Laman

Senin, 08 Mei 2017

Macet 2

#DUDAKARTAdanJAKARTA 4
Citra D. Vresti Trisna

>>macet1<<

Beberapa hari ini, Mbah Ripul sudah jarang terlihat di kampung. Kalau sudah begini, Mas Rombong adalah orang yang paling gelisah. Mas Rombong takut menghilangnya Mbah Ripul ada hubungannya dengan kebiasaan barunya ngopi di Grand Indonesia. Ia takut kalau-kalau Mbah Ripul disianida orang gara-gara sikap ndesonya.  
”Sejak acara kenduri pernikahanku, Mbah Ripul sudah tidak pernah kelihatan. Coba saja cari ke sungai. Barangkali dia kintir karena buang air sambil mengantuk,” kata Wak Ebol, tetangga Mbah Ripul.
”Ah masa sampai segitunya,” protes Rombong.
”Yee.. Coba saja kalau tidak percaya,” kata Wak Ebol.
”Ngarang.”
Tidak ingin berdebat terlalu lama dengan Wak Ebol, Rombong langsung ke sungai. Rombong terkejut mendapati Mbah Ripul benar-benar di sungai. Ternyata selama ini Mbah Ripul mancing ikan di sungai sebelah surau. Mbah Ripul nampak khusyuk memancing dan tidak peduli badannya dirubung semut dan dihinggapi lalat.
”Mau jadi Sunan Kalijogo jilid dua, mbah?” Sapa Mas Rombong.
”Semprul. Saya ini bukan kelasnya Kanjeng Sunan. Lha wong  mancing kok disamakan dengan orang yang bertapa,” kata Mbah Ripul. ”Saya ini ndak ada seujung kukunya Sunan Kalijogo. Jangankan menunggu tongkat di pinggir sungai. Saya menunggu macet di Jakarta saja tidak betah kok akal-akalan nunggu sungai kaya Kanjeng Sunan,” lanjutnya.

Rombong tak mendebat kata-kata Mbah Ripul karena disibukkan membuka bungkusan ketela rebus bekal Mbah Ripul memancing. ”Lho sampeyan itu ndak pakai umpan, ya? Sampai Gunung Bajul pindah, ya, ndak bakal dapat ikan,” ejek Rombong.
”Ikan itu hewan yang tunduk pada kosmos. Kalau Gusti Allah menghendaki ikan nyaplok kail saya, kamu mau apa? Saya ini melatih sabar meski kalibernya tidak sedahsyat Kanjeng Sunan,” balas Mbah Ripul. ”Tidak usah terlalu jauh ke Sunan Kalijogo. Ternyata kita masih kalah dengan warga Jakarta. Meski orang-orang berpikir orang Jakarta itu mblunat setengah mati, tapi mereka punya daya tahan luar biasa berada di kemacetan kota.”
”Ah, apanya yang tahan macet, mbah. Terkadang perkelahian di jalan juga kerap terjadi karena macet,” kata Rombong menimpali.
”Apa setiap macet pasti berkelahi? Apa semua yang terjebak macet berkelahi? Kan tidak! Kalau mereka tidak sabar dengan kemacetan, itu lumrah dan manusiawi. Yang terpenting bukan apa yang mereka rasakan, tapi kesanggupan mereka mengolah apa yang mereka rasakan itu untuk senantiasa membuat hati mereka tetap ’bersila’ apapun situasinya, termasuk macet. Dan masyarakat Jakarta termasuk hebat.”  
Rombong yang tertarik dengan kata-kata Mbah Ripul menyahut, ”apanya yang hebat, mbah? Ndak perlu sampean membesar-besarkan soal macet di Jakarta. Namanya juga di kota besar. Tingkat konsumtif mereka pada produk otomotif cukup tinggi dan tak sebanding dengan kapasitas jalan. Ya, wajar kalau macet.”
 Mbah Ripul menggandeng tangan Rombong dan tiba-tiba mereka sudah tidak lagi berada di sungai dan sudah berada di bawah flyover Roxy.
Ngapain ke sini, mbah?”
”Tuh lihat jalanan macet kaya gitu. Mereka itu bisa saja naik angkot atau naik ojek atau sepedaan ontel saja. Mengapa mereka lebih memilih membeli mobil dengan konsekwensi harus tua di jalan karena macet?” tanya Mbah Ripul. ”Apa ndak sakti jenis orang macam itu? Tidak! Tidak. Saya tidak akan memusingkan gaya hidup konsumtif dan gengsi orang Indonesia kebanyakan. Saya melihat ketabahan mereka berhadapan dengan macet.”
”Itu kan bodoh toh, mbah? Apanya yang sakti?”
”Kamu ini kebanyakan micin hingga akalmu tidak jernih lagi. Macet Jakarta ini harusnya membuat kita sadar betapa kaya Jakarta; betapa kaya manusia Indonesia. Berapa banyak rongsokan Eropa, Jepang dan Cina yang dijual di dealer itu pasti laku dan habis. Mengapa banyak dibuang ke sini rongsokan itu? Ya, tentu saja hanya orang Indonesia yang mampu beli, lha wong di negara asalnya, orang-orang kaya juga naik angkutan umum. Dan orang kita rela beli rongsokan hanya untuk kejebak macet. Mas Rombong, mereka itu beli rongsokan hanya untuk ’bertapa’ dan melatih kesabaran di dalam kotak-kotak beroda itu,” papar Mbah Ripul.
”Justru Mbah Ripul ini yang kebanyakan micin makanan cepat saji Jakarta. Bagaimana mungkin orang yang hidupnya tamak, tidak efisien seperti orang luar negeri dan mengganggu pejalan macam kita kok dibilang hebat,” tukas Rombong.
”Tidak semua hal yang nampak efisien itu berarti tidak punya titik hitam. Kelas menengah atau kelas atas di Jakarta bisa saja berangkat ke kantor dengan cekeran kaya kita kalau mau ke kakus. Tapi nyatanya mereka memilih membeli mobil yang nantinya bakal menyusahkan mereka; membuang waktu mereka di jalan dengan percuma hanya untuk menunggu kemacetan yang sebenarnya bisa mereka hindari. Rombong kemacetan memang tidak penting dan efisien. Tapi, kemacetan dibutuhkan oleh orang-orang tertentu untuk bersabar, mengeram diri dan ngobrol akrab dengan Gusti Allah.”
Rombong masih tidak terima. ”Yo susah Mbah. Ngapain juga seperti itu. Kaya kurang mesjid saja orang Jakarta.”
”Gusti Allah itu berada dimana saja. Mana ada ruang dimana Gusti Allah tidak ada di situ? Iya sih, memang ada tempat-tempat tertentu dan faktor yang mempengaruhi cepat-tidaknya seseorang berkomunikasi dengan Allah. Justru ketika di kemacetan seperti ini, yang umumnya orang bakal uring-uringan. Tetap bisa berkomunikasi dengan Gusti Allah di tengah kemacetan itu luar biasa; itu jauh lebih baik dari bermesraan di mesjid,” kata Mbah Ripul sambil terkekeh.
Ndak bisa gitu, mbah! Pokoknya ndak bisa!” Rombong terus protes.
”Kamu ini kok ngeyel. Aku baru saja nyambangi Mirna dan kenalan sama dia. Kamu tak kenalin terus tak suruh dia mbuatin kamu kopi lo. Mau?”
”Ndak bisa, mbah! Pokoknya...!”

Dan malam pun tiba. 

Kamis Legi, 4 Mei 2017

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.