Laman

Kamis, 04 Mei 2017

Dua Kuman Kotor di Grand Indonesia

#DUDAKARTAdanJAKARTA 2
Citra D. Vresti Trisna

>>sebelumnya<<

Dudakarta adalah puncak kesunyian kota. Sesuatu yang lebih sunyi dari sunyi hingga apapun yang dilihat penghuninya selalu mengingatkan kepada Allah; bernapas dengan menyebut nama Allah; beraktifitas sambil berdzikir; mengambil segala keputusan dengan meminta pertimbangan Allah.
Kesunyian yang tanpa tanding membuat warga Dudakarta sangat peka dan tahu diri. Mereka merasa nikmat yang didapatkannya tak sebanding dengan datangnya ujian dari Allah. Bukan pemandangan aneh bila di tengah jalan, ada orang meraung-raung berdoa minta miskin, meski dari hari ke hari mereka malah bertambah jadi kaya. Warga Dudakarta merasa iba dengan warga miskin Jakarta yang meski setiap hari berdoa minta kaya tapi justru malah tambah miskin.
Konon warga Dudakarta adalah warga pelarian dari masa silam yang berdemo dan ngambek ketika di-SMS Gusti Allah dan diberitahu bila suatu saat bakal ada negara yang bernama Indonesia. Ketajaman mripat batin mereka mengerti bila hampir semua jalannya napas kehidupan penghuninya menyebut nama berhala mereka: materi, materi, materi. Meski sebagian penghuninya beragama Islam.
Ada yang bilang warga Dudakarta adalah hantu dari para duda kapiran yang melarikan diri di zaman romusha Jepang. Ada juga yang bilang warga Dudakarta adalah pelarian para pekerja tanam paksa di masa Gubernur Jendral Johannes Van Den Bosch. Tapi bagi warga Dudakarta itu tak jadi soal. Mereka hanya tahu  Allah adalah ”awal dan akhir” segala sesuatu.
Warga Dudakarta seolah tak peduli dengan anggapan warga Jakarta soal spekulasi darimana warga Dudakarta berasal, karena disibukkan dengan proyek baru untuk ”menjadi kota”.
Usai Mas Rombong berdiskusi dengan mbambung tua yang akrab disapa Mbah Ripul, warga Dudakarta memutuskan mengadopsi gaya warga Jakarta untuk saling menguji keimanan antar warga. Mereka ingin ”menjadi kota” dan menghayati peran mereka. Bahkan tidak jarang waga Dudakarta mendapati Mas Rombong dan Mbah Ripul ngudut dan ngopi sambil pethingkrangan krukupan sarung di Journal Coffee, Grand Indonesia hanya untuk membicarakan jadwal ronda.
Warga Jakarta yang tak siap dengan pemandangan nyeleneh itu menatap dua orang udik Dudakarta dengan sorot mata tak suka. Mereka belum siap berbagi ”kelas” dengan coro dan kecoak desa. Ekslusifitas mereka sebagai warga kelas atas ibu kota terluka lantaran cara Mbah Ripul methingkrang. Para eksmud dan sosialita Jakarta tak siap bila ada dua orang berpakaian kumal mengantre di kasir Zara sambil garuk-garuk pantat. 
Satpam penjaga toko juga sudah bersiap-siap dengan pentungan bila sewaktu-waktu mereka berbuat onar atau tidak punya uang saat membayar belanjaan.
”Mbong, Rombong. Coba lihat tatapan warga Jakarta ke arah kita,” kata Mbah Ripul sambil sesekali menengok ke antrean di belakangnya.
”Memangnya kenapa, mbah?” tanya Mas Rombong. Setelah Rombong menoleh ke beberapa orang ia menyimpulkan sesuatu. ”Tentu mereka sangat benci dengan kita, ya, mbah? Dipikirnya kita ini adalah dua kuman kotor di Mall mereka yang bersih. Dipikirnya kita ini ndak punya duit.”
”Hussy... Guru ngaji mana yang mengajarimu berburuk sangka dengan orang lain? Mereka yang menatap kita dengan tatapan tak suka adalah cara Gusti Allah mencintai kita; jalan cinta Gusti Allah untuk membuat kita bersabar dalam hidup.” Bantah Mbah Ripul. ”Bayangkan, ya. Kita ngantre beli baju saja diberi Allah nikmat yang luar biasa dengan diberikan tatapan benci seperti ini. Di Dudakarta mana ada yang seperti ini. Pasti sambil ngantre beli korek kuping, mereka akan berbincang satu sama lain meski tak kenal dan tanpa perlu rikuh,” sambung Mbah Ripul.
”Rombong, bisakah kebencian yang kita terima ini berada di luar cinta Allah pada kita?”
Sesampai di Dudakarta, Mas Rombong langsung sujud syukur dan menikmati pengalaman barunya dibenci eksmud dan sosialita Jakarta.

Dudakarta, Rabu Pon, 3 Mei 2017

>>sebelumnya<<

1 komentar:

Akhi Naziih_A_M mengatakan...

Menarik ya penggambaran ttg clashnya kelas/kasta/level di masyarakat jakarta. Gimanapun jg, perbedaan perlakuan berdasarkan level itu ada di masyarakat. Bisa dr asal clan, komunitas, manners, dress dan lokasi kita berada. Mungkin klo lbh banyak dibahas ttg respon mas rombong dan mbah ripulnya.. Atau self talk mbah ripul atau mas rombong atau penulis terhadap sikap orang2 ke mereka (bisa diselipin pertanyaan yg retorik atau pesan moral), atau jg self talk dr org2 yg sinis ke mereka.. Atau bs jg ditambah ucapan orang2 yg ngeliat mereka berdua.. Biar lbh dramatis.. Atau frontal.. Kayanya bakal lebih menarik. Semoga bs jadi masukan yg bermanfaat yaa

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.