Laman

Jumat, 10 April 2015

Imtihan Taufan (Kak Opan) dan Ahmad Tretetet

Kak Opan
Catatan buat Almarhum Kak Opan (Tuan Guru Tretetet 2)

Setelah aku berdoa dalam tulisanku, ”Halo Tuhan, apa ada lagi stok orang yang lebih suwung dan karismatik sebagaimana Ahmad Tretetet?”
Maaf Tuhan, aku kurang peka pada ”ayat” yang kau turunkan.

Aku percaya bila tuhan selalu menciptakan ”jilid dua” dalam tiap episode hidup. Seperti halnya kehidupan yang terus menciptakan pembaruan-pembaruan untuk keseimbangan kosmis. Mungkin Ahmad Tretetet, atau lebih akrab dipanggil Tuan Guru Tretetet, dihadirkan tuhan dengan bentuk dan setting masyarakat yang berbeda. Dan mungkin the next Tretetet adalah almarhum Kak Opan. Padahal dari dia aku tau tentang Tretetet, tapi aku tak sadar dia adalah penerusnya.
*
Mungkin aku baru sekali mengenal Kak Opan. Aku pun baru bertemu dengannya sewaktu didaulat menjadi mercon bagi pikiran-pikiran buntu cerdas dan visioner kawan-kawan PPMI di Lombok saat kongres. Dan kepenatanku melihat PPMI kualihkan dengan mengikuti saran Mas Gondrong (Timur Budi Raja) untuk bertemu dan berbincang dengan Kak Opan.

Pertemuan itu begitu magis lantaran banyak perbincangan hangat-bersahabat antara aku dan Kak Opan. Sewaktu berbincang dengannya, aku merasa tidak sedang bicara dengan penulis, aktor, dan jenis seniman tua di Warjack Taman Budaya NTB yang congkaknya subhanallah. Dia berbeda dari tipe orang besar yang pernah aku temui. Yang membedakan dia dengan seniman lainnya adalah kemauannya untuk mendengar dan bersabar serta tidak terburu-buru sinis pada gairah muda yang over dosis seperti saya.

Dari cara Kak Opan mendengarkan, sekali lagi, sangat membuatku sadar betapa aku masih terlalu pongah dan malas mendengar. Kak Opan membuatku sadar, bila hidup tidak hanya persoalan belajar, melihat langsung dan sejurus kemudian protes. Sambil sesekali menghisap rokok paling kemproh (baca: marlboro putih) dia menyarankan agar aku lebih banyak berkotemplasi dan menghindari sikap terburu-buru. Pentingnya pengendapan dan memadukan antara pemahaman rasional dengan spiritual adalah pelajaran yang tidak mungkin aku lupa dari sosok pria brewok yang awalnya kukira preman ini.  

Selama dua hari menumpang di rumahnya, banyak perbincangan yang membuatku sadar betapa menunduk adalah bagian dan kemestian hidup. Dia mengajariku tentang arti ”menunduk” tanpa harus gemagah dan pamer keberhasilan-keberhasilan agar aku gemetar dan menaruh hormat padanya. Tapi, cara dia memahami orang lain dan senantiasa mendengar membuatku berpikir dua kali untuk kelepasan ndugal dan mbacot ngawur.

Dia juga tak pernah bertanya berapa kali karyaku dimuat koran, karena dia cukup tau aku menulis setiap hari dan menjadikannya sebagai bagian dari rutinitas dan kebutuhan berproses. Berbeda dengan lingkungan yang ada di sana yang sangat mengukur segala sesuatu dengan hal yang klise: eksistensi.

Mungkin Mas Timur ada benarnya bila ada banyak orang sakti di Lombok yang tidak kelihatan. Karena saat itu, aku menemukan ”kesaktian” Kak Opan terpancar tanpa perlu pamer kesanggupan dan sepak terjangnya di dunia teater, penulisan dan lain-lainnya yang mungkin aku tidak tau. Ya, aku percaya kesaktian yang sebenarnya tersimpan di kedalaman. Sedangkan untuk karya atau output yang sudah dihasilkan seseorang itu nomer ke dua ratus tujuh puluh delapan. Dan kupikir, aku tak perlu tau karya apa yang sudah ia terbitkan. Karena ”ayat tuhan” yang dilewatkan pada manusia adalah apa yang ”klik” di batin dan memberikan pancaran kepahaman serta kekuatan untuk dapat merealisasikan, bukan sertamerta eksistensi yang degil.

