Laman

Sabtu, 20 Februari 2016

UI-joyo di Danau UI

Allahuakbar sekali rasanya. Ingin berangkat ke Pulau Seribu, lha kok bisa-bisanya nyempal ke kampus UI. Rencana piknik dengan Pebri (fotografer kantor) gatot karena saya kesiangan. Saya baru tiba di Pelabuhan Muara Angke pukul sembilan pagi. Kabarnya, sudah tidak ada lagi kapal yang berangkat. Sementara nasihat dari warga sekitar untuk mengejar kapal di pelabuhan lain (yang saya lupa namanya) hanya terdengar samar-samar dan blub... blub... blub di kuping. Biasalah, namanya juga kecewa. Wajar dong bray.
Rencana berubah. Kami memutuskan balik ke kos dan minta tolong si tembeleksinga alias Rizal, alias Banyumas, untuk mengantar kami ke Stasiun Duri. Sepanjang perjalanan kami tidur dan ketika tergagap bangun, kami sampai di Stasiun UI dan turun. Rasanya perjalanan kami kali ini susah dinalar. 
Berjalan membelah kerumunan dan lalulalang mahasiswa UI membuat ingatan saya kembali masa-masa kuliah. Masa ketika kampus saya mengadakan study banding ke UI. Saya mohon anda tidak salah sangka dengan kualitas kampus saya. Karena di Indonesia itu ada dua jenis kampus UI: pertama UI Depok dan kedua UI-Joyo. Kedua kampus ini dulunya adalah satu, tapi karena Gusti Allah berkehendak lain, akhirnya terpecah jadi dua.
Soal UI, ingatan saya dikembalikan ke wajah mbak-mbak cantik dan kinyis-kinyis semester tiga. Mereka mengajari saya — yang waktu itu sudah semester lima — tentang arti organisasi, kegiatan yang baik, cara berorganisasi yang dapat kami terapkan di kampus kami. Tetapi, ya, begitu itu. Kata-kata mbak cantik ini juga terdengar blub... blub... blub di kuping.


Wes toh, mbak. Ngomong sempak a koen iku. Wes talah, timbang raimu ngomong aneh-aneh, berkeluarga ae ambek aku. Gelem a?

Ya, ya, ya, kadar kriminalitas saya waktu itu memang overdosis.
Saya ini tidak habis pikir, mengapa ribuan siswa-siswi SMA sekarang pada kebelet berkuliah ke kampus ini. Bayangkan saja, apa yang bisa diharapkan dari kampus yang di sana-sini banyak memajang spanduk jorok bertuliskan larangan merokok. Meski kondisi sekitar kampus bersih, tetapi jalan dari Stasiun UI ke lokasi kampus cukup bikin kaki kekar. Ah, pantas saja cewek-cewek UI, meski cantik-cantik, tetapi berkaki kekar.
Suasana kampus UI Depok memang terasa adem ayem meski tidak pakai tototentrem kertoraharjo” macam Kalijodo. Muka mahasiswa-mahasiswi kampus ini cukup bening. Yang cowok, meski tak sebening Saipul Jamil (idola umat), tapi cukup lumayan buat digampar. Bagi saya, senyum mahasiswi UI Depok ini terbilang mahal.  Banaspati macam apa yang merebut senyum mereka? Belum lagi senyum kecut mereka menyaksikan saya mengambil gambar si Pebri di Fakultas Hukum. Mungkin ini kelakuan norak di mata mereka, tapi, ya, sudahlah.
Setelah cukup lelah berjalan, kami memutuskan untuk ngopi di sebuah kantin dekat danau buatan. Kantin ini cukup unik karena setiap waktu salat, kantin ini tutup sementara.
Kami ngopi dan makan sambil menikmati tatapan tak bersahabat dari para penghuni kampus, yang mungkin tak suka dengan dandanan saya, terutama celana robek-robek saya yang kelewat batas toleransi dan standar style.
Yang membuat saya tergetar dari perjalanan ini adalah ketika menumpang salat di masjid dekat kantin. Usai salat, saya leyeh-leyeh sambil bersandar di pojok mesjid untuk melihat-lihat aktivitas para mahasiswa. Dan ternyata, luar biasa sekali salat mereka. Dibandingkan dengan masjid di kampus UI-Joyo, masjid kampus UI Depok jauh lebih ramai. Lebih banyak orang-orang yang duduk bersila. Ada yang berdiskusi seputar isu terkini, soal agama dan seputar kuliah di serambi masjid. Pemandangan di bagian belakang mesjid tak ada bedanya dengan mushalla di kampung. Banyak yang kelesetan mikir utang. Kalau di mesjid ini, mungkin mereka memikirkan masa depan macam apa yang pantas bagi sarjana cap UI. Atau mungkin sesekali membayangkan, berapa gaji yang pantas untuk mengganti hasil belajar empat tahun.
Di barisan paling depan, ada mahasiswa-mahasiswa yang sedang sholat berjamaah. Di sebelah saya ada juga yang main HP, ada juga yang doa setengah nangis. Ada yang menunduk dan merenung. Mungkin ia sedang berdoa agar jangan sampai punya peluang mengisi pos-pos buruh pabrik di bagian produksi. Ada yang membaca tafsir Al Misbah, Qurais Sihab, sambil sesekali menilik ponsel mereka yang sebesar telenan dapur.
Ya, Gusti saya senang dengan pemandangan macam ini meski saya tidak sepenuhnya tergetar. Inferioritas saya kumat melihat pemandangan macam ini. Pikiran saya jadi mengembara kemana-mana dan membuat saya mendadak goblok. Saya jadi membayangkan, kalau mungkin diantara mereka tak ada yang sudi dibayar dengan gaji rendahan sekelas buruh coro, lalu siapa yang bersedia tersingkir dan jadi bebodoran hidup alias sarjana ”madesu”?
”Ya, UI-joyo, dong. Siapa lagi?” kata sebuah suara yang mungkin datang dari sebalik rusuhnya pikiran saya.
Jawaban itu membuat saya gelagapan. Mungkin saya kurang ngopi. Saat itu juga saya kembali lagi ke kantin.
”Ayo ngopi lagi, Peb?”

