenda setting).

Seperti kasus penemuan tengkorak yang kemudian berkembang menjadi kasus mutilasi yang dilakukan oleh seorang perempuan asal jombang, Jawa Timur. Televisi menggambarkan kronologis dari peristiwa itu sebagai pemuas dahaga masyarakat yang ingin mengikuti drama kekerasan (urutan no 2 setelah drama Korea) agar bisa melakukan sesuatu dan mengambil beragam kesimpulan tentang siapa sebenarnya kita ini. Mungkin kasus Rian yang “katanya” Jagal Jombang menjadi gerbang sebelum segala kekerasan yang berbau Jombang bisa laku di pasar. Tiap berita kekerasan laku karena “mungkin” dari sana kita bisa menemukan pembenaran diri, semacam kesimpulan sederhana yang tersirat: kita ini masih lebih suci ketimbang para pelaku kekerasan itu. Sepertinya tak serambutpun kita mau pusing dengan pertanyaan: mengapa mereka para pelaku kekerasan bisa menjadi sedemikian mengerikan? Apakah sedikit banyak kita tidak terlibat dalam kengerian itu? Apakah kekerasan dan banyak hal mengerikan adalah sebentuk gambaran dari kolektivitas peradaban?

Boleh jadi, kita telah lama lupa alasan tentang mengapa hanya mereka yang terekspose? Apa mereka hanya martir yang menjadi juru selamat atas kebengisan yang telah kita lakukan dengan rapi? Sedemikian banyak hal mengerikan yang telah kita lakukan tapi telah berhasil kita simpan rapat-rapat. Pendek kata, kita mesti berterimakasih kepada mereka yang telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan harga diri kita dari segala kebengisan kita. Sementara orang-orang kecil jadi tontonan ngeri di televisi, kita bisa membicarakan kekejian itu di mesjid dan digereja. Kita tetap “di atas”, berdiri sebagai orang suci yang bebas dari kemungkinan mencincang orang lain karena pendidikan dan taik kucing etika tidak mengajarkan demikian. Tapi, boleh jadi kita dan televisi telah berperan aktiv dalam mencetak dan mendidik orang-orang kecil yang malang untuk menjadi bengis dan martir yang dikorbankan untuk menutupi kekejian kita.

Kalau begitu, siapa yang lebih bengis: kita atau mereka yang tampil di televisi sebagai aktor tunggal kasus mutilasi?

Desember, 2011

1 komentar:

Wahyu Intan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.