Suatu siang, sewaktu aku duduk sendiri di saung depan rumahnya, ia menghampiriku dan kita kembali banyak berbincang. Aku lupa persisnya apa yang dia bicarakan, namun yang aku ingat adalah permintaan maafnya pada banyak ketidaknyamanan yang mungkin telah ia baca dari sorot mataku. Ia menepuk pahaku sambil melihatku serius dan meminta maaf pada kesombongan-kesombongan orang-orang yang waktu itu ada di sekitarnya.

Ya, saat-saat itu, aku langsung mengirim Al Fatihah untuknya. Dia mampu membaca kejengkelan terpendam dan sesaat kemudian aku sadar: memaafkan segala yang tidak kita sukai adalah bentuk dari memelihara kemanusiaan. Yang membuatku tak habis pikir adalah mengapa ia sempat meminta maaf untuk orang di sekitar dia lantaran rasa tidak nyamanku. Kalau kupikir lagi, dia mampu hidup, memaafkan dan bersahabat dengan sesuatu yang kuanggap tidak menyenangkan. Bahkan setiap hari ia hidup bersama. Lalu, apa hakku untuk tidak nyaman? Bukankah aku juga tamu? Bagaimana kalau aku hidup bersama ketidaknyamanan itu?

Ya, yang aku sesalkan adalah belum sempat meminta maaf padanya atas sikap sentimentilku pada orang-orang yang dia tampung. Dan setelah aku menjabat tangannya, dia nampak masuk ke rumahnya dan kembali keluar sambil mengayuh sepeda kebo unik miliknya dan memintaku untuk tidak kemana-mana sambil tersenyum. Saat kembali, dia datang membawa camilan dan kopi buatku.

Duh Gusti, manusia macam apa ini? Ayat macam apa yang kau kirim padaku?

Siang itu, saat ngopi berdua, kita tak banyak bicara. Dia nampak semakin khusyuk menghisap marlboro. Saat itulah, aku melihat kumis yang bersatu dengan jenggotnya nampak semakin angker di mataku.  
*
Aku selalu mewaspadai perasaan-perasaan yang muncul ketika mendengar kabar kematian seorang kawan. Karena sebagai manusia, selalu ada jebakan-jebakan perasaan yang membuat kita mendadak sentimentil. Dan saat-saat seperti itulah ketika kebaikan si mati diceritakan dan laris manis terdengar bak kacang goreng. Meski sebelumnya sebelum ia mati, kita menjadi penghujat yang serius.

Mungkin aku sedang ada di tahap itu. Ketika Kak Opan meninggal, aku merasa wajib membuat catatan tentangnya. Namun, ketika aku mendengar kabar kematian Kak Opan dari Defy, saat itu yang muncul di kedalamanku adalah ingatan tentang cerita Tuan Guru Tretetet.

The next Tretetet meninggal tanpa aku sempat berbincang banyak dengannya.”

Lalu, setelah itu gumpalan rasa sesak memenuhi batinku. Aku seakan-akan merasa seperti ditinggal kawan baik pergi untuk selama-lamanya; merasa ditinggal guru kehidupan tanpa sempat belajar banyak; merasa seperti ditinggal orang yang banyak berjasa tanpa sempat membalas budi. Dan ketika aku buka lagi facebook Kak Opan dan melihat gambar-gambar prosesi pemakamannya aku menitikkan air mata.

Selama ini, selain guruku Rori, tak ada kematian kawan yang bisa membuatku menangis. Dan persoalan menangisi kepergian, tentu bukan sesuatu yang sinetron dan dibuat-buat. Kalau kepergian seseorang sampai membuat kita menitikkan air mata, tentu dia punya arti dalam hidupmu, atau setidaknya dia pernah berarti. Hati tak bisa bohong untuk itu.

