Laman

Kamis, 09 Juni 2011

Seniman


Seniman, kata yang mengerikan dalam kamus ingatanku. Ia mendobrak; terkadang diam, namun mengorganisir perlawanan demi perlawanan, dimana setiap pemberontakan yang lahir selalu bersumber dari kesadarannya akan sesuatu. Dan sesuatu itu apa, itu bisa sekedar label yang sengaja “diciptakan untuk…” atau melakukan sesuatu yang memang “harus, agar…”.

Cap seniman itu mistis. Ia menarik untuk ditelaah lebih dalam untuk sekedar mengetahui apa yang ada di dalamnya. Apakah seniman itu pasti sesuatu yang identik dengan hitam, merokok, budaya kalong, dan absurd. Atau memang lebih dari sekedar itu dimana ada ruang kontemplasi yang tidak umum atau pasaran; ruang kesadaran yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Perbedaan mendasar yang menarik bagi semangat telaah yang komparatif.

Seniman selalu meledak dan memberikan kejutan pada setiap nurani yang menganggap dirinya “waras”, namun bukan berarti yang “waras” selalu bebas dari kemungkinan barbar pada setiap nilai-nilainya. Tapi senimanpun, terkadang juga memiliki kemungkinan yang berpegang pada suatu nilai yang barbar pula. Maka permasalahan yang muncul sebenarnya terletak pada persepsi yang digunakan dasar untuk berpijak pada sesuatu.  Dan mencuatlah kontradiksi dan pertentangan-pertentangan. Maka sebenarnya tidak ada yang perlu ditentang dan diperdebatkan. Sebab semuanya punya rumah sendiri-sendiri untuk saling berdampingan dan bertetangga dengan baik.

Titik keberangkatan baik pada seniaman atau “korps waras” memang harus berangkat pada cita-cita yang jelas. Ruang pencarian yang memang perlu ditelaah lebih lanjut dan tidak sembrono. Karena sebagaimana pertentangan yang terjadi antara keduanya memang harus ditelaah dari sisi sejarah.

Seperti yang ku fahami, sejarah selalu membuat berbagai kesalahan dan bank pertentangan dari sebuah hubungan relasi antar manusia. Seperti pertentangan dan konflik batin antara seniman dan “masyarakat waras” tidak lepas dari sumbangsih sejarah. Lantas untuk sebuah keharmonisan, masihkah kita perlu berkata “ya” pada sejarah?


1 komentar:

Fatchur mengatakan...

Pakde-Pakde...nulis tetang pewayangan aja Pakde.....

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.