*
Skenario Gusti Allah menciptakan dua kampus UI (UI Depok dan UI-Joyo) ini memang luar biasa. Kalau UI Depok ditakdirkan bicara ndakik-ndakik, maka pihak yang harus mendongak mendengarkan adalah UI-Joyo, seperti yang saya lakukan waktu study banding dulu. Begitulah syariat alam. Kalau kedua UI (UI Depok dan UI-Joyo) sama-sama bicara ndakik-ndakik, lantas siapa yang mau mendengarkan. Kondisi ini bisa membuat chaos di kedua kampus UI. Kalau UI-Joyo tidak ditakdirkan mendongak dan mendengarkan, bisa dipastikan penderita darah tinggi di UI Depok akan meningkat tajam.
UI Depok adalah salah satu hal, dan UI-joyo adalah pelengkap. Coba bayangkan kalau ijazah dua kampus UI (UI Depok dan UI-Joyo) tersebut punya nilai yang sama di mata dunia kerja, tentu UI Depok bakal kesulitan membangun karena tak bisa mematok harga tinggi pada para mahasiswanya. Kalau semua kampus punya nilai yang sama, tentu kapitalisasi pendidikan akan bangkrut. Dan tentu saja ini tidak baik, tidak seimbang.
Kepada sarjana lulusan UI-joyo, Alfatihah.
Mengapa saya hanya mengirim Al Fatihah untuk semua sarjana lulusan UI-Joyo? Tentu saja karena mahasiswa UI Depok lebih piawai merayu Gusti Allah untuk meminta kemaslahatan dan kemapanan hidup untuk diri mereka sendiri. Bacaan salat mereka jauh lebih fasih karena dipupuk dan didukung oleh lingkungan yang baik. Berbeda dengan UI-Joyo, kampus nyelempit yang harus mengikhlaskan dirinya menerima takdir sebagai kampus KW 3. Mahasiswa UI-Joyo juga harus menghadapi badai cobaan dari tototentrem kertoraharjo-nya gang dolly, gang texas, telang asri bergoyang, dan perum cendana muncrat-muncrat.
Jangankan untuk berdekatan dengan Gusti Allah. Bahkan, dengan hambanya di UI Depok pun mereka sangat sungkan. Bahkan, doa mahasiswa UI-joyo pun ikut-ikutan inferior. Doa mereka hanya berkutat pada sesuatu yang sepele namun kongkrit: semoga bidik misi segera cair, semoga besok ada yang hajatan dan kecipratan, semoga sering ada acara di kampus agar bisa numpang makan gratis. Tentu saja Gusti Allah punya matematika tersendiri dan tak mungkin keliru dalam mengkalkulasi nasib kedua UI ini.
Di kantin, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bogor untuk menjenguk adik si Pebri, beberapa orang mahasiswa UI Depok duduk semeja dengan kami. Dari logat bicaranya, saya bisa pastikan mereka adalah mahasiswa asal Surabaya. Niat untuk mengajak mereka ngobrol akarab pun saya batalkan karena sungkan mengganggu mereka. Dan inferioritas saya belum benar-benar reda.

”Nongkrong sambil liat air di danau memang bikin tenang, Peb.” Lalu meringis kemudian.

Depok, 20 Februari 2016
Dalbo (alumnus UI-joyo)


Dalbo ngramal togel di Danau UI

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.