Laman

Sabtu, 21 Januari 2012

Nusantara Part 2 (Nyantai bos...)

Cita-cita adalah sesuatu yang membuat seseorang terus hidup. Keberadaan kepentingan membuat kita sadar bahwa masih ada orang yang bisa dikatakan “hidup”. Tapi sebelum itu, kita harus tau dulu kepentingan apa yang dibawa? Prinsipil atau tidak? Punya harga diri atau tidak? Kalau demikian adanya, bolehlah kita—orang-orang di Kampung Nusantara—belajar untuk sedikit lebih hidup dengan mempunyai “kepentingan” dan belajar lagi mengenali arti “harga diri”. Lalu mengingat-ingat falsafah hidup yang telah lama dilupakan, dan yang terpenting tidak sok mbarat.
Coba kita bayangkan bila setiap anak yang lahir di Kampung Nusantara ini tumbuh bagai mayat hidup tak berkehendak. Tumbuh dan belajar untuk senantiasa dikehendaki: negara lain,  bangsa lain, kelompok dan golongan-golongan tertentu. Dipaksa—sadar, tidak sadar—kehilangan jati dirinya: asal usul, cita-cita bapaknya, hidupnya, nenek moyangnya. Karena bisa dibilang aturan tak tertulis di Kampung Nusantara ini adalah saling menopangkan cita-cita di pundak anak cucu. Hal ini dibenarkan oleh kata Edi Banteng, seorang kawan tua, “kita ini terlahir dan harus hidup dengan beban sejarah dari orang-orang terdahulu kita”.

Berbeda dengan yang dikatakan seorang kawan lain yang sebaiknya tidak usah saya sebutkan namanya: “Lho, tidak bisa seperti itu, bung. Siapa bilang kita tidak punya kepentingan. Bung bisa melihat bangsa ini semakin terpuruk. Peradaban berjalan mundur, meskipun kita mengklaim diri telah punya maha karya facebook, yang memungkinkan seseorang bisa beribadah tanpa perlu menghadap Tuhan”, tukasnya, ketus.
“Wah, kan saya sudah bilang, kalau kita harus tau dulu apa kepentingannya, apa motifnya. Prinsipil atau tidak untuk hidup, kemanusiaan, dan peradaban. Kalau hanya kepentingan tengik orang-orang partai, politisi, aparat penegak hukum, dan sekumpulan mahasiswa oportunis yang coba-coba bermain politik dan mulai korup kecil-kecilan. Dimulai dari uang beasiswa. Kalau itu saya tau.”
“Tapi apa bedanya. Meskipun demikian, itu juga namanya kepentingan. Tidak perduli dalam sekala kecil atau besar. Dan yang terpenting, pemuda kita telah mampu berdiri dengan kakinya sendiri dan mencari peluang-peluang kecil untuk dapat terus hidup”, ujar kawanku lagi.
Sudahlah, saya tidak ingin membuat anda tambah jengkel dengan pembicaraan diatas. Karena kawan saya termasuk “mubalisme”—penganut madzhab Bhuto Mubal—yang beridiologi ngeyel.
Berbicara soal pandangan hidup dan cita-cita untuk bangkit dari keterpurukan, kita mesti memiliki visi yang jelas dalam memandang persoalan yang terjadi di negeri ini. Pasalnya, situasi dan masalah yang terjadi sudah hampir sulit diidentivikasi untuk dicari solusinya. Setiap masalah yang timbul, selalu berkaitan dengan masalah lainnya hingga menciptakan kondisi yang dilematis. Belum lagi dengan datangnya masalah baru ketika masalah yang lama belum tuntas. Boleh jadi, kita tidak punya waktu untuk berpikir jernih dan berkontemplasi lantaran begitu mustahilnya tercipta stabilitas di negeri ini.