Kedatanganku ke rumah Kak Opan waktu itu adalah masa-masa dimana aku tak punya identitas. Masa dimana aku masih begitu menggilai perjalanan-perjalanan. Sedangkan, waktu itu mungkin Kak Opan sudah jengah dengan perjalanan, maka saat itu juga ia menjadi rumah bagi pejalan sepertiku. Dia sempat bercerita bila ia senang dengan kedatanganku dan orang-orang semacam Defy. Ya, kalau Ahmad Tretetet mencintai anak kecil, Kak Opan sangat mencintai gairah-gairah muda. Mungkin dengan kedatanganku dan Defy, ia kembali melihat masa mudanya: berapi-api namun tolol. Tapi, siapa yang tak pernah menjadi bodoh?

Hal-hal lain yang aku kagumi dari sosok Kak Opan adalah caranya membuat kita tau diri. Aku senang dengan cara diamnya, dimana kediaman itu membuatku seketika mengerti apa yang harus kulakukan tanpa harus mengkuliahiku macam-macam tentang hidup. Ia tak pernah menggurui. Karena apa yang ia sampaikan hanya komentar-komentar dari proses mengamati diriku luar dan dalam. Obrolan pendek-pendek namun tegas membuatku sadar bila dia tau apa yang seharusnya dikatakan dan apa yang tidak. Mungkin ia tau persis, setiap orang punya ladangnya masing-masing; punya kamar gelap yang tak satu orang pun tau apa isinya.

Ia berbincang denganku sekaligus membiarkan aku sadar dengan sendirinya. Ia membiarkanku mengarungi ladang gersang batinku dan bersunyi-sunyi di kamar gelap kedalamanku. Dan yang terpenting dari perbincangan dengannya, adalah memahami konsep istikomah dengan baik; segala konsep sabar, yang apabila tak diindahkan akan menjadi tulah bagi hidup. Maka, ketika aku lama tak bersua dengannya, aku melupakan pelajaran itu. Aku melupakan cara fokus dalam satu hal dan sabar pada kesulitan-kesulitan. Dan saat ini, saat ia pergi untuk selama-lamanya, aku telah menuai tulah hidup. Kecerobohan hidupku telah mengutuki diriku dengan berjuta sesal serta kegelisahan yang tak kunjung padam.

Entahlah, sampai kapan tulah hidup ini mengutukiku? Karena yang bisa aku lakukan sekarang adalah banyak minta maaf dengan tuhan; berbaikan dengan-Nya; dan berjanji tidak akan bandel lagi. Dan satu lagi, tentunya aku harus banyak mengirim doa pada orang yang sudah mengajari banyak hal.

Seperti halnya tretetet yang memberi pelajaran bagi pedagang-pedagang pelit, ketidak sabaranku pada hidup dan kepercayaanku bila Tuhan maha kaya telah menghancurkan diriku pelan-pelan; membakar ketenanganku dengan gelisah yang teramat sangat. Menyesal saya tak begitu mendengarmu, kak.

Kalau kau adalah the next Tretetet, dan aku adalah pedagang yang terbakar lapaknya, lalu, apa aku harus memajang fotomu agar aku beruntung dikemudian hari?

Tidak. Tidak. Kau bukan orang yang demam dipuji. Kau bukanlah penulis yang wajahnya selalu kusam dan berubah sumringah ketika dipuji karyanya. Kau tentu tak mengharapkan aku simpan fotomu agar beruntung di kemudian hari. Kesederhanaanmu dan keiklasanmu tak butuh segala pengakuan berlebih.

Ya, Kak, lagi-lagi aku mengerti apa yang harus aku lakukan dikemudian hari menghadapi tulah hidupku. Tapi, tidak adil rasanya apabila kau pergi begitu saja tanpa kita sempat banyak berbincang. Temui saja aku dalam mimpi seperti halnya guru kehidupanku yang lain yang telah meninggal.

Semoga lapang kuburmu dan Tuhan tentu lebih mengerti bagaimana menempatkan orang baik macam kau. Selamat jalan Kak Opan. Selamat jalan Tuan Guru Tretetet 2. Doaku menyertaimu. Al Fatihah


Citra D. Vresti Trisna



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.