Laman

Selasa, 01 April 2014

Perempuan dan Dendam

Aku ingat api itu. Dulu, kita sempat sama-sama terbakar dan merasa muda. Meski aku tak berani menganggap itu cinta. Dan untuk hari ini, sekali lagi kuucap termimakasih yang dalam untuk batinku; sesuatu yang dulu kubenci karena menerbitkan rasa enggan untuk dapat berjalan bersama denganmu, meski ternyata aku salah.
Satu hal yang aku kompromikan dengan batinku adalah dengan tetap bersamamu, sebagai apapun yang tak jelas jeluntrungannya. Mungkin karena perasaan bersalah karena menampik kue cinta yang kau tawarkan. Ya, aku tau kau mencintaiku begitu dalam.
Pertemuan kita dulu seperti mimpi. Namun, aku terlalu cepat terbangun karena batinku terus saja membakar petasan. Dan tergagaplah aku; terbangun untuk mengikuti kemana arah arus: kita sama-sama pergi. Aku, tetap dengan hidupku yang suram, kau dengan orang lain.
Setelah lama tak bertemu, aku tau kabarmu dari seorang kawan. Kau disakiti; kau menangis dan kembali mendatangiku untuk menanyakan tentang kita. Ya, aku ingat betul penolakanku malam itu. Dan sekali lagi aku mengikuti arus di batinku. Tanpa alasan; tanpa penjelasan karena setahuku hanya ada kata tidak di batinku, menelusup dalam ke otak dan sampai ke mulutku.
”Sudahlah, bukankah kita lebih cocok sebagai teman. Atau kau ingin menjadi apapun saja sesukamu, asalkan bukan kekasih,” ujarku. Kau menangis. Aku diam, bingung namun tak kunjung memelukmu.
*
Dendam itu tumbuh subur di dadamu. Kebencianmu membakar kenangan; kebersamaan yang selalu kutolak untuk kusebut cinta.
Maafkan aku. Tapi, aku hanya tak ingin membohongimu lebih jauh bila aku menampik semuanya.
Pelan tapi pasti apa yang diisyaratkan batinku mendapat jawaban dan rasionalisasinya pelan-pelan. Kecantikan dan pesonamu menjebolkan beberapa kawan dekat untuk kau buat jadi begitu penurut. Kau rubah dia jadi seperti anjing dengan harapan-harapan kosong hanya karena sebuah dendam yang perlu kau tuntaskan.
Kalau sudah seperti ini, aku jadi ingat Rori. Ia mewanti-wanti betul perkara dendam perempuan. Sesuatu yang pernah meremukkan dunia dengan darah. Tapi untuk hari ini, bukan darah yang muncrat. Tapi orang-orang yang pernah dekat denganku pelan-pelan berlalu dengan sesuatu yang kau karang-karang.
Tiba-tiba aku jadi benci pada banyak hal. Tapi, kali ini bukan karena kau, tapi orang-orang yang pernah dekat lalu beranjak pergi untuk kebohongan. Namun, aku hanya kesal dengan diriku. Menafikan batinku dulu untuk pergi dari dirimu sebelum terlambat harus kuingkari hanya karena kompromi hatiku.
Terimakasih atas dusta yang kau ucapkan. Selamat jalan pada kawan baik yang kini berlalu. Aku tak menyalahkanmu. Bukankah leburnya logika karena rasa cinta dan welas asih adalah sesuatu yang klasik?

Duh, batinku. Bicaralah sebagaimana kau terus mengomel ketika kau paksa aku menolaknya dulu. Aku mau mendengarmu…

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.