Laman

Senin, 04 November 2013

Buruh dan "Bisul" Indonesia

Halo buruh, bagaimana kabar kalian?

Demo buruh yang terjadi beberapa hari terakhir ini membuat saya kembali teringat dengan omongan paman di momen idul fitri di masa-masa kuliah.

”Kamu itu kuliah saja yang bener. Ndak usah ikut-ikutan demo. Kayak kurang kerjaan aja,” ujar paman.

Saya terpukul dengan omongan paman. Sehingga, sebagai bentuk protes, hari itu saya menolak untuk sungkem dengannya, dan menghabiskan sepanjang siang di warung kopi sebagai bentuk protes. Alhasil, beberapa bulan lamanya, saya tak pernah lagi bertegur sapa dengan paman. Waktu itu saya berpikir bila orang-orang tua adalah seburuk-buruknya hipokrit.

Dulu saya berpikir bila aksi adalah satu-satunya cara memperjuangkan masyarakat. Termasuk nasib paman. Saya membayangkan bagaimana perasaan para buruh yang menuntut kenaikan upah tiba-tiba harus disepelehkan orang lain. Apalagi yang menyepelehkan adalah mereka-mereka yang sama-sama buruh. Beberapa waktu lalu, seorang kawan (yang juga buruh) bertanya pada saya, ”Sudah untung dapat kerjaan. Masih banyak orang-orang tidak punya kerjaan yang hidupnya senin-kamis. Mereka (buruh) itu tidak tau bersukur, ya?”

Tanpa menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya padanya, ”Kamu kan juga buruh? Seandainya tuntutan para buruh itu dikabulkan dan upah buruh benar-benar naik, kamu ikut senang?” Kali ini ia yang tersinggung. Mukanya merah padam dan tak melanjutkan kata-katanya.

Saya heran dengan kelakuan orang Indonesia, termasuk saya. Merasa aman ketika kepentingan pribadi kita telah diperjuangkan orang lain tanpa harus berpeluh. Kalau nanti ada yang buruk, ya, bukan kita yang akan menerima dampak karena telah berada di zona aman. Muka kita yang akan selamat di mata orang lain, di mata bos. Kalau ada nasib naas menimpa buruh, tiba-tiba kita menjadi orang tua sok bijak dan melupakan betapa kepengecutan kita sudah alang kepalang.

Ada apa dengan kita? Sakit jiwa akut menjadikan kita mengerti betapa perjuangan untuk sesuatu yang diyakini perlu modal besar dan rasa sakit yang teramat sangat. Bisakah kita, yang juga sama-sama buruh, melakukan sesuatu ketimbang diam menunggu bisu sembari sesekali menjilat?

*
Siapa tak ingin hidup lebih ”baik”? Bukankah keinginan (untuk hidup lebih baik) itu seperti bisul di bokong. Terus membesar, bernanah dan menunggu waktu yang tepat untuk meletus.

Mungkin demo buruh adalah meletusnya bisul di bokong Indonesia. Soal apa yang keluar dari dalam bisul itu berupa anarkis, atau justru sebaliknya, tidak ada yang tau.

Bila bisul itu harus meledak hari ini, saya pikir, itu wajar. Rasa bosan pada nasib yang flat, kesenjangan sosial, dan sistem outsourcing yang mencekik membuat buruh melakukan sesuatu yang mereka anggap wajar: mogok kerja dan menuntut kenaikan upah. Sedangkan bagi Mentri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, yang sedang kebakaran jenggot menginginkan agar demo buruh tidak anarkis  agar tidak hanya menimbulkan stigma negatif bagi investor, menurut saya itu terlalu berlebihan.

Pernyataan Hatta Rajasa menimbulkan banyak tanya di kepala saya: siapa yang harus lebih diutamakan, buruh atau investor?  Kalau pada akhirnya buruh di tuntut untuk tidak rusuh, apa pemerintah bisa memberi jaminan bila gaji buruh akan naik? Bukankah selama ini buruh telah banyak menelan ludah dan banyak mengalah dengan kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada investor.

Sudah berapa momen Mei terlewati dengan datar, tanpa penyelesaian, tanpa kejelasan? Bukankah akhir-akhir ini demo menjadi sekedar evoria dan rutinitas yang kering? Jadi, masihkan buruh harus menahan diri untuk tidak anarkis? Kalau seandainya buruh terpancing untuk anarkis, dan investor terlanjur member stigma negatif, mengapa kita tidak bertanya: apa kita benar-benar butuh investor untuk membangun negeri ini? Apa kita tak bisa hidup tanpa investor? Bukankah ratusan tahun silam, nusantara bisa berjaya tanpa harus ada investor? Mengapa pemerintah harus kehilangan jati diri  karena takut ditinggalkan investor? Mengapa pemerintah harus memaksakan Indonesia menjadi negara industri? Dan ketika bisul dari rasa bosan itu telah meletus, pertanyaan tidak akan menyelesaikan apapun kecuali mengepalnya tangan dan rasa geram yang ditumpahkan lewat anarkisme.

Bukankah di Indonesia ini ricuh, anarkisme, dan konflik adalah bahasa yang lebih banyak menjelaskan dan menjanjikan perubahan ketimbang diplomasi-diplomasi yang ujung-ujungnya melahirkan kekecewaan.


cdvt

2 komentar:

agha maruf mengatakan...

wah, keren tulisannya.. keren sekali..

bang jon mengatakan...

Salut dengan tulisan nya.........mudah"an kedepan pemerintah lebih arif menyikapi kebutuhan rakyat nya jgn hanya memperkaya diri dan kepentingan pejabatnya aja

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.