Laman

Minggu, 09 Februari 2014

Deisme dan 2.5 Juta

Kegelapan dan mimpi buruk itu bernama ”deisme”. Pada abad 17-18 lalu, deisme datang bukan dari luar, tapi dari dalam. Ia adalah antitesis dari puritanisme, yang waktu itu di wakilkan oleh greja-gereja ortodok.
Saat itu deisme adalah mimpi baru dalam kebosanan cara beragama yang emosionil serta labil. Deisme datang dengan  majunya intelektualitas kita. Semacam upaya penyegaran masyarakat dengan mencoba mematerikan Tuhan agar tidak ketinggalan jaman mencoba memaksa Tuhan berdamai dengan relativitas. Sehingga revealed religion berhasil dibuat tidak lagi bermakna kecuali puing-puing barbarisme agama dalam sejarah pembantaian. Maka saat itulah natural religion lahir.
Deisme membuat pusat dari segalanya adalah alam: sesuatu yang (seharusnya) ditaklukkan manusia. Karena, menurut Ethan Allen, alam adalah sesuatu yang menjanjikan keteraturan ketimbang Tuhan. Dan mungkin pemberontakannya pada moral lama dia wujudkan dengan menerbitkan buku anti-Kristen. Dalam bukunya, Allen mencoba menjelaskan bila keajaiban adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan alam. Meski ia kemudian gagal karena tak mampu menangkap keajaiban-keajaiban dari alam. Dan yang paling tragis dari bukunya, ia telah gagal untuk meramalkan kebutuhan manusia jaman sekarang: politik hijau. Karena ia hanya berfokus pada singkronisasi manusia dengan alam bisa ditempuh lewat penaklukan alam semesta.
Waktu itu di Amerika, deisme menjelma dengan bentuk ketidak-pedulian antara satu dengan yang lain. Tuhan kehilangan kedigdayaan dan berubah posisinya: dari yang tersudut dalam sepi gereja, menjadi sekedar lembar-lembar mata uang. Di Soviet, deisme (mungkin) berbentuk imbauan pada masyarakat agar lebih memilih untuk meninggalkan Tuhan dan menyembah listrik.
Saat itu, deisme adalah sebuah ajaran yang hendak mengatakan: bila diantara kita tidak sedang ”terpojok” sebaiknyaberhenti untuk menjadikan Tuhan sebagai prioritas. Kritik bila Tuhan adalah bayangan dan bentuk ”kekalahan” manusia pada kesendirian sehingga membutuhkan penenang: sorga-neraka.
Kemenangan deisme dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Amerika waktu itu berada dalam rentang waktu yang pas — ketika setiap orang mulai lelah dengan arogansi puritanisme yang membuat dunia jadi banjir darah. Sehingga rasionalitas dan Tuhan muncul dengan wajah baru: modal, tanah dan pemilikan alat-alat produksi. Tapi, lagi-lagi warga Amerika kembali dikecewakan: iblis dari kapitalisme tidak bisa dipisahkan dengan dahaga ekspansionistiknya pada kekuasaan modal. Dan pertumpahan darah pun terjadi dengan dasar yang paling logis; realistis.
Kedatangan deisme adalah sebuah babak baru dimana wahyu dan mistisme religi yang membuat agama jadi wingit tidak lagi ada harganya. Logika adalah satu-satunya ”jalan menuju…” dan upaya seseorang berdekat-dekatan dengan Tuhan. Tapi, bisakah agama bergerak tanpa wahyu? Sedangkan agama dengan pondasi iman butuh sesuatu yang tak dapat ditangkap dengan rasio. Dan tanpa rasio, seperti yang dijelaskan Thomas Paine, tanpa logika Amerika tidak akan merdeka. Meski pada abad ke 18, kehadiran deisme hanya sebagai sebuah ekslusifitas, tapi deisme mewarnai perjalanan Amerika.
Sedangkan di negara-negara lain, deisme hadir sebagai konsekwensi logis; tata urutan seseorang yang termakan evoria dan kembang kertas filsafat — sesuatu yang oleh kaum anarkis dianggap puncak dari tidak kongretnya hidup dan pembias semangat perlawanan.
Di satu sisi saya sepaham bila deisme dan logika memang diharusnkan memiliki tempat yang pantas bagi seseorang yang mentasbihkan dirinya sebagai manusia yang beragama. Meski, mistisme adalah sesuatu yang mutlak dan harus. Karena mistisme adalah sesuatu yang kemudian mendorong manusia untuk dapat membedakan dirinya dengan Tuhan.
Namun, yang menarik adalah hari ini. Ketika dunia sibuk memploklamirkan diri sebagai bagian dari deisme, yang ditandai dengan munculnya tukang kritik yang gemar membinatangkan kelompok-kelompok moralis. Tapi, dunia adalah dunia yang bergerak dengan caranya sendiri. Ketika kelompok-kelompok yang mengagungkan rasionalitas dalam agama, seperti JIL, telah mendapat tempat di masyarakat, tetap saja keputusasaan dan rasa inverior menghantui mereka. Karena hampir setiap rasionalis selalu mengatakan bila dunia akan bergerak ke arah fundamentalisme.
Apa yang salah dengan kelompok rasionalis hari ini? Seperti ada ketakutan dengan berulangnya sejarah kelam berdarahnya agama-agama dunia. Bukankah praktik-praktik deisme sudah masuk dalam kurikulum pendidikan anak-anak sekolah? Bukankah hari ini kita telah berhasil ”membunuh” Tuhan dengan cara yang paling sadis: menukar keyakinan dengan petunjuk dan segala prioritas dan ekspektasi kita.
Seperti di lingkungan dimana aku tinggal sekarang, misalnya. Kebenaran hanya seharga Rp 2.5 juga. Ya, sebuah harga yang begitu memerosotkan harga diri. Meletakkan apa yang seharusnya; Tuhan; dan keyakinan dalam keranjang sampah. Tapi, lagi-lagi kita (terpaksa) harus belajar berlapang dada dengan standar logika. Bila kebenaran tidak sejalan dengan kepentingan modal, kepentingan pribadi, dan politik, maka kebenaran (Tuhan) itu sah untuk dilenyapkan. Karena rasionalitas hari ini adalah 2.5 juta. Karena Tuhan dan segala mistismenya hari ini tidak lebih mahal dari ayam kampus di Ibu kota. Dan hari ini, dengan bangga saya katakan: kita telah sukses membunuh Tuhan.


Sby-Smp, 9 Februari 2014

cdv_t

1 komentar:

Hasyim Syim mengatakan...

Saya kagum dgn cara berpikir anda salut. Pintar dan cerdas

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.