Kembali memeras santan sejarah nusantara
Kata buku-buku dan banyak orang pintar negeri ini, kita harus kembali megaca kepada sejarah. Karena dari sejarah, masih kata orang pintar, sejarah menghadirkan lanskap gambaran kepribadian, mentalitas, dan cerminan paling jujur tentang bopengnya wajah kemanusiaan. Sejarah sekaligus menjadi titik pijak untuk menentukan kemana kita akan melangkah. Sesuatu yang tidak bisa diharapkan dari sejarah adalah memberikan penilaian dan pertimbangan tentang apa yang telah kita selesaikan di masa kini. Istilahnya, setiap jaman akan menyelesaikan persoalannya sendiri, dengan metode, nilai dan kearifan lokal yang berlaku saat itu. Gajah Mada, dengan sumpahnya, dan dengan hasil budaya: falsafah hidup, optimisme, cetbang (cikal bakal meriam karya Empu Nala), kapal-kapal besar—berhasil mempersatukan Nusantara. Kini, kita juga harus memperjuangkan kejayaan kita sendiri dengan modal hasil budaya, falsafah hidup yang telah remuk, dan sumber daya alam yang ada.
Aku “mungkin” sepakat bila ada pengistilahan “sejarah adalah kelapa yang harus kita ambil santannya; manfaatnya”. Kesadaran akan potensi yang telah dicapai di masa silam—bahasa, sistem pengajaran, alat musik, dll—yang sanggup kita manfaatkan untuk menuju sebuah bangsa yang besar dapat tercapai. Spirit untuk mengembalikan kejayaan masa silam kita manfaatkan sebagai pondasi awalnya. Sebuah modal yang cukup besar, kukira. Tapi, apa remaja-remaja kita memiliki cita-cita yang sama untuk kembali membangun kejayaan nusantara?  Dalam rumus hidup orang sekarang, mungkinkah cita-cita luhur mengembalikan kejayaan nusantara bisa diterima akal? Kalau hanya sekedar mencari peruntungan pribadi berupa kejayaan pribadi dan keluarga masih sangat masuk akal, kukira.
Cita-cita hidup yang sekalanya lebih luas—mengembalikan kejayaan nusantara, misalnya—hanya diyakini oleh beberapa individu yang bisa dihitung jari. Beberapa diantaranya masih sangat lugu, dan beberapa yang lain masih sangat oportunis. Cita-cita kejayaan nusantara sudah saatnya menjadi cita-cita kolektif, bukan individu. Alih-alih cita-cita kejayaan nusantara tidak masuk dalam agenda, baik yang tertulis atau tidak, di lingkup kehidupan bernegara. Terlebih pada usaha kongkrit. Maka apa yang terwujud dalam kebijakan-kebijakan pemerintah tidak berhubungan dengan cita-cita luhur. Kita bisa lihat pemerintah lembek memperjuangkan sumber daya alam yang semestinya untuk kemaslahatan rakyat; tapi dikangkangi asing yang mampu mengelolanya.
Jangankan untuk berkehendak dan “berkepentingan”, memperjuangkan wibawanya sendiri di mata internasional pun kita masih kesulitan. Dari apa yang terjadi, bila ditarik kesimpulan sederhana, segala laku pribadi maupun kolektif masih jauh dari cita-cita luhur: mengembalikan kesadaran dan kejayaan nusantara.

Membeludaknya konservatif jawa
Hidup memang sadis. Tapi begitulah hidup ini. Orang-orang yang masih komitmen dalam mengawal kearifan lokal dan wacana kejayaan nusantara harus kehilangan orientasi dalam prakteknya. Disadari atau tidak, keputusasaan selalu bicara lebih jauh terhadap arah pandang dan kerja kongkrit misionaris nusantara. Berbagai eskapisme utopis sebagai wujud setia pada isu-isu nusantara terbelokkan: dari memfungsikan kejayaan nusantara sebagai spirit kebangkitan, menjadi sekedar penggila “mitos-mitos kuno” untuk dibaca, dianalisis, dan digambarkan “pembuktiannya” di masa sekarang.
Saya tidak sertamerta mengatakan bahwa segala kejadian di masa silam hanya sebagai sebuah omong kosong yang tidak terbukti. Masih ada rasa sangsi bila segala yang dikatakan mitos oleh “manusia modern” itu benar-benar omong kosong dan perilaku eskapis. Seperti membaca ramalan Jayabaya, misalnya:
“Besuk yen wis ana ‘kreta tanpa jaran’. Tanah Jawa kalungan wesi. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang. Kali ilang kedhunge. Pasar ilang kumandhang. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak (besok kalau sudah terdapat kereta yang bisa berjalan tanpa kuda atau ‘kendaraan bermesin’, pulau Jawa berkalung besi atau ‘rel kereta api’, manusia berhasil menciptakan kapal yang terbang di udara atau ‘pesawat’, terdapat jembatan tanpa ada sungai di bawahnya atau ‘jembatan layang’, tidak ada tawar-menawar di ‘pasar swalayan’, sehingga sunyi-sepi sekali).”
Siapa bisa menolak dan mengatakan Ramalan Jayabaya di bab ini adalah mitos yang tidak ada relevansinya dengan masa kini? Semua terjadi dengan begitu nyata dan gamblang di depan kita. Terlepas dari “setiap orang akan menyimpan sedikit ruang di hati dan pikirannya untuk menaruh kepercayaan pada hal-hal yang sifatnya mistis”, juga ketika segala perubahan sosial di masa depan bisa diramalkan secara matematis berdasarkan hasil observasi realitas terkini; maka inilah kenyataannya. Dan saya juga meyakini bila Tuhan pun selalu punya cara untuk mewarnai peradaban dan hidup manusia, disamping pada segala hasil olah pikir manusia. Tuhan datang sebagai kejutan-kejutan hidup yang tak disangka-sangka bagi manusia, dan manusia harus berpikir setengah mati untuk mencari solusi dari apa yang telah digariskan Tuhan pada hidup.
Begitu juga dengan salah satu mistisme jawa: ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong, ketika Prabu Brawijaya V masuk islam dihadapan Raden Said (Sunan Kalijaga), sehingga Brawijaya V berpisah dengan pamomongnya (Semar), hingga Sabdo Palon mengutuk tanah jawa dengan kehancuran dan berjanji datang setelah lima ratus tahun dari waktu itu bersama momongannya (Sesepuh jawa yang memiliki ilmu Adi).
Untuk manusia modern, siapa yang mau perduli dengan ramalan itu? Bagi orang sekarang, perubahan apapun akan dijawab dengan penguasaan informasi dan jaringan. Kalau saja misalkan ramalan itu benar adanya, lantas mau apa? Jangankan hanya ramalan, kehendak Tuhan pun akan dijawab dengan cara yang sama. Ramalan hanya selesai dalam teka-teki yang harus dijawab, bukan sebagai jalan hidup yang harus di dramatisasi. Bukankah jalan hidup yang harus didramatisasi, karena tugas hidup seseorang adalah menjawab setiap tantangan yang diberikan jaman pada kita. Dan kalau benar apa yang diramalkan Sabdopalon, bencana tiba, berarti itu kemestian yang harus kita terima dan yang terpenting jangan menyerah.  
Maka untuk wacana kejayaan nusantara, sepertinya harus selesai dalam spirit, dimana kita harus pula membaginya kepada yang lain. Spirit itulah yang akan ditarungkan dengan tengiknya kehidupan di jaman sekarang. Tools untuk pengimbang spirit juga mesti diperjuangkan untuk ada, selain melengkapi apa yang telah diwariskan pendahulu kita. Kita hanya perlu mencintai apa yang sudah ada, dan memfungsikannya sebagai sebuah watak dan karakter. Dan wacana kejayaan nusantara semestinya tidak terbelokkan untuk urusan yang wantah. Kita cukup percaya pada mistisme untuk kita analisa untuk “dicoba diilmiahkan”, kalau tidak selesai, maka ia tetap menjadi mitos. Karena segala sesuatu punya masa dan relevansi untuk kemudian akan terjawab dengan sendirinya.
Dunia terlalu letih dengan banyak Tuhan yang kita dewakan, sehingga kita bingung sendiri: mana yang utama dan bagaimana kita memperlakukannya. Bila keadaan ini diteruskan, membeludaknya pola pikir konservatif jawa yang acuh dengan tools untuk melangkah maju menuju peradaban yang lebih baik dapat terjadi. Karena setiap konservatif akan membawa primordialnya sendiri-sendiri. Siapa yang mau dianggap terbelakang? Siapa yang mau dihina asal-usulnya. Bukankah yang kita bicarakan adalah pembangunan mental kolektif untuk membangun kesadaran, spirit, dan bersama-sama merealisasikan tools yang sudah ada untuk dicintai dan didayagunakan semestinya.

pejalan-pejalan batin yang letih,
singgahlah singgah. di gubugku:
bilik-bilik nusantara tempat manusia ‘ jalang’
dilupakan;
bolo sak podo... konco sak roso...

21 Januari 2011

2 komentar:

Wahyu Intan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
obat klg mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.